NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Perdana di Ibu Kota

"Bang Bhumi, tunggu!!"

Dengan setengah berlari, Dewi mencoba untuk mengejar Bhumi yang hampir saja menghilang dari pandangan mata. Wanita itu bahkan tidak begitu perduli ketika ia dijadikan pusat perhatian oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Yang terpenting, ia tidak kehilangan jejak lelaki yang sudah begitu baik memberikan peluang untuknya.

"Apakah harus dengan cara seperti ini aku bisa membuka mata dan juga hatimu agar kamu tidak merasa rendah diri?"

Bhumi masih berjalan tegap dengan pandangan mata lurus ke arah depan tanpa sedikitpun melihat ke arah Dewi yang saat ini berada di sampingnya. Ucapan lelaki itu terdengar begitu dingin, sedingin wajah yang dimilikinya. Namun sepertinya, kali ini ucapan Bhumi benar-benar membuat pikiran dan juga hati Dewi jauh lebih terbuka.

Meski terkesan dingin, namun Dewi sama sekali tidak merasa sakit hati. Ia justru merasakan hal lain untuk lelaki ini. Lelaki ini memanglah dingin, namun entah mengapa di balik itu semua ada satu kehangatan dan kelembutan yang dirasakan oleh Dewi.

"Aku minta maaf Bang. Aku tidak bermaksud untuk tidak mencintai diriku sendiri. Tapi itu semua yang aku alami. Aku sering diolok-olok karena bentuk fisik yang aku miliki. Dan aku tidak ingin jika sampai bang Bhumi mendapatkan imbas dari apa yang ada padaku ini."

Masih dengan wajah yang dipenuhi oleh gurat-gurat ketampanan yang berpadu dengan ketegasan, pandangan Bhumi masih fokus ke depan. Mencerna yang Dewi ucapkan. Sembari sesekali menghembuskan napas pelan.

"Ada tujuh koma delapan milyar jumlah penduduk di dunia. Dan ada berapa orang yang mengolok-olok kondisi fisikmu? Apakah ada seperempat bagian dari jumlah itu?"

Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang."

"Lalu, mengapa kamu harus memikirkan dan memperdulikan perkataan orang yang hanya segelintir itu? Kecuali seperempat atau setengah bagian dari penduduk dunia itu yang mengolok-olokmu. Kamu boleh merasa rendah diri. Ini hanya ada segelintir orang dan membuatmu sehancur itu? Di mana letak sisi kekuatan yang sudah Tuhan berikan kepadamu?"

Dewi terperangah. Untuk kali ini, perkataan Bhumi benar-benar seperti menampar hati dan juga pipinya. "Bang, aku..."

"Ketika satu tempat tidak ada yang menerima keberadaanmu, masih ada tempat lain yang bisa kamu singgahi. Ketika ada satu, dua, tiga atau sepuluh orang yang tidak bisa menerima kondisi fisikmu, masih ada ratusan bahkan ribuan manusia yang bisa menerima kehadiranmu. Dan ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pasti akan ada seribu pintu kebahagiaan lain yang terbuka. Camkan ucapanku ini baik-baik. Jika perlu kamu ketik, kamu print, kamu laminating setelah itu kamu tempelkan di dinding."

Perkataan tegas Bhumi benar-benar sanggup menembus kokohnya dinding hati. Rasa insecure akan fisik yang selama ini begitu menguasai hati Dewi, kini seakan menghilang ditelan bumi. Tergantikan oleh api semangat yang tidak akan pernah mati.

Dewi tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, setelah dari TMII, bang Bhumi harus mengantarkan aku ke tempat pengetikan. Akan aku ketik ucapan Abang ini, aku print out, aku laminating setelah itu aku tempel di dinding."

Bhumi hanya sekilas menatap wajah Dewi. Lelaki itu tersenyum tipis sembari mengayunkan langkah kakinya kembali. Senyum itulah yang membuat rasa bahagia memenuhi ruang-ruang hati milik Dewi.

Dewi sengaja berjalan pelan di belakang punggung Bhumi. Wanita itu menatap sosok lelaki yang ada di depannya ini dengan rekahan senyum yang tiada henti. Ternyata masih banyak orang-orang yang dapat menerima segala sesuatu yang ia miliki.

Betapa aku bersyukur kepadaMu, Tuhan... Karena telah Engkau pertemukan aku dengan lelaki ini. Laki-laki baik yang bisa membuatku semakin percaya diri. Benar apa yang dikatakannya. Jika aku mencintai diriku sendiri, niscaya orang-orang di sekelilingku pun juga bisa menerima keberadaanku. Dewi, semangat!!!

****

"Bang Bhumi ... bang Bhumi ... bang Bhumi!!"

Lengkingan suara para pemburu dan penikmat suasana malam di sekitar TMII terdengar nyaring di telinga. Kebanyakan dari mereka merupakan para kawula muda yang berpasang-pasangan. Raut wajah penuh kegembiraan nampak begitu kentara. Seakan mengabarkan kepada dunia bahwa mereka tengah berbahagia.

"Selamat malam semuanya!"

"Malam!!!!"

"Oke, untuk malam ini tidak seperti malam-malam yang telah lalu. Malam ini, aku akan menghibur kalian semua dengan ditemani oleh seseorang yang memiliki bakat menyanyi yang luar biasa. Bagaimana? Mau?"

"Mau Bang, mau....!!!"

"Baiklah... Dewi, silakan kemari!"

Plok... plok... plok...

Dengan langkah gemetar, Dewi menyusul Bhumi yang sudah lebih dahulu berada di depan para kawula muda yang tengah berdiri mengerumuninya. Sekuat tenaga, ia berupaya untuk membuang segala rasa gugupnya namun tetap saja tidak bisa. Wajah wanita itu nampak begitu cemas tiada terkira.

Sinyal kegugupan itu tertangkap jelas di mata Bhumi. Lelaki itu merapatkan tubuhnya ke arah Dewi dan menggenggam erat telapak tangan wanita ini.

"Kamu pasti bisa. Saat ini adalah waktunya. Tunjukkan kepada dunia bahwa kamu memang luar biasa!"

Gelombang suara lembut yang masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Dewi terperanjat seketika. Ada keanehan yang Dewi rasa. Setelah Bhumi mengucapkan kata-kata ini, Dewi seperti mendapatkan suplay semangat yang begitu banyak tiada terkira. Ucapan Bhumi bak sebuah mantra yang bisa membuat Dewi lebih percaya diri untuk menegakkan kepala. Dan rasa gugup itu tiba-tiba hilang entah kemana.

Genggaman tangan Bhumi juga terasa begitu menenangkan dan menguatkan. Dewi menatap manik mata Bhumi, dan lelaki itu hanya memberikan sebuah isyarat dengan anggukan kepala pelan. Dewi paham, akan apa yang harus segera ia lakukan.

"Hallo .... Selamat malam semua."

"Malam....!!!"

Dewi tersenyum penuh arti. Mendapatkan respon begitu baik dari para pengunjung, membuat Dewi bahagia setengah mati. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena keberadaannya diakui oleh orang-orang yang hadir di tempat ini.

"Untuk malam hari ini, aku akan menjadi teman duet bang Bhumi. Semoga penampilanku tidak akan mengecewakan kalian semua ya."

Dewi sejenak menjeda ucapannya. Ia hirup napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia tatap intens seluruh para pengunjung tempat ini secara bergantian.

"Oke, apakah ada yang ingin request sebuah lagu? Aku akan menyanyikannya untuk kalian."

Terdengar riuh suara para penonton yang meminta beberapa judul lagu. Kebanyakan dari mereka meminta sebuah lagu yang memang sedang naik daun. Hal itu lah yang membuat Dewi sedikit kebingungan akan lagu apa yang harus ia nyanyikan.

"Baiklah, untuk Kakak yang berdiri di sana. Yang memakai kerudung biru. Kakak ingin dinyanyikan lagu apa?"

Wanita dengan kerudung biru itu nampak sedikit terkesiap. Ia nampak sejenak berpikir dan pada akhirnya... "Aku request lagu milik Melly Goeslaw yang Denting, kak Dewi!"

Senyum manis terbit di bibir Dewi. Meski selama ini ia lebih sering menyanyikan lagu dangdut, namun setiap hari ia juga selalu mendengar lagu-lagu pop dari penyanyi papan atas negeri ini. Sehingga, lagu yang diinginkan oleh salah satu pengunjung ini tidak begitu asing di telinganya. Bahkan lirik lagu itu sudah ia hafal di luar kepala.

"Baiklah... Untuk kalian yang sedang kesepian karena terhalang oleh ruang dan waktu. Aku persembahkan lagu Denting untuk bisa memupus rasa sepi itu."

"Yeayy.... kak Dewi... kak Dewi.... kak Dewi....!!!"

Dewi kembali menaatap wajah Bhumi. Lelaki itu mengangguk dan bersiap untuk mengambil nada melalui petikan gitarnya.

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku

Sedarkan diriku dari lamunan panjang

Tak terasa malam kini semakin larut

Ku masih terjaga

Sayang kau dimana aku ingin bersama

Aku butuh semua untuk tepiskan rindu

Mungkinkah kau disana merasa yang sama

Seperti dinginku di malam ini

Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini

Kita menari dalam rindu yang indah

Sepi ku rasa hatiku saat ini oh sayangku

Jika kau disini aku tenang

🍁🍁🍁🍁🍁

Mohon maaf belum bisa double update dan belum bisa membalas komentar kakak-kakak satu persatu ya... Ini tubuh sedang dalam masa pemulihan. Terima kasih kakak-kakak semua... ❤️❤️❤️

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!