Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya karena kecelakaan yang dialami suaminya. Dimas, sebelum kepergiannya ia menitipkan pesan pada Dinda istrinya, untuk mendonorkan jantungnya pada pasien di rumah sakit yang sama. Dengan persetujuan Dinda akhirnya jantung itu di donorkan pada seorang pasien.
Setahun kepergian Dimas, Dinda mulai mencari kesibukan lagi. Walau belum hilang rasa sedih serta rindunya pada Dimas. Dinda bekerja di sebuah perusahaan dengan rekan-rekan yang sangat baik padanya salah satunya Ana. Ana juga sahabat Agra CEO perusahaan tempat mereka bekerja dan juga orang yang mendapatkan donor jantung Dimas.
Diawal pertemuan, Dinda dan Agra ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Tapi, Dinda dan juga Agra tidak terlalu menggubris hati mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu Agra memahami hatinya yang telah jatuh cinta pada Dinda. Dengan berbagai alasan, Agra mengajak Dinda untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Istri Durhaka
Bebby datang ke rumah Dinda di siang hari terik. Ia baru saja pulang berbelanja setelah mengantar Putri sekolah. Bebby di sambut Dinda dengan senang hati.
Dinda juga sudah menyiapkan cemilan untuk mereka berdua. Dinda mengajak Bebby ke gazebo yang ada di halaman belakang rumah. Sampai di gazebo Bebby langsung menanyakan kepada Dinda apa sebenarnya yang ingin Dinda bicarakan.
"Beb, Dimas meninggal tanpa jantungnya", Dinda mulai sedih.
"Ha gimana? Jantungnya hilang gitu? Dimas dimutilasi?", tanya Bebby tidak mengerti.
"Bukan Beb, sebelum Dimas meninggal ia memintaku menyetujui mendonorkan jantungnya pada seseorang", jawab Dinda yang matanya mulai berkaca-kaca.
" Terus?", tanya Bebby sambil memakan cemilan.
"Ya, aku menuruti kemauannya. Dan memang di sana ada pasien yang membutuhkan donor jantung. Dan anehnya lagi jantung Dimas cocok dengan pasien itu. Waktu itu aku gak tau siapa pasien itu. Aku hanya mengenalnya. Dan sekarang aku baru tahu pasien yang menerima donor jantung Dimas adalah Agra", cerita Dinda panjang lebar.
Bebby tersedak setelah mendengar akhir cerita Dinda. Dinda langsung memberikan segelas air untuk Bebby.
"Maksud kamu Agra suami kamu sekarang?" tanya Bebby setelah minum.
Dinda mengangguk. Bebby melihat kesedihan menyelimuti wajah Dinda.
"Pasti kamu taunya setelah menikah dengan Agra ya? Tapikan seharusnya kamu bisa mengenali orang tua Agra Din?" Bebby masib penasaran.
"Itulah yang aku sesali Beb. Orang tua Agra tinggal di luar negeri. Saat Agra ingin memperkenalkan mereka, aku merasa sangat malas. Seharusnya aku curiga kenapa orang tuanya setuju kami menikah tanpa berkenalan denganku lebih dahulu".
"Apa mungkin mereka ingin membalas budi pada Dimas melalui kamu Din?"
"Aku nggak tau Beb. Tapi, aku merasa mereka benar-benar tulus menyayangi aku".
"Terus masalahnya dimana Din?"
"Itu Beb, hiks itu yang nggak ngerti. Aku terus aja menyalahkan Agra. Aku tau, ini salah. Tapi hatiku benar-benar gak bisa berdamai Beb. Karena aku tahu itu adalah jantung Dimas, setiap kali aku melihat Agra aku selalu mengingat kepergian Dimas. Aku selalu ingat di saat orang tua Agra datang dan aku baru tahu kebenarannya. Bahkan kedua orang tuaku mereka tau tapi, mereka memilih merahasiakannya juga dariku. Aku benci Beb diginiin. Pengen banget rasanya aku menyalahkan mereka semua tapi, aku gak bisa kayak gitu, hiks", Dinda bercerita sambil menangis.
Bebby menghapus air mata Dinda yang membasahi pipinya. Lalu Bebby memeluk Dinda untuk menenangkannya. Melihat Dinda yang menangis Bebby pun jadi ikut menangis. Seolah-olah hatinya mengerti apa yang dirasakan Dinda. Setelah sedikit lega, Dinda melepas pelukkannya.
"Udah dong, jangan nangis. Aku ikutan nangis nih", kata Bebby yang nggak tau harus berkomentar apa sambil menghapus lagi air mata Dinda.
"Aku juga nggak tau kenapa air mataku nggak kering-kering padahal setiap hari aku nangis", ucap Dinda sambil tersenyum.
"Agra tau kalau kamu nangis tiap hari?"
"Nggak Beb, karena kami beda kamar... ".
"Apa? Jadi kalian pisah ranjang? Terus Agra nggak marah sama kamu?" Bebby benar-benar tidak menyangka.
"Sebenarnya aku kasihan sama Agra hiks", Dinda mulai menangis lagi. Ia merasa sangat bersalah, "Tapi, aku nggak bisa Beb. Mau di paksa kayak mana pun, aku nggak bisa. Walaupun sekedar pura-pura baik, aku nggak bisa Beb", Lagi-lagi air mata membanjiri pipi Dinda.
"Kalau hati kamunya keras, memang susah Din. Apa kamu nggak bisa memikirkan hal-hal baik mengenai Agra aja?"
"Nggak bisa hiks. Yang aku liat cuma Dimas dong hik", Dinda nangis sampai tersedu-sedu.
Bebby menyeka air matanya yang mengalir akibat ketularan Dinda, " Gimana dong aku juga bingung. Kamu jangan nangis terus dong Din. Aku bingung kalau liat kamu nangis gini".
Dinda menyeka air matanya, tapi setelah itu nangisnya makin menjadi. Ia menutupi wajahnya sambil nangis sekuat-kuatnya. Bebby mencoba menenangkan Dinda dengan mengelus-elus pundak Dinda.
"Dinda jangan nangis dong. Sabar ya Din, mungkin ini ujian buat kamu dan Agra. Siapa tau kedepannya kalian akan menjadi pasangan yang bahagia", ujar Bebby yang sama sekali tidak punya ide mau pun masukkan untuk Dinda.
"Kamu tau Beb, yang parahnya lagi. Agra nyuruh aku menceraikan dia jika aku nggak bahagia hidup bersama dia. Hatiku sakit Beb, hiks. Walaupun aku nggak suka sama dia tapi, sedikit pun aku nggak pernah berpikiran untuk bercerai. Emangnya gampang apa menjadi janda dua kali? Aku kan malu Beb, hiks. Tapi seenaknya aja Agra bilang gitu sama aku. Aku merasa kayak dicampakkan Beb", jelas Dinda yang masih menangis.
"Dinda mungkin maksud Agra bukan begitu...".
"Aku tau, tapi nggak gitu caranya. Hatiku sakit Beb!"
Dinda terus saja menangis ditambah Bebby yang juga ikut menangis. Babby benar-benar tidak tau harus bicara apa Dinda. Bebby paham hati Dinda masih keras. Masukkan apapun pasti akan di tolak Dinda. Saat ini Dinda mungkin hanya ingin di dengar bukan di nasehati.
Bebby juga paham bagaimana beratnya menjadi Agra. Bebby yakin, Agra adalah pria yang baik. Terlihat bagaimana waktu itu cara Agra berbicara pada Dinda. Agra terus saja melihat wajah Dinda seperti dia sangat merindukan Dinda. Bebby yakin Agra benar-benar mencintai Dinda.
"Din, udah ya jangan nangis terus. Aku yakin kamu pasti kuat menjalani ini semua. Kamu ingat, Allah tidak akan memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuan hambanya. Kamu adalah wanita yang hebat, yang kuat. Itu sebabnya, Allah memberikan kamu ujian ini untuk meninggikan derajat kamu".
"Kayaknya nggak mungkin Beb. Gimana derajatku bisa tinggi kalau aku durhaka sama suamiku", bantah Dinda dengan sisa-sisa tangisannya.
Bebby menarik napas. Tebakannya benar. Dinda benar-benar tidak bisa di nasehati saat ini. Bukannya Dinda langsung berpikir untuk berdamai dengan Agra malah ia mengakui dirinya istri durhaka.
" Haduh, gimana ya Din. Rumit banget kayaknya. Coba gini deh, aku tau ini sulit, sulit banget buat kamu. Tapi, coba kamu biasain gitu ngurus Agra. Siapa tau lama-lama hati kamu bisa mencair. Aku yakin kamu juga nggak mau kan jadi seorang istri yang durhaka kayak gini. Kamu bisa memulai buatkan sarapan untuk Agra. Ya, walaupun ada pembantu tapi, gak ada salahnya kan Agra mencicipi masakan istrinya. Atau membuatkan kopi dan semacamnya. Pasti kamu belum pernahkan melayani dia kayak gitu?", ujar Bebby dengan nasihat yang lebih ringan agar tidak terlalu membebankan Dinda.
"Iya, aku baru ingat. Aku belum pernah menjalankan peranku sebagai istri. Aku takut gak bisa Beb. Bayang-bayang Dimas masih selalu muncul saat melihat Agra".
"Mm, ya kamu tinggal buat, letak di meja, terus masuk kamar atau pergi ke mana gitu. Agra pasti tau kok kalau itu buatan kamu. Dengar Din, Ala bisa karena biasa".
Dinda benar-benar memikirkan apa yang Bebby ucapkan. Apakah dirinya bisa seperti itu? Tapi, Dinda memutuskan akan mencobanya.
***
So Happy Ending
Time Travel Lia mampir
Vio emang jahat banget sih
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir