Karya pertamaku yang jauh dari kata sempurna.
kisah seorang gadis yang mengibaratkan takdir seperti indahnya warna pelangi.
perjalanan hidupnya bertemu dengan sikap, sifat dan jalan hidup orang lain.
berbagai kisah yang membuatnya merasakan pahitnya hidup.
kenyataan yang membuatnya menjadi menantu dari orang yang tidak pernah dia duga siapa itu.
apakah dirinya masih bisa melihat takdirnya seindah warna pelangi?
bukan karya plagiat. mohon maaf jika ada kesamaan nama dan isi cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuya hafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan tetap tinggal tidaklah salah
.
.
"Baiklah, neng. Kita tidak akan pergi lagi. " Pak Djaja tampak berat hati mengucapkan itu.
Rain tersenyum dan menoleh pada Arka. Raut wajah Arka membuat Rain tidak mengerti.
Rain menepuk bahu Arka pelan. "Bang... Ada apa? "
"Gak pa-pa, dek, " Jawabnya pelan.
Rain mencoba berpikir positif dengan ekspresi kakaknya itu.
.
.
.
\=\=\=***\=\=\=
Hari-hari pun berlalu. Pak Djaja tampak lega karena kekhawatirannya tidak terbukti. Rain tetap aman seperti biasanya. Pak Djaja pun merasa senang karena pilihannya untuk tetap tinggal tidaklah salah. Itu semua berkat Rain yang selalu meyakinkannya akan keselamatan dan keamanan keluarganya.
Pak Djaja kini telah selesai dengan proyek bangunannya. Pak Djaja membeli tiga bidang tanah dengan luas masing-masing 25×50 meter.
Dia membeli tanah itu untuk ketiga anaknya kelak. Itu semua untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa tempat inilah yang akan menjadi tempat terakhir mereka.
Tentu saja Zee senang bukan main, senang karena keseriusan ayahnya.
Tanah itu belum sepenuhnya lunas, tapi pak Djaja akan mencicil sisanya. Karena uang hasil kerjanya masih kurang untuk melunasi harga tanah yang luar biasa mahalnya. Dengan ditambah uang tabungannya pun masih saja kurang.
Kini pak Djaja sedang membersihkan lahan itu. Rencananya tanah itu akan dijadikan kebun untuk sementara. Arka dan Hastini selalu membantunya. Zee sedang sibuk dengan sekolah barunya, sedangkan Rain hanya membantu sesekali karena dia disibukkan dengan pekerjaannya di resto.
Saat ini Rain sedang libur semester, jadi inilah kesempatan baginya untuk bekerja lebih giat.
Karena disaat Rain sudah masuk kuliah kembali, Rain akan kembali sibuk dengan perkuliahannya nanti.
Selama libur, Rain dua kali diajak pergi oleh Intan. Intan datang langsung ke rumah Rain untuk menjemputnya.
Saat pertama Intan datang, Rain yang senang pun segera memperkenalkannya pada ibunya. Tapi dua kali Intan datang pun Pak Djaja dan Arka tidak ada di rumah, jadi mereka belum pernah bertemu dengan Intan.
Rain berkunjung ke rumah Intan. Tapi dia tidak bertemu dengan kedua anak Intan. Sebenarnya Rain sedikit merasa aneh dengan sikap Kana yang terkesan dingin saat terkahir dia bertemu. Rain sendiri pun tidak tau apa yang terjadi dengan Kana.
Dan kali ini Intan mengajak Rain jalan-jalan ke mall. Rain yang tidak terlalu suka berbelanja, segera merasa bosan saat Intan sibuk memilih baju untuknya. Rain lebih suka belanja sembako dari pada menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membeli baju, apalagi peralatan make up.
Rain bahkan tidak pernah berbelanja barang-barang seperti itu bersama adiknya. Rain hanya membeli yang sekiranya sangat dibutuhkan untuk tubuhnya.
Sampai-sampai adiknya sendiri mengeluh karena merasa tidak punya kakak perempuan. Padahal Zee ingin sekali tertawa riang saat berbelanja kebutuhan perempuan bersama kakak perempuannya itu.
"Serasa gak punya kakak cewek tau gak. Gak ada bedanya, kayak kakakku cowok semua. " Itulah keluhan Zee saat berbincang dengan temannya lewat telpon. Saat itu Zee tidak tau kalau Rain yang masih ada di kamarnya tak sengaja mendengar percakapan itu. Tapi Rain hanya tersenyum dan selanjutnya keadaannya tetap sama.
Tapi kali ini, Rain dengan sangat menurut, mengikuti keinginan Intan yang bahkan bukan siapa-siapanya. Intan memilihkan banyak sekali baju untuk Rain. Entah kenapa wanita paruh baya itu tampak sangat senang. Rain hanya berpikir, mungkin karena Bu Intan tidak punya anak perempuan.
"Coba yang ini. Ini bagus...!! " Intan dengan riangnya berseru. Entah sudah yang keberapa kali Rain keluar masuk ke ruang ganti hanya untuk mencoba baju yang dipilihkan Intan.
Rain membuang nafas perlahan dan berjalan ke ruang ganti.
Pukul empat sore mereka akhirnya keluar dari Mall. Rain terlihat sangat lelah, berbeda dengan Intan yang masih tampak segar. Padahal mereka sudah lebih dari tiga jam di dalam Mall.
"Rain!! " Rain menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Seorang laki-laki yang sangat dia kenal.
"Arza? Loe ngapain di sini? "
"Loe yang ngapain? Gue kebetulan lewat habis ada kerja. " Arza menatap Rain dan melirik beberapa paper bag yang ditentengnya.
"Tumben banget loe belanja sebanyak ini? "
"Gue dibelanjain. Rezeki... Hihi... " Rain tertawa pelan. Terlihat terpaksa.
Arza tau sebenarnya Rain tidak sesenang itu. "Kalo gitu kapan-kapan gue juga mau belanjain loe. Loe jangan nolak! " Arza melotot saat melihat Rain yang hendak protes.
"Gue balik dulu. " Arza langsung saja pergi menuju motornya yang diparkir tidak jauh dari sana.
Rain mendesah pelan.
"Itu teman kamu? " Tanya Intan tiba-tiba dari dalam mobil. Tadi Intan hanya diam memperhatikan Arza dan Rain dari dalam mobil. Kebetulan Intan sedang memperbaiki make up-nya.
"Iya, bu. "
"Apa namanya Reynald? "
"Eng? Bukan, bu. Namanya Arza. " Rain tersenyum mengucapkan itu. Tapi dia melihat ada tatapan aneh pada mata Intan.
Intan tetap diam tampak memikirkan sesuatu.
"Ada apa, bu? "
Intan mengerjap, " Nggak kok, mungkin ibu salah orang. Ibu kira tadi itu Reynald."
Rain tersenyum, " Bukan, bu. "
Rain pun naik ke mobil dan mereka bergegas pulang. Intan mengantarkan Rain kembali ke rumahnya.
.
.
.
Rain dan Intan sampai ketika hari sudah sangat sore. Hastini membujuk Intan agar lebih lama dirumahnya, tapi Intan menolak karena dia masih ada urusan lain. Lagipula hari juga sudah sore. Tadinya Hastini ingin memperkenalkan Intan pada suami dan anaknya.
Hastini tidak bisa memaksa Intan. Akhirnya Intan pulang dan tak lama kemudian Pak Djaja dan Arka pulang dari kebun.
"Haah... Sayang sekali, pak. Bu Iin sudah pulang, " Ucap Hastini. Hastini memanggil Intan dengan sebutan Iin sementara Intan memanggil Hastini dengan sebutan Titi, bukan Tini.
Mereka bilang, itu lebih gampang diucapkan. Padahal kata 'Intan ' tidaklah panjang. Hastini dan Intan sudah sangat akrab padahal mereka belum kenal lama.
"Ya sudah, bu. Gak pa-pa. Masih ada lain kali. " Pak Djaja terlihat sekali lelahnya.
Pak Djaja dan Arka bergegas masuk untuk membersihkan diri. Mereka terkejut melihat banyak sekali paper bag yang tergeletak di meja. Sebagian sudah berceceran di lantai dengan isi yang berhamburan.
Kedua anak gadisnya sedang asyik menghambur isi paper bag itu.
"Waah... Anak gadisnya bapak sekarang sudah menjadi gadis betulan? " Pak Djaja terkekeh kemudian berlalu.
"Jangan dihambur begitu dong, dek. " Ucap Arka sambil lalu.
Rain dan Zee hanya terkikik.
Pak Djaja dan Arka tidak kaget lagi kenapa Intan memberi belanjaan sebanyak itu karena Intan memang sering memberi banyak barang untuk Rain. Intan sering mengirim belanjaan yang menurut mereka itu tidak perlu.
.
.
.
Keluarga Rain sedang berkumpul di teras rumah. Nampak beberapa tetangga datang untuk sekedar main di malam hari itu.
Hastini sedang mengobrol dengan tetangganya, sedangkan Pak Djaja ayik main catur dengan kedua temannya, suami dari orang yang mengobrol dengan Hastini.
Rain hanya memperhatikan tiga pasangan paruh baya itu. Apa mereka janjian mau main ke sini? Tumben-tumbenan si bapak-bapak pada bawa biniknya kemari? Malam-malam lagi, batin Rain.
Rain menoleh pada Zee yang sedang sibuk main game di ponselnya. Sedangkan Arka pergi ke rumah temannya.
"Gimana sekolahmu, dek? "
Zee menoleh sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya, " Baik kok, kak. Kenapa? "
"Sekarang aman? "
"Iya, kak. Sekarang sudah aman dan nyaman pula. " Zee terkikik. Rain mengernyit.
"Eng... Kalo Dion itu juga udah baik sekarang? "
Zee menatap Rain. "Hah? Kenapa tanyain dia? "
"Cuma tanya, sayang... Siapa tau dia masih senakal dulu. "
Zee kembali menatap ponselnya, " Dia udah pindah ke luar negeri. Kata kakak kelasku, dia kena penyakit jadi dia dibawa keluar negeri untuk berobat. " Ucap Zee tanpa beban seolah itu bukanlah hal penting.
Rain mengernyit, " Sakit? Sakit apa? Kenapa sampai dibawa ke luar negeri? "
"Ya... Gak tau. Tapi menurut aku gimana pun kaya-nya seseorang kalau bukan karena kepepet gak mungkin kan mereka sampai berobat jauh-jauh. Keluar negeri lagi. Mungkin penyakitnya tidak bisa disembuhkan di sini. Entahlah." Zee mengedikkan bahunya tampak tak peduli.
Rain termenung, "Temennya temen kakak ada loh yang cuma batuk pilek tapi sampe dibawa ke luar negeri." Zee mengerjapkan matanya seolah tak percaya.
Rain kembali memperhatikan para orang tua yang sedang asyik dengan kegiatannya. Matanya menatap orang tuanya penuh arti.
𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩.
.
.
.
bersambung...
maafkan jika ceritanya gak enak..
tapi aku enak-enak aja bercerita 😁
🙏🙏🙏🙏
semoga sehat selalu buat kalian😊😊
salam dari yuya😘😘
Zed mampir lagi kak Yuya, semangat nulisnya 🙏🥰
jangan bosen ya sama aku yg gak selesai2 bacanya 😂
ditunggu kehadirannya kembali di penjahit cantik, karya recehku
mampir lagi ya ke penjahit cantik
kok merinding akuh 😅