Narendra Putra Aryan. CEO muda yang tampan, berkharisma, genius, dan, dingin.
Bertemu dengan seorang gadis yang cantik, ceria, dan pemberani.
Namanya Syeira, gadis yang berprofesi sebagai wartawan pemburu berita media onlin.
Zico saudara Narendra, tumbuh menjadi si pria pirang yang yang tampan. tabiatnya sedikit buruk jika berurusan dengan wanita. Ia selalu berurusan dengan mereka sebagai partner ranjang.
Hingga takdir mempertemukannya dengan Cellin, gadis berkerudung yang lembut dan penyayang.
Ikuti kisahnya dalam cerita Love and Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Hari-hari berjalan seperti biasa, kembali sibuk dengan kegiatan kesehariannya.
Setelah kejadian sore itu, Faisal tak pernah lagi mengantar ataupun menjemput Cellin. Kang ojek onlin kembali menjadi langganan Cellin untuk bepergian. Meski begitu, tanggal pernikahannya sudah di tetapkan. Dan itu tidak akan lama lagi.
Cellin mulai bersikap ramah kepada Zico. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika Zico tidaklah seburuk itu, jadi tidak masalah jika hanya sekedar menjadi teman biasa.
Kini Zico menyadari dirinya sendiri. Ia tahu batasannya kepada Cellin yang hanya menganggapnya sebagai teman, dia yang suka Gonta ganti pasangan tidak berani mendekati Cellin untuk ia rayu seperti pertama kali melihatnya. Dia berbeda dengan gadis berhijab sebelumnya.
Cellin datang ke pantry, ia ingin membuat kopi. Lagi-lagi kepalanya terasa pusing. Cellin tengah meracik kopi buatannya. Zico datang, tanpa di sengaja, dia juga tidak tahu jika ada Cellin disana.
"Kau sangat suka sekali dengan kopi?"
Zico langsung berbicara sambil duduk di sebuah kursi. Cellin tersenyum melihat Zico yang baru datang.
"Mau ku buatkan?."
"Tidak, aku tidak suka. Ah, maksudku. Aku tidak ingin."
Cellin hanya tersenyum mendengarnya.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa.?" Suara Cellin terdengar sangat lembut.
"Aku tidak pernah lagi melihat pria waktu itu yang mengantarmu."
"Iya." Hanya itu jawaban Cellin. Lalu ia menyeruput kopinya.
"Dia siapa? Apa dia kakak mu.?"
"Bukan, dia calon suamiku." Jawab Cellin pelan tanpa menoleh ke arah Zico lantas melangkah keluar meninggalkannya.
Zico terbengong mendengar jawaban Cellin.
"Calon suami.?"
Entah kenapa hati Zico terasa nyeri. Meski Zico tak ingin mengakui jika hatinya telah patah.
...****************...
Syeira masih di kantor, ada berita Viral lagi tentang skandal artis yang berselingkuh, dan video + nya tersebar luas di media sosial. Bu Mela menugaskannya bersama Bim untuk meliput menggali berita langsung datang ke rumah artist tersebut. Syeira sudah bersiap lalu berangkat.
Sayang sekali, ia yang bersama dengan beberapa rekan wartawan lain dari channel lain yang sudah menunggu selama 4 jam tak kunjung mendapat hasil. Tak ada yang keluar maupun masuk dari rumah yang di tuju.
Hari sudah terlalu sore. Syeira memutuskan untuk menyudahi pekerjaan hari ini. Bim melajukan mobil membelah jalanan pusat kota. Mereka berhenti di alun-alun sekedar minum. Dan melepas lelah. Sudah petang.
Arend sudah sampai di apartment, masih sepi. Baik Zico maupun Syeira belum ada yang kembali. Arend duduk di sofa, memainkan ponsel. Menghubungi Syeira.
"Dimana.?"
"Tunggu disana. Aku datang."
Setelah itu Arend memutus panggilan dan segera keluar dengan gerak langkah yang cepat.
...****************...
Zico berada di dalam mobil yang berhenti menunggu lampu merah berubah hijau. Sesosok perempuan yang di kenalnya berdiri di pinggir jalan bersama dengan seorang pria. Itu Cellin dan Faisal.
Faisal terlihat menarik tangan Cellin paksa untuk naik ke motornya, Cellin tidak mau dan berusaha menepis tangan Faisal. Lalu Faisal berteriak entah apa, karna posisinya yang masih jauh di depan membuat Zico tak dapat mendengarnya, tapi Cellin akhirnya menurut dan naik ke motor Faisal.
Zico terus melihatnya, ia ingin turun dan mendekat ke arah mereka namun rambu sedang merah, dan saat rambu sudah hijau. Motor Faisal sudah bergerak kencang berlawanan arah.
"Kemana pria itu akan membawa Cellin? Itu bukan jalan pulang."
Zico memutar arah mengikuti laju motor pria yang membawa Cellin paksa. Dapat, motor yang mereka naiki tidak jauh dari posisi mobil Zico melaju.
Motor yang di kendarai Faisal masuk ke sebuah Club' malam. Ia menarik tangan Cellin untuk mengikutinya. Ternyata Faisal tengah mengadakan pertemuan dengan teman-temannya. 3 laki-laki dan 3 perempuan. Minuman ber alkohol, rokok dan kacang sudah tersedia di meja mereka.
"Wiihh.. Bro.. Kok ngajak ustadzah di mari?"
Seloroh salah satu teman Faisal. Yang di sambut gelak tawa lainnya. Cellin hanya diam menundukkan kepala, ia merasa takut sekarang. Mulut Faisal juga sudah berbau alkohol sejak mengajak Cellin secara paksa tadi di jalan.
"Mau pengajian Lo, Bro.?."
"Ha ha ha ha."
"Diem Lo pada."
Faisal sudah duduk di salah satu kursi. Cellin masih berdiri mematung, matanya sudah berkaca-kaca.
"Tapi dia cantik banget bro, manis, imut lagi. Lo dapet dari mana barang sebagus ini.?"
Ucap salah satu teman Faisal sambil memegang ujung kerudung Cellin. Sontak Cellin menepisnya kasar.
"Wooeeyyhh." Mereka tidak menyangka dengan sikap Cellin yang berani melakukan penolakan.
"Dia calon istri gua. Lo bayangin. Cewek model begini di jodohin sama gua. Dia gak mau gua sentuh. Terus gua bisa apa? Gua gak akan dapet warisan dari bokap gua kalo gua gak mau nikah Ama dia. Parah kan.?"
Cellin menatap Faisal nanar, ternyata Faisal bersedia untuk menikah dengannya hanya demi warisan keluarga nya.
"Saya juga tidak ingin menikah dengan anda. Saya juga melakukan itu terpaksa demi orang tua saya. Anda tidak perlu khawatir, saya akan meminta pada ibu saya untuk membatalkan perjanjian pernikahan kita."
Cellin memberanikan diri untuk melindungi martabatnya yang terasa di injak-injak oleh Faisal.
"Diam." Faisal mencengkeram pipi Cellin dengan keras. Ia sudah berdiri di hadapan Cellin sekarang.
"Berani kamu melakukannya, pengobatan ayah mu akan di hentikan. Kau tidak tahu siapa yang selama ini membiayai pengobatan ayahmu, hah.? Aku sudah mengatakannya padamu. Kita akan menikah, dan setelah aku mendapat hartaku, kau akan kulepaskan. Tapi sebelum saat itu tiba. Kau harus menurut padaku."
Faisal melepas kasar cengkraman tangannya pada pipi Cellin, dan ia kembali duduk. Cellin menangis. Hatinya sakit, pantas saja ibu begitu memaksa dirinya untuk menikah dengan Faisal. Itu karna pengobatan ayahnya di tangung oleh keluarga Faisal.
"Hei bro. Dia akan sulit kau taklukkan. Suruh dia minum, dan dia akan berada di bawah kendali mu dengan sempurna."
Seloroh teman Faisal. Faisal tersenyum licik melihat Cellin, Cellin menggelengkan kepalanya pelan.
"Minum, minum. MINUMM."
Faisal memaksa Cellin meminum segelas Vodka mencengkeram kepala Cellin dari belakang dan memegangi gelas yang dia arahkan ke mulut Cellin.
"Eemmphh" Cellin menggelengkan kepalanya menolak apa yang di paksakan Faisal padanya. Tangan Cellin berusaha mendorong namun teman-teman Faisal dengan tangkas menangkapnya.
"Buuggh."
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi Faisal membuatnya tersungkur menabrak meja dan jatuh ke lantai.
Dengan gerakan cepat Zico menarik tangan Cellin keras hingga kini Cellin berada di belakangnya, tangan Zico tak melepas tangan Cellin sama sekali, Zico menendangkan kakinya lurus ke depan mengenai dada teman Faisal yang memegangi tangan Cellin tadi. Lalu satu lagi pukulan keras melayang mengenai pria yang satunya.
Faisal bersama 2 temannya sudah tak berdaya di atas lantai. Zico ingin kembali menendangnya dengan kaki namun Cellin segera mencegahnya.
Tatapan Zico yang begitu tajam menahan amarah dan raut muka serius memperlihatkan jika kini ia dalam mode marah. Tak ada sedikitpun keramahan nampak di wajahnya.
Cellin menangis. Zico mengusap lembut pipi Cellin yang basah karna air matanya. Lalu Zico menarik tangan Cellin mengikuti langkahnya.
Zico membuka pintu mobil. Cellin masuk dengan patuh. Dengan cepat Zico masuk, menyalakan mesin dan menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Dada Zico masih terasa sesak dan berat. Ia benar-benar tengah marah. Sorot matanya begitu tajam.
Cellin yang tadi merasa ketakutan seketika merasa aman. Entah kenapa sekarang Zico menjadi salah satu orang yang sangat Cellin percaya. Cellin menatap sendu Zico yang hanya diam menatap jalan depan.
"Ceritakan sesuatu yang lucu. Jika tidak, aku akan kembali kesana menghajar mereka sampai mati." Suara Zico terdengar sangat tegas.
"Ada sebuah cerita, tentang seorang gadis yang menatap buruk seorang pria. Namun ternyata gadis itu salah. Dia adalah pria terbaik yang ia temui dalam hidupnya."
Suara Cellin terdengar parau saat mengatakannya. Itu adalah ungkapan dari hatinya. Zico mendadak menginjak rem. Menghentikan laju mobil.
Deru nafasnya mulai tenang, Zico menoleh melihat Cellin yang menatapnya dalam.
"Maaf,,,? Terimakasih.?" Lirih Cellin di iringi sesenggukan.
Mata Zico berkaca-kaca. Hatinya menghangat tiba-tiba. Apakah ini cinta?
"Apa aku memiliki kesempatan?"
Zico bertanya terus terang dengan suara yang bergetar.
Cellin yang masih menangis mengangguk antusias. Lalu memeluk tubuh Zico erat. Hati Zico rasanya ambyar. Ia begitu kaget dengan Cellin yang memeluk tubuhnya. Dadanya berdetak kencang. Seluruh tubuhnya seperti sedang menghantar aliran listrik beribu volt.
Kenapa bisa berbeda, ia terbiasa bermain cinta dengan wanita di ranjang, tapi kenapa ini sangat berbeda?
Cellin memeluk Zico mencari rasa aman. Ia benar-benar ketakutan. Menjatuhkan wajahnya pada dada bidang Zico. Zico membalas pelukan Cellin dengan hangat, ia memberanikan diri mengecup pucuk kepala Cellin pelan-pelan, sangat ragu.
"I love You."
Lirih Cellin yang terdengar sangat indah di telinga Zico. Ia memeluk Cellin semakin dalam.
"I love you too."
...****************...
Lagi-lagi ku gak bisa tidur,,,
Lagi-lagi ku gak bisa makan.