NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

​Sinar matahari pagi menyelusup masuk melalui celah gorden, memancarkan garis cahaya keemasan di atas ranjang king size. Bita mengerjap-ngerjap, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Namun, begitu ia mencoba menggeser tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat melingkar kokoh di pinggangnya.

​Bita menunduk. Lengan kekar Gus Ibra masih setia mendekapnya dari belakang, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak. Detak jantung Bita yang baru saja tenang setelah bangun tidur langsung berpacu kembali.

​Ia memutar tubuhnya perlahan, mencoba tidak memicu pergerakan yang bisa membangunkan suaminya. Kini, wajah tenang Ibra yang sedang terlelap berada tepat di depan matanya. Dalam jarak sedekat ini, Bita bisa mengagumi setiap detail pahatan wajah suaminya—bulu matanya yang lebat, hidung mancungnya yang tegas, hingga napasnya yang teratur menerpa kening Bita.

​“Ganteng banget sih lo kalau lagi tidur gini,” batin Bita, ujung bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyuman tipis.

​Tiba-tiba, kelopak mata Ibra bergerak perlahan. Bita yang panik setengah mati langsung berniat memejamkan matanya kembali, berpura-pura masih tidur. Namun, ia kalah cepat. Sepasang mata tajam nan teduh itu sudah terbuka sempurna, langsung menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Bita.

​Suasana kamar mendadak hening. Ibra tidak langsung menjauhkan tangannya, ia justru mempererat pelukannya sekilas sambil tersenyum tipis. Suara bariton khas orang baru bangun tidur terdengar begitu berat dan serak di telinga Bita.

​"Maaf, saya sepertinya terlalu nyenyak semalam." kata Ibra.

​Bita mendudukkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi bagian depan piyamanya yang sedikit longgar.

​Ibra menoleh, menatap Bita dengan binar mata yang hangat. "Kamu ada kelas jam delapan, kan? Cepatlah mandi duluan, saya akan siapkan berkas di bawah."

​"Gus," panggil Bita sebelum Ibra sempat beranjak dari kasur.

​"Ya? Ada apa?"

​Bita menggigit bibir bawahnya, meremas ujung selimut dengan gugup. "Gue... gue mandi dulu. Nanti... lo mau sarapan apa? Gue mau coba bikin sesuatu di dapur, mumpung masih inget sedikit ilmu dari Umi kemarin."

​Mendengar ucapan jujur istrinya, Ibra langsung tersenyum hangat. Matanya berbinar cerah, memancarkan rasa bahagia yang tulus. Pria itu mengulurkan tangan, mengacak pelan puncak kepala Bita yang masih berantakan. "Baik, Tsabita. Apa saja yang kamu buat, saya pasti suka. Terima kasih sudah mau mencoba."

​Tiga puluh menit kemudian, Bita sudah rapi dengan blus putih formal, celana kain berwarna moka, dan jilbab segi empat senada yang ia pasang dengan rapi. Sesuai niatnya tadi, Bita langsung turun ke dapur bersih. Ia menyalakan lampu dapur dan mulai membuka kulkas, mencari bahan-bahan yang sekiranya aman untuk dieksekusi oleh kemampuan memasaknya yang masih minim.

​Di balik meja bar dapur, Bita tampak sibuk dengan pemanggang roti, mentega, dan beberapa lembar daging asap serta keju.

​"Roti panggang isi daging keju doang mah harusnya aman lah ya, gak bakal gosong," gumam Bita menyemangati diri sendiri. Namun, karena kurang fokus, jarinya sempat terkena pinggiran piring pemanggang yang mulai panas. "Aw! Duh, panas!" refleks Bita mengaduh sambil mengibas-ngibaskan jarinya.

​"Kenapa? Ada yang terluka?"

​Suara Ibra yang tiba-tiba terdengar dari arah tangga membuat Bita menoleh cepat. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap, membawa tas kerja dan beberapa berkas di tangannya. Melihat Bita yang memegangi jarinya, Ibra langsung menaruh barang-barangnya di meja dan berjalan terburu-buru mendekati istrinya.

​"Gak apa-apa, Gus. Cuma kaget doang tadi kesenggol dikit," jawab Bita defensif, mencoba menyembunyikan jari telunjuknya di balik punggung.

​Ibra tidak percaya begitu saja. Dengan lembut namun tegas, ia menarik tangan Bita, memeriksa jari telunjuk istrinya yang sedikit memerah. Tanpa berkata apa-apa, Ibra menuntun Bita ke arah wastafel, lalu mengucurkan air dingin di atas jari yang memerah itu selama beberapa saat.

​"Lain kali lebih hati-hati, Bita. Jangan terlalu terburu-buru," ucap Ibra lembut, nadanya sama sekali tidak menghakimi, melainkan sarat akan rasa khawatir yang tulus.

​"Iya, lagian gue cuma mau bikin sarapan buat kita berdua kok," cicit Bita, wajahnya merona merah karena jarak mereka yang sangat dekat di depan wastafel. "Kan kata Umi kemarin, gue harus mulai belajar dikit-dikit biar gak keseringan jajan online."

​Ibra menghentikan kucuran air, lalu mengambil selembar tisu untuk mengeringkan tangan Bita dengan sangat telaten. Setelah selesai, ia menatap Bita dengan tatapan yang begitu dalam dan teduh. "Kamu tidak perlu memaksakan diri jika belum terbiasa, Tsabita. Saya bisa membeli makanan di luar kalau kamu merasa repot."

​"Gak repot, Gus! Cuma bikin roti panggang doang masa gak bisa, ngeremehin banget deh," ketus Bita, sifat gengsinya kembali muncul. Ia menarik tangannya dari genggaman Ibra, lalu menunjuk dua piring roti panggang isi daging dan keju yang sudah tertata rapi di atas meja makan. "Nih, udah jadi. Dimakan ya. Terus... gue juga bikin satu porsi lagi buat bekal gue di kampus." Bita menunjuk sebuah kotak bekal berwarna pastel di samping wajan.

​Ibra melirik ke arah kotak bekal tersebut. Sepasang matanya berbinar cerah, dan sebuah senyuman lebar yang sangat menawan terukir di wajah tampannya. "Ini... kamu benar-benar menyiapkan bekal juga untuk saya?"

​Bita mengerjap, agak salah tingkah. "Eh? Enggak, itu buat bekal gue sendiri. Tapi... kalau lo mau, itu di piring kan masih ada tiga tangkup lagi, lo habisin aja."

​Ibra menarik kursi, lalu menduduki meja bar tersebut dengan wajah yang tampak sangat cerah. Ia mengambil satu tangkup roti panggang buatan Bita, lalu menggigitnya dengan perlahan. Bita menahan napasnya, berdiri di seberang meja bar sambil memperhatikan reaksi suaminya dengan cemas.

​"Gimana? Rasanya aneh gak?" tanya Bita ragu.

​Ibra mengunyah makanannya dengan tenang, lalu menelan sepotong roti itu sebelum menjawab. "Rasanya sangat enak, Bita. Perpaduan keju dan dagingnya pas, rotinya juga renyah. Terima kasih untuk sarapan pagi ini. Ini adalah sarapan paling istimewa yang saya makan di rumah ini."

​Dada Bita seketika terasa penuh oleh rasa hangat yang membuncah. Pujian tulus dari Ibra selalu berhasil membuatnya merasa sangat dihargai. "Y-ya... syukur deh kalau lo suka. Habisin semuanya, awas kalau gak habis."

​"Pasti saya habiskan, Istriku," balas Ibra sambil tersenyum manis, kembali menggigit rotinya.

​Pukul tujuh Bita sudah bersiap-siap di dekat pintu depan sambil memegang ponselnya, berniat membuka aplikasi ojek online untuk memesan taksi ke kampus.

​"Pesan taksinya dibatalkan saja, Bita," ucap Ibra yang baru saja keluar dari kamar setelah memakai jam tangan dan merapikan rambutnya.

​Bita mendongak dari layar ponselnya, mengernyit bingung. "Kenapa? Ntar gue telat, Gus. Jam segini jalanan ke arah kampus pasti macet parah, mending gue buruan pesen."

​"Saya yang akan mengantarmu hari ini," ujar Ibra tenang, mengambil kunci mobil di atas meja konsol dekat pintu.

​"Eh? Gak usah, Gus! Kantor lo kan arahnya beda, ntar lo yang malah telat gara-gara musti muter balik lagi," tolak Bita tidak enak hati, tahu kalau suaminya memiliki jadwal yang padat sebagai pebisnis.

​Ibra berjalan mendekati Bita, menghentikan langkahnya tepat di depan istrinya, lalu menatap Bita dengan senyuman sabar yang selalu berhasil mengunci semua argumen bantahan. "Jadwal pertemuan saya di kantor baru dimulai jam sepuluh siang, Tsabita. Masih ada banyak waktu untuk mengantar istri saya dengan aman sampai ke depan gerbang fakultasnya. Lagipula, mengantar dan menjemputmu sudah menjadi bagian dari tugas saya."

​Bita kehilangan kata-kata. Sifat tegas namun penuh kelembutan dari Ibra selalu membuatnya tidak bisa berkutik. "Y-ya udah deh. Tapi kalau nanti di jalan macet total, lo jangan ngomel ya?"

​Ibra tersenyum tipis, membukakan pintu depan untuk Bita. "Saya tidak pernah mementingkan kemacetan jalanan, Bita. Karena bagi saya, itu artinya saya bisa memiliki waktu lebih lama untuk mengobrol bersamamu di dalam mobil."

​Wajah Bita kembali memerah sempurna mendengar kalimat lempeng namun sarat akan perhatian mendalam yang diucapkan Ibra tanpa beban. Ia buru-buru membalikkan badan dan melangkah keluar menuju mobil, menyembunyikan senyuman lebarnya yang sudah tidak bisa ditahan lagi.

​Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju kampus, di antara deru mesin dan padatnya lalu lintas Jakarta pagi itu, ritme baru dalam pernikahan mereka kini telah berjalan dengan sangat indah—penuh dengan obrolan ringan, tawa kecil, dan saling membiasakan diri yang terasa begitu natural.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!