NovelToon NovelToon
Nicholas

Nicholas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Badboy / Tamat
Popularitas:31.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Clarissa icha

Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP


Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.

Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Selama hampir 2 jam Sisil berkutat di dapur sejak pukul 5 sore. Dia memasak beberapa menu dengan porsi yang lumayan banyak. Dia tidak melupakan laki - laki yang tadi datang bersama Nicho. Meski Sisil menginginkan makan malam yang manis berdua dengan Nicho, namun dia tidak tega kalau hanya mengundang Nicho saja tanpa mengijinkan teman Nicho untuk gabung bersama mereka.

Sisil tersenyum lebar menatap semua makanan yang sudah tertata rapi di atas meja dengan cantik dan menggiurkan. Semua hidangan yang dia buat sendiri dengan keahlian memasaknya yang tidak perlu di ragukan lagi. Ada 4 menu makanan utama yang dia buat dan 1 menu hidangan penutup. Baked salmon, beaf steak, penne carbonara, spaghetti carbonara, dan salad buah yang selalu tersedia di lemari es.

Lagi - lagi Sisil menyelipkan menu spaghetti yang menjadi andalannya. Dia juga ingat saat memberikan spaghetti pada Nicho. Meski Dia lupa untuk meminta pendapat Nicho tentang spaghetti buatannya, namun Sisil yakin kalau Nicho menyukai spaghetti buatannya.

Sisil masuk kedalam kamar, dia akan mengganti baju dan membenarkan riasannya agar terlihat sehat setelah tadi berkutat dengan asap di dapur.

Ini pertama kalinya dia menyiapkan makan untuk laki - laki dengan perasaan yang penuh semangat dan bahagia pastinya. Mungkin berlebih, Sisil bahkan menyadari itu. Namun, rasa kagumnya pada Nicho membuat Sisil seakan tidak peduli.

Saat ini Sisil sudah berdiri di depan pintu apartemen Nicho dan tanpa ragu menekan bel beberapa kali.

Sisil menyengir kuda pada Nicho. Wajah polosnya sangat menggemaskan. Wajah cantik Sisil harusnya mampu membuat para laki - laki yang melihatnya merasa jatuh hati, tapi tidak dengan Nicho yang bahkan terlihat biasa saja.

"Kenapa.?" Ucapan Nicho berhasil membuat senyum di wajah Sisil meredup dan berubah cemberut. Di tatapnya Nicho dengan sorot mata kesal. Entah laki - laki itu pura - pura lupa atau tadi sore tidak menyimak ucapannya dan hanya mengiyakan saja.

"Katanya mau makan malam di tempatku," Jelasnya sedikit ketus.

"Dimana teman kakak.? Aja dia juga ya, aku masak banyak,,," Sisil terlihat mengintip ke dalam apartemen untuk melihat keberadaan Alvin.

Nicho terlihat memijat pelipisnya, wajahnya seakan menyesali sesuatu.

"Maaf, aku baru saja makan tadi,,," Ujar Nicho penuh sesal.

"Udah laper dan nggak inget kalau,,,"

Nicho tidak meneruskan ucapannya karna melihat mata Sisil berkaca - kaca. Dia terlihat sangat kecewa mendengar penuturannya. Nicho tidak bermaksud melupakan ajakan Sisil untuk makan malam bersama, dia sama sekali tidak ingat karna lagi - lagi perasaan yang membuat hati dan pikirannya berkecambuk kembali muncul. Dan pada akhirnya dia lupa akan janjinya pada Sisil.

Nicho membuat makan malam begitu merasa lapar dan memakannya seorang diri.

Sisil terlihat menarik nafas dalam, dia menghembuskannya seakan sangat berat mengeluarkan sesak yang sempat bersarang di dadanya. Bagaimana tidak sedih dan kecewa, dia sudah menyiapkan semau makanan itu, memasaknya seorang diri, menghabiskan waktu dan tenaganya, tapi Nicho malah melupakan janjinya begitu saja.

"Ya sudah,,," Ucap Sisil pasrah. Dia terlihat mencoba untuk menerima meski sebenarnya kecewa.

"Teman kakak juga sudah makan.?"

Nicho menggeleng pelan. Dan saat itu senyum Sisil kembali terbit, setidaknya makanan yang sudah dia masak tidak akan terbuang sia - sia.

"Aku ambilkan saja makanan buat teman kakak." Sisil terlihat bersemangat kembali.

"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu. Jangan di tutup pintunyaaa,,,!" Teriak Sisil, dia beranjak dari hadapan Nicho dengan berlari kecil.

Nicho mengusap wajahnya. Dia jadi berasa bersalah pada Sisil. Meski terkadang kesal padanya, tapi tidak tega saat melihat kekecewaan dari raut wajahnya. Dan melihat Sisil yang masih bisa tersenyum setelah di kecewakan olehnya, Nicho jadi semakin merasa bersalah pada wanita yang sifatnya sangat mirip dengan adiknya itu.

Dia seperti melihat Jeje dalam diri Sisil. Dan itu yang membuatnya tidak tega.

hanya menunggu 5 menit, Sisil sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi 4 piring dengan menu berbeda. Dia tersenyum sembari menyodorkan nampan itu pada Nicho.

"Ini kak,,," Ucapnya. Senyum tulusnya tak pernah tertinggal.

Nicho menerima nampan itu. Pantas saja Sisil hampir menangis saat dia bilang sudah makan. Rupanya dia sudah membuat 4 menu sekaligus.

"Hmm,,, makasih,,,"

"Sama - sama kak,,,"

Sisil terlihat kebingungan karna Nicho terus menatapnya. Tapi akhirnya dia memilih untuk beranjak.

"Aku pergi dulu,,," Ucapnya sopan.

"Sebentar,,," Nicho meraih tangan Sisil untuk mencegahnya pergi.

"Tunggu disini, aku bawa masuk ini dulu,,," Pintanya.

Nicho melepaskan tangan Sisil dan masuk ke dalam. Sementara itu Sisil mau menunggu di sana.

"Makan dulu.!" Nicho meletakan nampan di meja bar. Dia melirik kesal pada Alvin yang tengah duduk sambil terus menghisap rokok. Sepupunya itu sudah menghabiskan 1 botol vodka dan hampir menghabiskan 1 bungkus rokok miliknya. Benar - benar definisi beban keluarga yang sesungguhnya.

"Wah,, dapet dari mana lu.?"

"Tadi aja sok - sokan nggak mau ngasih gue makan, sekarang malah di bawain sebanyak ini,,," Ujar Alvin kesal. Dia masih saja kesal saat tadi melihat Nicho makan tapi tidak mau membaginya.

"Nggak usah banyak tanya. Tinggal makan doang,,!" Ketua Nicho.

"Gue keluar dulu. Ada urusan sebentar.!" Nicho menepuk pundak Alvin, dan bergegas keluar.

Dia menatap Jeje yang masih berdiri di tempatnya, kemudian menutup pintu.

"Ayo,,," Ajak Nicho. Dia berjalan lebih dulu dan hal itu membuat Sisil kebingungan.

"Kemana kak.?" Tanyanya sembari menyusul langkah Nicho.

Nicho berbalik badan dan mengetuk kening Sisil dengan jari telunjuknya.

"Katanya mau makan malam di tempat kamu.!" Serunya.

"Kakak serius.? Bukannya tadi bilang udah makan,," Sisil terlihat antusias. Dia bahkan tidak menghiraukan rasa sakit di keningnya akibat ulah Nicho.

"Kamu pikir aku bercanda.?" Ujar Nicho tegas.

Sisil langsung tersenyum lebar. Dia tidak jadi kecewa karna pada akhirnya Nicho mau makan malam bersamanya.

Keduanya masuk kedalam apartemen Sisil.

Sisil mengunci pintu tanpa merasa takut sedikitpun.

"Kenapa di kunci.?" Nicho bertanya dengan sorot mata tajam.

"Ya ampun, kakak jangan salah paham dulu,,," Sisil terlihat malu, wajahnya bahkan sampai merona. Nicho pasti sudah berfikir macam - macam tentangnya.

"Bahaya kalau nggak di kunci, orang lain bisa masuk begitu saja. Sedangkan kita ada di dapur nanti dan nggak tau kalau ada yang masuk,,," Ujar Sisil menjelaskan. Penjelasan yang masuk akal memang.

Nicho menggeleng heran.

"Kamu nggak takut kalau nanti aku macem - macem, pintunya di kunci dan kamu kesulitan melarikan diri." Ucapan Nicho membuat Sisil melotot tajam dengan mulut yang sedikit terbuka.

"Apa kakak sejahat itu.?" Tanya Sisil sambil memperhatikan Nicho dengan seksama.

"Eumm,,, sepertinya kakak nggak akan tega berbuat sesuatu padaku." Sisil menjawab pertanyaannya sendiri.

"Kalaupun nanti kakak macam - macam, aku bisa memukul kaki kak Nicho. Ada stik golf di dapur, lumayan bisa bikin kakak nggak bisa jalan nanti,," Ujar Sisil dengan entengnya. Dia bahkan menyengir penuh kemenangan.

"Otak kriminal.!" Ketus Nicho.

"Loh kan kakak duluan yang punya niat kriminal. Aku kan cuma jawab pertanyaan kakak aja,,,"

Sisil melenggang ke dapur. Dia benar - benar membiarkan pintunya terkunci.

Nicho hanya menghela nafas. Lalu menyusul Sisil ke dapur.

Nicho kembali di buat merasa bersalah setelah melihat masih banyak makanan di meja. Rupanya Sisil membuatnya dengan porsi yang banyak.

Nicho pikir Sisil tidak memasak sebanyak itu.

Untung saja dia memutuskan untuk menuruti keinginan Sisil. Kalau dia tidak ke apartemen Sisil, wanita itu pasti akan sangat kecewa.

"Kenapa harus memasak sebanyak ini. Terlalu banyak hanya untuk makan 3 orang.!"

Nicho duduk sambil menatap Sisil yang sedang menyiapkan piring untuknya.

"Aku pikir porsi makan laki - laki itu lebih banyak, jadi aku buat sebanyak ini. Eh tapi kakak malah udah makan." Keluhnya.

"Sekarang kakak pasti cuma nyicipin aja sesuap dua suap." Ujar Sisil yakin.

Nicho hanya diam saja. Tidak tau harus menjawab apa, karna saat ini perutnya memang masih terasa penuh.

...*****...

...Hayo siapa yang belum vote.? 😜...

1
liaa
seruu
Sitinor Holisah
coba gaush pkek pov pasti cerita nya lebih seru
aroem
bagus
Ira Suryadi
Luar Biasa
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
Nathan n Sisil memang punya jiwa besar🌹
pipi gemoy
mama Shinta noh👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹👻
pipi gemoy
vote buat nich n Sisil✌🏼
pipi gemoy
welcome baby boy Kevin ☕👏🏼👍🏼🙏🏼
pipi gemoy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣si Sisil satu frekuensi sama kakak n adik👻
pipi gemoy
pinter Sisil 🌹
pipi gemoy
papa alex👻🌹
pipi gemoy
pinter nick🌹
pipi gemoy
hadir Thor
nobita
aku jadi tegang 🤭
Candle_SHe
😍😍😍
arsita
ceritanya tu terlalu berbelit"
Yudi Jebaru
menarik/Rose/
Sofie Ariyani
nicho gendeng 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!