Follow Ige author : Shalsyala
Zahrani Alya Putri.
Bukan siapa siapa yang bersalah dalam kisah ini
Daun yang jatuh pun tak pernah menyalahkan laju angin
Seperti aku,
Seperti kisahku,
Bukan aku, kamu ataupun dia
Tak ada siapapun yang harus tersudut dengan kata "Salah"
Hanya takdir yang membawa kita sampai pada titik ini.
Reno Akbar Pratama. "Selamanya tak akan ada wanita lain selain Alya dihatiku."
Romansa penuh cinta antara dua anak manusia yang harus diuji oleh berbedaan kasta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Panik
**Kasih Like dulu sebelum dibaca.. 😉
Suara sirine ambulance meraung raung sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Memekakkan telinga dan bergidik ngeri bagi siapapun yang mendengarnya. Alya tergolek tak sadarkan diri dengan darah yang merembes di balutan perban di keningnya. Perawat yang berada dalam ambulance terus mengecek kondisi Alya. Tak butuh waktu lama akhirnya ambulance tiba dirumah sakit, dengan langkah cekatan para perawat membawa tubuh Alya memasuki UGD dan hanya petugas medis yang boleh memasukinya.
Shinta duduk di kursi tunggu yang terletak depan ruangan itu. Wajahnya terlihat masih syok setelah melihat kejadian naas menimpa teman baiknya tadi. Tangannya gemetar, air matanya sesekali lolos dari pelupuk matanya.
Saat kejadian tadi, Shinta berlari ke arah Alya yang sudah tak sadarkan diri dibawah reruntuhan kayu, ia mendekap tubuh Alya, tubuhnya seketika ikut lemas mendapati darah mengucur deras di kening Alya. Tangisnya pecah ketika melihat tubuh teman yang kini telah dia anggap sebagai sahabatnya itu di bopong oleh Pak Bambang dan karyawan laki laki lain menuju klinik sebagai pertolongan pertama sebelum ambulance datang.
Matanya menerawang melihat bercak darah yang terciprat di tangan dan seragamnya. Sesekali menatap pintu ruangan dimana Alya ditangani sekarang yang tertutup rapat.
Pandangannya teralihkan ketika getaran ponsel yang ia sakukan di saku celananya bergetar. Ia mengambil ponselnya. Ternyata bukan ponselnya yang sedang bergetar melainkan ponsel Alya yang memang ia bawa sebelum kejadian naas tadi menimpa sahabatnya.
Tertulis nama "Mas Akbar" memanggil, dengan bimbang Shinta akhirnya memencet tombol yang menyambungkan dengan panggilannya,,
"Halo Alya, Al kamu ada dimana? kamu baik baik saja kan?
Dari sebrang sana nada suara Akbar begitu panik. Ia mendengar kabar jika ada insiden kecelakaan kerja di pabriknya, tanpa bertanya siapa dan di bagian apa, Akbar langsung teringat dengan Alya. Saat itu juga ia menghubungi Alya.
Shinta yang sedari tadi diam mendengarkan rentetan pertanyaan Akbar, dengan bibir bergetar ia mulai bersuara,,,
"Hallo Pak Akbar!..."
"Halo... kamu siapa? dimana Alya?
"Mmm... saya Shinta pak, saya temannya Alya, Alya...Alya.. kecelakaaan pak!" ucap Shinta terbata dan air matanya kembali jatuh.
"Alya sekarang dimana?" . Suara Akbar dari sebrang sana sudah panik luar biasa.
Setelah mendapat info rumah sakit dimana Alya dirawat, Akbar dengan cepat bergegas menuju rumah sakit itu. Dalam perjalanan ia tak henti hentinya merapalkan doa dalam hatinya untuk Alya.
***
Pintu ruang dimana Alya dirawat masih tertutup rapat. Kali ini Shinta duduk bersama pak Bambang selaku penanggung jawab dari pabrik dimana Alya mengalami kecelakaan.
Terlihat seorang pemuda dan wanita paruh baya berjalan tergesa gesa melewati lorong yang menghubungkan dimana ruang perawatan Alya. Shinta mengenal salah satu dari mereka.
"Rafa...!?". Shinta memanggil pemuda itu. Shinta sering bertemu Rafa saat mengantar Alya bekerja. Jadi ia langsung bisa mengenali wajah Rafa dari kejauhan.
"Mbak Shinta...! Mbak Alya bagaimana keadaannya mbak?" tanya Rafa panik.
"Naak, Alya dimana sekarang? dia baik baik saja kan?", tanya Bu Heni dengan suara gemetar disela tangisnya.
Pak Bambang berdiri memperkenalkan diri dan mulai menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan Alya. Mendengar penjelasan dari Pak Bambang, tubuh bu Heni seketika lemas dan oleng hendak jatuh, Rafa segera merangkul ibunya dan membawanya duduk. Tangisnya tersedu sedu.
Suasana menjadi hening, hanya suara sesenggukan dari tangis bu Heni yang sesekali masih terdengar. Lama setelahnya, derap langkah kembali terdengar di ujung lorong, terlihat Akbar berlari tergopoh gopoh.
"Dimana Alya, bagaimana keadaan Alya?"
Akbar menatap bingung pada semua, ia melihat Bu Heni menangis dipelukan Rafa, pandangannya beralih menatap Shinta kemudian menatap noda darah di baju Shinta. Pak Bambang berdiri menghampiri Akbar, menganggukkan kepala sebagai tanda hormat terdahap atasannya.
"Apa yang terjadi sehingga bisa terjadi kecelakaan kerja seperti ini?", tanya Akbar dengan nada geram.
Pak Bambang dengan wajah pias mencoba menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Alya. Akbar sesekali memejamkan mata, mengontrol emosinya agar terkendali.
Belum selesai Pak Bambang memberi penjelasan, Akbar mengibaskan tangannya. Seketika suara Pak Bambang terhenti.
"Selidiki pemicu terjadinya kecelakaan ini, jika memang karena keteledoran dalam menjalankan prosedur, siapkan nama nama yang terlibat didalamnya. Sebagai penanggung jawab di tempat itu tentu tidak sulit bagimu untuk melakukan itu!",, perintah Akbar.
Pak Bambang mengangguk mengiyakan perintah Akbar. Kemudian pintu ruangan Alya terbuka, terlihat dokter dan seorang suster keluar.
"Keluarga saudari Zahrani? "
Semua berdiri menghampiri dokter itu. Dan dokter mulai menjelaskan kondisi Alya.
"Pasien tidak mengalami hal serius, luka dikeningnya juga telah mendapat beberapa jahitan dan darahnya telah berhenti. Hanya pergelangan kakinya memang masih memar tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun kondisi tubuhnya begitu lemah, pasien sepertinya sudah tidak sehat sebelum kecelakaan terjadi. Pasien mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi". Penjelasan dokter memberikan kelegaan di semua wajah yang ada di ruangan itu, namun tak menghilangkan rona kekhawatiran di wajah mereka masing masing.
Setelah dokter pamit, Alya dipindahkan ke ruang rawat inap. Alya ditempatkan diruang VIP, tak lain merupakan perintah Akbar kepada pihak rumah sakit untuk memberikan penanganan dan pelayanan yang terbaik untuk Alya.
Setelah melihat kondisi Alya, Shinta dan Pak Bambang berpamitan undur diri. Tak lupa Bu Heni berterima kasih atas semua bantuan dan perhatian dari Shinta dan Pak Bambang.
Kini hanya tinggal Akbar, Bu Heni dan Rafa. Bu Heni masih duduk di sofa dengan mengelus kepala Rafa yang sudah tertidur kelelahan.
Dalam ruang VIP itu Alya terbaring dengan mata terpejam rapat dengan balutan perban melingkar di keningnya. Akbar duduk ditepi ranjang dengan terus mengamati keseluruhan tubuh Alya dengan tatapan perih. Memar memar berwarna kebiruan terlihat jelas di pipi dan lengan Alya. Kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Ia menautkan jemarinya dengan jemari Alya. Sesekali mencium punggung tangan Alya dengan lembut.
Wajahnya menunjukkan penyesalan melihat kondisi gadis yang tengah tergolek lemah dihadapannya ini. Hatinya sakit ketika Alya terluka, jangankan terluka seperti ini, melihat Alya menangis saja ia sudah tidak bisa.
Sesekali ia tampak menarik nafas dalam dalam seolah rongga dadanya begitu sesak.
Ia bergelut dengan pikiran dan kecemasannya terhadap Alya. Bu Heni yang sedari menatap Akbar, tahu betul kegelisahan dan kecemasan Akbar. Kemudian Bu Heni menghampiri Akbar.
"Akbar, ini sudah malam nak, apa tidak sebaiknya kamu pulang, kamu terlihat begitu lelah",,,ucap Bu Heni.
Akbar melepaskan gengaman tangan Alya kemudian berucap,
"Enggak apa apa tante, saya disini aja nemenin Alya, maafkan saya tante, saya tidak bisa menjaga Alya dengan baik". Raut mukanya benar benar menyesal.
Bu Heni hanya mengangguk pelan. Kemudian mengucapkan terima kasih selama ini telah menjaga Alya. Ia paham dengan apa yang dirasakan Akbar, ia begitu menyanyangi putrinya. Terlihat betapa paniknya ketika Alya masih di dalam UGD, dan kali ini enggan beranjak dari samping Alya. Akhirnya Bu Heni membiarkan Akbar menemani Alya.
****
**Terus sekarang kasih coment. 😉