NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 MALAM PERTAMA

Kayla masih menggelayut di leher lelaki asing itu. Tubuhnya yang mungil terasa hangat, sementara kedua lengannya enggan melepaskan pelukan. Wajah cantiknya memerah akibat pengaruh alkohol. Di sisi lain, lelaki itu hanyalah pria normal yang masih berusaha menahan gejolak dalam dadanya.

"Kamu sadar dengan apa yang sedang kamu lakukan?" bisik lelaki itu pelan.

Kayla tidak menjawab. Jemarinya justru mengusap perlahan punggung lelaki itu. Kepalanya bergerak mendekat, lalu berbisik lirih di dekat telinganya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Kamu rewel sekali... cepat lakukan."

Lelaki itu menarik napas panjang. Dadanya naik turun tidak beraturan. Meski keinginannya begitu kuat, masih ada keraguan yang menahan langkahnya untuk melangkah lebih jauh.

"Atas dasar apa?" tanyanya lirih.

"Cinta," jawab Kayla tanpa membuka mata.

Malam itu menjadi awal dari sebuah takdir yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebuah keputusan yang lahir dari keadaan, tetapi kelak akan mengubah hidup keduanya untuk selamanya.

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah tirai jendela. Cahaya hangat itu menerpa wajah Kayla hingga membuat kelopak matanya bergerak pelan. Dari arah kamar mandi terdengar suara gemericik air yang memecah keheningan pagi.

Kepala Kayla masih terasa berat. Ia berusaha mengingat kejadian semalam, tetapi semua terasa samar seperti mimpi yang berkabut. Saat duduk di atas ranjang dan menyingkap selimut, matanya langsung membulat. Tidak ada sehelai pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Dengan wajah panik, ia segera memunguti gaun merah yang berserakan di lantai.

Dari balik pintu kamar mandi masih terdengar suara air mengalir. Bayangan tubuh seorang lelaki tampak samar di balik kaca buram, membuat jantung Kayla berdetak semakin cepat.

"Ah, sialan... kenapa aku bisa melakukan ini?" gerutunya pelan sambil buru-buru mengenakan gaunnya.

Setelah berpakaian dan mengenakan sepatu, Kayla berniat pergi tanpa meninggalkan jejak. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah dua orang asing yang dipertemukan oleh keadaan. Kabur adalah pilihan paling masuk akal menurutnya.

Namun, belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, pintu kamar mandi lebih dulu terbuka. Lelaki itu keluar dengan rambut yang masih basah. Uap air tipis masih menyelimuti tubuhnya. Dada bidang, perut yang terbentuk sempurna, dan kulit putih bersih membuat Kayla sempat terpaku beberapa detik.

"Sempurna sekali..." gumam Kayla dalam hati.

Tatapan mereka akhirnya bertemu. Keheningan memenuhi ruangan sebelum keduanya membuka mulut hampir bersamaan.

"Tadi malam..."

Ucapan itu terhenti di tengah jalan. Suasana kembali canggung. Tidak ada yang tahu harus berkata apa. Lelaki itu akhirnya menunduk dan mengambil dompet kulit hitam yang tergeletak di atas meja.

"Wah... jangan-jangan dia mau memberiku uang. Memangnya aku wanita murahan?" batin Kayla kesal.

Dengan cepat ia mengambil dompet panjang berwarna putih tulang miliknya. Saat membukanya, dadanya langsung sesak. Uang yang tersisa hanya dua lembar pecahan seratus ribu. Jumlah itu bahkan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya selama seminggu.

Meski begitu, harga dirinya jauh lebih mahal daripada uang terakhir yang dimilikinya. Kayla menggenggam salah satu lembar uang itu, lalu melangkah mendekati lelaki tersebut.

Pluk!

Uang pecahan seratus ribu itu ditempelkan begitu saja di dada bidang lelaki tersebut. Lelaki itu sampai tertegun, sama sekali tidak menyangka tindakan Kayla.

"Indah dilihat, tapi tidak terlalu berguna," ujar Kayla sinis. "Kemampuanmu biasa saja."

"Apa katamu?" tanya lelaki itu dengan wajah penuh keterkejutan.

"Aku sarankan kamu lebih banyak berlatih sebelum melayani perempuan. Sekarang perempuan lebih mementingkan kualitas daripada sekadar tubuh yang bagus. Jadi, latihan dulu sebelum mencari pekerjaan."

Kayla mengucapkan semua itu tanpa ragu. Ia bahkan berusaha terlihat seperti perempuan kaya yang sudah terbiasa menyewa gigolo, padahal semua kalimat itu hanya ia tiru dari film-film yang pernah ditontonnya.

Lelaki itu terpaku. Harga dirinya terasa diinjak begitu saja. Padahal semalam justru Kayla yang beberapa kali kewalahan menghadapi situasi yang sama-sama baru bagi mereka.

Dengan refleks lelaki itu meraih pergelangan tangan Kayla. Namun, Kayla lebih cepat menepisnya. Ia mengambil kedua sepatunya, lalu berlari keluar kamar sambil menjinjing alas kaki tersebut tanpa sempat memakainya.

Lelaki itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Setelah pintu kamar tertutup, pandangannya beralih ke ranjang. Saat menyingkap seprai, matanya menangkap bercak merah yang masih terlihat jelas.

"Jadi... itu pertama kalinya baginya," gumam lelaki itu pelan.

Senyum kecil terukir di sudut bibirnya. Ia sadar, semalam bukan hanya Kayla yang baru pertama kali mengalami semuanya. Mereka sama-sama canggung, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa, dan justru itulah yang membuat malam itu terasa begitu ‘membara’

Ketika hendak pergi, pandangannya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas karpet hotel. Sebuah kartu identitas karyawan yang tampaknya terjatuh tanpa disadari pemiliknya.

"Kayla Lesmana... Wakil Manajer Hotel Perdana," ucapnya pelan sambil membaca tulisan pada kartu tersebut.

Tanpa ragu, ia memasukkan name tag itu ke dalam saku jas mahalnya. Setelah selesai berpakaian dengan celana hitam dan kemeja putih yang pas membentuk tubuh atletisnya, ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.

"Aldo, akuisisi semua hotel yang bernama Perdana."

Perintah itu terdengar singkat, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.

Setelah panggilan telepon berakhir, Adrian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, ia keluar dari kamar hotel. Aura dingin yang memancar dari dirinya membuat lorong hotel mendadak terasa sunyi. Beberapa pria dan wanita yang sejak tadi berjaga langsung membungkukkan badan. Wajah mereka pucat, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipis masing-masing.

"Tuan Adrian, maafkan kami. Kami gagal memberikan pengamanan terbaik sehingga ada orang asing yang berhasil masuk ke kamar Anda," ujar salah seorang perempuan dengan suara bergetar. Kepalanya tetap tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya.

Adrian hanya menganggukkan kepala tipis. Wajah tampannya tetap datar tanpa sedikit pun memperlihatkan amarah. Justru sikap tenangnya itulah yang membuat semua orang semakin diliputi rasa takut.

"Lupakan masalah ini."

Tatapan tajam Adrian beralih kepada seluruh orang yang berdiri di hadapannya. Sorot matanya begitu dingin hingga tidak seorang pun berani mengangkat kepala ataupun membalas pandangannya.

"Rahasiakan kejadian semalam. Jangan sampai ada satu orang pun yang mengetahui apa yang terjadi di kamar ini selain kalian. Jika sampai berita itu bocor, kalian akan menjadi orang pertama yang harus mempertanggungjawabkannya."

Suara Adrian terdengar tenang, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya mengandung ancaman yang begitu jelas. Tidak perlu berteriak atau membentak. Semua orang sudah memahami bahwa pria itu selalu menepati setiap ucapannya.

"Baik, Tuan."

Jawaban mereka terdengar hampir bersamaan. Tidak ada seorang pun yang berani membantah ataupun mencari alasan. Mereka hanya berharap kejadian semalam benar-benar terkubur rapat dan tidak pernah sampai ke telinga siapa pun.

Dalam hati, mereka bahkan memilih untuk tidak mencari tahu siapa perempuan yang berhasil masuk ke kamar Adrian. Semakin sedikit mereka mengetahui rahasia sang tuan, semakin besar pula kesempatan mereka untuk tetap hidup tenang dan mempertahankan pekerjaan.

Adrian kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan mereka. Sepanjang perjalanan menuju lift, hanya ada satu nama yang terus memenuhi isi kepalanya.

Kayla Lesmana.

Tanpa disadari, sudut bibir Adrian perlahan terangkat membentuk sebuah senyum tipis. Senyum yang begitu langka hingga tidak pernah dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Sesampainya di depan hotel, sebuah mobil mewah sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Adrian masuk tanpa sepatah kata. Mobil itu segera melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi aktivitas pagi.

Dari balik jendela berlapis kaca gelap, Adrian memandang deretan gedung yang berlalu begitu saja. Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar. Bayangan wajah Kayla yang keras kepala terus muncul memenuhi benaknya, membuat senyum tipis itu kembali menghiasi wajah dinginnya.

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!