Kisah cinta segitiga antara Kakak, Adik dan teman se genk nya. Ditikung karena keadaan yang memaksa. Sanggupkah semua mempertahankan cinta sejatinya?.
laki-laki yang sangat high quality untuk dijadikan suami bertemu dengan wanita yang seusia adik bungsunya, dengan segala godaan yang menerpa, sanggupkah mereka bertahan?
Selamat membaca readers, semoga cerita sederhana ini bisa membawa kita lebih memahami apa yang terjadi disekitar kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Departure 24, Bertemu
"Syaf tunggu, Abang belum selesai" pinta Fawaz. Syaf kembali duduk.
"Abang dukung hubungan kalian karena Abang tau dia lah salah satu penyemangat Lo buat kuliah. Abang juga pernah tanya dia berkali-kali tentang hubungan dan perasaan dia ke Lo Syaf, dia selalu jawab ga ada apa-apa, begitu Abang dapat kepastian tentang hubungan kalian, baru Abang mencoba masuk" papar Fawaz mengakui semuanya.
"Terus tanggapan Zahra ke Abang gimana?"tanya Syaf.
"Ga pernah ngomong apa-apa tuh, dia masih polos banget urusan cinta-cintaan. Sampe sekarang aja dia ga tau cerita ini dan perasaan Abang ke dia" ujar Fawaz.
"Tapi kenapa dia lebih berani deket ke Abang, selama ini sama Syaf selalu jaga jarak" ucap Syaf.
"Itu mah pas kita udah nikah kali, sebelumnya juga kaku. Kita udah sepakat buat mencoba menjalani pernikahan ini layaknya suami istri pada umumnya" kata Fawaz.
"Jadi Abang pura-pura bahagia gitu?" tanya Syaf ga paham.
"Aduh nih anak ga paham-paham juga, mana ada pura-pura bahagia" tutur Fawaz.
"Makin ga ngerti deh Syaf" kata Syaf.
"Intinya Abang cinta sama istri Abang dan memohon ke Lo buat buang rasa ke dia ... anggaplah dia sebagai kakak ipar" pinta Fawaz.
"Ga mungkin Bang...she's my first love" kata Syaf yakin.
"Jadi Lo masih ngibarin bendera perang sama Abang?" tanya Fawaz.
"Abang yang mulai peperangan diantara kita, Abang yang memisahkan cinta sejati Syaf" tukas Syaf.
"Terserah deh kamu mau bilang apa" kata Fawaz.
"Oke ...Syaf akan pindah dari sini. Syaf ga mau numpang sama Abang lagi" ucap Syaf.
"Whatever...." jawab Fawaz.
Mama berhasil membujuk Syaf balik ke Indonesia buat hadirin pernikahan Abangnya. Sebenarnya satu pesawat sama Fawaz, tapi beda nomer kursinya lumayan jauh. Di bandara Soekarno Hatta, Rafa udah nunggu.
"Assalamualaikum adikku yang calon artis ternama" Sapa Fawaz sekaligus do'a.
"Waalaikumsalam Abangku, si Pilot yang tidak sombong tapi udah ga bisa jadi playboy lagi" sahut Rafa.
"Woiii...manyun aja Bro" Rafa menegur Syaf. Yang ditegur malah ngeloyor aja menuju parkiran.
Di mobil, hanya Fawaz dan Rafa aja yang ngobrol. Syaf hanya diam sambil main game di HP.
"Kenapa tuh anak, sariawan?" Tanya Rafa.
"Bukan sariawan tapi cari lawan" jawab Fawaz.
"Hahaha Bang Bro udah bisa becanda sekarang"puji Rafa.
"Eh Fa... Syaf tuh mau main sinetron azab dia" lanjut Fawaz.
"Ada casting di Singapore?" tanya Rafa serius.
"Ya ...judulnya azab adik yang menyukai kakak iparnya sendiri, mulutnya manyun ga bisa balik" jawab Fawaz.
"Wkwkwkk....sumpah lucu banget" Rafa sampe lama berhenti ketawanya.
"Bro...langsung ke kampus Zahra aja ya, Abang chat dia katanya mau selesai kelas, mau kan?" tanya Fawaz.
"Yang udah sebulan ga ketemu, kangen nih kayanya" goda Rafa.
"Kangen ama istri sendiri mah sah-sah aja kan" kata Fawaz.
"Atur aje deh Bro" ucap Rafa.
"Gmn bandnya? belum kedengeran lagunya nih" tanya Fawaz.
"Masih promo-promo Bang, ya emang belum banyak yang tau juga sih lagunya" jelas Rafa.
"Sabar aja, paling ga udah melakukan apa yang kita suka" ucap Fawaz.
Fawaz menelpon Zahra, memberi tahu kalo udah nunggu di parkiran kampus. Zahra minta waktu sekitar 10 menit lagi karena masih diskusi sama temannya.
Zahra sedang diskusi buat tugas Public Speaking bersama teman sekelompoknya.
"Ra..gimana nih tugas bikin penyuluhannya?" kata temannya.
"Kita harus cari dulu jenis penyuluhannya apa" jawab Zahra.
"Ya udah gini aja, kita cari ide masing-masing terus lanjut diskusi di chat group aja, daripada sekarang juga belum ada gambaran" lanjut temannya.
"Ra..mau ikut nonton ga? mumpung besok ga ada kelas, jadi kita bisa pulang malem hari ini"ucap temannya.
"Sorry, gw udah dijemput" jawab Zahra.
"Cie sama pacar ya" goda temannya.
Zahra hanya tersenyum, dia udah sepakat sama Fawaz kalo pernikahannya harus dirahasiakan dari temen kuliah karena Zahra belum pede sama statusnya.
Fawaz dan Rafa nunggu diluar mobil, sambil ngobrol dibawah pohon. Zahra jalan ke arah parkiran bareng temen-temannya, mereka pun berbisik-bisik. Seperti biasa para cewek-cewek, kalo liat cowok yang rada klimis dikit aja pasti jadi omongan. Apalagi yang dibahas kali ini ga lain ga bukan adalah kegantengannya Fawaz dan Rafa. Sebenarnya kalo Fawaz, mereka udah pernah liat saat antar Zahra bayar uang kuliah, tapi Rafa baru kali ini liat bersama Zahra.
"Ra...kenalin dong ama cowo Lo...itu sama temennya juga boleh deh sekalian" kata temennya sambil nunjuk Rafa.
"Besok-besok aja ya, kita lagi buru-buru soalnya" alasan Zahra.
"Emang mau kemana sih Lo?" tanya temannya.
"Ada deh..." Jawab Zahra penuh teka teki.
Setelah bersalaman dengan Fawaz dan Rafa, Zahra bingung mau duduk dimana. Kursi tengah udah ada Syaf yang masih sibuk main game.
"Woi anak kecil...pindah kedepan" Rafa berkata sambil ngetok kaca tempat Syaf duduk.
"Tinggal duduk aja sih...repot amat" protes Syaf.
"Lo mau pindah apa gw turunin disini" ancam Rafa.
Langsung Syaf keluar dari pintu tengah lalu masuk ke pintu bagian depan. Fawaz dan Zahra duduk di kursi tengah.
"Ga ketemu sebulan kok kayanya kurusan De" tanya Fawaz sambil liat istrinya.
"Ya... cape ternyata ambil 24 SKS, tugasnya banyak" jelas Zahra.
"Kan emang paketan kan, beda lah D3 sama S1" ucap Fawaz.
"Iya sih, ya jalani ajalah" kata Zahra.
Semua pun lanjut berbincang, kecuali Syaf yang masih asyik sama gamesnya.
Sesampainya di rumah, Mama udah nyiapin makan siang. Semua makan, kecuali Syaf yang langsung masuk kamar. Setelah makan, Fawaz membawa kopernya ke kamarnya diatas, bersebelahan dengan kamar Syaf.
"Udah Mba ... ga usah bebenah, temenin dulu suaminya tuh, cape kan dia baru pulang, kangen pula sebulan kaya bang Toyib ga pulang-pulang" saran Rena.
"Ya...oh ya Ma, nanti malam Ra tidur sama Mama boleh?" tanya Zahra.
"Kan Fawaz ada. Masa kita tidur bertiga" jawab Mama. Rena udah senyum-senyum aja.
"Kan kalo sama Mama bisa manja-manjaan, bisa ngobrol banyak hal" papar Zahra.
"Ya manja-manjaannya sama Fawaz aja, enak malah bisa sambil ngobrol, mengenal satu sama" goda Mama. Zahra serba bingung. Mau masuk kamar ada Fawaz dan dia pasti grogi. Ga masuk kamar juga Mama pasti curiga.
"Udah sana masuk kamar temenin Fawaz, kangen kali dia sama kamu" Lanjut Mama sambil mendorong badan Zahra. Rena udah cekikikan melihat Zahra keliatan linglung.
"Ayo Mba.. semangat menuntaskan kangen Abang Pilot, dari tadi matanya ga pernah lepas ngeliatin istrinya. Hadeuhh kan jadi pengen diliatin kaya gitu" ucap Rena.
"Udah Ren..jangan gangguin Zahra.. sana Ra.. melayani suami tuh pahala loh" kata Mama.
Zahra mengetuk pintu kamar dulu sebelum masuk, dia khawatir nanti Fawaz lagi ga pake baju kan malah tambah malu ngeliatnya. Zahra masuk perlahan. Fawaz lagi asyik sama tab nya dan tiduran di kasur, ga tau lagi main game atau urusan kerjaan.
"De..itu koper tolong dibongkar aja...kalo yang handbag ga usah" pinta Fawaz.
"Ya" jawab Zahra sambil mengambil koper dan membongkarnya di lantai.
lanjuut