NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Jiwa

Suasana di ruang observasi lantai tiga Rumah Sakit Telogorejo masih terasa berat. Rani tertidur pulas setelah diberi obat penenang, napasnya teratur namun terdengar lemah melalui selang oksigen yang baru saja dilepas. Viona duduk di kursi plastik keras di samping ranjang, matanya merah dan bengkak karena tangis. Tangannya menggenggam erat jari-jari dingin ibunya.

Zidan berdiri di dekat jendela, menatap hujan yang belum juga reda. Ponselnya bergetar berkali-kali dengan notifikasi pekerjaan, namun ia mengabaikannya. Pikirannya sepenuhnya tertuju pada kondisi ibunya dan gadis yang sedang bersedih di samping ranjang itu.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar cepat dan berat di lorong. Bukan langkah perawat yang halus, melainkan langkah seseorang yang terburu-buru dan panik. Pintu ruangan terbuka agak kasar.

Seorang pria paruh baya masuk dengan napas terengah-engah. Ia mengenakan kemeja batik rapi yang kini sedikit kusut di bagian punggung karena keringat. Wajahnya pucat, dahinya berkerut dalam, dan matanya langsung menyapu ruangan hingga tertuju pada sosok di ranjang.

Itu Pak Wahyu. Ayah kandung Zidan, dan ayah tiri Viona. Pria yang selama ini menjadi kepala keluarga yang tenang, bijaksana, dan selalu menjadi penengah antara logika dingin Zidan dan emosi hangat Viona.

"Rani..." desis Pak Wahyu, suaranya serak dan pecah. Ia berlari kecil mendekati ranjang, wajahnya penuh ketakutan yang jarang terlihat dari pria setegar dirinya.

Viona tersentak. Ia melepaskan genggaman tangan ibunya sebentar untuk menatap ayah tirinya. Melihat Pak Wahyu begitu hancur membuat dada Viona semakin sesak. Jika Zidan yang kuat saja tampak tegang, bagaimana dengan Pak Wahyu yang sangat mencintai istrinya?

"Yah..." panggil Viona lirih, suaranya tercekat.

Pak Wahyu tidak langsung menjawab. Ia mengambil tangan Rani yang lain, mencium kening istrinya dengan lembut, lalu meneteskan air mata. "Maafkan aku, Ran. Aku telat... Aku seharusnya ada di sana saat kamu jatuh."

Zidan melangkah mendekat, meletakkan tangan di bahu ayahnya. "Yah,ibu stabil untuk sekarang. Dokter sudah menangani."

Pak Wahyu menoleh, matanya bertemu dengan mata putra sulungnya. Ada rasa lega sesaat, diikuti oleh kecemasan yang mendalam. "Bagaimana kondisinya, Dan? Jujur pada Ayah."

Zidan menghela napas, lalu menjelaskan dengan nada profesional namun tetap ada nada khawatir di dalamnya. "Ibu mengalami anemia parah dan pendarahan saluran cerna minor. Dokter menduga ini sudah berlangsung lama, tapi gejala akutnya baru muncul hari ini karena dehidrasi dan kelelahan fisik. Ibu akan menjalani endoskopi besok pagi untuk memastikan sumber pendarahannya. Dokter menyarankan rawat inap minimal tiga hari, tapi bisa lebih lama tergantung hasil pemeriksaan."

Pak Wahyu mengangguk pelan, mencerna informasi itu. Ia tampak berpikir keras, mencari solusi, mencari cara untuk memperbaiki keadaan. Lalu, pandangannya beralih ke Viona yang duduk terpaku, wajahnya basah oleh air mata.

"Viona," panggil Pak Wahyu lembut.

Viona menatapnya, bibirnya gemetar.

"Yah... Ibu kenapa? Kenapa Ibu nggak bilang-bilang kalau sakit? Kenapa Ibu memaksakan diri ke swalayan sendirian?" Pertanyaan-pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, disertai isak tangis yang tak tertahan lagi.

Pak Wahyu mendekati Viona, lalu memeluk gadis itu erat. Pelukan seorang ayah yang mencoba memberikan ketenangan di tengah badai. "Sstt... tenang, Nak. Ibu baik-baik saja. Ini ujian kecil bagi kita. Kita harus kuat untuk Ibu."

"Aku takut, Yah," bisik Viona di bahu pria itu. "Aku takut kehilangan Ibu. Dia satu-satunya orang tuaku yang masih ada. Kalau Ibu pergi... aku tinggal sendirian lagi."

Kalimat itu menghantam hati Pak Wahyu dan Zidan sekaligus. Mereka berdua tahu betapa besar ketergantungan emosional Viona pada Rani. Bagi Viona, Rani adalah ibu kandung satu-satunya yang merawatnya sejak kecil setelah ayah kandungnya meninggal.

Pak Wahyu melepaskan pelukan, memegang kedua bahu Viona. Matanya serius namun penuh kasih sayang.

"Kau tidak akan pernah sendirian, Viona. Dengarkan Ayah. Selama Ayah masih bernapas, selama Zidan masih ada di sini, kau punya keluarga. Kau punya kami."

Viona menatap Ayahnya, lalu menoleh ke arah Zidan. Zidan mengangguk tegas, memperkuat ucapan ayahnya.

"Benar kata Ayah," ucap Zidan datar, meski matanya lembut saat menatap Viona. "Kami tidak akan pergi. Kami akan jaga Ibu bersamamu."

Pak Wahyu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali kewibawaannya sebagai kepala keluarga. Ia menatap Zidan.

"Dan, urus administrasi rumah sakit. Pastikan kamar VIP tersedia jika diperlukan. Hubungi dokter spesialis terbaik jika perlu konsultasi kedua. Jangan pandang biaya."

"Siap, Ayah," jawab Zidan singkat. Ia sudah menyiapkan semuanya sejak tadi, bahkan sebelum Ayahnya datang. Efisiensi adalah caranya menunjukkan cinta.

Pak Wahyu kemudian duduk di sisi lain ranjang, membelai rambut Rani dengan lembut. "Kamu istirahat dulu, Ran. Biar Ayah yang jaga malam ini. Kamu jangan banyak pikiran"

Viona melihat pemandangan itu: Pak Wahyu yang penuh perhatian, Zidan yang sigap dan protektif, serta Rani yang tidur tenang. Di tengah kesedihan dan ketakutan, Viona merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia mungkin kehilangan ayah kandungnya, tetapi ia memiliki dua pria yang memilih untuk tetap ada, memilih untuk menjaganya, dan memilih untuk mencintainya seperti darah daging sendiri.

"Yah, Kak," panggil Viona pelan.

Mereka berdua menoleh.

"Terima kasih," ucap Viona, air matanya mengalir lagi, tapi kali ini karena haru.

"Terima kasih sudah jadi keluarga buat aku. Aku nggak tahu harus gimana tanpa kalian."

Pak Wahyu tersenyum sedih namun hangat. "Kita keluarga, Viona. Dalam suka dan duka. Itu janji kita."

Zidan tidak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan mendekat, lalu mengusap puncak kepala Viona dengan lembut—gestur khasnya yang kini berarti 'Aku di sini'.

Di luar jendela, hujan masih turun deras, seolah ikut menangisi kerapuhan hidup manusia. Namun di dalam kamar rumah sakit itu, ada ikatan yang justru semakin menguat. Tiga jiwa—seorang ayah, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan—bersatu padu menghadapi ketidakpastian, saling menopang, saling menjaga, dalam diam yang penuh makna.

Malam itu, Viona tidak merasa sendirian. Ia memiliki Pak Wahyu yang bijak dan Zidan yang teguh. Dan bagi Viona, itu adalah anugerah terbesar di tengah cobaan terberatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!