Lana adalah perawat yang selalu berpindah kota. Kota baru yang dia tinggali (Koja) ternyata membawanya ke dalam kisah cinta yang sulit untuk tergapai.
Syafira, sahabat Lana sejak SMP yang dulu menemaninya melalui masa remaja Lana yang sulit dan menyedihkan, menolongnya lagi untuk mendapat pekerjaan di Koja. Dia mengagumi seorang dokter bernama Nathan.
Setelah Lana masuk ke rumah sakit yang sama, Lana pun jatuh cinta kepada orang yang dikagumi sahabatnya sendiri yaitu Nathan.
Di tengah kisah cintanya, Lana, Nathan, Dion (sahabat Nathan) dan Asa (istri Dion) juga rajin berdonasi untuk menolong para ibu muda yang mengalami kehamilan tidak terencana.
Kemudian, mereka mendirikan dan mengurus bersama sebuah rumah singgah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci yaitu anak dari kehamilan tidak terencana.
disclaimer:
Nama tokoh, kota, aplikasi dalam novel ini hanyalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tita dewahasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Gerilya Syafira
Bagi Syafira, kabar bahwa Nathan menyukainya adalah harta karun. Selama 2 tahun dia mengagumi sosok dokter berambut coklat dan berwajah tampan itu.
2 tahun adalah waktu yang lama. Bagi bayi saja, 2 tahun sudah bisa berjalan dan mulai bisa mengoceh. Dan Syafira menghabiskan 2 tahun dalam hidupnya untuk memperhatikan dokter itu.
***
Keesokan harinya, di Rumah Sakit Keluarga Bahagia.
Hari itu, Syafira seolah mendapat nyawa baru. Dia menjadi lebih ceria dari biasanya.
Saat istirahat, Syafira sengaja mendatangi Lana agar bisa bertemu dengan Nathan.
“Na, dokter Nathan udah keluar belum?”
“Belum, tunggu aja di sini. Aku ke toilet dulu ya. Terus mau ke kantin. Good luck.”
Lana segera pergi sebelum menyaksikan Nathan bertemu dengan Syafira.
Tidak lama, Nathan keluar dari ruangannya dan tersenyum melihat Syafira berdiri di samping meja Lana. Dion juga keluar dari ruangannya hampir bersamaan dengan Nathan.
“Bro, mau makan di mana?” tanya Dion.
“Di luar aja yuk,” ajak Nathan kepada Dion.
Mereka berlalu pergi tanpa menghiraukan keberadaan Syafira di sana.
Dia kemudian ke kantin menemui Lana. “Na, kok dia cuek ya?”
“Kalian nggak ngobrol tadi?”
Syafira menggeleng.
“Mungkin malu kali dia.”
***
Beberapa hari Syafira ke poli umum saat jam istirahat untuk bertemu Nathan. Tapi Nathan tidak pernah menyapa Syafira lebih dulu.
Malah kadang Dion yang menyapanya. Dan seperti biasa, ucapan dokter kandungan itu out of the box dan membuatnya salah tingkah hingga malu.
Mungkin Lana benar bahwa Nathan malu atau gugup.
~
Syafira pulang larut pada pukul 22.00 malam itu.
Pukul 22.15 dia sampai di kos. Kamar Lana sudah tertutup rapat sedangkan kamar Inda sedikit terbuka. Dia pun bergabung dengan Inda yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
Tidak lama Inda telah selesai dengan pekerjaannya dan meladeni Syafira sepenuhnya.
“Kok lemes amat? Lana beberapa hari ini juga lemes. Kompak banget kalian,” kata Inda.
“Kemarin-kemarin aku lagi seneng sih, tapi sekarang lagi bete. Lana bilang kalau Nathan suka sama aku. Tapi aku mondar mandir di depan dia, nggak pernah dia nyapa aku."
Inda mengangguk.
"Kalau Lana kenapa? Cerita-cerita sama kamu nggak?”
Inda tidak mungkin membocorkan bahwa Lana sedang patah hati karena Nathan. “Nggak tahu juga tuh anak. Besok-besok aku coba tanyain.”
“Menurut kamu, aku harus gimana, Nda?”
“Menurutku, kamu harus mandi terus tidur.”
“Masalah Nathan, Inda.”
“Oh, sorry, nggak fokus. Coba aja kamu yang nyapa duluan.”
“Tapi aku kan cewek, masak nyapa duluan.”
“Iya sih. Tapi Fir, kamu udah agak lama suka sama orang itu. Sekedar menyapa nggak membuat harga diri cewek turun lah.” Inda memberi pendapat senetral mungkin. Dia takut salah memberi saran.
Syafira mengangguk-angguk pada saran Inda.
“Eh, kamu masih suka sama si dokter itu sampai sekarang?”
“Iya, aku masih suka.”
“Bisa lama gitu ya suka sama orang.”
“Gimana lagi Nda, meski nggak tiap hari ketemu, tapi paling nggak seminggu sekali pasti papasan. Tapi mungkin juga karena aku nggak deket sama laki-laki lain. Bakal beda ceritanya kalau aku deket sama orang lain.”
“Kayaknya kamu juga dideketin orang lain kan, kamu pernah cerita."
“Iya, itu Soni. Sayangnya aku nggak suka sama dia. Tapi, sekarang kan Nathan suka sama aku. Aku jadi nggak perlu suka sama orang lain. Kesempatanku besar untuk bisa sama Nathan."
“Oh, oke.”
“Kamu pasti udah bosen denger curhatanku soal Nathan ya?"
“Nggak bosen sih, cuma aneh aja gitu. Dia suka sama kamu bukannya dari dulu aja waktu gosip kalian lagi hot-hotnya. Kenapa baru sekarang?”
“Hati orang siapa yang tahu? Perasaan kan bisa berubah kapan aja. Bahkan, beberapa detik bisa berubah. Misal kamu suka sama orang, eh dia ngapain gitu yang bikin kamu ilfil. Hilang deh rasa kagum kamu dan berubah jadi najong.”
Mereka pun mengakhiri sesi curhat itu dan beristirahat di kamar masing-masing.
***
Beberapa hari berlalu...
Syafira merasa galau. Waktu terus berjalan, usia terus bertambah. Apa Nathan tidak ingin segera melepas masa lajangnya?
Syafira sudah tidak sabar menunggu Nathan. Jika dokter itu tidak juga bergerak, dia yang akan memulainya. Tekadnya sudah bulat untuk langsung mengungkapkan perasaan cintanya.
Hari itu, jam 16.00 Lana dan para pegawai di poli bersiap untuk pulang.
Syafira sudah menimbang semalaman untuk menyatakan perasaannya sore itu juga. Dengan semangat dia ke poli untuk menemui Nathan.
“Na, mau pulang?” tanya Syafira saat melihat Lana mengemasi barang-barangnya.
Lana mengangguk.
“Dokter Nathan udah pulang atau masih di dalem?”
“Masih di dalem, kamu mau ketemu?”
“Iya, aku mau, ehm hihi, aku udah mikir-mikir semalam, aku mau ngomong duluan aja.”
“Ehm, oh, gitu. Pas banget kok, dokter Dion udah duluan tadi, nggak bakal digrecokin. Kalau gitu aku pulang dulu aja biar nggak ganggu kalian. Semangat!"
Lana menyembunyikan kesedihannya di balik senyum terpaksanya. Dia segera pergi dari sana.
Dengan hati-hati dan jantung yang sudah berdebar sejak tadi, Syafira mengetuk pintu ruangan Nathan.
“Masuk,” kata Nathan.
“Dokter, maaf menganggu sebentar. Boleh ngomong sesuatu?”
“Ya, silahkan.”
“Ehm, saya.” Syafira gugup dan berkali-kali menghela napasnya.
“Kamu? Kenapa?”
“Saya suka sama dokter Nathan.” Akhirnya keluar juga kalimat itu dari mulut Syafira. Sebuah kalimat sederhana namun butuh 2 tahun untuk memantapkan hati mengucapkannya.
~
Lana duduk di samping pos satpam. Dia berusaha keras menahan tangis membayangkan Syafira dan Nathan sedang saling mengungkapkan perasaan. Lututnya terasa berat.
Lama-lama, dia tidak dapat menahan tangisnya lagi. Air matanya menetes begitu saja tanpa permisi kepada tuannya.
Dari kejauhan, Soni memperhatikan Lana kemudian menghampirinya. Dia duduk di samping Lana. Tangannya mengulurkan sebotol air mineral untuk Lana.
“Hidup itu biasa kalau ada sedih-sedihnya,” ucap Soni menghibur.
“Iya, aku tahu kok.”
“Apa pun yang bikin kamu sedih, semoga itu cepat berlalu.”
“Ya.” Lana mengangguk-angguk. “Makasih.”
Soni masih berbicara entah apa yang sama sekali tidak masuk ke dalam otak Lana. Di dalam kepalanya hanya ada bayangan Nathan yang sedang bersama Syafira.
Sekitar 15 menit dia berada di sana bersama Soni dan selama itu pula Nathan dan Syafira belum keluar dari rumah sakit.
Nathan akhirnya keluar dan pulang dengan mobilnya. Namun, Lana tidak memperhatikannya karena terus menunduk.
“Mau aku antar pulang?” Soni menawarkan diri, “Na, halo, kok jadi ngelamun.”
“Oh, sorry. Apa?”
“Aku antar pulang ya.” Soni mengulangi perkataannya.
Lana pun mengangguk tanpa berpikir panjang. Soni mengambil sepeda motornya dan mengantar Lana pulang. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di kos Lana.
Inda ternyata juga baru saja pulang kerja dan sedang berjalan menuju kos mereka.
“Makasih ya, Son.”
“Iya, sama-sama. Aku balik dulu ya.” Soni pergi.
Lana membarengi Inda berjalan ke kos mereka yang tinggal beberapa langkah lagi.
“Kok dianter sama mas yang itu, Na?”
“Iya, aku ... Syafira tadi ketemu dokter Nathan. Katanya dia mau mengungkapkan perasaan.”
Inda merangkul Lana. “Sabar ya. Ehm, apa mereka udah resmi jadi pasangan?”
Itu juga yang aku pikirin sedari tadi. Apa mereka udah jadi pasangan? (Lana).
to be continued...
Jogja, February 12th 2021