Temmy Lynn, seorang dokter cantik super jenius tapi sangat plenger, ceplas ceplos dan omongannya kadang sepedas seblak level 100. dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit tanpa terkecuali. Dia hanya peduli dengan uang, baginya itu sangat realistis.
Kailendra Adyaksa, tuan muda dingin yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil yang dialaminya dua tahun yang lalu. Dia menolak semua pengobatan dan orang-orang yang mencoba mendekat termasuk orang tuanya. Apa yang terjadi jika kedua manusia beda karakter ini bertemu? Yuk kepoin keseruan mereka di sini guys..!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaeyunie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Jadi kamu yang menghancurkan Black Devil? Tidak mungkin, itu hanya bualanmu belaka kan?" Kai tidak percaya apa yang Lynn katakan, ia yakin pasti perempuan itu hanya mengarang cerita.
"Kau tanya sendiri lah sama Oliver si playboy itu" jawab Lynn.
"Pantesan bela diri nona sangat hebat, ngomong-ngomong dari mana nona belajar semua itu?" tanya Rendra penasaran.
"Dulu aku hidup di panti, suatu hari pulang sekolah aku kemalaman, you know lah dengan muka aku yang sangat amat rupawan ini banyak yang suka padaku, minusnya aku sampai mau dilecehkan pasa saat itu" terang Lynn dengan percaya dirinya.
"Nah pas aku berhasil kabur kebetulan ada 2 anak laki-laki yang juga dikejar orang, ya aku bantuin sembunyi dong, di sini lah kisah hidupku yang kaya dracin tiktok dimulai, aku diangkat anak sama orang tua mereka, disekolahin, les, bahkan bela diri dengan guru yang terlatih dan hebat pun aku jalani sampai aku bosen keluar rumah ya kaya gini sampai sekarang tapi aku pulang 2 atau 3 bulan sekali"
"Mereka pasti sangat baik kepada nona?"
"Banget, the best lah, udah kaya keluarga kandung aja"
"Apa mereka keluarga kuat dan berpengaruh nona?" tanya Alan lagi. Lynn mengangguk.
"Sangat, mereka sangat terkenal kalian pun tidak asing" jawab Lynn.
"Siapa..siapa?"
"Dih.. Kepo, dah lah sekarang bersiap kita latihan bentar lagi" Mau tidak mau Kai pun menurutinya. Semenjak ditangani oleh Lynn, kaki Kai sudah bisa merasakan sesuatu namun ia tidak bilang terhadap siapa pun. Kai mengikuti Lynn dari belakang.
Sementara di tempat lain, Andra, Monica dan juga Elandra sedang berkumpul.
"Sampai kapan aku harus pura-pura di depan nenek tua itu pa? Aku sudah sangat malam berurusan dengan mereka" keluh Elandra.
"Sampai saham itu berada di tanganmu atau sampai Kakakmu kembali" jawab Monica.
"Ya Tuhan itu akan memakan waktu yang sangat lama" protes Elan.
"Katanya mereka akan memilih pemimpin baru dan membuat Kai menyerahkan jabatannya" ujar Monica.
"Ya, mereka akan menggunakan alasan kesehatan Kai untuk menurunkannya, ngomong-ngomong, bagaimana kondisi anak itu saat ini?" tanya Monica.
"Biar aku saja yang ke sana menemui kakak, sekalian melihat perkembangannya"
"Alasan apa yang kau gunakan untuk ke sana?"
"Apalagi kalau bukan rapat direksi, lambat Laun kakak akan tahu, lebih baik aku yang mengatakannya dari pada kedua orang munafik itu yang mengatakannya, setidaknya kakak sudah membenciku dari awal jadi dia tidak akan merasa dikhianati"
Andra menatap lekat putra bungsunya tersebut. Ia sangat sedih melihat keduanya tidak bisa tumbuh bersama, lebih tepatnya keadaan yang memaksa mereka tidak bisa akur.
"Maafkan papa ya dek, gak bisa berbuat apa-apa buat kamu sama kakakmu" ucap Andra dengan berkaca-kaca.
"Papa gak usah ngomong gitu deh, bukan salah kita, emang keadaan aja yang belum mendukung, kita tahu kekuasaan nenek tua itu sangat besar, kita tidak bisa berbuat banyak" ucap Elandra .
"Benar apa kata Elan, mas. Inshaallah kedepannya semua akan baik-baik saja" tambah Monica menyemangati suaminya.
Seperti yang dikatakan sebelumya, Eland langsung menuju ke kediaman Kai. Ia akan memberitahu tentang rapat direksi sekaligus melihat kondisi Kai secara langsung. Begitu sampai di kediaman Kai, pria itu langsung masuk begitu saja. Ia tidak peduli bagaimana tanggapan Kai melihat keberadaannya.
"Well bagaimana kabarmu kakakku tersayang?" tanya Eland dengan senyum menyebalkannya. Kai mengepalkan tangannya, mukanya memerah, amarahnya memuncak.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk datang ke sini? Alaannn... Alannn... Seret bajingan ini keluar" teriak Kai. Mendengar keributan di ruang tamu, Lynn dan juga Alan langsung menghampiri.
"Seret bajingan ini keluar sekarang" Amarah Kai sudah tidak bisa dibendung.
"Wow wow wow.. Sabar dulu kakakku sayang, aku datang ke sini untuk memberitahumu, Rabu depan akan ada rapat direksi dan pemegang saham untuk memutuskan siapa pemimpin perusahaan baru, aku harap kau bisa hadir" ucap Eland dengan tengil.
"Keluar.....!"
Lynn yang menyaksikan itu langsung bertindak, dia tidak bisa membiarkan emosi Kai lepas kendali karena akan menghambat perkembangannya.
"Keluarlah tuan, jangan membuat keributan di sini" ucapnya tenang.
"Jadi kau dokter kakakku sekarang. Jujur saja kau wanita tercantik yang pernah aku temui. Apa kau berminat denganku? kita bisa bersenang-senang" kata Eland seenaknya. Lynn menghela nafas panjang menahan kesalnya.
"Selain wajahmu yang hanya setengahnya dari kakakmu dan kemampuan actingmu yg lumayan, tidak ada lagi yang bisa kau banggakan, aku denganmu bagai langit ke 7 dan kerak bumi, jadi jangan mimpi" Jawab Lynn sembari menarik kerah baju Eland dan menyeretnya keluar.
"Aw... Kau kejam sekali, aku tidak bisa membayangkan kalau kau jadi kakak iparku, Lynn" ucap Eland begitu mereka sampai di luar.
"Sudah ku bilang jangan memancing amarah kakakmu Eland, apa kau tuli? Untuk apa kau datang ke sini?"
"Aku hanya ingin melihat kondisi kakakku, bagaimana keadaannya?"
"Perkembangannya sangat baik, Oya hampir lupa, bilang pada orang tuamu untuk menyiapkan uang tambahan, nenek sialanmu itu ternyata pake ilmu hitam juga" ucap Lynn geram kepada Eland.
"Apaa...? aku tahu nenek tua itu masih percaya hal hal seperti itu, tapi masa iya sampai gini juga?" Tanya Eland tak percaya.
"Tugasmu sekarang, dekati nenek tua itu, cari tahu dukun mana yang mendukungnya, itu akan lebih mudah untukku"
"Baiklah akan ku usahakan"
"Bagus, cepat pergi dari sini jangan bikin kakakmu emosi" Ujar Lynn seraya menendang lutut Elandra.
"Awh.. Kau kejam sekali" rutuk Eland seraya pergi meninggalkan kediaman Kai.
Setelah Eland pergi, Lynn menemui Kai yang masih menahan amarahnya.
"Jangan terpancing emosi, semakin kau emosi semakin kau menunjukan kelemahanmu, ayo aku akan memijat kakimu sekarang" Kai mengikuti Lynn menuju ruang terapi. Lynn memijat beberapa titik di kaki Kai, terkadang Kai meringis kesakitan.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Lynn.
"Ini sakit sekali" jawab Kai menahan Sakit, keringat dingin muncul dari tubuhnya.
"Bagus, minggu depan kita coba berdiri" Kai membelakkan matanya tak percaya.
"Secepat itu kah?"
"Tentu saja, jangan lupa minum obatmu, jangan ada yang tertinggal smpai Minggu depan.
"Oya kalau bisa kamarmu pindah ke kamar tamu depan seperti kemarin kau tidur."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak merasakan bagaimana kau tidur di kamarmu sendiri dan tidur di kamar tamu?" tanga Lynn geram. Kai seketika membandingkan kedua kamar tersebut.
"Baiklah" jawab Kai tanpa protes yang membuat Lynn terkejut mendengarnya.
"Kau tidak protes?" tanya Lynn penasaran.
"Untuk apa aku protes?"
"Biasanya kalau disuruh kaya gini pasti protes dlu, ini lah itu lah" terang Lynn.
"untuk apa aku protes? Hanya membuang waktuku" jawab Kai.
"Betul juga" Jawab Lynn santai.