Nidia seorang gadis yg cerdas dan mudah bergaul yang hidup disebuah kota kecil. dia juga ramah dan perhatian terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. meski kecantikannya dianggap rata-rata, tp dia banyak disukai karena kepribadiannya.
suatu ketika, dia memilih meninggalkan kampung halaman karena pria yang bertunangan dengannya selama setahun, menghamili temannya sendiri.
orang tua Sopian tunangannya itu, memaksa Sopian untuk tetap menikahi Nidia dan hanya memberikan biaya saja kepada anak yg dikandung Sopian dr wanita lain. tapi Nidia menolak. dia tidak mau menikah lagi dengan pria yg nyata-nyata tidak setia bahkan sebelum menikah.
kisah hidupnya dimulai saat dikota besar, meski dia hanya berharap mampu menjalani hidup yang sederhana tp segalanya terasa menjadi rumit.
mulai dari pertemuannya dengan Bu Saraswati dan Putranya Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitha Rhaycha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Kopi dimalam Hari 2
Beberapa hari ini suasana hati Haikal sedang buruk, dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak pernah sanggup menghilangkan ingatan tentang Nidia dikolam renang. rambut panjangnya yang tergerai, serta bentuk tubuhnya, benar-benar membuatnya frustrasi. ditambah dia tidak tau bagaimana caranya mengutarakan apa yang ada dipikirannya dan kepada siapa dia harus bicara.
Nidia hanya OG yang kebetulan merawat ibunya, apa istimewanya gadis itu sampai mampu menyita perhatiannya dan mengganggu konsentrasinya dalam bekerja?
Bekerja? Yaa.. semenjak dia mulai terganggu dengan apa yang dilakukan gadis itu dikolam, dia lebih banyak melakukan aktivitas diluar rumah. dia bahkan seringkali lembur dikantor agar terlambat sampai d rumah dan tidak berpapasan dengan Nidia. tapi niat itu tidak sepenuhnya terealisasi dengan baik, buktinya dia akan menghabiskan hampir setengah waktu untuk memantau kegiatan Nidia dan ibunya dirumah melalui laptopnya.
Ada kecemburuan yang entah kapan mulai muncul, saat dia melihat keakraban dua wanita dirumah itu. dia juga ingin mendapat perhatian yang sama, dia juga ingin duduk diruang keluarga seperti mereka, menonton tv, minum kopi, makan cemilan bersenda gurau sambil dipijat...
ahh.. apa ? dipijat? apakah sekarang dia juga ingin dipijat Nidia seperti yang dilakukan gadis itu pada ibunya? apakah dia sekarang ingin menjalani kehidupan layaknya manusia normal?
aku bisa gila kalau begini terus Haikal menutup laptopnya dengan marah diruang kerja. setengah jam lalu saat dia pulang dari kantor, dia mendapati rumah besar itu sudah sepi.
apa mereka sudah tidur? pikirnya merasa heran "apa ibuku sudah tidur?"tanya Haikal pada pak sabar yang masuk sambil membawa tas kerjanya.
"mereka ada dikamar Nyonya, baru saja masuk"jawab pak sabar. Haikal menatap jam ditangannya. ini baru jam delapan mengapa cepat sekali mereka masuk? bukankah dia berusaha pulang cepat agar masih bisa bertegur sapa dengan mereka berdua? tapi hasilnya?
"bawa tasnya kekamarku, aku akan menemui ibuku dulu"titahnya.
"baik, Pak." pak sabar mengangguk dan melangkah naik kelantai dua.
Haikal menyusuri ruang keluarga, dan berbelok kearah kanan, melewati Aquarium besar dengan berbagai jenis ikan hias yang berhadapan dengan taman Anggrek buatan. diujung ruangan Haikal berhenti tepat didepan sebuah pintu besar dan tinggi dengan ukiran yang indah. dia ingin mengetuk pintu yang belum terlalu tertutup itu, tapi tangannya terhenti saat mendengar percakapan dari dalam kamar.
"Apa kamu tidak merasa bosan berada dirumah terus?"itu suara ibunya
"Mengapa bosan?"suara merdu Nidia terdengar ditelinga nya membuat jantungnya berdebar
"biasanya para gadis seusiamu menghabiskan waktunya ke mall, shopping, nonton atau ke pantai "
"para gadis itu melakukannya karena mereka punya waktu luang untuk bersantai, kalau Nidia tidak punya waktu untuk itu"
"kenapa? apa karena merawat mama?"
"itu salah satu alasannya"
"kalau itu alasannya, mama akan kasih kamu libur sabtu dan minggu..."
Haikal berbalik meninggalkan dua orang wanita beda usia yang asik bercakap itu. dia tidak lagi memiliki keinginan untuk masuk atau lebih tepatnya keberanian. bagaimana jika Nidia berkata tak betah lagi disana dan memilih berhenti? tidak.. tidak , bukankah dia sudah menandatangani kontrak kerja selama tiga bulan? dengan alasan apapun dia tak boleh berhenti dari pekerjaannya sekarang. lagipula ibunya sangat menyukainya..
haikal memasuki ruang kerjanya, duduk di kursi putarnya terdiam selama beberapa saat. dia mencoba berkosentrasi membuka email yang dikirim ferdi padanya, beberapa proyek sedang dalam pekerjaan awal dia harus ikut memantau langsung pekerjaan dilapangan agar tidak terjadi kesalahan antara hasil kerja dan desainnya, termasuk pada anggarannya.
tatapannya fokus pada laporan pelaksanaan kegiatan, tapi fikirannya berkelana pada obrolan antara ibunya dan Nidia bagaimana jika gadis itu meminta berhenti? pertanyaan itu seakan memenuhi kepalanya.*bagaimana jika dia tak ingin lagi menjaga ibuku apakah itu akan baik-baik saja?
bam*
haikal menutup laptopnya, dia berdiri dan keluar meninggalkan ruang kerja. berjalan ke kamar nya membuka baju kerjanya dan hanya mengenakan celana boxer pergi menuju ruang gym.
di gym dia hanya menggunakan treadmill, berlari sepanjang malam mungkin akan membuatnya merasa lebih baik. tapi semakin dia berlari semakin pula kuat pikirannya tentang Nidia.
"apa aku benar-benar sudah gila sekarang?...aku pasti sudah gila..." haikal mendengus kesal "apa aku menyukai gadis itu? apa aku menyukai Nidia?"haikal berbicara sendirian diruang gym. dia terus berlari... sambil berbicara sendiri layaknya orang gila.
hampir satu jam, haikal mulai merasa lelah. dia kurang tidur belakangan ini karena pekerjaannya yang berusaha ditanganinya sendiri. dia turun dengan gontai dari treadmill, mengelap keringatnya yang membasahi sekujur tubuh melangkah keluar dari ruang gym.
tiba-tiba langkah kakinya terhenti, didepan matanya, hanya beberapa meter jaraknya darinya, berdiri gadis yang senantiasa memenuhi hati dan fikiran nya selama beberapa hari belakangan ini, gadis yang selalu berusaha dia hindari. apa yang sedang dilakukannya disini? ohh.. apakah dia mendengar aku menyebut namanya diruang gym tadi?
"kenapa kamu disini?"tanya nya setelah dengan susah payah berfikir apa yang harus dia katakan.
"saya..em, itu..ini ma maksudnya saya diminta Bu Saraswati mengantarkan kopi untuk bapak" jawab nidia terbata, wajahnya berubah-ubah antara memerah dan pucat. Haikal membuang pandangan kearah lain..lihatlah dia bahkan terlihat sangat imut dengan ekspresi semacam itu batinnya
"Bik Sumi pulang kerumahnya karena anaknya sakit, jadi Bu Saraswati meminta saya mengantarkan ini" haikal menatap Nidia lagi. dia sudah lelah sepanjang hari karena merawat mama, mengapa dia masih mau juga disuruh membuatkan kopi untukku?. bisa-bisa dia akan minta berhenti lebih cepat karena merasa dianiaya.
"kamu tidak perlu melakukan ini lagi..."ucap haikal menanggapi karena kamu tidak boleh sampai lelah. kamu harus selalu disamping mama, menemaninya dan tak perlu melakukan pekerjaan lain yang melelahkan begitulah dia ingin melanjutkan kalimatnya, tapi semuanya tertahan di tenggorokan.
"baiklah.. maafkan saya pak.. saya pergi dulu"wajah Nidia terlihat lebih pucat dimata haikal, gadis itu dengan cepat berbalik bergegas pergi menuruni tangga dan menghilang dari pandangannya.
untuk sesaat haikal masih terpaku ditempatnya, apakah ini hanya halusinasi? benarkah gadis itu, Nidia berdiri dihadapannya tadi? gadis yang selalu dirindukannya selama beberapa hari ini tapi selalu dihindarinya, gadis yang diam-diam diawasinya lewat cctv?
merasa melewatkan sesuatu haikal berjalan cepat ke kamar nya. dia hanya mengambil kaos dan memakainya kemudian bergegas turun dari tangga menuju dapur semoga saja dia tidak membuang kopi itu, bukankah itu seperti kopi yang diminumnya tempo hari yang dibuat Nidia untuknya? itu sangat enak.
haikal berhenti di pintu dapur, gadis itu berdiri membelakanginya dalam diam, entah apa yang dilakukannya tapi dia terdengar menghela nafas dan sesekali menyeka wajahnya. kening haikal berkerut apa dia menangis? tapi menangis untuk apa? pria itu berfikir keras , mengulang pembicaraan mereka didepan ruang kerja. astaga.. apa dia tersinggung dengan ucapan ku? tapi.... apa itu mungkin? selama ini sudah banyak wanita yang kumarahi bahkan sampai dimaki, tapi sedikit yang menangis, mereka akan tetap berdiri di hadapanku dengan wajah tebal dan memelas mereka meminta dikasihani. tapi gadis ini... dia bukannya minta dikasihani malah berlari kesudut dapur sendirian dan menangis.
Nidia menghela nafas lagi, dan perlahan mengangkat sesuatu dan meletakkannya di mulut...*hei bukankah itu kopi untukku.. jangan-jangan
sruup*...
terdengar bunyi air yang diminum Nidia "mana kopinya?"Haikal tak tahan lagi. dia harus menyelamatkan kopi itu sebelum habis diminum nidia, bukankah itu milikku? Nidia berbalik dengan terkejut. dia memegang cangkir kopi dengan tangan kanannya, tanpa menunggu kalimat apapun dari Nidia, haikal mendekat, mengambil cangkir dari tangan Nidia yang masih nampak syok, kemudian dia bersandar dimeja kopi dan meminumnya.
"eh pak.. i..itu, biar saya buatkan yang baru saja"cegah Nidia kaget dan mulai panik. tapi haikal tak mengindahkanya.
"kenapa yang ini? bukankah ini kopi yang mau kamu antar tadi?"
"iyaa.. tapi.."
"kopinya enak, kenapa harus diganti?"jawab haikal dan segera menghabiskannya dalam sekali teguk. sumpah dia sebenarnya mau dibuatkan lagi, tapi dia tak tau bagaimana mengatakannya "kopinya sangat enak"ucap haikal dengan hati yang dipenuhi kehangatan. dia menatap Nidia yang masih bengong didepannya "terima kasih.."tambahnya lagi sambil berlalu dari hadapan Nidia.
segera tinggalkan tempat ini haikal. jika tidak, kau akan bermanja dengan gadis di depanmu ini dan akan memeluknya tanpa bisa kau cegah. dia wanita baik-baik, kau tak boleh melampaui batas. seperti itulah kata hatinya memperingatkan.
******
Stlh baca komen²ny, baru tau klo ini adat Sulawesi Utara.
Thor, sedikit saran..utk nama kota/lokasi tdk perlu lah ditulis inisial kota A, daerah B dst...lebih baik ditulis lgsg dg jelas...agar kita sbg pembaca lebih paham..😄😄😄😄
masya Allaah....
orang baik maka akan d mudahkan oleh Allaah......
makasi umi.......
jd ingat cerita2 yg dikau buat dulu saat masih SMK.... menjadi penggemar setia yg selalu menunggu kelanjutan kisah dari novel yg d tulis d catatan buku akuntansi mu....
sayang dlu tidak seperti sekarang ya.../Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/