Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Jaket
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Bel istirahat sudah berbunyi, namun suasana kantin tidak seperti biasanya. Hanya ada beberapa murid saja, kemana yang lain.
Terlihat beberapa murid lainya berlarian menuju ruangan belakang.
"Ada apa sih?" tanya Naura
"Mana gue tau, kan gue di sini sama lo." jawab Putri
"Fit, ada apa si?" tanya Caramel
Fitri menoleh kearah Caramel. "Ada yang berantem di belakang sekolah." Fitri kembali berlari.
...🎨🎨🎨...
Farhan, murid yang selalu mencari keributan dengan anggota Amtraxs. Kini sedang berhadapan dengan Gibran, seragamnya begitu lusuh dan kotor, bahkan ada beberapa percikan darah. Akibat pukulan dari Gibran.
"Di bayar berapa lo sama, Jordan." Gibran mencengkram kerah, Farhan. Farhan sudah terbaring tidak berdaya, tenaganya sudah hilang. Namun dia masih berusaha untuk melawan Gibran.
"Bukan urusan lo!" Farhan mengusap sudut bibirnya dengan ibu jarinya.
"Gib, tahan emosi lo. Ini sekolahan." Ucap Rival, menepuk pundak Gibran.
Caramel dan ketiga sahabatnya, sudah berada di paling depan. Menyaksikan langsung, perkelahian bodoh ini. Apakah Gibran sudah kehilangan akalnya, sampai-sampai berkelahi di area sekolah. Apakah dia sudah bosan bersekolah di sini?
"LO BERHARAP JORDAN AKAN KESINI DAN MEMBANTU LO?!"
"ADA APA INI?" suara bu Inces, membuyarkan pandangan murid. Sebagian murid langsung meninggalkan area, mencari aman.
"GIBRAN, FARHAN. APA-APAAN KALIAN INI?!"
Gibran melepaskan kerah Farhan, dadanya masih naik turun. Menahan amarah.
Bu Inces menghampiri mereka, dengan raut wajah yang sangat marah. Kemudian mengajak Gibran dan Farhan menuju ruang Bk, sebelumnya Ia juga sudah membubarkan semua murid yang masih berkerumun.
...🎨🎨🎨...
Mereka berdua berakhir di ruang Bk, dihadapannya sudah ada Pak Ardi. Jangan tanya bagaimana raut wajah guru Bk ini ketika melihat Gibran. Bosan, ya jujur pak Ardi sudah bosan menghadapi murid yang satu ini. Jika saja bukan karna orang tuanya mungkin dia sudah di tendang dari Pradipta.
Pak Ardi menghela nafas kasar. "Kalian mau di DO dari sekolah, hah?!"
"Nggak, pak." jawab mereka dengan kompak.
"Maksud kalian apa? berantem kaya gitu?"
Jika dirinya berkata jujur, mungkin pak Ardi akan benar-benar men-Do mereka. Dia tidak mau keluar dari sekolah ini, disini lah Gibran bertemu dengan semua anggotanya, dan disini lah dia bisa merasakan kebahagiaan bersama anggotanya itu.
Kali ini pemikiran Farhan juga sejalan dengan Gibran, ia tidak ingin di tendang dari Pradipta.
"Kenapa diam?"
"Bukan urusan bapak." ucap Gibran, lantang.
Pak Ardi harus banyak bersabar menghadapi kedua murid di hadapannya. Jika tidak bisa-bisa dia terkena struk mendadak. "Bapak akan panggil orang tua kalian."
Sudah hampir satu jam, Gibran dan Farhan berada di ruang Bk bersama orang tuanya.
"Lagian si Bos nggak bisa banget nahan emosinya." ucap Asep
"Lo tau sendiri dia gimana."
Disisi lain Gibran sedang mengobrol dengan Arga. Atau lebih tepatnya Arga sedang memarahi anaknya ini, setelah keluar dari ruang Bk.
"Papa udah capek ya, mau samapi kapan kamu kaya gini? berantem terus!"
"Bukan urusan papa, lebih baik papa pulang saja." Gibran meninggalkan Arga, yang masih berdiri di depan ruangan Bk.
Naura dan Caramel tak sengaja mendengar ucapan mereka dari kejauhan. Naura mengajak Caramel untuk bertemu dengan om nya.
"Om," sapa Naura
"Eh kamu, Naura. Oh ya, papa kamu belum pulang?"
"Nanti om. Hemm, Naura pergi ke kelas dulu ya Om."
"Iya."
Naura dan Caramel berjalan melewati Arga.
"Gibran nggak deket ya sama bokapnya?"
"Jangankan sama bokapnya, sama nyokapnya aja di benci banget." jelas Naura, sambil memakan mie lidi yang dia beli di kantin.
Putri dan Jihan datang, mereka baru saja dari toilet.
"Woy, ngomongin soal apa nih?" tanya Putri
"Kepo lo?!" jawab Naura
"Mel," Jihan menoleh kearah Caramel. "Gimana lo udah ngajak Gibran buat nge-date?"
Caramel baru ingat jika dia memiliki hutang, bersama ketiga sahabat Lucknut-nya.
"Belum."
"Yaelah, kapan nih. Gue udah nungguin nih." ujar Putri
"Nanti gue coba," Caramel memutarkan bola matanya malas.
"Mantep."
...🎨🎨🎨...
Caramel menyurusi lorong sekolah, sendirian. Tadi dia disuruh pak Dayu, untuk mengambil buku di perpustakaan. Caramel menuruni anak tangga dengan malas, kenapa harus sendirian sih?
Tak sengaja Ia berpapasan dengan Gibran di depan lapangan, cowok itu sedang membawa bola basket di tangannya. Dan di lapangan sudah ada Bram dan Revan, yang menunggunya.
"Lo bolos ya?" tanya Caramel
"Bukan urusan lo! mau kemana lo?"
"Perpus ambil buku paket."
"Ouh, sana." Gibran pergi meninggalkan Caramel.
Setelah mengambil beberapa buku paket dan menyusunya dengan rapi. Agar tidak jatoh jika dibawa, ternayata berat juga ya?
"Sini gue bantu!"
Caramel menoleh ke samping kirinya, terdapat Asep yang sudah mengambil alih beberapa buku di atas meja.
"Kelas lo kan lagi masuk."
"Udah tenang aja kalo itu. Kasian gue liat lo, udah badanya kecil, masa di suruh bawa buku sebanyak ini."
...🎨🎨🎨...
Setelah gadis itu pergi menuju perpustakaan. Gibran memberikan pesan kepada Asep.
^^^Gibran^^^
^^^Lo bantuin Caramel di perpus. Nanti gue bayar!^^^
Asep
Siap, bos!
Gibran, menghentikan permainannya. Melihat Caramel dan Asep yang sedang berjalan, sambil membawa beberapa tumpukan buku paket. Lo kira dengan badan lo yang segitu, lo kuat bawa buku sebanyak itu? gumannya dalam hati.
"Lo beneran nggak pa-pa bantuin gue?"
"Kenapa emang?"
"Nggak pa-pa si, makasih ya. Emang lo nggak main sama mereka?" Caramel menunjuk kearah lapangan, dengan dagunya. Terlihat Gibran yang sedang menguasai bola.
"Lagi males gue,"
Asep membawakan bukunya sampai kedalam kelas, sontak semua siswa menoleh kearahnya. Dia meletakkan buku paket tersebut diatas meja guru.
"Ini pak, lain kali kalo mau nyuruh orang itu. Yang badanya lebih gede dari pada dia." ucap Asep
Caramel langsung membagi buku tersebut, kepada semua siswa kelas. Tidak mendengarkan ocehan Asep tentang dirinya.
"Udah nggak usah ceramahin bapak, sekarang kamu keluar dari kelas bapak."
"Emang bapak punya kelas?" ledek Asep, membuat sebagian siswa tertawa.
"Eh Ambon, udah sana lo pergi. Ngganggu tau nggak?!" ucap Naura
"Kalo ngganggu kamu boleh nggak?"
Naura memelototkan matanya kepada Asep.
...🎨🎨🎨...
Caramel memandangi jaket hitam milik Gibran, yang ia gantung di belakang pintu. Sebelumnya ia juga sudah menyucinya sendiri. Terdapat setiker berwarna putih, bertulis Gibran di sebelah kanan sakunya.
Caramel mengambil jaket itu, masih terdapat aroma parfum milik cowok itu. Entah mengapa tiba-tiba saja ia memeluk jaket itu, sembari mencium aroma parfum. Dia jadi keingat tentang kejadian tadi malam, bagaimana Gibran dengan sigab melindunginya. Ah, bisa gila dia jika harus membayangkan wajah cowok itu terus menerus.
Lebih baik ia tidur sekarang, Ia mengambil ponselnya di atas nakas. Ada beberapa chat dari Gibran.
Gibran : p
Gibran : udah tidur lo?
Gibran : Gue mau ngomong sama lo!
^^^Caramel^^^
^^^Mau ngomong apa?^^^
Gibran
Belum tidur?
^^^Caramel^^^
^^^Belum, mau ngomong apa?^^^
Gibran
Jangan lupa jaket gue!
^^^Caramel^^^
^^^Iya bawel:p^^^
Dia mengacak rambutnya kasar, kenapa dia malah nge-chat dirinya sih? kan Caramel jadi keinget lagi.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍