NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 KEKUATAN YANG MENGGETARKAN HATI DAN PERSAUDARAAN YANG BARU

 

Belasan orang berpakaian hitam itu terpaku diam di tempat. Mereka menatap pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan pandangan yang penuh keheranan sekaligus rasa takut yang samar. Cahaya ungu keemasan yang lembut namun menekan kuat menyelimuti tubuh Lin Mo seakan membentuk dinding tak kasat mata yang membuat napas mereka terasa sesak berat. Pemimpin kelompok itu yang sedari tadi tampak angkuh dan kejam kini menatap Lin Mo dengan mata yang menyipit penuh curiga. Ia mencoba menekan rasa takut yang mulai merayap di hatinya lalu melangkah selangkah ke depan sambil menunjuk Lin Mo dengan ujung pedangnya yang berkilauan tajam.

"Siapa kau? Mengapa ikut campur urusan kami? Sebaiknya kau jangan mencari masalah... Pergilah selagi kau masih utuh bernapas... Atau kau pun akan ikut binasa bersamanya..."

Suara pemimpin itu terdengar berusaha tegas namun sedikit bergetar di ujung kalimatnya. Lin Mo berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Ia menatap orang-orang itu dengan pandangan yang tenang namun begitu tajam seakan mampu menembus kedalaman hati dan pikiran mereka. Cahaya ungu keemasan di matanya berdenyut lembut seiring dengan aliran energi qi yang berputar perlahan namun penuh kekuatan di dalam tubuhnya. Lin Mo berbicara dengan suara yang rendah namun bergema kuat di telinga setiap orang yang berdiri di hadapannya.

"Aku tidak suka berulang kali... Tinggalkan tempat ini... Dan jangan pernah kembali... Jika kalian masih bersikeras... Maka jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi..."

Pemimpin orang-orang berpakaian hitam itu tersentak mundur selangkah. Ia merasakan tekanan yang begitu berat menimpa tubuhnya seakan ada gunung besar yang menindih dadanya. Keringat dingin tiba-tiba membasahi punggungnya. Namun rasa gengsi dan keinginan untuk mendapatkan benda yang diinginkannya membuatnya tetap bertahan. Ia menggertakkan gigi dan berteriak keras kepada anak buahnya sambil melambaikan tangan memberi isyarat menyerang.

"Jangan takut! Ia sendirian! Serang! Bunuh mereka berdua! Jangan biarkan satu pun lolos!"

Belasan orang itu melesat maju serentak. Senjata-senjata tajam di tangan mereka berkilauan mematikan menyambar ke arah tubuh Lin Mo dari segala penjuru. Cahaya hitam pekat memancar dari senjata-senjata itu membawa hawa racun yang berbau busuk dan menyengat hidung. Pemuda berjubah biru yang berdiri di belakang Lin Mo berusaha bangkit untuk ikut bertahan namun tubuhnya terlalu lemah dan kembali jatuh berlutut di tanah. Ia memejamkan mata tak sanggup melihat pemuda yang baru dikenalnya itu tewas dihajar serangan musuh yang begitu banyak.

Namun sesaat kemudian, suara hantaman yang dahsyat dan jeritan kesakitan terdengar bersamaan. Tanpa ada suara benturan senjata apa pun. Pemuda berjubah biru membuka matanya perlahan dan tertegun diam tak mampu bergerak. Di hadapannya, Lin Mo berdiri tegak tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung. Cahaya ungu keemasan yang meluncur keluar dari tubuhnya telah berubah menjadi energi spiritual yang tebal dan kuat membentuk selimut pelindung yang tak kasat mata. Seluruh belasan penyerang itu terpental mundur berhamburan ke segala arah seakan dihantam oleh raksasa yang tak terlihat. Mereka jatuh terguling-guling di tanah, senjata mereka terlempar jauh, dan mulut mereka menyemburkan darah segar berulang kali sambil memegangi dada yang terasa hancur lebur.

Lin Mo melangkah perlahan mendekati pemimpin mereka yang terbaring lemah di tanah dengan wajah pucat pasi penuh ketakutan. Lin Mo menatapnya ke bawah tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya yang tetap tenang dan datar.

"Aku telah memberi kesempatan... Namun kalian tidak menghargainya... Sekarang... Katakan... Siapa yang menyuruh kalian mengejarnya? Dan benda apa yang kalian inginkan?"

Pemimpin orang-orang berpakaian hitam itu menatap Lin Mo dengan mata yang melotot penuh ketakutan. Ia menyadari bahwa kekuatan pemuda di hadapannya ini jauh melampaui apa yang ia bayangkan. Bahkan tuannya sendiri pun mungkin tidak sekuat pemuda yang tampak sederhana ini. Ia menggigit giginya erat-erat lalu meludahkan darah segar ke tanah sambil menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh kebencian namun juga penuh keputusasaan.

"Kau boleh membunuh kami... Namun kekuatan di belakang kami jauh lebih besar dari yang kau bayangkan... Kau tak akan mampu melawan mereka... Benda itu adalah milik kami... Dan suatu hari nanti... Tuan kami akan datang mengambilnya sendiri... Lalu saat itu... Kalian semua akan mati..."

Lin Mo menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa orang-orang ini tak akan mudah membuka mulut. Dan kekuatan yang mereka takuti itu pasti adalah kekuatan yang sama yang mengancam nyawanya sejak ia masih bayi. Musuh ayahnya yang telah mengambil hak keluarganya dan kini berusaha membunuh siapa pun yang berani menentang kehendak mereka. Lin Mo menatap mereka sekali lagi dengan pandangan yang dingin dan tegas.

"Pergilah... Sampaikan kepada tuan kalian... Bahwa benda itu kini berada di bawah perlindunganku... Dan jika ia berani mengambilnya... Biarlah ia datang sendiri... Aku menantangnya..."

Belasan orang itu saling berpandangan dengan wajah penuh kelegaan sekaligus kebingungan. Mereka tak menyangka bahwa pemuda yang begitu perkasa itu justru membiarkan mereka hidup. Dengan susah payah mereka bangkit dan memungut senjata mereka yang tergeletak di tanah. Mereka melirik Lin Mo dengan pandangan yang penuh rasa hormat bercampur rasa takut sebelum akhirnya berbalik dan melarikan diri secepat mungkin seakan takut Lin Mo berubah pikiran.

Setelah mereka pergi dan suasana kembali hening, Lin Mo berbalik perlahan menghampiri pemuda berjubah biru yang masih berlutut di tanah dengan pandangan yang tak percaya. Lin Mo berjongkok di hadapannya dan mengulurkan tangan kanannya dengan lembut. Cahaya ungu keemasan yang hangat meluncur perlahan dari telapak tangannya menyentuh luka-luka di tubuh pemuda itu. Rasa nyeri yang luar biasa perlahan meredup dan tenaga yang sempat habis kembali mengalir perlahan ke dalam tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa... Bangkitlah..."

Pemuda berjubah biru itu menatap Lin Mo dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyambut uluran tangan itu dan berdiri perlahan meskipun masih terasa sedikit goyah. Ia menatap Lin Mo lekat-lekat seakan ingin mengingat wajah pemuda itu seumur hidupnya. Lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada dan membungkuk dalam-dalam penuh rasa hormat dan terima kasih yang tak terlukiskan.

"Nama aku... Chen Yu... Aku adalah murid dari Sekte Pedang Biru... Terima kasih... Kakak... Atas pertolonganmu... Jika bukan karena kau... Aku pasti sudah tewas di tangan penjahat-penjahat itu..."

Lin Mo menatap pemuda itu dan mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang namun samar terukir senyum yang lembut.

"Nama aku Lin Mo... Tidak perlu berterima kasih... Aku hanya tidak suka melihat orang jahat bertindak sewenang-wenang... Benda apa yang mereka kejar darimu? Dan mengapa mereka begitu mengejarnya?"

Chen Yu mendongak perlahan dan menatap ke arah dada tempat ia menyembunyikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua yang terikat erat di balik pakaiannya. Ia mengeluarkan kotak itu perlahan dan membukanya sedikit. Di dalamnya terdapat sebutir manik-manik batu yang memancarkan cahaya biru jernih dan dingin. Chen Yu menatap manik itu dengan pandangan yang penuh kesedihan namun juga penuh keteguhan.

"Ini adalah Manik Lautan... Benda pusaka sekte kami... Musuh-musuh itu ingin mengambilnya untuk dikumpulkan dengan benda-benda lain... Konon jika benda-benda kuno itu berkumpul... Mereka akan mendapatkan kekuatan yang mampu mengguncang dunia... Guruku tewas melindungi benda ini... Dan aku melarikan diri membawa benda ini berharap dapat menyelamatkannya dari tangan mereka..."

Lin Mo menatap manik itu sejenak. Energi qi di dalam tubuhnya berdenyut lembut seakan mengenali kekuatan yang tersimpan di dalam benda itu. Lin Mo menatap Chen Yu dan berkata dengan suara yang tulus dan teguh.

"Mulai hari ini... Kau tidak sendirian... Musuh yang kau hadapi adalah musuh yang sama dengan musuhku... Jika kau bersedia... Kita berjalan bersama... Aku akan melindungimu... Dan kau pun melindungiku... Sampai saat kita mampu menghancurkan kekuatan jahat itu sepenuhnya..."

Chen Yu menatap Lin Mo dengan mata yang membelalak tak percaya. Namun di mata Lin Mo yang bersinar tulus dan teguh itu, Chen Yu melihat kebaikan hati dan kekuatan yang tak akan pernah ia temukan pada orang lain. Chen Yu mengangguk mantap dan air mata kelegaan jatuh membasahi pipinya. Ia kembali membungkuk dalam-dalam kepada Lin Mo.

"Aku bersedia... Mulai hari ini... Nyawaku adalah nyawa Kakak Lin Mo... Ke mana pun Kakak pergi... Aku akan ikut... Dan apa pun yang terjadi... Aku tak akan pernah meninggalkanmu..."

Lin Mo tersenyum lebar dan menepuk bahu Chen Yu dengan lembut. Cahaya ungu keemasan yang hangat menyelimuti tubuh mereka berdua seakan menyegel persaudaraan yang baru saja terjalin di puncak gunung itu. Di bawah sinar bulan purnama yang bersinar terang benderang di langit yang bersih, dua pemuda itu berdiri berdampingan dengan tekad yang sama persis. Menghancurkan kejahatan. Mengembalikan kebenaran. Dan melindungi dunia dari kekuatan gelap yang mulai bangkit kembali.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!