NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pembongkaran Kebohongan Besar

Gema hinaan Victor Cendana seolah menggantung kaku di udara aula Grand Ballroom Palace. Ratusan pasang mata yang terdiri dari para menteri, konglomerat nasional, hingga awak media tertuju pada Reno. Senyum culas menghiasi wajah Victor. Pria itu merasa telah berhasil menghantam titik terlemah sang Penguasa Naga Hitam di depan panggung publik.

"Kenapa diam, Tuan Muda Reno?" cecar Victor dengan suara yang makin meninggi, memoles provokasinya. "Apakah riwayatmu sebagai pria benalu yang diusir dari rumah mertua membuatmu kehilangan kata-kata? Seluruh negeri harus tahu siapa sebenarnya sosok di balik topeng megah Naga Hitam ini!"

Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya bergemuruh menahan amarah. Namun sebelum Alya sempat melontarkan pembelaan, jemari tegap Reno mengusap punggung tangannya dengan lembut, memberikan keheningan yang menenangkan.

Reno memutar pandangannya, menatap Victor dengan keheningan yang amat dalam. Tidak ada raut panik, tidak ada emosi berlebih. Hanya ada tatapan dingin yang membuat senyum di wajah Victor perlahan-lahan mengendur kaku.

"Victor Cendana," suara Reno mengalun rendah, tetapi sanggup menembus setiap sudut aula yang sunyi. "Kamu sibuk mengulik masa laluku yang tersembunyi, tetapi kamu lupa memikirkan masa depan klanmu sendiri yang berada di ujung tanduk malam ini."

"Gertakan murah!" bentak Victor sinis. Ia menjentikkan jarinya ke arah teknisi panggung. "Buka layar proyektor utama! Mari kita perlihatkan rekam jejak mantan menantu terbuang ini kepada seluruh tamu undangan!"

Teknisi panggung bergegas menekan sakelar. Layar LED raksasa berukuran puluhan meter yang bertengger di panggung utama perlahan menyala. Victor menyunggingkan senyum kemenangan, bersiap menyaksikan kehancuran nama baik Reno.

Namun, di saat yang bersamaan, Bagas yang berdiri beberapa langkah di belakang Reno hanya mengeluarkan sebuah komputer tablet lipat berteknologi tinggi. Jemarinya menari lincah di atas layar secara presisi.

*BZZZT!*

Sistem transmisi proyektor aula mendadak berkedip hebat. Sinyal internal tempat acara tersebut berhasil diretas dan diambil alih sepenuhnya oleh jaringan siber Konsorsium Naga Hitam dalam hitungan detik!

Layar raksasa yang tadinya hendak menayangkan dokumen masa lalu Reno mendadak berubah gelap. Detik berikutnya, susunan folder rahasia berwarna merah darah muncul, terbuka satu per satu di hadapan seluruh elit nasional.

*KLIK!*

Dokumen pertama yang terbuka adalah laporan pembukuan rahasia milik Klan Cendana. Di sana tertera jelas skema pencucian uang bernilai ratusan triliun rupiah yang melibatkan belasan rekening lepas pantai di negara *tax haven*. Tidak hanya itu, grafik alur dana juga memperlihatkan suap fantastis yang dialirkan oleh Victor Cendana kepada beberapa pejabat Otoritas Transaksi Keuangan demi menutupi kebangkrutan terselubung perusahaan induk mereka.

Suasana aula seketika pecah oleh jeritan dan desakan kaget para tamu VIP.

"Apa-apaan ini?!"

"Lihat itu! Rekening pencucian uang milik Klan Cendana!"

"Ternyata perusahaan raksasa mereka selama ini hanya topeng korupsi!"

Wajah Victor yang tadinya memerah penuh kesombongan seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Matanya melotot lebar, menatap layar raksasa yang terus menayangkan dokumen demi dokumen internal yang hanya diketahui oleh jajaran inti klannya.

"Tutup! Matikan layarnya! Cepat matikan!" jerit Victor histeris ke arah petugas teknis.

Namun, para petugas teknis menggeleng panik. Seluruh kontrol tombol dan aliran listrik panggung telah dikunci total dari jarak jauh.

Tidak berhenti di situ, layar raksasa berganti menampilkan rekaman audio-visual berkualitas tinggi. Suara jernih Victor terdengar memenuhari aula:

*"...Pastikan kapal kargo penyelundupan bahan mentah itu lolos malam ini. Gunakan nama Keluarga Surya untuk menyamarkan transaksi. Jika ada yang mengendus, tumbalkan saja mereka..."*

Aksen dan ucapan kejam Victor terpancar tanpa cela. Rekaman itu membongkar secara telanjang bahwa Klan Cendana tidak hanya terlibat kejahatan finansial, tetapi juga merupakan dalang utama yang memanfaatkan klan-klan daerah—termasuk Keluarga Surya—sebagai tumbal kejahatan mereka.

Seluruh pejabat negara dan pengusaha papan atas yang tadinya berdiri di pihak Klan Cendana melangkah mundur secara serentak. Ditatapnya Victor dan keluarganya dengan pandangan penuh jijik dan amarah.

"Penipu!" bentak seorang menteri senior yang berdiri di barisan depan. "Klan Cendana telah memanfaatkan wewenang negara untuk menutup kejahatan mereka! Malam ini juga seluruh kerja sama pemerintah dengan grup kalian dibatalkan!"

"Kami dari Asosiasi Perbankan Nasional menarik seluruh fasilitasi kredit untuk Klan Cendana!" seru petinggi perbankan yang ikut bersuara keras.

Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, panggung pertunangan yang dirancang Victor untuk memamerkan kekuasaan dan mempermalukan Reno, justru berubah menjadi panggung eksekusi bagi reputasi dan kejayaan Klan Cendana sendiri.

Di kejauhan, Maya dan Hendra berdiri gemetar dengan mulut terkunci rapat. Ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya merayapi sekujur tubuh mereka. Mereka menyadari betapa mengerikannya kekuatan Reno; pria yang dulu mereka anggap benalu ternyata sanggup meruntuhkan klan nomor satu di ibu kota hanya dengan satu kibasan tangan.

Victor berdiri mematung di atas panggung, kakinya gemetar hebat, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah. Keangkuhan yang ia pupuk bertahun-tahun musnah tak berbekas.

*PLAK!*

Sebuah tamparan keras bergema nyaring di atas panggung utama!

Tubuh Victor terlempar ke samping, memegangi pipinya yang terasa panas membakar. Pria tua berambut uban yang menamparnya adalah Kepala Klan Cendana—ayah kandung Victor sendiri.

"Anak tidak tahu diri!" jerit ayahnya dengan suara serak bersimbah amarah dan ketakutan yang mendalam. Matanya memerah menatap Victor. "Kebodohanmu telah menghancurkan seluruh warisan keluarga ini! Kamu memancing kemarahan raksasa yang tidak seharusnya kamu sentuh!"

Kepala Klan Cendana tidak memedulikan lagi harga dirinya. Pria tua yang ditakuti seluruh pebisnis nasional itu turun dari panggung dengan langkah gemetar, berjalan cepat menghampiri Reno.

Di hadapan ratusan kamera media, para menteri, dan seluruh elit kota, Kepala Klan Cendana menundukkan kepalanya dalam-dalam, hampir berlutut di depan kaki Reno.

"Tuan Muda Reno... ampun!" suara pria tua itu terdengar serak dan memohon. "Anak saya yang bodoh telah buta oleh kesombongan! Saya mohon, ampuni Klan Cendana! Tolong beri kami jalan keluar!"

Pemandangan seorang pimpinan klan tertinggi di ibu kota memohon ampun pada seorang pria muda memuat seluruh isi aula terhenyak dalam keheningan yang amat pekat.

Reno menatap pria tua itu dari atas dengan pandangan yang sedingin es. Tidak ada rasa iba, tidak ada rasa pamer.

"Jalan keluar?" suara Reno mengalun datar namun sarat akan keadilan yang mutlak. "Saat anakmu mengutus pembunuh bayaran untuk mencabut nyawaku dan menyentuh wanitaku, kalian sudah menutup sendiri seluruh jalan keluar itu."

Reno menoleh sedikit ke arah Bagas, memberikan isyarat terakhir.

Bagas mengangguk tegap. "Tuan Muda, Otoritas Penegak Hukum dan Tim Penyidik Keuangan Pusat sudah tiba di depan gedung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!