NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24.

Ketenangan yang Menarik Hati

Udara pagi di lokasi perkemahan masih terasa sejuk dan menyegarkan. Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun rumput, memantulkan cahaya matahari yang baru saja muncul perlahan dari balik bukit. Suara riuh rendah siswa yang mulai beraktivitas terdengar bersahutan, ada yang sedang membersihkan area tenda, ada yang sibuk menyiapkan peralatan masak untuk sarapan, dan ada pula yang berlarian kecil mencari kayu bakar.

Di pinggir lapangan yang agak sepi, Aisyah sedang berusaha menyeimbangkan tumpukan piring dan gelas kotor di kedua tangannya. Ia berniat membawanya ke tempat pembuangan sampah sementara sebelum dicuci bersama nanti. Langkahnya pelan dan hati-hati, berusaha menjaga keseimbangan agar tidak ada yang jatuh. Namun tak disangka, akar pohon yang menjulur sedikit ke permukaan tanah membuat kakinya tersandung pelan.

"Ah..." Aisyah menahan napas, tubuhnya sedikit condong ke depan.

Tumpukan piring di tangannya tergelincir sedikit, dan satu gelas plastik hampir jatuh ke tanah. Namun sebelum gelas itu menyentuh rumput, sebuah tangan yang sigap menahannya dengan cepat.

"Hati-hati ya," ucap suara lembut namun tegas dari samping.

Aisyah menoleh dan melihat Dimas berdiri di sebelahnya, tangannya dengan santai menahan tumpukan barang di lengan Aisyah agar tidak jatuh. Wajah Dimas tampak tenang, tidak terlihat panik atau kaget sedikit pun. Ia perlahan mengambil beberapa piring dari tangan Aisyah agar beban di tangannya berkurang.

"Makasih ya Dim," ucap Aisyah dengan suara yang tenang dan jernih. Ia tidak terlihat panik, tidak berteriak kaget, dan tidak pula wajahnya berubah pucat atau menangis. Ia hanya menata kembali posisi barang-barang di tangannya dengan gerakan yang pelan dan rapi. "Tadi kaki aku kepleset sedikit di akar pohon. Maaf ya bikin kamu repot."

Dimas tersenyum melihat sikap Aisyah yang begitu tenang itu. Selama ini ia sering melihat orang lain yang jika hampir jatuh atau salah melakukan sesuatu, pasti akan panik, berteriak, atau malah menyalahkan keadaan. Tapi Aisyah berbeda. Ia tetap kalem, berterima kasih dengan tulus, dan tidak berlebihan dalam menanggapi hal kecil seperti ini.

"Sama-sama. Emang jalannya agak nggak rata di sini," jawab Dimas pelan sambil berjalan beriringan di samping Aisyah. "Sini aku bantu bawa sampai tempat sampah. Berat juga kan banyak begini."

"Terima kasih banyak ya. Sebenarnya aku kuat kok, tapi kalau kamu mau bantu ya aku nggak nolak," balas Aisyah sambil tersenyum tipis, senyum yang meneduhkan dan tidak berusaha memikat berlebihan.

Sepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara. Hanya sesekali membicarakan udara pagi yang sejuk dan pemandangan bukit yang indah. Dimas diam-diam memperhatikan sikap Aisyah yang tetap santai, tidak gugup meski berjalan berdua dengannya, dan tetap rendah hati. Dalam hatinya, Dimas mengakui bahwa ia memang sangat menyukai perempuan yang memiliki ketenangan seperti ini. Tidak berisik, tidak memaksa diri menjadi pusat perhatian, tapi kehadirannya terasa menenangkan siapa saja yang ada di dekatnya.

Sesampainya di tempat pembuangan, Aisyah kembali mengucapkan terima kasih dengan tulus. "Sekali lagi makasih ya Dim. Kamu bantuannya sangat berarti buat aku."

"Sama-sama Aisyah. Kalau ada apa-apa lagi, jangan sungkan panggil aku aja," jawab Dimas tulus, lalu melambaikan tangan sebelum berjalan kembali ke arah teman-temannya.

Tak jauh dari sana, di balik batang pohon besar yang rindang, Arga berdiri diam terpaku. Matanya tak lepas menatap sosok Dimas dan Aisyah yang baru saja berpisah. Mulutnya sedikit terbuka, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia sudah memperhatikan dari sejak awal kejadian itu, melihat bagaimana cara Dimas menatap Aisyah, bagaimana senyum Dimas yang begitu tulus, dan tatapan kagum yang tak bisa disembunyikan di mata sahabatnya itu.

Arga tidak menyangka bahwa Dimas bisa begitu lepas dan tenang saat bersama perempuan lain selain Rara dan Laras. Selama ini ia selalu mengira Dimas hanya berurusan dengan dua orang itu, tapi ternyata ada sosok lain yang membuat Dimas tampak begitu damai.

Tiba-tiba sebuah tepukan keras mendarat di bahunya.

"HUAAAA!" Arga melonjak kaget sampai hampir terjungkal ke depan. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang, menoleh marah ke arah pelakunya. "Kamu ngapain sih Bima?! Bikin jantungan aja tau nggak!"

Bima tertawa terbahak-bahak melihat wajah Arga yang pucat saking kagetnya. Ia menyandarkan bahunya ke batang pohon sambil menahan tawa. "Loh kok malah marah? Siapa suruh kamu melamun kayak patung gitu dari tadi? Aku panggil dari tadi nggak nengok-nengok juga. Kamu ngeliatin apa sih sampai diam kayak orang bengong?"

Arga mengusap dadanya berkali-kali, lalu menunjuk dengan dagunya ke arah tempat Dimas tadi berdiri. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Bima, berbicara dengan suara berbisik pelan namun penuh keheranan.

"Hus... coba liat deh si Dimas," ucapnya pelan sambil melirik waspada ke sekeliling. "Kamu liat nggak tadi? Dia bantu Aisyah jatuhin piring, tapi tatapan matanya... senyumnya... beda banget tau. Kayak... kayak dia beneran suka sama ketenangan Aisyah."

Bima ikut mengintip ke arah Dimas yang sedang berjalan santai kembali ke area tenda, lalu mengangguk pelan. "Iya juga ya. Selama ini kan Dimas sering cerita kalau dia nggak suka cewek yang heboh, yang manja berlebihan, atau yang suka cari perhatian. Dia bilang dia lebih nyaman sama cewek yang tenang, bijaksana, dan apa adanya. Nah Aisyah kan persis kayak gitu."

"Tapi nggak nyangka gue," Arga masih tampak takjub sambil menggelengkan kepala. "Kita kan sibuk ngetawain dia rebutan Rara sama Laras, eh ternyata hati Dimas malah lebih condong ke yang kalem kayak Aisyah. Bener-bener nggak ada yang tahu isi hati sahabat kita ini ya."

Bima menepuk pundak Arga sambil tersenyum penuh arti. "Itulah Dimas. Dia nggak mudah jatuh hati cuma karena cantik atau populer. Dia cari kenyamanan. Dan Aisyah itu emang tipe cewek yang bikin siapa pun deket sama dia rasanya tenang. Wajar kalau dia suka."

"Berarti kita salah menilai selama ini ya?" bisik Arga lagi. "Kita kira dia bakal milih salah satu dari dua saingan itu, padahal mungkin aja dia udah lama ngeliat kelebihan Aisyah yang nggak dimiliki orang lain."

Bima mengangguk mantap. "Mungkin aja. Kita tunggu aja perkembangannya. Yang jelas hari ini kita dapet satu rahasia baru: Dimas lebih suka ketenangan daripada keributan. Dan Aisyah adalah buktinya."

Mereka berdua pun tersenyum saling berpandangan, lalu berjalan menyusul Dimas dengan langkah ringan. Di balik persaingan yang ramai dan berisik ternyata ada hati yang lebih suka menyendiri di tengah kedamaian. Dan siapa sangka, ketenangan yang sederhana itu justru yang paling mampu menarik perhatian seseorang yang istimewa.

 

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!