NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Yang Pertama

Keira membutuhkan waktu dua puluh menit untuk memilih baju ke kampus.

Biasanya ia bisa memakai apa saja selama nyaman, tidak terlalu mencolok, dan tidak membuat perutnya terasa tertekan. Hari ini, setiap pilihan terasa seperti pernyataan.

Kemeja putih terlalu rapi.

Hoodie terlalu santai.

Kardigan krem terlalu sering dipakai saat bersama Xavier, nanti Celine pasti berkomentar.

Pada akhirnya ia memilih blouse biru pucat dan celana jeans longgar. Aman. Manis secukupnya. Tidak terlihat seperti orang yang baru resmi pacaran dan hampir tidak tidur karena terlalu banyak membaca ulang chat.

Pukul delapan, bel berbunyi.

Keira membuka pintu dengan napas yang sudah ia atur seolah hendak presentasi sidang.

Xavier berdiri di luar dengan kemeja putih dan jaket navy. Di tangannya ada paper cup minuman hangat. Begitu melihat Keira, tatapannya turun sebentar ke pakaian Keira, lalu kembali ke wajahnya.

"Pagi, pacarku."

Keira hampir menutup pintu lagi.

Xavier sudah mengangkat satu tangan, menahan daun pintu sebelum bergerak terlalu jauh. "Kita punya kelas."

"Jangan panggil begitu di pagi hari. Sistem saraf aku belum siap."

"Nanti siang siap?"

"Tidak."

"Malam?"

"Xav."

Senyum kecil muncul di wajah Xavier. Ia menyerahkan paper cup itu. "Teh hangat. Tidak pakai gula banyak."

Keira menerimanya, masih dengan wajah panas. "Kamu tahu hari ini kita akan dilihat orang?"

"Iya."

"Dan kamu tetap setenang ini?"

"Aku tidak sedang melakukan kejahatan."

"Di kampus, pacaran dengan Campus Crush itu hampir seperti kejahatan sosial."

Xavier memiringkan kepala. "Aku bukan Campus Crush."

"Kamu mau aku buka @unparfess lagi?"

"Tidak usah."

Keira tertawa kecil.

Mereka turun lift bersama. Tidak ada yang terlalu berbeda. Xavier masih berdiri di sisinya. Masih bertanya apakah ia sudah minum obat. Masih menekan tombol lantai dasar sebelum Keira sempat bergerak.

Namun ketika mereka berjalan keluar dari lobi The Springs menuju mobil, Keira sadar satu hal.

Hari ini ia tidak mencari alasan.

Ia memang pergi bersama pacarnya.

Mobil Xavier berhenti di parkiran kampus tepat saat area itu mulai ramai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tote bag, laptop, kopi, dan wajah kurang tidur. Keira menatap kaca depan beberapa detik, lalu menarik napas.

"Kalau aku turun duluan..."

"Kei."

Satu kata itu membuatnya berhenti.

Xavier mematikan mesin, lalu menoleh. "Kalau kamu belum siap, kita bisa turun terpisah."

Lagi-lagi pilihan.

Keira menatapnya, kesal karena pria ini selalu membuat mundur terasa boleh, sampai ia tidak punya alasan untuk kabur.

"Tidak," katanya. "Kita turun bareng."

"Yakin?"

"Sebelum aku berubah pikiran."

Xavier keluar lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya. Keira turun dengan hati-hati. Saat kakinya menapak aspal parkiran, ia merasakan beberapa pandangan langsung menoleh.

Itu Xavier Sia.

Dan itu Keira Seng.

Bersama.

Keira bisa mendengar bisikan meski tidak jelas. Tubuhnya menegang otomatis.

Xavier tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan di sampingnya, jarak cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. Tidak menggenggam. Tidak memamerkan. Hanya ada di sana.

Mereka belum sampai lobi ketika suara tepuk tangan dramatis terdengar.

"AKHIRNYA!"

Kevin Tan berdiri di depan tangga fakultas dengan ekspresi seperti MC acara penghargaan. Dino ada di sebelahnya, memegang kopi, wajahnya antara malu dan terhibur.

Keira berhenti total.

Xavier menghela napas. "Kev."

Kevin menepuk tangan lagi, lebih keras. Beberapa mahasiswa menoleh.

"Aku sudah bertaruh dengan Dino!" serunya. "Aku bilang sebelum akhir bulan, Dino bilang setelah UAS. Bro, terima kasih sudah menyelamatkan reputasi insting romansa gue."

Dino mengangkat gelas kopi. "Gue tidak pernah setuju taruhan itu."

"Diam, kamu saksi."

Keira menutup wajah dengan paper cup.

Xavier tampak ingin meninggalkan Kevin di tempat. "Kamu terlalu berisik."

"Xav, ini momen bersejarah. Dulu lo kalau diajak ngobrol soal cewek mukanya kayak baca pasal pidana. Sekarang datang ke kampus sama pacar."

Kata `pacar` terdengar di udara terbuka.

Keira merasa telinganya panas, tetapi anehnya, ia tidak ingin menyangkal.

Kevin menoleh padanya, kali ini senyumnya lebih ramah dan tidak terlalu menggoda. "Keira, selamat. Akhirnya orang ini ada yang ambil. Tolong rawat, dia mahal tapi susah update software."

Keira tertawa sebelum sempat menahan.

"Aku akan coba."

Xavier menatap Kevin datar. "Selesai?"

"Belum. Foto dulu?"

"Tidak."

"Story?"

"Tidak."

"Minimal traktir?"

"Pergi kelas."

Kevin mundur sambil mengangkat tangan. "Baik, baik. Tapi grup cowok sudah tahu."

Xavier berhenti. "Apa?"

Dino menepuk bahu Kevin. "Kabur."

Mereka berdua benar-benar kabur.

Keira menatap punggung mereka, lalu Xavier. "Grup cowok?"

"Aku akan urus."

"Bagaimana caranya?"

"Dengan ancaman hukum."

Keira tertawa lagi. Tawa itu membuat tegang di dadanya sedikit melonggar.

Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar tanpa henti.

Celine.

Bukan satu pesan. Bukan dua.

Satu deretan emoji memenuhi layar: hati, confetti, api, kucing, mahkota, dan beberapa simbol yang Keira bahkan tidak tahu artinya. Setelah itu muncul voice note berdurasi tujuh detik.

Keira menekan play tanpa sengaja.

Suara Celine meledak dari speaker.

"GUE SUDAH TAHU! TAPI TETAP SAJA GUE MAU TERIAK!"

Keira panik mematikan suara. Xavier menunduk, bahunya bergerak menahan tawa.

"Jangan ketawa."

"Aku tidak ketawa."

"Bahu kamu ketawa."

Pesan berikutnya dari Tania masuk, jauh lebih singkat.

`Jangan lupa tugas kelompok besok.`

Keira menatap layar, lalu tertawa kecil karena itu sangat Tania.

Namun beberapa detik kemudian, pesan lain muncul secara pribadi.

`Selamat ya, Kei. Pelan-pelan saja. Kalau bahagia, jangan merasa bersalah.`

Tawa Keira berhenti.

Ia membaca kalimat itu dua kali.

Xavier memperhatikan perubahan wajahnya. "Apa?"

"Tania," jawab Keira pelan.

"Dia marah?"

"Tidak. Dia bilang selamat."

Xavier mengangguk. "Dia baik."

"Iya."

Keira menyimpan ponsel, tetapi kalimat itu tetap tinggal.

Kalau bahagia, jangan merasa bersalah.

Mereka berjalan menuju gedung DKV karena kelas pertama Keira dimulai lebih dulu. Di sepanjang jalan, beberapa orang menoleh. Ada yang tersenyum tahu. Ada yang berbisik. Ada pula yang langsung pura-pura melihat ponsel saat Xavier menatap balik.

Keira berusaha terlihat normal.

Gagal.

Saat mereka melewati taman kecil dekat perpustakaan, angin Bandung bergerak cukup dingin. Keira menarik lengan bajunya sampai menutup punggung tangan.

Xavier melihat.

"Dingin?"

"Sedikit."

Ia mengulurkan tangan.

Keira menatap tangan itu.

Tangan Xavier terbuka di antara mereka, tenang, tidak memaksa. Di sekitar mereka ada mahasiswa lain. Ada teman satu jurusan. Ada kemungkinan foto. Ada kemungkinan @unparfess membuat postingan baru sebelum makan siang.

Jantung Keira berdetak cepat.

Kemarin, ia mungkin akan pura-pura tidak melihat.

Hari ini, ia menaruh tangannya di telapak Xavier.

Jari Xavier menutup di sekitar tangannya, hangat dan mantap.

Tidak ada kembang api.

Tidak ada musik.

Hanya langkah mereka yang kembali bergerak bersama, melewati jalan kampus yang biasa, dengan cara yang tidak biasa.

Keira menunduk menatap tangan mereka.

Ini pertama kalinya ia menggenggam tangan Xavier di kampus.

Pertama kalinya di depan orang lain.

Pertama kalinya tanpa dalih tugas, tanpa alasan sistem, tanpa pura-pura untuk menyenangkan Engkong.

Ia menggenggam balik sedikit lebih erat.

Xavier menoleh. "Takut?"

"Masih."

"Mau lepas?"

Keira menggeleng.

Senyum Xavier muncul, sangat kecil, tetapi cukup untuk membuat pagi itu terasa lebih terang.

Di depan gedung DKV, mereka berhenti. Keira seharusnya langsung masuk. Xavier seharusnya pergi ke Fakultas Hukum.

Namun tangan mereka masih saling menggenggam.

"Aku kelas sampai jam sebelas," kata Keira.

"Aku tunggu di perpustakaan."

"Kamu punya kelas?"

"Jam satu."

"Kamu mau menunggu dua jam?"

"Aku sudah bawa buku."

Keira menatapnya. "Kamu sadar ini perilaku pacar baru yang agak berlebihan?"

"Bagus. Berarti aku melakukan dengan benar."

Keira tertawa pelan, lalu akhirnya melepas tangannya. Hangatnya masih tertinggal di telapak.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

Xavier masih berdiri di tempat, memandangnya dengan tenang.

Ponsel Keira bergetar di tas.

Ia tidak perlu melihat untuk tahu kemungkinan besar Celine, Kevin, atau seluruh semesta sedang berkomentar.

Tetapi untuk sekali ini, Keira tidak panik.

Ia mengangkat tangan kecil ke arah Xavier.

Xavier membalas dengan anggukan tipis.

Saat Keira masuk ke gedung DKV, telapak tangannya masih hangat.

Dan untuk pertama kalinya sejak sistem memilih Xavier sebagai targetnya, ia merasa hubungan mereka bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan dari dunia.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!