NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Kevin Tan pulang ke Tan Residence saat rumah itu masih berbau duka.

Ia tidak menangis untuk Jasmine. Ia juga tidak menangis untuk Stella. Matanya merah karena kurang tidur, bukan karena kehilangan. Di keluarga Tan, Kevin tumbuh dengan satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun: orang yang terlalu lama berduka akan kehilangan kursinya.

Dan kursi itu sekarang kosong.

Jasmine sudah tidak ada. Stella sudah jatuh. Felix mulai kehilangan kendali. Edmond tampak seperti lelaki yang hanya bisa menutup pintu ruang kerja. Tan Bao Shan tua, sakit, dan semakin mudah marah.

Kevin melihat semua itu dan berpikir, ini waktunya.

Rachel menunggunya di ruang keluarga kecil, jauh dari altar dan ruang tamu utama. Wajahnya lebih kurus daripada terakhir kali ia melihat ibunya, tetapi matanya tetap berbahaya.

"Kamu jangan gegabah," kata Rachel tanpa salam.

Kevin tertawa pendek. "Aku baru pulang dan Mama sudah menuduhku."

"Karena aku tahu darahmu."

"Kalau Mama tahu darahku, Mama juga tahu aku tidak akan duduk menunggu Lim Mei Li mengambil semuanya."

Rachel berdiri, mendekat. "Jasmine mati karena ceroboh. Stella mati karena sombong. Jangan jadi yang ketiga."

Nama kedua perempuan itu membuat rahang Kevin mengeras. "Mereka mati karena semua orang di rumah ini takut pada satu perempuan."

"Kamu tidak tahu siapa dia."

"Aku tahu cukup." Kevin melempar beberapa foto ke meja. Foto Mei Li keluar dari Koh Tower. Foto Ricky Koh di parkiran. Foto beberapa mobil logistik yang kini berpindah kontrak dari Tan Group ke Koh Group. "Dia memotong uang kita, jalur kita, orang-orang kita. Jadi aku potong tangannya."

Rachel mengambil foto Ricky. "Jangan sentuh Mei Li langsung."

"Aku tidak bodoh."

"Kamu laki-laki Tan. Itu sering kali sama saja."

Kevin menatap ibunya, tersenyum tanpa hangat. "Jasmine dan Stella gagal karena menyerang reputasi dan tubuhnya. Aku menyerang orang yang menjalankan mesinnya."

"Ricky Koh?"

"Dia adik kecilnya di Jakarta. Bukan darah, tapi cukup dekat."

Rachel diam. Untuk pertama kalinya, Kevin melihat ibunya mempertimbangkan rencananya bukan sebagai kenakalan anak, melainkan sebagai kemungkinan.

"Pak Tujuh tidak akan membantu," katanya.

"Aku tahu. Pak Tujuh sudah tua dan baru saja dibuat malu oleh perempuan itu."

"Jangan sebut dia begitu."

"Apa? Perempuan itu?" Kevin tertawa. "Mama masih takut menyebut namanya?"

Rachel menampar meja. "Aku takut pada kebodohan."

Kevin mencondongkan tubuh. "Aku punya jalur lain. Anak-anak pelabuhan yang tidak suka Mansur. Debt collector dari Bekasi. Beberapa orang yang dulu kerja untuk Felix sebelum dia merasa terlalu terhormat."

"Mereka kotor."

"Justru karena itu mereka tidak punya kehormatan untuk dibeli balik."

Rachel menatapnya lama. "Apa yang kamu rencanakan?"

"Ricky Koh akan meninjau gudang supplier besok malam. Kita buat keributan. Bukan membunuh. Cukup membuatnya hilang beberapa jam, kirim video ke Lim Mei Li, dan lihat apakah dia masih bisa berpikir dingin."

Rachel tidak langsung menjawab.

Di luar, hujan turun tipis. Rumah Tan terlalu besar, tetapi malam itu terasa sempit, seperti semua dinding bergerak mendekat.

"Kalau kamu gagal," kata Rachel akhirnya, "dia tidak akan hanya menghancurkanmu."

"Kalau aku berhasil, Tan Bao Shan akan ingat siapa cucu laki-lakinya."

Rachel menutup mata sebentar.

Itulah inti Kevin. Bukan dendam untuk Jasmine atau Stella. Bukan cinta untuk keluarga. Ia ingin dilihat.

Dan orang yang ingin dilihat sering kali lebih berbahaya daripada orang yang ingin menang.

***

Di sebuah ruko kosong dekat Bekasi, Kevin bertemu lima orang yang tidak akan pernah masuk lewat pintu depan Tan Residence.

Pria yang memimpin mereka dipanggil Baron. Badannya kurus, lehernya penuh tato lama, dan tawanya selalu datang terlambat. Ia pernah menjadi penagih utang untuk beberapa perusahaan bayangan, lalu dipecat karena terlalu sering mengambil bagian sendiri.

"Targetnya orang Koh?" Baron bertanya.

"Ricky Koh. Jangan rusak wajahnya."

"Mau dipakai negosiasi?"

"Mau dipakai pesan."

Baron mengunyah permen karet. "Lim Mei Li orangnya berat. Setelah yang terjadi sama Pak Tujuh, banyak anak nggak mau dekat-dekat."

Kevin meletakkan amplop di meja.

Baron tidak langsung mengambilnya.

Kevin meletakkan amplop kedua.

Baron tersenyum.

"Besok malam?"

"Gudang supplier di Cakung. Aku kirim jadwalnya."

"Pengawal?"

"Dua. Mungkin tiga. Jangan berlagak jadi pahlawan. Ambil Ricky, rekam, pergi."

Baron akhirnya mengambil amplop. "Kalau Lim Mei Li datang?"

Kevin menatapnya dingin. "Kamu lari."

Baron tertawa. "Jujur sekali."

"Aku membayar untuk pesan, bukan bunuh diri massal."

Di luar ruko, seorang pengamen kecil lewat di bawah hujan. Kevin melihatnya sebentar, lalu menutup tirai. Dunia di luar tidak penting. Yang penting adalah membuat Mei Li berhenti mengendalikan ritme permainan.

Ketika ia kembali ke mobil, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Tan Group tidak punya banyak waktu.

Kevin membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada nama pengirim, tetapi ia tahu itu bukan dari ibunya. Bukan dari Tan Bao Shan.

Seseorang lain sedang mengawasi.

Alih-alih takut, Kevin tersenyum.

"Bagus," gumamnya. "Semakin banyak penonton, semakin menarik."

Seumur hidupnya, keluarga Tan selalu memberi panggung pada orang lain. Jasmine dengan wajah cantiknya, Stella dengan acara sosialnya, bahkan anak buangan yang dulu mereka kubur kini menjadi pusat ketakutan mereka. Kevin muak berdiri di sisi.

Ia mengirim pesan terakhir kepada Baron.

Besok malam. Bawa Ricky Koh hidup-hidup.

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!