NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Anak Haram

Gerbang besi rumah keluarga Lim terbuka tepat ketika langit Jakarta mulai menumpahkan hujan.

Seraphina Lim berdiri di bawah payung hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya, satu tangan menggenggam gagang koper, satu tangan lagi menahan ujung jas hujan tipis yang mulai basah di bagian lengan. Di balik pagar tinggi itu, halaman rumah Lim terbentang seperti taman milik hotel bintang lima. Lampu sorot tersembunyi di antara pohon palem, memantulkan cahaya ke jalan setapak dari batu alam yang licin terkena air.

Di Surabaya, hujan biasanya membuat rumah terasa hangat. Bau tanah naik dari halaman, Mama Kartika akan berteriak dari dapur agar ia tidak lupa minum jahe, sementara Papa Budiman menutup koran dan bertanya apakah tugasnya sudah selesai.

Di sini, hujan hanya membuat dinding putih rumah besar itu tampak lebih dingin.

Seorang satpam membuka pintu pos, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan seperti kepada anak perempuan pemilik rumah yang baru pulang.

"Nona Seraphina?" tanyanya, lebih mirip memastikan nama di daftar tamu.

"Ya."

Satpam itu menunduk sekadarnya, lalu mengangkat tangan ke arah rumah utama. "Silakan masuk. Tuan sudah menunggu."

Tuan.

Bukan Papa.

Seraphina menelan rasa getir yang naik ke tenggorokan. Ia menyeret kopernya melewati jalan setapak, roda kecil koper beradu dengan batu basah, menghasilkan bunyi kasar yang terdengar terlalu keras di halaman seluas itu. Tidak ada seorang pun keluar menyambut. Tidak ada payung tambahan. Tidak ada tangan yang mengambil kopernya.

Di anak tangga teras, seorang pria paruh baya berdiri dengan setelan abu-abu tua. Wajahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, rahangnya keras seperti sudah lama terbiasa memberi perintah dan tidak menerima bantahan.

Hendrawan Lim.

Orang yang secara darah adalah ayahnya.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan cheongsam modern warna krem, kalung mutiara melingkar di lehernya. Meilin Lim tampak anggun, tetapi jemarinya saling meremas di depan perut. Matanya jatuh ke wajah Seraphina, bertahan satu detik terlalu lama, lalu cepat-cepat turun ke koper.

Seraphina berhenti di anak tangga paling bawah. Hujan memukul payung di atas kepalanya.

"Selamat malam," ucapnya.

Hendrawan melihat jam di pergelangan tangannya. "Pesawatmu mendarat pukul lima. Sekarang hampir tujuh."

Tidak ada, apa kabar.

Tidak ada, perjalananmu baik-baik saja?

Seraphina melipat payungnya perlahan. Tetes air jatuh di lantai marmer teras. "Macet dari bandara."

"Jakarta memang begitu. Kalau ingin tinggal di sini, kau harus terbiasa."

Kalau ingin tinggal di sini.

Seolah ia yang meminta.

Meilin bergerak sedikit, seperti hendak maju. "Sera..."

Nama itu keluar begitu pelan, hampir tenggelam oleh hujan.

Seraphina menatapnya. Di antara semua hal asing di rumah ini, suara itu justru yang paling membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena hangat, melainkan karena terlalu hati-hati. Seperti Meilin takut memecahkan sesuatu yang sudah retak sejak lama.

"Bu Meilin," jawab Seraphina.

Wajah Meilin berubah pucat. Tangannya yang tadi hendak terulur berhenti di udara, lalu turun kembali.

Hendrawan menoleh singkat kepada istrinya, cukup untuk membuat Meilin menutup mulut. Setelah itu ia memberi isyarat kepada pria berseragam hitam yang berdiri di dekat pintu.

"Bawa barangnya ke kamar."

Pria itu maju mengambil koper Seraphina. Seraphina tidak langsung melepas gagangnya.

"Saya bisa bawa sendiri."

Alis Hendrawan bergerak tipis. "Di rumah ini ada aturan. Staf mengurus barang tamu."

Tamu.

Kata itu akhirnya keluar juga, hanya disamarkan dengan nada sopan.

Seraphina melepaskan koper itu. "Baik."

Ia masuk melewati pintu utama. Udara dingin dari dalam rumah langsung menyentuh kulitnya. Lobi keluarga Lim terlalu luas untuk disebut rumah. Lampu kristal menggantung tinggi, cahayanya menimpa lantai marmer hitam putih. Di dinding kanan, deretan foto keluarga dipajang dalam bingkai emas. Hendrawan muda. Meilin dengan senyum yang lebih hidup. Darren dalam seragam sekolah internasional. Yolanda dengan gaun pesta ulang tahun, memegang buket mawar putih.

Tidak ada Seraphina.

Tentu saja.

Ia hanya berdiri beberapa detik di depan foto-foto itu. Cukup lama bagi Meilin untuk menyadari ke mana pandangannya pergi.

"Foto-foto lama," kata Meilin cepat. "Nanti... nanti kita bisa tambah."

Seraphina menoleh. "Tidak perlu repot."

Meilin seperti tertampar, tetapi ia tidak membalas. Bibirnya bergerak, tidak ada suara yang keluar.

Hendrawan berjalan lebih dulu menuju ruang tengah. "Darren belum pulang dari kantor. Yolanda ada di atas. Kau akan bertemu mereka nanti."

"Saya sudah pernah bertemu Yolanda," kata Seraphina.

Langkah Hendrawan berhenti setengah detik.

Empat tahun lalu, di pesta ulang tahun ke delapan belas Yolanda, Seraphina pernah berdiri di teras rumah ini dengan gaun biru muda yang dipilihkan Meilin melalui asisten. Saat itu semua orang menatapnya seperti noda pada kain mahal. Yolanda menangis di tengah pesta, mengatakan kepalanya pusing, lalu menolak turun kalau Seraphina masih berada di sana.

Malam itu juga Seraphina dikirim kembali ke Surabaya.

Tidak ada yang mengatakan ia harus pulang. Mereka hanya mengatur mobil, memasukkan kopernya, dan menutup pintu.

Hendrawan berbalik. "Empat tahun lalu situasinya berbeda."

"Sekarang juga tidak terlihat jauh berbeda."

Keheningan turun.

Seorang pelayan perempuan yang sedang membawa nampan teh berhenti di ambang pintu. Matanya membesar sedikit, lalu cepat-cepat menunduk.

Meilin berbisik, "Sera..."

Hendrawan tidak menaikkan suara. Justru karena itu, kalimatnya terdengar lebih tajam. "Kau baru sampai. Jangan mulai dengan sikap keras kepala."

Seraphina menatap pria itu. Ada banyak kalimat yang bisa ia ucapkan. Tentang dua puluh tahun lebih hidupnya yang tidak pernah benar-benar dicari. Tentang bagaimana ia menerima panggilan mendadak dari Jakarta, diminta pulang seolah ia koper lama yang akhirnya dibutuhkan. Tentang Mama Kartika yang menatapnya lama di bandara Juanda, lalu hanya berkata, "Kalau mereka menyakitimu, pulang."

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Di rumah ini, setiap kata pasti ditimbang bukan sebagai perasaan, melainkan sebagai kelemahan.

"Saya mengerti," jawabnya.

Ruang tengah sudah disiapkan seperti panggung. Sofa kulit warna gading, meja kopi dari batu onyx, aroma teh oolong hangat, dan vas tinggi berisi anggrek putih. Semua terlalu bersih. Terlalu sempurna. Terlalu tidak hidup.

Meilin duduk lebih dulu, lalu memberi isyarat kepada Seraphina untuk duduk di sampingnya. Hendrawan memilih kursi tunggal di seberang, posisi yang membuatnya tampak seperti hakim.

Seraphina duduk dengan punggung tegak. Ia meletakkan tas kecilnya di pangkuan.

"Mulai hari ini," kata Hendrawan, "kau tinggal di sini sebagai bagian dari keluarga Lim. Tapi kau harus paham, nama Lim bukan sesuatu yang bisa dipakai sembarangan. Ada reputasi, ada lingkaran sosial, ada aturan."

Seraphina memandang cangkir teh di depannya. Permukaan teh tenang, tidak terganggu sedikit pun oleh suara hujan di luar.

"Aturan seperti apa?"

"Jangan membuat keributan. Jangan bicara pada media. Jangan membahas masa lalumu dengan orang luar. Kalau ada undangan sosial, kau datang sesuai arahan Papa."

Papa.

Ia mengucapkannya dengan mudah, seakan satu kata cukup untuk menutup semua jarak.

"Dan," Hendrawan melanjutkan, "kau tidak perlu membawa kebiasaan lama dari Surabaya ke sini. Jakarta berbeda. Orang menilai dari cara berjalan, cara bicara, cara memilih teman."

Seraphina tersenyum tipis. "Saya kira orang dinilai dari apa yang dia lakukan."

Tatapan Hendrawan mengeras. "Itu pikiran idealis. Di keluarga seperti kita, persepsi sering lebih penting daripada kebenaran."

Meilin menunduk. Jari-jarinya kembali saling meremas.

Seraphina melihat gerakan itu. Aneh, bagian paling rapuh dari ruangan ini justru perempuan yang seharusnya paling berhak memeluknya. Namun Meilin duduk hanya beberapa jengkal darinya, kaku seperti tamu yang salah masuk acara.

"Kamar Sera sudah disiapkan?" tanya Meilin kepada pelayan, mungkin karena tidak tahan pada percakapan itu.

"Sudah, Nyonya."

"Di sayap timur," kata Hendrawan. "Dekat kamar tamu. Lebih tenang."

Dekat kamar tamu.

Seraphina hampir tertawa.

Dari lantai dua terdengar bunyi hak sepatu mengetuk tangga. Pelan, terukur, sengaja dibuat terdengar. Semua kepala di ruang tengah menoleh.

Yolanda Lim turun dengan gaun rumah warna putih susu, rambutnya jatuh rapi melewati bahu. Di tangannya ada ponsel. Wajahnya cantik dengan cara yang biasa dipuji orang di pesta, lembut, mahal, dan tahu bahwa ia sedang diperhatikan.

"Papa, Mama," sapanya manis.

Lalu matanya berhenti pada Seraphina.

Senyum Yolanda tidak hilang. Hanya berubah bentuk.

"Oh," katanya, seolah baru melihat sesuatu yang tidak sengaja tertinggal di ruang tamu. "Dia sudah datang."

Meilin berdiri. "Yolanda, ini Sera. Kakakmu."

Kakak.

Kata itu menggantung di udara, canggung dan asing.

Yolanda turun satu anak tangga lagi, lalu tertawa kecil. "Kakak? Mama bercanda?"

"Yolanda," tegur Hendrawan.

Nada itu bukan teguran sungguhan. Lebih mirip peringatan agar ia tidak terlalu kasar di depan staf.

Yolanda mengabaikannya. Ia berjalan ke ruang tengah, berhenti di depan Seraphina, lalu menatap pakaian Seraphina dari atas sampai bawah. Blus putih sederhana. Celana panjang hitam. Jam tangan tanpa logo besar. Sepatu datar yang bersih tapi jelas bukan keluaran butik yang biasa dipakai Yolanda.

"Aku pikir orang Surabaya setidaknya akan berdandan kalau pertama kali datang ke rumah keluarga Lim," ucap Yolanda pelan, tetapi cukup keras untuk didengar pelayan di dekat pintu.

Seraphina mengangkat wajah. "Aku pikir keluarga Lim setidaknya akan mengajarkan sopan santun kepada anak yang dibesarkan di rumah ini."

Pelayan itu menahan napas.

Senyum Yolanda membeku.

Meilin memegang lengan sofa. "Sudah, kalian berdua..."

"Tidak apa-apa, Mama." Yolanda menoleh kepada Meilin dengan wajah terluka yang terlalu cepat muncul. "Aku hanya menyapa. Mungkin dia belum terbiasa dengan cara bicara keluarga."

"Aku cukup terbiasa dengan cara bicara orang yang tidak menyukaiku," jawab Seraphina.

Mata Yolanda berkilat. Sesuatu yang manis di wajahnya retak, memperlihatkan rasa benci yang lebih tua dari pertemuan malam ini.

"Kalau begitu kau harusnya juga terbiasa sadar diri," kata Yolanda. "Rumah ini punya sejarah. Punya nama. Tidak semua orang bisa tiba-tiba masuk hanya karena Papa kasihan."

Seraphina tidak bergerak.

Hendrawan meletakkan cangkirnya sedikit lebih keras di meja. "Cukup."

Namun Yolanda sudah terlalu jauh untuk berhenti. Mungkin ia merasa aman karena selama ini setiap air matanya selalu lebih dipercaya daripada diam Seraphina. Mungkin ia ingin memastikan sejak malam pertama siapa yang berhak berdiri di bawah lampu kristal rumah ini.

Yolanda mendekat setengah langkah.

"Jangan salah paham, Seraphina. Kau boleh memakai nama Lim sekarang. Tapi semua orang tahu kau siapa." Senyumnya kembali, lebih kejam. "Anak haram tetap anak haram."

Ruang tengah menjadi sangat sunyi.

Hujan di luar terdengar lebih keras daripada napas orang-orang di dalam.

Meilin menutup mulutnya. Matanya basah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hendrawan menatap Yolanda, lalu menatap Seraphina, seakan sedang menghitung kerugian sosial dari kalimat itu. Pelayan di pintu menunduk sangat dalam. Di ujung tangga, seorang pria muda yang baru tiba berdiri membeku dengan jas kerja masih melekat di tubuhnya.

Darren Lim.

Seraphina mengenalinya dari foto keluarga.

Ia baru saja mendengar semuanya.

Selama beberapa detik, Seraphina merasakan tubuhnya seperti kembali menjadi gadis dua puluh dua tahun di pesta ulang tahun empat tahun lalu, berdiri sendirian di teras dengan gaun biru muda, mendengar bisik-bisik orang yang tidak tahu apa-apa tetapi merasa berhak menghakimi.

Bedanya, malam ini ia tidak akan masuk mobil dan pergi sebelum pesta selesai.

Seraphina berdiri.

Gerakannya pelan, tanpa bunyi. Ia menatap Yolanda, lalu melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Meilin yang gemetar. Hendrawan yang diam. Darren yang terlambat datang. Staf yang pura-pura tidak mendengar.

Terakhir, pandangannya kembali ke Yolanda.

"Aku tidak meminta dilahirkan di keluarga ini," ucap Seraphina. Suaranya tenang, lebih tenang daripada hujan di luar. "Tapi aku juga tidak akan meminta maaf karena aku ada."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!