Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Di Sepertiga Malam
Malam semakin larut. Setelah perbincangan mendalam dengan ibunda Arya di teras depan, Amanda kembali ke dalam kamar luas milik Arya. Suasana kamar itu begitu hening dan tenang. Aroma wangi kayu cendana yang khas milik Arya samar-samar masih tercium di udara, memberikan rasa nyaman yang aneh bagi Amanda.
Amanda berdiri di tengah ruangan, menyapu pandangannya ke setiap sudut kamar. Matanya tertuju pada sebuah meja kerja kayu yang tertata rapi di sudut dekat jendela. Didorong oleh rasa penasaran dan kata-kata ibunda Arya yang masih bergema di kepalanya, langkah kaki Amanda perlahan mendekati meja tersebut.
Tangannya yang gemetar terulur ragu. Dengan perlahan, Amanda membuka laci paling atas meja kerja itu.
Di dalamnya, tergeletak sebuah album foto bergaris hitam elegan yang tampak sangat terawat. Amanda menarik album itu keluar dan membukanya halaman demi halaman. Halaman-halaman awal berisi kenangan masa-masa kuliah mereka—foto acara organisasi, kelulusan, dan foto bersama teman-teman seangkatan.
Namun, saat jari Amanda membuka halaman tengah, gerakannya terhenti seketika.
Di sana, terselip sebuah foto berukuran sedang yang disimpan terpisah dari yang lain. Foto itu hanya menampilkan dua orang: Amanda dan Arya.
Dalam foto itu, mereka berdua sedang duduk di tangga perpustakaan kampus. Amanda terlihat tertawa lepas menatap kamera, sementara Arya—yang duduk di sampingnya—tidak melihat ke arah kamera sama sekali. Pandangan mata Arya muda dalam foto itu tertuju lurus pada wajah Amanda, dengan sorot mata yang begitu dalam, tulus, dan penuh kekaguman.
Di sudut bawah foto tersebut, terdapat tulisan tangan rapi milik Arya lengkap dengan tanggal masa lalu mereka: "Senyum yang selalu ingin kujaga, meski bukan aku alasannya."
Air mata hangat perlahan menetes di pipi Amanda. Dadanya berdesir hebat menyadari betapa dalam perasaan yang disimpan Arya selama bertahun-tahun dalam diam. Di saat Zidan yang ia cintai dan nikahi justru meremukkan hatinya tanpa ampun, ada Arya yang selalu menyimpannya dengan begitu terhormat di dalam kenangan.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamar mengejutkan Amanda.
"Amanda, kamu belum tidur?" suara Arya terdengar lembut dari balik pintu.
Amanda tergesa-gesa mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menyimpan kembali album foto itu ke dalam laci meja dan menutupnya perlahan. Ia berusaha menetralkan deru napasnya sebelum berjalan mendekati pintu.
Ketika engsel pintu berputar dan terbuka, terlihat Arya berdiri di sana dengan kaus santai dan celana panjang kain. Tatapan mata pria itu dipenuhi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Amanda," tutur Arya pelan, suaranya terdengar begitu berat namun menenangkan di tengah sunyinya malam.
"Ah... iya, Arya. Aku belum mengantuk," balas Amanda sembari mengulas senyum tipis.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Arya ragu-ragu, menunjuk cangkir teh hangat yang ia bawa di tangan kirinya. "Aku melihat lampu kamarmu masih menyala. Aku membuatkanmu teh chamomile, siapa tahu bisa membantumu tidur lebih nyenyak."
Amanda mengangguk pelan sembari bergeser memberi ruang. "Boleh, silakan masuk, Arya."
Arya melangkah masuk dan meletakkan cangkir teh hangat itu di atas meja kecil dekat tempat tidur. Pria itu tidak langsung duduk, melainkan tetap berdiri dalam jarak yang sopan, menjaga kenyamanan Amanda.
"Kamu memikirkan sidang dan proses hukum esok hari?" tanya Arya lembut, menatap Amanda yang kini berdiri menatapnya.
Amanda menggeleng pelan, lalu pandangannya secara refleks berulir ke arah meja kerja di mana album foto itu tersimpan. "Tidak, Arya. Aku tidak sedang cemas soal Zidan atau sidang. Aku... justru sedang memikirkan hal lain."
Arya menyadari pendar aneh di mata Amanda. "Hal lain? Soal apa?"
Dengan keberanian yang tiba-tiba mengumpul di dadanya, Amanda menatap lurus ke dalam iris mata Arya. "Soal kita... dan soal alasan kenapa kamu selalu ada di sini untukku, bahkan setelah bertahun-tahun kita terpisah."
Atmosfer di dalam kamar seetika membeku. Arya tertegun, lidahnya mendadak kelu saat menyadari ke mana arah pembicaraan wanita di hadapannya itu.