NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Puluhan personel Geng GBA merangsek merayap ke arah Repan seraya mengayunkan pipa besi, balok kayu, dan barisan senjata tumpul lainnya.

Sorakan liar bernada ancaman memecah udara sore, namun Repan tetap berdiri lempeng di posisinya, seolah-olah seluruh keributan di sekelilingnya itu hanyalah tiupan angin berlalu.

Melalui pergerakan yang amat fleksibel, Repan menurunkan pusat gravitasinya, merenggangkan kaki membentuk kaitan kuda-kuda kokoh khas seni bela diri Wing Chun.

Struktur tubuhnya rileks, namun siap meledak bagaikan pegas yang ditekan maksimal.

TAK! TAK! BUAK! DUAK!

Kedua jemari tangan Repan berayun secepat kilat.

Satu mementalkan benturan, satu melepaskan pukulan balasan. Setiap serangan lawan yang datang memental kaku lalu dibalas dengan efisiensi yang mematikan.

"Makan nih, Bangsat!" teriak salah satu anggota Geng GBA yang memegang pemukul bisbol, mengayunkan tongkatnya secara brutal mengincar kepala Repan.

WUSH!

Lewat pergerakan yang sangat halus, Repan memiringkan tubuhnya tipis, membuat ayunan pemukul kayu itu meleset seluas sejengkal.

Dalam waktu sepersekian detik, ia melayangkan tendangan kilat menghantam tempurung lutut orang itu hingga roboh, disusul dorongan lutut yang mendarat telak di ulu hatinya.

Begitu posisi musuh tertekuk membungkuk, Repan memutar poros tubuhnya dan—

DUAAARRR!

Sebuah tendangan berputar mendarat telak di rahang musuh, membuatnya terpelanting ambruk bagaikan karung beras.

Namun gempuran belum usai. Puluhan anggota geng lainnya masih terus berusaha merangsek masuk mengepungnya dari berbagai sudut.

Repan menyalakan insting pertarungannya yang kini sudah berada di tataran master Wing Chun berpengalaman 30 tahun.

Gerakannya mengalir sangat dinamis—mementalkan, melayangkan serangan balik, lalu meloloskan diri kembali.

Sama sekali tak ada satu pun benturan dari pihak musuh yang sanggup menggores seragamnya.

TAK! TAK! BUAK! BRAK!

Satu per satu personel Geng GBA bertumbangan mengenaskan.

Ada yang menggeliat kesakitan sambil memegangi rusuknya yang retak, ada yang langsung pingsan di tempat, dan tak sedikit yang berupaya merangkak mundur menjauhi zona pertempuran.

Sementara itu di sisi timur lapangan, Jhonson mengamuk tak ubahnya seekor binatang buas yang lepas dari kandangnya.

BRAAAAK!

Satu tendangan keras dari Jhonson menghantam tiga orang sekaligus, membuat tubuh mereka mencelat menghantam rekan-rekan di belakangnya.

"Hahaha! Maju lo semua, Bangsat! Biar gue perlihatkan kayak gimana rasanya neraka dunia!!" raung Jhonson seraya menghajar siapa pun yang nekat mendekatinya.

BUK! DUAK! DUG!

Gaya bertarung Jhonson sangat murni, brutal, dan mengandalkan daya hancur fisik yang masif.

Nggak ada teknik rumit ala Repan, namun kekuatan fisiknya benar-benar destruktif. Beberapa anggota Geng GBA bahkan langsung dibuat tak sadarkan diri hanya lewat satu hantaman tinjunya.

"SERU BANGET INI, ANJING!! KALIAN SEMUA PAS BANGET BUAT JADI SANSAK LATIHAN GUE!!" Jhonson tertawa terbahak-bahak seraya melompat melayangkan tendangan ganda.

BRAAAK!

Di batas luar lapangan, puluhan siswa SMA 09 Cimanggu sudah menyemut berkumpul.

Sebagian berdiri nekat di atas pagar benteng, sebagian lagi memanjat dahan pohon demi bisa menyaksikan adegan itu secara jelas. Layar ponsel mereka sibuk mengabadikan momen tersebut.

"GILA! Repan sama Jhonson melawan 120 orang sekaligus! Ini mah udah bukan bentrokan sekolah biasa, ini persis adegan film aksi!"

"Gue udah terbiasa lihat si Jhonson mengamuk. Tapi si Repan... Dia bener-bener gila! Dulu kan dia kalem banget, kagak pernah nyari masalah, tapi sekarang..."

"Berarti kabar kalau dia yang membantai anak-anak GBA waktu itu beneran nyata dong?! Dia fix bukan murid biasa!"

Seluruh pasang mata terkunci ke tengah pertempuran.

Skala pertempuran kian memanas. Meskipun separuh dari rombongan Geng GBA sudah bertumbangan di atas tanah, sisa barisan musuh masih terus merangsek masuk menggantikan posisi rekan mereka.

Repan tetap mempertahankan fokusnya. Ayunan tangan dan pergerakan kakinya tak pernah mengendur. Setiap ayunan yang dilepaskannya merupakan perpaduan antara kecepatan, akurasi, dan bobot tenaga yang pas.

BUK! DAK! BUAK! BRAAAAK!

Tetesan keringat mulai membasahi pelipisnya, namun pola nafasnya tetap stabil. Di tengah kecamuk pertempuran, pikirannya tetap bekerja secara rasional.

'Jumlah mereka memang masif... Tapi situasinya masih terkontrol penuh. Si Jhonson cukup efektif menyedot perhatian musuh, dan itu memberikan gue ruang gerak yang jauh lebih leluasa.'

Ia meloloskan diri dari tebasan kayu, lalu membalas lewat gelombang pukulan balasan secepat kilat.

BUK! BRAK! BUAK!

Tubuh-tubuh musuh kembali bertumpukan di tanah. Puluhan personel Geng GBA kini sudah terkapar tak berdaya di atas hamparan debu.

Namun sisa komplotan mereka masih terus bergerak maju. Bentrokan ini belum berakhir—dan tak akan usai sebelum salah satu kubu benar-benar dihancurkan secara mutlak.

Menyaksikan para bawahannya bertumbangan satu demi satu, raut wajah Angga mulai mengeras kaku.

"Bajingan! Mereka berdua masih sanggup bertahan padahal sudah dikeroyok lebih dari seratus orang?! Kalau dibiarkan terus, seluruh anak buah gue bisa habis!" gumamnya dengan intonasi murka.

Tanpa perlu menoleh, Angga mengangkat tangannya, memberikan aba-aba dingin pada empat petinggi geng yang berdiri di belakangnya.

"Jono, Kicon, Bastian, Roni. Maju dan habisi mereka berdua sekarang. Gue mau lihat si Repan itu babak belur melintir hari ini," instruksinya tajam.

"Heh, akhirnya giliran kita turun juga," sahut Kicon seraya menyunggingkan senyuman puas, seolah-olah sudah tak sabar menanti momen ini.

"Jangan ada yang ikut campur. Si Repan itu urusan pribadi gue," potong Jono dengan nada arogan seraya mengayunkan kaki paling depan, dadanya dibusungkan penuh percaya diri.

"Hati-hati lo. Dia bukan anak sekolah biasa, Jono. Level kekuatan Repan nggak bisa lo remehkan begitu aja," pukas Roni dengan intonasi serius. Ia sudah merasakan sendiri betapa mengerikannya Repan yang sanggup meratakan belasan personel tanpa tersentuh sedikit pun.

"Gue bakal ambil si berandalan baru itu. Kelihatannya menarik juga," gumam Bastian santai, menatap Jhonson seraya melangkah maju.

Di tengah kecamuk pertempuran yang belum mereda, Repan tetap bergerak dengan ketenangan penuh.

Tubuhnya seolah-olah menari fleksibel di antara kepungan musuh. Belum ada satu pun dari mereka yang sanggup mendaratkan benturan ke seragamnya.

BUK! BUAK! DUAK!

Setiap detik, satu per satu lawan tumbang di tangannya. Pergerakannya cepat, teknik Wing Chun-nya sangat presisi dan efisien.

Namun mendadak, insting bahaya Repan bergetar tajam. Hawa udara di sekelilingnya berubah mendadak.

WUUUSSH!

Seseorang melompat tinggi melintasi barisan musuh, melayangkan tendangan melingkar ke arah Repan dengan kecepatan di atas rata-rata.

Tendangan itu meleset tipis karena Repan dengan refleks memiringkan tubuhnya, membuat ayunan kaki tersebut justru menghantam telak salah satu anggota Geng GBA yang apes.

"Bangsat! Berani-beraninya lo menghindar dari tendangan gue!" bentak Jono dengan wajah memerah menanggung malu. Ia segera memulihkan posisinya dan merangsek maju kembali dengan gempuran yang jauh lebih masif.

WUSH! WUSH! WUSH!

Ayunkan kakinya sangat cepat dan sarat akan bobot tenaga. Setiap kali Repan meloloskan diri, hembusan angin dari tebasan kaki itu terasa menyapu wajahnya.

'Sistem, kalkulasikan tingkat kekuatan orang ini!' perintah Repan di dalam hati.

[Jono - Tingkat Kekuatan: 41]

Seketika, susunan data itu muncul di atas kepala Jono.

'Dia memang jauh lebih kuat ketimbang preman-preman kroco tadi. Tapi level kekuatannya masih belum cukup buat bikin gue cemas,' batin Repan menganalisis dengan tenang.

Namun yang membuatnya ekstra waspada adalah postur fisik Jono. Posturnya tinggi dengan jangkauan serangan yang sangat panjang. Dan dari pola gerakannya...

'Taekwondo. Itu seni bela diri yang dia kuasai,' simpul Repan.

Ia mulai mengukur ulang jarak bertarung, menghindari posisi yang masuk ke dalam jangkauan tebasan kaki panjang milik Jono.

Para personel GBA lainnya perlahan mundur memberikan ruang. Mereka sangat paham, begitu para petinggi geng sudah turun tangan, arena pertempuran bukan lagi tataran kelas mereka.

"Haha! Kenapa lo?! Cuma bisa menghindar doang?! Kalau emang lo jagoan, balik serang gue dong, Pengecut!" teriak Jono seraya tertawa meremehkan.

"Baiklah... kalau itu yang lo inginkan," pukas Repan datar.

WUSH!

Ia melesat cepat ke depan, siap melayangkan serangan balasan pada Jono.

Namun tepat di saat ia hendak melayangkan hantaman, gempuran lain mendadak menyergap dari sudut buta.

"Kena lo, Bangsat!" teriak Kicon, melesat masuk menggunakan kombinasi serangan Kick Boxing yang cepat dan agresif.

WUSH! WUSH! BUAK!

Repan berupaya menghindar, namun serangan Kicon datang terlampau mendadak dari jarak yang sangat rapat. Ia terpaksa pasang badan membendung pukulan itu menggunakan kedua lengannya, membuat posisinya sedikit terdorong ke belakang.

"Cih, merepotkan... Sepertinya gue harus membereskan lo terlebih dahulu," gumam Repan dingin, berniat menumbangkan Kicon lebih dulu.

Namun—

WUUUSSH!!

Satu tendangan kilat susulan kembali menyapu dari arah samping.

Jono, memanfaatkan momen di mana fokus Repan terbagi pada Kicon, kembali melepaskan serangan penuh tenaga.

BUAAAK!

Repan terpaksa membendung tebasan kaki itu dengan kedua lengannya lalu mengambil jarak mundur beberapa langkah. Benturan itu cukup kuat untuk menggetarkan susunan tulang lengannya.

'Merepotkan... Kalau cuma salah satu dari mereka, gue bisa meratakannya dalam hitungan detik. Tapi kombinasi dua orang ini lumayan menyita fokus,' batin Repan. Namun ia tetap mempertahankan ketenangannya, sepasang matanya terus menganalisis celah pertahanan lawan.

"Haha! Gimana rasanya, hah?! Lo sama sekali nggak bisa menyentuh kami berdua, Bangsat!" ejek Jono dengan raut wajah penuh kemenangan dan keangkuhan.

"Bener, gue kira lo berbahaya banget. Ternyata cuma modal omong besar doang!" timpal Kicon seraya tertawa meremehkan.

Mereka berdua terus melontarkan provokasi, menyunggingkan seringai penuh rasa percaya diri. Namun Repan sama sekali tak terpancing emosi.

'Tenang... gue cuma perlu mencari satu celah yang pas. Level kekuatan mereka berdua masih jauh di bawah gue. Gue cuma butuh momentum yang tepat buat membantai mereka berdua sekaligus,' batin Repan dengan tatapan mata yang kian menajam.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!