Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Depan Saksi Sah
Suasana di ambang pintu ruko konveksi milik Kirana mendadak berubah menjadi tempat pertempuran ego yang luar biasa pekat. Kalimat Kirana yang meminta dr. Adrian menjadi saksi bagaikan petir di siang bolong yang menghantam telinga Dimas hingga berdengung hebat. Harapan Dimas untuk bisa merayu, memohon, atau menyentuh sisi emosional Kirana dalam ruang privasi hancur lebur tak bersisa di detik itu juga.
Dimas menatap wajah Kirana dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap dr. Adrian yang berdiri kokoh seperti benteng pertahanan yang tak terrobohkan. Ada rasa terhina yang begitu besar di dalam dada Dimas sebagai seorang pria; harus membongkar aib domestik rumah tangganya di hadapan orang asing yang berwajah rupawan dan tampak jauh lebih terhormat darinya.
"Kirana... kamu benar-benar keterlaluan," bisik Dimas dengan suara yang bergetar hebat, napasnya memburu menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya. "Dia ini orang asing! Kenapa kamu tega melibatkan orang lain dalam urusan masa lalu kita? Aku datang ke sini dengan niat baik, Kirana!"
"Niat baik tidak pernah diawali dengan tarikan kasar pada tangan seorang wanita yang bukan pasangan sahmu, Tuan," sela dr. Adrian dengan nada suara yang teratur, tenang, namun memiliki tekanan intimidasi yang sangat nyata. Sang dokter muda sama sekali tidak menggeser posisinya satu senti pun, matanya menatap Dimas dengan tatapan menilai yang membuat Dimas merasa kerdil.
Dimas mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jari tangannya memutih. "Saya tidak bicara dengan Anda! Minggir!"
"Katakan sekarang, Mas Dimas, atau silakan angkat kaki dari ruko ini untuk selamanya!" Kirana tidak memberi celah sedikit pun. Suaranya yang jernih bergaung tegas di dalam ruko, memotong kesombongan Dimas dengan sempurna. "Waktuku luar biasa berharga untuk melayani pelanggan, bukan untuk meladeni drama pria yang tidak bisa mendidik istrinya!"
Melihat ketegasan Kirana yang dingin bagaikan es, nyali Dimas mendadak ciut. Rasa cemas bahwa Kirana akan menutup pintu ruko dan mengusirnya secara brutal membuat ego Dimas runtuh. Dengan membuang seluruh harga dirinya di depan dr. Adrian, Dimas akhirnya mulai meracau pasrah, menumpahkan segala sesak yang membakar dadanya sejak menginjakkan kaki di ruko itu.
"Oke! Oke, aku akan bicara di sini!" seru Dimas dengan keputusasaan yang begitu kentara. Air mukanya berubah drastis menjadi layu dan memelas. "Kirana... aku minta maaf. Demi Tuhan, aku tidak tahu kalau Ratna punya pikiran sepicik itu sampai nekat mengadu ke Ayah Wijaya. Aku benar-benar baru tahu setelah dia mengirim pesan singkat beberapa menit yang lalu!"
Dimas melangkah maju satu tapak, mencoba menggapai pandangan mata Kirana yang sengaja dilemparkan ke arah lain.
"Aku mengkhawatirkan kamu, Kirana! Begitu tahu Mas Pramudya juga ikut mendatangi rukomu ini, jantungku rasanya mau copot! Aku takut mereka berbuat kasar atau merusak ruko tempat usahamu ini," lanjut Dimas dengan suara parau yang terdengar menyedihkan. "Aku mengutuk kebodohan keluargaku yang terus-menerus mengusik ketenangan hidup kamu. Tolong maafkan aku, Kirana... Tolong jangan membenciku karena kelakuan mereka..."
Kirana mendengarkan racauan pasrah itu dengan senyuman sinis yang sangat tipis menghias bibirnya. Di dalam benak Kirana, permohonan maaf Dimas sudah tidak memiliki nilai sepeser pun. Itu hanyalah pemadam kebakaran yang terlambat di saat seluruh bangunan masa lalu mereka sudah lama hangus menjadi abu.
Sementara itu, dr. Adrian yang berdiri sebagai tameng, menyimak setiap kata yang meluncur dari mulut Dimas dengan analisis seorang akademisi. Otak cerdas sang dokter langsung merangkai benang merah informasi: pria di hadapannya ini adalah mantan kekasih yang lemah, tidak mampu melindungi wanita ini dari kebiadaban keluarganya sendiri. Ada rasa simpati sekaligus kekaguman yang kian menebal di dalam dada dr. Adrian melihat bagaimana Kirana, seorang wanita yang memeluk keyakinan baru yang berjuang sendirian membangun usaha konveksi, tetap teguh menjaga kehormatannya tanpa riak air mata kemanjaan.
“Sungguh luar biasa... wanita ini memiliki keteguhan prinsip yang luar biasa,” batin dr. Adrian, matanya sempat melirik sekilas ke arah profil samping wajah Kirana yang tampak tenang layaknya telaga di sepertiga malam.
“Dia dizalimi oleh sekelompok orang yang tidak punya hati, namun dia memilih menjadikan saya saksi agar tidak timbul fitnah. Cerdas, sangat cerdas dalam menjaga diri dan kehormatannya.”
Dimas yang melihat dr. Adrian tidak bergeming, semakin kehilangan kendali atas emosinya. Penyesalan yang dipendamnya selama berbulan-bulan tumpah ruah begitu saja, tak memedulikan lagi kehadiran sang dokter tampan di antara mereka.
"Kirana... andai waktu bisa diputar kembali," ratap Dimas, matanya mulai berkaca-kaca menatap kerudung abu-abu yang membungkus tubuh Kirana dengan begitu anggun. "Aku menyesal, Kirana! Aku bodoh karena dulu tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkanmu di hadapan Ibu dan Ayah! Aku menyesal karena membiarkan diriku terjebak dalam pernikahan neraka bersama Ratna yang tabiatnya seperti iblis!"
Dimas meremas dadanya sendiri yang terasa begitu nyeri. "Setiap hari aku tersiksa, Kirana! Melihatmu yang sekarang... semakin anggun, semakin cantik dengan kerudung ini, hatiku rasanya seperti diiris sembilu. Harusnya aku saat ini ada di sampingmu sekarang! Harusnya aku yang membimbingmu mengenal jalan keyakinan ini, bukan malah membiarkanmu berjuang sendirian di tempat terpencil seperti ini! Kirana, tolong beri aku satu saja kesempatan..."
"Cukup, Mas Dimas!" potong Kirana dengan volume suara yang menekan, menghentikan racauan menjijikkan dari mulut suami orang itu. Kirana melangkah maju meraih posisi berdiri tepat di samping lengan dr. Adrian, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Dimas yang dipenuhi air mata. "Kamu bilang menyesal? Penyesalanmu itu tidak ada gunanya, Mas. Kamu bukan menyesal karena kehilanganku, tapi kamu sedang merutuki nasib burukmu sendiri yang mendapatkan istri berwatak kasar seperti Ratna!"
Kirana menarik napas panjang, membiarkan pasokan udara segar memenuhi dadanya yang lapang.
"Dengar baik-baik, Mas Dimas. Dan tolong dengarkan juga oleh Dokter Adrian yang ada di sini sebagai saksi sah saya," ucap Kirana dengan sengaja menyebut gelar pelanggannya tersebut untuk menegaskan status sosial pria pelindungnya itu. "Sejak aku melangkah memulai lembaran keyakinan baru, masa laluku bersama kamu sudah terkubur di dasar bumi yang paling dalam. Aku tidak butuh maafmu, dan aku tidak butuh perlindunganmu. Yang aku butuhkan adalah kamu dan seluruh keluargamu enyah dari kehidupanku!"
Dimas laksana dihantam godam besar mendengar penegasan Kirana. Kepalanya menggeleng pasrah. "Kirana... tapi aku mencintaimu..."
"Cinta Tuan sudah kedaluwarsa dan salah alamat," dr. Adrian akhirnya angkat bicara, memotong kalimat sentimentil Dimas dengan ketegasan seorang pria sejati. "Pihak wanita sudah menyatakan penolakan yang sangat jelas. Sebagai pria yang memiliki kehormatan, Tuan segeralah keluar dari ruko ini sebelum saya menggunakan otoritas saya untuk memanggil keamanan lingkungan."
Mendengar kata 'keamanan lingkungan' dan melihat sorot mata dr. Adrian yang tidak main-main, Dimas tahu bahwa dirinya telah kalah telak di semua lini. Dia telah dipermalukan, ditolak dengan sadis, dan digantikan posisinya secara visual oleh seorang pria yang jauh lebih matang, taat spiritual, dan berwibawa di depan mata Kirana.
Dengan langkah kaki yang lunglai, Dimas menyeret sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur menjadi debu. Dimas berbalik arah. Dia melangkah keluar dari ruko Kirana dengan pundak yang merosot jatuh, meratapi nasibnya yang malang. Mobil sedannya melesat pergi meninggalkan kepulan debu di halaman ruko.
Suasana ruko konveksi mendadak kembali hening, menyisakan deru napas Kirana yang mencoba menstabilkan emosinya pasca konfrontasi dramatis tersebut. Di momen keheningan itulah, dr. Adrian berbalik badan, menatap Kirana dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa takjub dan hormat yang begitu mendalam. Benih-benih kekaguman telah tertanam sempurna di dalam sanubari sang dokter muda atas keteguhan jiwa yang murni!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia