PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Kembali Mengusik
Setelah kejadian Kenan bersama Tissa, aku mulai berusaha untuk tidak terlalu sering memikirkan Kenan. Aku kembali menjalani hari-hariku seperti biasa dan mencoba menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang tidak perlu terlalu kupikirkan, meskipun sesekali bayangan Kenan bersama perempuan itu masih muncul begitu saja di dalam pikiranku. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, sehingga aku memilih untuk diam dan tidak mencari tahu lebih jauh. Bagaimanapun juga, aku tidak pernah memberikan jawaban atas cinta Kenan, jadi rasanya aku tidak mempunyai alasan untuk mempertanyakan kedekatannya dengan perempuan lain.
Saat jam istirahat tiba, aku memilih duduk di bawah pohon rindang yang berada di halaman sekolah. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat teman-teman yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang berjalan menuju kantin, ada yang duduk bersama teman-temannya sambil bercanda, dan ada pula yang hanya berkeliling di sekitar halaman sekolah. Aku hanya memperhatikan keadaan di sekeliling sambil menikmati angin yang sesekali berembus melewati wajahku, sampai beberapa menit kemudian terdengar suara ribut dari arah yang tidak jauh dari tempatku duduk.
Hah, mengganggu saja, batinku sambil sedikit mengernyit.
Aku belum sempat melihat siapa yang membuat keributan itu ketika tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan mengejutkanku dengan suara yang sangat kukenal.
"Heii, Hitas!"
Aku langsung mengetahui siapa yang menyapaku. Kenan.
Aku menoleh ke arahnya, tetapi entah mengapa kali ini aku tidak merasa seantusias biasanya. Setelah kejadian bersama Tissa, ada sesuatu yang terasa berbeda dalam diriku. Aku masih mengenal Kenan sebagai laki-laki yang selama ini selalu berada di dekatku dan tidak pernah bosan menggangguku, tetapi kali ini kehadirannya justru membuat pikiranku kembali kepada kejadian yang sedang berusaha kulupakan.
"Iya, ada apa lagi, Kenan?" jawabku dengan suara yang tidak seceria biasanya.
Kenan kembali menggangguku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ia bercanda dan melontarkan lelucon seperti biasanya, seakan-akan tidak pernah ada kejadian yang membuatku bertanya-tanya tentang dirinya dan Tissa. Aku hanya diam memperhatikannya tanpa benar-benar menikmati lelucon yang dibuatnya, sementara di dalam hati aku justru bertanya-tanya mengapa dia masih melakukan semua itu kepadaku.
Dia sebenarnya mau apa lagi? Bukankah dia sudah ada Tissa? Kenapa masih menggangguku seperti ini?
Aku tidak tahu harus menganggap sikap Kenan
sebagai apa. Di satu sisi, sebenarnya aku masih ingin bersama dengannya seperti sebelumnya karena keberadaannya sudah begitu terbiasa dalam keseharianku, tetapi di sisi lain aku mulai merasa bahwa mungkin Kenan hanya mempermainkanku, begitu pula dengan perempuan-perempuan lain yang selama ini menyukainya. Pikiran itu membuatku semakin tidak nyaman, sehingga aku memilih mencari alasan agar bisa segera pergi dari sampingnya.
Kebetulan saat itu aku melihat Vita sedang berada di dekat pintu kelas. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangkat tangan ke arahnya seolah-olah sedang dipanggil.
"Maaf, ya, Kenan. Vita memanggilku."
Aku kemudian berkata dengan suara sedikit lebih keras, "Oh, Vita! Aku akan segera ke situ!"
Padahal sebenarnya Vita sama sekali tidak memanggilku. Aku hanya menggunakan keberadaannya sebagai alasan agar bisa menghindari Kenan. Aku segera beranjak dari tempatku dan berjalan meninggalkan Kenan, tetapi baru beberapa langkah, tanganku tiba-tiba ditarik olehnya.
"Kamu kenapa, Hitas?"
Aku langsung melepaskan tanganku dari genggamannya dan menoleh kepadanya dengan sedikit kesal.
"Perasaanku, aku tidak mendengar Vita memanggilmu."
Ternyata dia sadar juga bahwa aku hanya mencari alasan untuk pergi.
"Telingamu saja yang gangguan, dasar Kenan!" jawabku sambil kembali menjauh darinya.
Aku terus berjalan, meskipun sebenarnya ada bagian dalam diriku yang masih ingin tetap bersama Kenan seperti dulu. Namun, setelah melihatnya bersama Tissa, perasaanku menjadi tidak menentu. Aku takut Kenan hanya mempermainkanku dan mungkin saja apa yang selama ini kulihat sebagai kedekatan ternyata tidak memiliki arti yang sama baginya.
Untung saja aku tidak pernah menjawab cinta Kenan.
Pikiran itu terus terlintas di kepalaku. Kalau aku sudah menjawab cintanya dan kemudian melihatnya bersama perempuan lain, mungkin rasa sakit yang kurasakan akan jauh lebih besar daripada sekarang. Setidaknya, aku masih bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah miliknya, meskipun jauh di dalam hati aku tahu bahwa kehadiran Kenan sudah menjadi sesuatu yang sulit untuk kuabaikan.
...***...
Jauh setelah itu, sepulang sekolah, aku tiba di rumah dan melihat Mama sedang berada di dapur mempersiapkan makanan. Aku hendak menghampirinya seperti biasa, tetapi langkahku terhenti ketika terdengar suara batuk dari arah dapur.
"Uhuk... uhuk..."
Suara batuk itu terdengar berulang kali dan entah mengapa langsung membuat perhatianku tertuju kepada Mama. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampirinya dan melihat wajah Mama yang tampak berbeda dari biasanya.
"Mama kenapa? Mama sakit?"
Mama menoleh kepadaku dan berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mama cuma batuk sedikit."
Aku tetap memperhatikannya. Walaupun Mama mengatakan bahwa dirinya hanya batuk sedikit, aku bisa melihat tubuhnya tampak lemas dan wajahnya tidak seceria biasanya. Aku merasa tidak tega melihatnya masih sibuk mengerjakan pekerjaan di dapur dalam keadaan seperti itu.
"Mama istirahat saja, nanti saya yang lanjutkan. Mama istirahat saja," kataku sambil mencoba membujuknya.
Namun, Mama tetap melakukan pekerjaannya dan tidak terlalu menghiraukan perkataanku. Mungkin ia tidak ingin membuat kami khawatir atau memang merasa bahwa dirinya masih sanggup mengerjakan semuanya seperti biasa.
Tidak lama kemudian terdengar suara Ucaluna dari dalam rumah.
"Ayo, ayo makan!"
"Iya, Mama," jawab Ucaluna.
Aku pun bersiap untuk makan, tetapi beberapa kali aku masih menoleh ke belakang untuk melihat Mama yang tetap sibuk di dapur. Ada sesuatu yang membuat hatiku tidak tenang. Wajah Mama terlihat lemas, sementara suara batuknya terus terngiang di telingaku dan perlahan membawa ingatanku kembali kepada masa lalu yang sebenarnya tidak ingin kuingat lagi.
Papa dulu juga sering batuk seperti itu.
Tiba-tiba saja bayangan Papa kembali memenuhi pikiranku. Aku teringat bagaimana dahulu tubuh Papa sering terlihat lemah, bagaimana wajahnya pucat ketika sedang sakit, dan bagaimana aku sebagai seorang anak kecil hanya mampu berada di dekatnya tanpa benar-benar memahami apa yang sedang dialaminya. Ingatan itu terasa begitu nyata hingga membuatku takut membayangkan hal yang sama terjadi kepada Mama.
Ya ampun, Hitas, tidak boleh berpikir seperti itu.
Aku segera mencoba mengusir pikiran tersebut dan kembali melihat Mama dari kejauhan. Aku tidak ingin membayangkan sesuatu yang buruk, apalagi setelah apa yang pernah terjadi kepada Papa.
Dalam hati aku hanya bisa berharap agar Mama benar-benar hanya mengalami sakit biasa.
Semoga Mama tetap sehat. Semoga Mama tidak apa-apa.
Aku terus memandanginya beberapa saat sebelum akhirnya berusaha mengalihkan perhatian. Namun, rasa takut itu sudah terlanjur muncul di dalam hati, dan aku tidak tahu mengapa suara batuk Mama sore itu terasa begitu berbeda bagiku.Seolah-olah tanpa kusadari, masa lalu sedang mengetuk kembali pintu ingatanku.
...***...