"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Bangun
Kertas berstempel notaris itu menghantam pipi Nadhira tepat saat ia membuka mata.
Sisi kiri wajahnya sudah lebam. Sentuhan ringan kertas tebal itu tetap membuat kulitnya berdenyut sampai ke pelipis. Bau minyak kayu putih bercampur amis darah kering memenuhi kamar sempit. Di pergelangan tangannya masih menempel bekas plester infus dari IGD, sementara daster lusuh yang ia kenakan robek di bagian bahu.
"Tanda tangan sekarang!"
Suara Bu Sumini terasa seperti paku yang dipukul ke dalam kepalanya.
Nadhira mencoba bangun. Kasur tipis di bawah punggungnya berderit. Pandangannya berputar sesaat, memperlihatkan dinding lembap, lemari plastik yang pintunya tak bisa menutup, dan seorang bocah kecil yang meringkuk di sudut dekat kipas angin mati.
Alif.
Anak itu memeluk mobil-mobilan merah yang salah satu rodanya sudah hilang. Pipi bulatnya basah. Bahunya naik turun menahan tangis, tetapi suara isaknya tetap lolos.
"Mama..."
Satu kata itu membelah kabut di kepala Nadhira.
Ingatan datang tanpa permisi. Sebagian terasa dekat seperti luka di tubuhnya sendiri. Sebagian lagi terasa asing, seolah kehidupan seorang perempuan lain dituangkan paksa ke dalam pikirannya.
Hendra Wijaya, suaminya, meninggal tiga bulan lalu. Sejak itu, rumah keluarga Wijaya berubah menjadi kandang sempit bagi Nadhira dan putranya. Uang santunan diambil Bu Sumini. Kartu ATM disimpan Agus. Bahkan bantuan belanja untuk Alif harus diminta dengan kepala tertunduk.
Kemarin sore, Nadhira menolak menyerahkan salinan akta kepemilikan saham milik Hendra. Agus mencengkeram lengannya. Bu Sumini mendorongnya sampai pelipisnya membentur sudut meja. Setelah itu hanya ada kilatan putih, suara Alif menjerit, lalu gelap.
Namun, ada hal-hal yang tidak cocok dengan kehidupan itu.
Ia tahu cara membaca susunan saham dalam perseroan. Ia memahami perbedaan harta bersama dan harta warisan. Ia bahkan tahu bahwa tanda tangan pada surat di pangkuannya akan memindahkan hak yang seharusnya juga melindungi masa depan Alif.
Pengetahuan itu bukan milik Nadhira yang kemarin.
"Jangan melongo!" Bu Sumini membentak. "Kami membawa kamu ke IGD, bayar obat, bawa kamu pulang. Bukannya berterima kasih, kamu malah bikin kami menunggu sejak pagi."
Di sisi ranjang, Agus berdiri dengan kaus hitam dan tangan terlipat di dada. Tubuhnya menutupi cahaya dari jendela. Di atas meja kecil terdapat setumpuk dokumen rapi di dalam map kulit berwarna cokelat, jauh lebih mahal daripada seluruh pakaian Nadhira yang tergantung di belakang pintu.
Nadhira menatap lembar pertama.
Surat kuasa pengalihan saham.
Nama Agus Wijaya tercetak sebagai penerima kuasa.
"Pulpen," ujar Agus.
Ia melempar sebuah pulpen ke kasur. Benda itu menggelinding dan berhenti di dekat lutut Nadhira.
"Mas Hendra baru meninggal," kata Nadhira. Suaranya serak, namun tidak lagi bergetar. "Kenapa sahamnya harus segera dialihkan kepadamu?"
Agus mengerutkan dahi. Seolah tak menyangka perempuan yang biasanya menunduk itu mampu mengajukan pertanyaan.
"Karena itu usaha keluarga kami. Hendra cuma menjalankannya sementara."
"Kalau begitu, tunjukkan akta yang menyatakan saham itu milik keluarga, bukan milik Mas Hendra."
Ruangan mendadak sunyi.
Tangis Alif pun mengecil. Bocah itu mengintip dari balik lengannya, memandang ibunya dengan mata merah.
Bu Sumini yang pertama kali bereaksi. "Sejak kapan kamu berani menginterogasi kami? Kamu itu cuma menantu. Hendra sudah tidak ada. Kamu tidak punya urusan lagi dengan milik keluarga Wijaya."
Nadhira menurunkan kaki dari kasur. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin. Lututnya hampir lemas, tetapi ia menahan tepi ranjang sampai pandangannya kembali jernih.
"Saya janda sah Mas Hendra. Alif anak kandungnya." Ia menoleh kepada bocah di sudut. "Apa pun bagian waris kami, tidak akan saya serahkan tanpa pemeriksaan notaris dan penasihat hukum."
Bu Sumini tertawa pendek. "Penasihat hukum? Makan saja masih menumpang di rumahku. Uang dari mana kamu membayar pengacara?"
"Itu urusan saya."
"Urusanmu?"
Perempuan tua itu maju, lalu menyambar dagu Nadhira. Kukunya menekan kulit yang lebam.
"Dengar baik-baik. Selama menikah, kamu tidak menghasilkan apa-apa. Hanya melahirkan anak yang terus menangis dan menghabiskan uang. Sekarang kamu mau mengambil perusahaan anakku juga? Tidak tahu malu!"
Nadhira mencium aroma kopi pahit dari napasnya. Tubuh lama ini mengenali ancaman tersebut. Bahunya refleks menguncup, napasnya tertahan, dan jemarinya menjadi dingin.
Di dalam ingatannya, perempuan yang dulu selalu meminta maaf sudah bersiap menangis.
Nadhira yang sekarang mengangkat tangan dan melepaskan cengkeraman itu satu jari demi satu jari.
"Jangan sentuh saya."
Bu Sumini tersentak mundur. "Apa?"
"Kemarin Bu Sumini mendorong saya sampai pingsan. Alif melihat semuanya." Nadhira menyentuh bekas plester infus di tangannya. "Kalau hari ini ada kekerasan lagi, saya akan minta visum dan melapor."
Wajah Agus berubah. Ia melangkah maju begitu cepat hingga ranjang kembali berderit saat Nadhira mundur setengah langkah.
"Kamu mengancam Ibu?"
"Saya menyebut konsekuensi."
"Sok pintar!"
Tangannya terangkat, tetapi Alif tiba-tiba berlari dari sudut kamar. Bocah itu memeluk betis Nadhira sambil mengacungkan mobil-mobilan rusaknya kepada Agus.
"Jangan Mama!"
Suara kecil itu pecah di akhir. Seluruh tubuhnya gemetar.
Nadhira segera membungkuk, mengabaikan nyeri yang menyambar rusuknya. Ia merangkul kepala Alif dan menutupi bocah itu dengan tubuhnya.
"Mama di sini, Nak."
"Takut..."
"Lihat Mama." Nadhira mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari. "Tarik napas. Pelan-pelan."
Alif berusaha mengikuti, tetapi bibirnya masih bergetar. Kedua tangannya mencengkeram daster Nadhira, seolah ibunya bisa direnggut kapan saja.
Rasa panas menjalar di dada Nadhira. Bukan hanya marah. Ada sesuatu yang lebih tajam, naluri untuk berdiri di depan anak ini meski kedua kakinya sendiri belum kuat.
Ia mengangkat wajah kepada Agus.
"Keluar dari kamar."
Agus sempat terdiam, lalu tertawa tak percaya. "Ini rumah keluarga Wijaya. Kamu yang seharusnya keluar."
"Baik." Nadhira meraih map cokelat dan menutupnya. "Saya dan Alif akan pergi setelah kondisi saya memungkinkan. Dokumen ini tetap di sini, tanpa tanda tangan saya."
Bu Sumini merebut map itu dari tangannya. "Kamu pikir bisa membawa cucuku pergi?"
"Alif anak saya."
"Dia darah Hendra!"
"Dan saya ibunya."
Setiap jawaban Nadhira membuat suara Bu Sumini semakin tinggi. Dari ruang depan terdengar langkah sandal berhenti di dekat jendela. Mungkin tetangga mulai mendengarkan. Bu Sumini melirik ke arah pintu, lalu mendadak menepuk dadanya sendiri.
"Ya Allah, menantu macam apa ini?" ratapnya dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Anakku baru meninggal, sekarang jandanya mau mencuri harta dan membawa lari cucuku!"
Agus membuka pintu kamar lebar-lebar. Dua bayangan bergerak di balik tirai ruang tengah. Penonton telah tersedia, persis seperti yang diinginkan Bu Sumini.
Nadhira berdiri sambil tetap menggendong Alif. Tubuh bocah itu ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Tulang punggung kecilnya terasa jelas di bawah kaus tipis.
"Kalau Bu Sumini yakin saya mencuri, kita selesaikan di depan notaris atau pengadilan," kata Nadhira. "Bukan dengan memaksa perempuan yang baru pulang dari IGD menandatangani surat."
Ratapan Bu Sumini berhenti seketika.
Agus mengambil pulpen dari kasur dan mendorong ujungnya ke dada Nadhira. "Tanda tangan, atau kamu dan anakmu tidak dapat satu rupiah pun dari rumah ini."
Alif merengek, "Mama, pergi..."
Nadhira mengecup rambutnya. "Kita akan pergi, Sayang."
Lalu ia menatap Agus tanpa menghindar.
"Saya tidak akan menandatanganinya."
Otot di rahang Agus bergerak. Ia meraih pergelangan tangan Nadhira, mencoba menariknya menuju meja. Nadhira memutar tubuh agar Alif tidak terjepit. Nyeri tajam meledak dari bahu sampai siku.
"Lepaskan!"
"Tanda tangan dulu!"
Bu Sumini menyambar dokumen, membukanya pada halaman terakhir, dan menaruhnya di meja. "Pegang tangannya, Gus. Kalau perlu pakai cap jempol. Dia sudah tidak waras sejak Hendra meninggal."
Nadhira menendang kaki meja. Gelas air jatuh dan pecah. Suaranya membuat orang-orang di ruang depan tersentak.
Agus melepaskan tangannya sesaat. Nadhira mundur sambil memeluk Alif erat. Napasnya terengah, rambut menempel pada pelipis yang berkeringat, tetapi matanya tetap mengunci dua orang di hadapannya.
"Sentuh kami lagi," katanya, "dan semua tetangga akan menjadi saksi."
Bu Sumini menoleh ke pintu terbuka. Wajahnya memerah karena tipuannya justru berbalik menjadi ancaman. Ia melangkah cepat, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke arah pipi Nadhira yang sudah lebam.
"Cukup."