Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBICARAAN DUA SAHABAT
Entah mengapa, akhir-akhir ini Naya merasakan ada yang disembunyikan oleh Kimi, sahabatnya. Setiap kali ia mengajak pulang bersama ketika orangtuanya atau kakaknya tidak datang menjemput, selalu saja memberikan alasan. Seringnya, karena sibuk mengikuti latihan di klub basket putri. Meskipun ia dan Nara telah secara publikasi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih bukan berarti ia bisa seenaknya pulang bersama Nara. Ia masih mematuhi peraturan dan batasan yang diberikan oleh orang tuanya.
“Kenapa ya akhir-akhir ini Kimi susah sekali diajak pulang bersama?” Keluh Naya suatu ketika sedang berjalan menuju parkiran mobil bersama Nara. Tak terasa tiga minggu telah berlalu. Hari-hari dirinya jadi pesakitan karena harus diantar-jemput oleh sopirnya akhirnya berakhir. Hari ini akhirnya Nara sendiri dapat mengantarkan pulang Naya sambil menyetir mobilnya sendiri. Tentunya setelah mendapatkan izin yang didapat secara nekad langsung berkenalan dengan orang tua Naya secara resmi ketika meminta izin mengajaknya kencan ke café sepupunya di suatu akhir pekan lalu meskipun dengan kondisi menggunakan satu tongkat dan lagi-lagi ia seperti anak raja yang diantar jemput kemana saja dan mendapatkan ledekan dari Reksa.
Dan agenda hari ini pun telah meminta izin kepada mereka untuk mengantarkan gadisnya itu pulang ke rumah. Ia pun sudah mengundurkan diri dari keanggotaannya di klub basket sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan dengan Naya di perpustakaan untuk belajar setelah jam pelajaran berakhir atau menunggu di tribun kolam renang untuk menonton Naya berenang. Rasanya baru kali ini ia merasa lebih ringan dalam menjalani hidup. Seolah perlahan nyawa dan energinya yang dulu terlalu diumbar ke banyak orang ditarik kembali ke dalam dirinya.
“Mungkin karena kamu sudah sah jadian sama aku kali.” Ucap Nara seenaknya. “Dia jadi segan dan tak enak mengganggu kita.”
“Oh ayolah Kak, walaupun ia mengagumi kakak sebagai senior basket, dia tak segitunya sampai harus menghindar.” Naya protes sambil berkacak pinggang kearah Nara tidak suka dengan asumsinya. “Aku kenal Kimi nggak satu dua tahun lho, kami kenal sejak SD.”
“Setiap orang pasti berubah Nay. Kamu tidak harus melihat seorang Kimi seperti yang dikenal selama ini. Kita semua memiliki perjalanannya masing-masing.” Nara menyentuh kedua pipi lembut Naya dan mengarahkannya kepada sepasang insan yang sedang bergandengan tangan menuju TA-Mart. “Atau dia sekarang sudah punya…pacar.”
“Kimi dan…Kak Ekky?!” Ucap Naya tanpa sadar setengah teriak sehingga membuat sang empunya nama menoleh kearah suara Naya.
“Naya?!”
“Yah, ketahuan juga deh.” Ekky menghela napas cuek menatap Nara dan Naya. Nara dengan gesture angkat tangannya dan Naya dengan ekspresi terkejutnya. “Seharusnya dari awal kita jujur saja pada Naya, Kim. Kalau dilihat dari ekspresi Naya sepertinya kamu siap-siap diprotes sama dia.”
“Gimana mau ngomong, Naya saja sibuk dengan sahabat Kakak…”
***
Dan disinilah mereka berempat berada. Duduk di bangku dan meja panjang yang disediakan minimarket TA-Mart untuk para pelanggannya yang ingin makan ditempat setelah membeli beberapa cemilan pengganjal perut untuk mereka di sore itu. Posisi duduk mereka menghadap kearah parkiran mobil sekolah. Dan sepertinya mereka cukup boros untuk pembelian cemilan rasa makan sore mengingat betapa banyaknya makanan di hadapan mereka saat ini.
“Coba katakan padaku Kim, sejak kapan?” Tanya Naya sambil melipat kedua tangannya dan ditempelkan ke dada serta mencondongkan tubuhnya kearah Kimi yang santai dengan mie instan ukuran cup rasa pedasnya.
“Sejak kapan ya?” Kimi menghentikan garpu plastiknya dan meletakkannya di pinggir cup sambil menoleh kearah Ekky. Ia harus memastikan perutnya sedikit terisi karena tenaganya telah terkuras di klub basket tadi.
“Jawab saja sejujurnya, toh juga sebenarnya Nara sudah tahu hubungan kita sebelum Naya menyadarinya.” Ucap Ekky santai sambil menopangkan dagunya di meja sambil menatap Kimi makan mie instan cup-nya
“Kak Nara, benarkah itu?!” Naya mendelik kesal kearah Nara merasa dirinya adalah orang terakhir yang mengetahui hubungan sahabatnya itu.
“Ya gimana, aku nggak punya hak menceritakan hal tersebut selain sahabatmu sendiri yang bercerita ke kamu Nay.” Ujar Nara membela diri. “Aku kan juga begitu pada saat pendekatan diam-diam kepadamu dulu hingga akhirnya heboh satu sekolahan. Padahal ya sebenarnya Ekky sudah mencium segala rencana modus pendekatanku padamu.”
“Berarti kita impas kan Nay.” Lanjut Kimi sambil meledek Naya dan melanjutkan makanan instannya.
Naya ingin marah tapi tak bisa karena telah mendapatkan skak mat dari sahabatnya itu. Nara benar, setiap orang punya perjalanan hidupnya masing-masing.
“Sudahlah Nay, kamu jangan terlalu keras pada Kimi.” Nara menarik tangan kiri Naya dan mengusap-usap dengan lembut untuk memberikan ketenangan dan meredakan amarah yang tertahan dari Naya. “Aku saja tidak protes Ekky berpacaran dengan Kimi.”
“Hah…, baiklah.” Naya menghela napas panjang namun masih terselip nada sedikit berbau pengancaman. “Asal tidak ada hal lain lagi yang disembunyikan ya Kim. Kamu kan tahu aku paling nggak suka tahu dari orang lain dibandingkan dari kamu sendiri. Aku pasti akan mengalami trust issue parah hanya karena hal seperti itu.
Nara mendadak terdiam. Mendengar kata-kata ‘Trust Issue’ dirinya teringat sesuatu yang selama dua minggu ini disembunyikannya dari Naya dan masih maju-mundur dalam pengambilan keputusannya. Di masa lalu, ia pernah membuat Naya menjauh darinya karena kearogannya sibuk membuktikan kepada banyak orang bahwa ia sangat berprestasi di sisi akademis dan non akademis sehingga menghancurkan ekspektasi Naya tentang dirinya yang notabennya adalah dirinya yang asli.
***