NovelToon NovelToon
Balas Dendam Anak Terbuang

Balas Dendam Anak Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.

Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.

Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai sutra berwarna champagne yang menutupi jendela kamar tidur utama yang sangat luas di mansion keluarga Raymond. Udara pagi terasa sejuk, berpadu dengan aroma kayu cendana samar yang menguar di dalam ruangan berdesain interior klasik modern tersebut.

​Kyra perlahan mengerjapkan kelopak matanya. Untuk beberapa detik, ia merasa bingung dan asing dengan langit-langit kamar yang tinggi berhias lampu kristal gantung mewah.

Namun, ingatan tentang pernikahan kilatnya dan status barunya sebagai istri Brian Sebastian Raymond, kembali menghantam kesadarannya bagai hantaman ombak.

​Kyra menolehkan kepalanya perlahan ke sebelah kanan, ​Brian masih tertidur pulas di sampingnya. Pria itu berbaring telentang dengan selimut tebal menutupi sebagian pinggangnya, sementara dada bidangnya yang terekspos karena kemeja tidur yang sedikit terbuka tampak naik turun teratur mengikuti irama napasnya.

Tanpa raut dingin dan seringai sinis yang biasa ia pasang, wajah tidur Brian terlihat jauh lebih tenang, tegas dan sangat mempesona, garis rahangnya yang kokoh berhias bayangan tipis brewok pagi hari, menambah kesan maskulin yang berbahaya.

​Kyra menahan napasnya, ia bergerak sangat pelan dan berusaha menarik tubuhnya menjauh tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan suaminya. Malam tadi benar-benar menguras habis mentalnya, ia tidak siap jika harus menghadapi interogasi atau sikap intimidatif Brian pagi ini.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar, Kyra menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Ia merenggut jubah tidur sutra tipis yang sudah disiapkan di sisi tempat tidur, mengenakannya dengan cepat untuk menutupi gaun tidurnya, lalu melangkah pelan dengan jinjit keluar dari ranjang besar berukuran king size itu.

​Langkahnya yang tanpa suara membawanya menuju kamar mandi pribadi yang luasnya bahkan melebihi ukuran kamar tidurnya di rumah keluarga Andreas. Setelah mencuci muka dan merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan menjadi ikatan ekor kuda yang rapi, Kyra menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak.

​"Ini beneran, aku sekarang adalah Nyonya Raymond," gumam Kyra pelan pada bayangannya sendiri.

​Ada rasa buncah yang aneh di dalam dadanya. Di satu sisi, ia merasa seperti tikus yang masuk ke dalam kandang singa. Di sisi lain, ia sadar bahwa benteng pertahanan terkuat untuk menghancurkan keluarga Andreas kini telah berada di dalam genggamannya.

​Kyra keluar dari kamar mandi dan berniat melangkah keluar kamar untuk mencari udara segar atau pelayan rumah tangga yang bisa menunjukkan arah dapur. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh gagang pintu kamar tidur utama, sebuah suara bariton yang serak khas bangun tidur mendadak menggelegar memecah keheningan kamar.

​"Mau pergi ke mana, Nyonya Raymond?"

​Kyra terkesiap hebat, tangannya langsung terlepas dari gagang pintu, ia memutar tubuhnya perlahan dan mendapati Brian sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu menatapnya tajam dengan mata cokelat gelapnya yang kini menyipit, rambut hitam acak-acakan khas bangun tidur, serta seringai tipis yang tersungging di sudut bibirnya.

​"A-aku...," Kyra tergagap sejenak, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Aku hanya mau keluar, mencari udara segar. Aku tidak bermaksud mengganggumu," sambung Kyra.

​Brian tidak langsung menjawab, pria itu bangkit dari ranjang dengan gerakan santai namun penuh wibawa dan berjalan mendekati Kyra mengenakan celana bahan hitam tanpa baju, memamerkan otot perut dan dada bidangnya yang dipenuhi pahatan sempurna, langkah Brian yang pelan membuat Kyra tanpa sadar melangkah mundur hingga punggungnya menabrak daun pintu.

​Brian menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapan Kyra dan mengurung gadis itu di antara kedua lengannya yang menempel di pintu.

​"Pagi-pagi seperti ini, istri yang baik seharusnya melayani suaminya, bukan malah kabur dari kamar," bisik Brian rendah tepat di depan telinga Kyra dan membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.

"A-aku tidak kabur, aku hanya ingin mencari udara. Lagipula ini sudah pagi, aku juga mau bantu Bibi buat sarapan," ucap Kyra.

"Kau bisa masak?" tanya Brian.

"Tentu saja, aku paling jago masak," jawab Kyra bangga.

"Kalau begitu jangan masak, karena di rumah ini sudah ada chef. Kau hanya perlu menikmati peranmu sebagai Nyonya Raymond," balas Brian.

Belum sempat Kyra bersuara, Brian sudah meninggalkannya sendiri. "Ditinggal, dasar aneh," gerutu Kyra.

Beberapa saat kemudian, suasana di meja makan utama mansion keluarga Raymond terasa begitu hangat sekaligus kaku. Meja panjang dari kayu mahoni berukir itu dihiasi dengan berbagai menu sarapan kontinental dan tradisional yang disiapkan khusus oleh koki pribadi keluarga.

​Mama Ivy duduk di ujung meja dengan anggun, menyesap kopi hitamnya sambil tersenyum hangat melihat kehadiran Kyra dan Brian yang baru saja turun.

​"Selamat pagi, Mama," sapa Kyra canggung saat ia menarik kursi di samping Brian.

​"Pagi, Sayang," jawab Mama Ivy ramah.

"Tidurmu nyenyak semalam? Rumah ini mungkin terasa asing di awal, tapi lama-kelamaan kamu akan terbiasa," sambung Mama Ivy ramah.

​"Cukup nyenyak, Ma. Terima kasih," balas Kyra berusaha tersenyum sopan.

​Brian duduk di samping Kyra dengan tenang, memotong roti panggangnya tanpa banyak bicara, namun matanya sesekali melirik gerak-gerik istrinya dengan sorot penuh perhitungan.

​Di tengah sarapan yang tenang, ponsel di saku jas Brian yang tersampir di kursi bergetar. Pria itu melirik layar ponselnya sejenak, lalu mendengus sinis. Ia meletakkan garpunya dengan denting tajam yang membuat suasana meja seketika senyap.

​"Ada apa, Brian?" tanya Mama Ivy heran melihat ekspresi putranya.

​Brian mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Kyra sebelum menjawab, "Ini keluarga Andreas baru saja menghubungi Mark. Mereka meminta waktu untuk datang berkunjung nanti siang,"

​Mendengar nama keluarga Andreas, sendok di tangan Kyra nyaris terlepas. Kilatan amarah dan kebencian yang selama ini ia pendam rapat-rapat mendadak bergemuruh di dalam dadanya.

​"Keluarga Andreas?" ulang Kyra dengan nada suara yang sedikit meninggi sebelum ia berhasil mengendalikannya kembali.

​Brian menyunggingkan senyuman miring yang berbahaya. Ia meletakkan serbet makannya di atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

​"Tentu saja mereka datang, mereka ingin memastikan anak mereka baik-baik saja, bukan," ucap Brian dingin.

​Kyra mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, kuku-kukunya kembali menancap ke telapak tangannya. Rasa benci yang membara mendesak naik ke kerongkongannya.

​"Kalau aku menolak kedatangan mereka, apa kamu akan menolak mereka juga atau kamu tetap mengizinkan mereka datang?" tanya Kyra dengan suara pelan namun terdengar sangat tajam dan penuh penekanan.

​"Kau tidak ingin menyambut keluarga tercintamu?" tanya Brian.

"Mungkin untuk sekarang aku belum ingin bertemu mereka, jadi bagaimana?" tanya Kyra.

"Aku akan ikut apa katamu, kalau kamu menolak mereka, maka aku juga akan menolak mereka," jawab Brian santai.

.

.

.

Bersambung.....

1
erviana erastus
yah semoga aza para penganggu yg mengusik ketenangan kyra
sunaryati jarum
Apa yang kau takutkan saat akan masuk ke dalam keluarga Raimond tidak terjadi,malah Bryan suamimu mendukung penuh untuk memberi balasan kepada keluarga kamu,Kyra
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Dukungan penuh dari seorang suami adalah fondasi utama bagi istri yang mengalami penganiayaan atau kekerasan oleh keluarga kandungnya sendiri.
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
erviana erastus
yaela brian main sosor aza 🤣
Aidil Kenzie Zie
penasaran udah belah duren apa belum ya Brian🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
tanpa kamu bergerak mereka udah didepan kehancuran karena semua dilakukan oleh suamimu 🥰🥰🥰
erviana erastus
kalo sdh hancur nyalahkan kyra lah kalian nggak ngotak saat kyra kalian jd kn tumbal
sunaryati jarum
Kyra bisa mengoperasikan komputer,ya
Bagus,tu
sunaryati jarum
Nah baru ditolak berkunjung sudah kelimpungan, berarti kemewahan selama ini yang diagungkan itu dari keluarga Raimond
sunaryati jarum
Brian mendukung balas dendam kamu pada keluargamu Kyra.
Aidil Kenzie Zie
manfaatkan suamimu Kyra🥰🥰🥰
Mira Hastati
bagus
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
sunaryati jarum
Jangan buat Kyra Tersakit Brian,tapi terlindungi
sunaryati jarum
Semoga Brian tempat kamu bahagia Kyra
sunaryati jarum
Nah ternyata Brian sudah menyelidiki dulu pada Kyra dan berniat menolongnya
erviana erastus
yaela pada drama toh 🤣🤣😭😭
Aidil Kenzie Zie
ini Brian beneran suka atau nafsu aja' 🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
wadu duh🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
kan semua udah di atur Brian 🥰🥰🥰
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Momen ketika ibu mertua meminta Anda memanggilnya "Mama" adalah momen yang sangat menyentuh hati.
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!