Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 16
Sampai acara jalan-jalan selesai, Iras tak berhasil melakukan aksinya. Dia sama sekali tak ada kesempatan untuk memberikan sesuatu guna memancing hasrat Kael. Alhasil, Iras mengulur waktu.
"Kita kan udah di sini. Ya udah sekalian kita nginep aja yuk Kak. Malam nanti pasti langitnya bagus banget. Aku pengen lihat bintang."
"Oke."
Iras bersorak senang dalam hati. Meski Kael menjawab dengan singkat, tapi dia senang karena setidaknya dia bisa melakukan rencananya nanti malam.
Penginapan yang ada di wilayah itu sangat banyak tentunya karena memang tempat wisata. Namun Kael memilih yang paling dekat dengan restoran tempat biasanya dia makan.
R Restoran adalah tempat yang selalu datangnya ketika ia berkunjung ke tempat wisata ini. Dia selalu suka makanan dari restoran tersebut karena rasa yang tak pernah berubah.
"Kita makan dulu aja yuk, Bos. Udah sore juga ini," ajak Rowan. Jam memang sudah menunjukkan pukul 17.00, jadi tak masalah jika makan malam lebih awal.
"T-tapi mending kita makanannya di hotel aja. Kita bisa delivery order kan," sahut Iras cepat.
Rowan langsung mengerutkan alisnya ketika mendengar Iras berkata demikian. Ia menganggap wanita itu aneh. Saat ini mereka sedang berada di depan restoran, jadi mengapa harus menunda makan?
"Oke, kita makan aja di sini sekalian. Nanti tinggal istirahat aja jadinya," jawab Kael. Dia setuju dengan ide Rowan.
Dengan riang Rowan mengikuti Kael yang sudah masuk ke restoran lebih dulu. Sedangkan Iras, dia yang kesal karena lagi-lagi rencananya belum terealisasi karena ulah Rowan, memilih untuk pergi ke hotel sendirian. Dia enggan mengikuti Kael yang pergi bersama Rowan.
Bagi Rowan itu merupakan sebuah kesenangan. Dia merasa lebih baik jika wanita itu tidak ikut.
"Bos, aku nggak suka deh sama tuh cewek,"ucap Rowan terus terang.
"Ya udah kalau nggak suka diem aja,"jawab Kael asal.
Rupanya restoran di bagian dalam sudah penuh. Seorang waiters kemudian mengarahkan Kael dan Rowan ke taman samping restoran yang terasa lebih menyenangkan karena bisa melhat pemandangan senja yang indah.
Rowan dan Kael memesan makanan yang dinginkan. Sembari menunggu, mereka pun berbincang tentang banyak hal. Mulai dari pekerjaan sampai kepada hubungan Kael dan Iras. Rowan yang penasaran benar-benar bertanya hingga ke dalam-dalam.
"Udah aku bilang, aku nggak ada hubungan apapun sama cewek itu. Semua ini cuman karena Mami. Iras itu adik tingkat pas SMA, kebetulan kakak Iras adalah teman satu angkatan. Siapa yang tahu kalau ternyata mendiang ibunya adalah teman Mami saat SMP dulu. Nah gitu doang, Rowan."
Rowan mengangguk paham, dia sudah menduga bahwa Kael memang tak benar-benar menerima Iras. Kael tak sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan dengan wanita tersebut.
"Tapi, kok mau ketemu begini? Mau jalan begini sih Bos? Setahuku kalau Bos nggak suka ya nggak akan mau terjun," tanya Rowan lagi. Dia masih saja tidak percaya kepada sang bos yang tiba-tiba mau berjalan dengan perempuan.
"Ah terserah pikiran mu lah Wan, males aku."
"Hei Bos, mau kemana. Bentar lagi makanan dateng nih."
Kael beranjak dari kursinya lalu melenggang pergi. Ia hanya melambaikan tangannya ketika Rowan berteriak.
Kael tidak akan pergi kemana-mana, dia hanya ingin berjalan-jalan di sekitar taman tersebut. Pertanyaan yang Rowan lontarkan cukup mengganggu pikirannya.
Tentang ia yang mau memenuhi undangan Iras tanpa paksaan ibunya, apakah benar dirinya hendak membuka hati terhadap wanita itu?
Entahlah, Kael sendiri tidak tahu apa yang dipikirkannya. Pernah terbesit dalam hatinya, untuk mencoba memulai hubungan dengan Iras. Namun itu masih hanya pemikiran yang terlintas.
Dugh
Auuuh
"Kamu nggak apa-apa? Apa ada yang sakit hmmm?"
"Maap Om, Al nda cenaja. Al baik-baik aja kok."
Kael sedikit terkejut ketika ada seorang bocah yang menabrak tubuhnya. Dia lalu bergegas untu berjongkok dan menolong bocah tersebut.
Meski bocah kecil itu yang menabrak tubuhnya, tapi jelas anak itu yang jatuh karena tubuh kecilnya.
"Apa bener nggak apa-apa. Apa nggak ada yang sakit?" tanya Kael lagi. Dia memastikan bocah itu benar-benar baik-baik saja.
"Iya Om, Al nda apa-apa. Al minta maaf kalena nda cenaja nablak Om."
"Baiklah, nggak apa-apa. Om juga nggak kesakitan kok. Kenapa kamu sendirian? Dimana orang tua mu?Ah ya nama kamu Al ya?"
Kael berkesimpulan bahwa bocah lelaki itu bernama Al karena sejak tadi bocah itu menyebut dirinya sendiri demikian.
"Iya nama aku adalah Al. Olan tua Al, ah ibu. Ibu Al ladi kelja Om. Ibu Al kelja di sini."
Awalnya Kael tidak menyadari akan sesuatu hal. Namun ketika ia mengamati secara seksama, bocah laki-laki yang sekarang ada di depannya itu mirip sekali dengan dirinya ketika masih kecil.
Kael mencoba mengusir pikirannya tersebut, namun ketika dilihat secara seksama, bocah yang mengaku dirinya bernama Al sungguh mirip dengan dirinya.
"Al, ibu mu bekerja di sini ya. Siapa nama ibu mu hmmm? Mungkin Om bisa bantu nganter Al ke tempat ibu," ucap Kael. Dadanya berkecamuk, ada sesuatu yang mengganjal di sana.
Drap drap drap
Sebuah langkah mendekat dengan begitu cepat. Nafas yang tersengal-sengal dari si pemilik langkah itu pun terdengar begitu jelas di telinga Kael. Nampak sekali bahwa ia terburu-buru.
"Al, sudah Ibu bilang jangan berlarian saat banyak pengunjung," ucap orang tersebut.
"Iya Ibu, maaf. Tadi Al kejal bulun. Eh nda cenaja nablak Om ini. Nah Om, ini ibu Al."
Degh!
Mata Kael membulat sempurna. Wanita yang ada di depannya wajahnya sangat familiar baginya. Bayangan tentang malam kelam 4 tahun lalu seketika muncul.
"K-kamu~"
"Maaf Tuan, anak saya sudah berbuat tidak sopan. Kami permisi."
"Tunggu, Rosalina. Kamu Rosalina kan?"
Kael langsung menyebut nama wanita yang merupakan ibu dari Al tersebut. Dia yakin bahwa dirinya tidak salah. Wanita yang ada di depannya itu adalah benar Rosalina, wanita yang selama ini dicarinya.
"Tunggu, Rosa. A-aku harus bicara sama kamu,"ucap Kael. Dia berusaha mengejar Rosa dan Al yang sudah berjalan lebih dulu.
"Saya tidak punya urusan dengan Anda, Tuan. Jadi permisi," ucap Rosa dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang dingin.
Meski dilarang, Kael terus mengikuti Rosa hingga wanita dan bocah itu masuk ke tempat yang tidak bisa dimasukinya.
"Rosa, aku yakin itu Rosa. lalu Al, bocah itu? Apa itu~"
"Kak!"
Ucapan Kael terhenti ketika Iras memanggilnya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat ke aras Iras dengan tajam.
Kael kemudian berjalan ke arah Iras, yang mana membuat wanita tu tersenyum. Namun senyum wanita itu langsung hilang saat tahu bahwa bukan dirinya yang hendak dihampiri oleh Kael, melainkan Rowan yang ada di belakangnya.
"A-ada apa Bos?" tanya Rowan gagap ketika melihat tatapan Kael yang sangat menakutkan.
"Rosalina ada di sini, dia bersama seorang bocah yang bernama Al. Cari tahu, dan jangan biarkan dia lari lagi."
"Ya? APA?"
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara