NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Panti jompo itu berada di pinggir Depok, tersembunyi di balik pagar tinggi dan pohon kamboja tua.

Namanya Griya Senja. Dari luar terlihat tenang, hampir terlalu tenang. Tidak ada keluarga yang ramai berkunjung. Tidak ada suara televisi keras seperti panti jompo lain. Hanya satpam di pos depan dan perawat yang bergerak dengan wajah datar.

Alya datang bersama Rafi. Raka tidak bisa ikut karena audit internal benar-benar berubah menjadi serangan terhadap posisinya di perusahaan. Baskara menekan dari kantor, Maya menekan dari rumah, dan entah siapa menekan dari masa lalu Nadira.

Di meja resepsionis, Alya menyebut nama Sulastri Wibisono.

Perawat yang bertugas langsung menegang. "Ibu Sulastri tidak menerima tamu."

"Saya keluarga dari Nadira Maheswari."

Nama itu bekerja seperti kunci.

Perawat itu mengangkat wajah. "Tunggu."

Ia pergi hampir sepuluh menit. Saat kembali, wajahnya lebih pucat.

"Ibu Sulastri mau bertemu. Tapi hanya Nona. Bapak ini tidak boleh masuk."

Rafi langsung berkata, "Tidak."

Alya menatapnya. "Aku masuk."

"Alya."

"Kalau ada apa-apa, aku panggil."

"Kalau kamu sempat."

Alya mendekat dan berkata pelan, "Aku butuh dia percaya. Orang tua yang bersembunyi tujuh belas tahun tidak akan bicara kalau merasa diancam."

Rafi tidak suka, tetapi ia mundur satu langkah. "Lima menit. Setelah itu aku masuk."

"Sepuluh."

"Tujuh."

"Baik."

Alya mengikuti perawat melewati koridor panjang. Bau obat, lantai pel, dan bunga kering memenuhi udara. Mereka berhenti di kamar paling ujung.

Sulastri Wibisono duduk di kursi dekat jendela. Tubuhnya kurus, rambutnya putih, tetapi matanya hidup. Di pangkuannya ada tas kain tua.

Begitu melihat Alya, ia tersenyum sedih.

"Kamu benar-benar anak Nadira."

Alya duduk di kursi seberang. "Ibu kenal Mama?"

"Aku kenal dia sebelum dia menikah dengan Baskara. Nadira keras kepala. Terlalu berani. Terlalu percaya bahwa orang pintar pasti punya hati."

"Yayasan Melati Merah?"

Sulastri menutup mata. "Dulu namanya indah. Tujuannya juga indah. Membantu anak-anak sakit yang tidak punya biaya. Suamiku dokter di sana. Nadira membantu dana dan jaringan. Laras, nenekmu, membantu mencari keluarga yang benar-benar butuh."

"Lalu berubah."

"Semua berubah ketika kelompok baru masuk. Mereka bicara soal riset, soal masa depan medis, soal anak-anak dengan kondisi khusus. Awalnya pemeriksaan. Lalu sampel darah. Lalu obat percobaan."

Alya menggenggam tangan di pangkuan.

"Mama tahu?"

"Dia curiga. Suamiku juga. Mereka mulai mengumpulkan bukti."

"Lalu suami Ibu meninggal."

Sulastri membuka tas kain dan mengeluarkan amplop cokelat. "Kecelakaan tunggal, kata polisi. Padahal rem mobilnya dipotong."

Alya menerima amplop itu. Di dalamnya ada foto lama, salinan laporan autopsi, dan catatan tulisan tangan dr. Mahendra.

Nama yang muncul berulang: proyek Resonansi.

Alya membaca cepat. "Resonansi?"

"Mereka percaya ada manusia dengan respons saraf berbeda. Lebih kuat terhadap obat tertentu, lebih cepat memproses ingatan, lebih tahan rasa sakit, atau sebaliknya terlalu sensitif. Mereka ingin menemukan pola itu."

Jantung Alya berdetak lebih cepat.

Ia teringat dirinya sendiri. Sejak kecil, daya ingatnya terlalu tajam. Setelah kembali hidup, ia belajar lebih cepat dari manusia normal. Ia selalu mengira itu karena tekad dan pengalaman. Bagaimana kalau ada hal lain?

Sulastri menatapnya. "Nadira sedang hamil saat tahu proyek itu melewati batas. Dia ingin menghancurkannya."

"Apa hubungannya dengan kematian Mama?"

Sulastri meremas tas kain. "Aku tidak melihat langsung. Tapi suamiku sempat berkata, kalau Nadira melahirkan, anaknya akan menjadi kunci. Aku tidak tahu maksudnya. Setelah Nadira meninggal, Laras membawa kamu pergi. Setelah itu semua orang yang tahu proyek lama mulai menghilang."

Alya merasa ruang itu menyempit.

"Siapa pemimpin proyek?"

Sulastri menatap pintu, seolah takut dinding mendengar.

"Aku tidak tahu nama aslinya. Mereka memanggilnya Tuan Fajar."

"Fajar?"

"Bukan Baskara. Bukan Santoso. Lebih tua. Lebih berbahaya."

Sebelum Alya bertanya lagi, suara benda jatuh terdengar dari luar kamar.

Sulastri langsung pucat. "Mereka datang."

Alya berdiri.

Pintu terbuka tiba-tiba. Seorang perawat laki-laki masuk membawa nampan obat. Wajahnya tenang, tetapi tangannya terlalu mantap untuk perawat biasa.

"Waktunya obat, Bu."

Alya menatap gelas kecil di nampan. Cairannya bening.

"Taruh saja," kata Sulastri dengan suara gemetar.

Perawat itu tersenyum. "Harus diminum sekarang."

Alya melangkah ke depan. "Saya keluarganya. Saya mau lihat dulu obatnya."

Mata pria itu berubah.

Ia bergerak cepat, mencoba menyuntikkan sesuatu dari balik lengan bajunya. Alya sudah siap. Ia menghindar, memutar pergelangan pria itu, lalu membenturkan tubuhnya ke meja. Nampan jatuh, gelas pecah.

Pria itu tidak menyerah. Ia mengeluarkan pisau kecil.

Pintu kamar ditendang dari luar.

Rafi masuk.

"Tujuh menit," katanya, seolah itu penjelasan.

Pria itu mencoba kabur lewat jendela, tetapi Rafi lebih cepat. Dalam tiga gerakan, pria itu sudah jatuh dengan tangan terkunci di belakang punggung.

Sulastri menangis tanpa suara.

Alya mengambil suntikan yang jatuh. "Ini apa?"

Pria itu tidak menjawab.

Rafi menekan bahunya sedikit. Pria itu mengerang.

"Aku tanya sekali lagi," kata Alya. "Ini apa?"

"Penenang," jawabnya akhirnya.

"Dosis?"

Diam.

Alya melihat cairan itu. "Cukup untuk membuat perempuan seusia Ibu Sulastri berhenti bernapas saat tidur."

Sulastri menutup mulut.

Rafi menelepon orangnya dan polisi terpercaya. Alya menyimpan ampul sebagai bukti.

Sulastri menggenggam tangan Alya. "Bawa aku pergi. Kalau aku tinggal di sini, aku mati."

"Ibu ikut kami."

"Jangan ke rumahmu. Mereka tahu."

"Saya punya tempat lain."

Saat mereka meninggalkan panti jompo lewat pintu belakang, alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi di gedung utama. Bukan kebakaran sungguhan. Pengalih perhatian. Ada orang lain di sana.

Rafi membawa Sulastri ke mobil. Alya menoleh sekali ke gedung Griya Senja.

Satu orang tua hampir dibunuh hanya karena ia tahu nama lama.

Tuan Fajar.

Proyek Resonansi.

Yayasan Melati Merah.

Semua mulai membentuk lingkaran.

Di mobil, Sulastri menyerahkan satu benda terakhir: gantungan kunci logam berbentuk bunga camellia.

"Suamiku menyimpannya dari salah satu ruang rapat. Dia bilang, kalau Melati Merah mati, bunga ini yang akan menggantikannya."

Alya menggenggam benda itu.

Camellia.

Bukan melati.

Nama baru untuk sesuatu yang lebih busuk.

Rafi mengambil gantungan itu dari telapak Alya dengan sarung tangan kecil yang selalu ia bawa di mobil. "Jangan sentuh langsung lagi."

"Sudah terlambat."

"Untuk sidik jari, iya. Untuk jejak bahan, belum tentu."

Sulastri memandang mereka berdua. "Kalian harus mengerti, mereka tidak bergerak seperti keluarga biasa. Mereka bergerak seperti jaringan. Kalau satu orang jatuh, yang lain berpura-pura tidak pernah kenal."

"Kami mulai melihatnya," kata Alya.

"Belum." Suara Sulastri bergetar. "Kalau kalian sudah melihat semuanya, kalian tidak akan bertanya siapa yang jahat. Kalian akan bertanya siapa yang masih bersih."

Di luar mobil, azan magrib terdengar jauh dari masjid kecil dekat jalan. Suara itu membuat diam mereka terasa lebih berat.

Alya menutup tangan di atas gantungan yang kini terbungkus plastik.

"Kalau begitu," katanya, "kita cari orang yang paling takut dibersihkan."

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!