NovelToon NovelToon
Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reinata Ramadani

"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."

Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.

Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.

Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.

"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Murahan

Pagi itu, langit kota Jakarta tampak mendung. Rintik gerimis tipis membasahi jendela kaca saat Alina perlahan memasuki ruangan dokter dengan perasaan campur aduk.

"Silahkan duduk, Ibu."

Dengan menyembunyikan getar ketakutan di dada, Alina mengambil posisi duduk di depan sang dokter. "Jadi, bagaimana hasilnya, Dok?" Ada harapan besar dari sorot mata itu.

"Jadi, berdasarkan hasil tes kecocokan jaringan HLA, bu Alina dinyatakan... kurang cocok untuk melakukan donor sumsum tulang pada Marsha." Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, memberi ruang bagi Alina untuk meraup udara yang tiba-tiba menyempit.

"Tingkat kecocokannya terlalu rendah, sehingga risikonya sangat besar jika kita paksakan. Jadi di sini kita harus segera mencari donor lain yang memiliki tingkat kecocokan yang lebih tinggi."

Alina meremaas jari jemarinya hingga buku-buku jari itu memutih, mencoba mencari kekuatan diantara harapan yang ternyata hancur berkeping-keping.

"Donor lain, Dok?" suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan yang tertelan udara dingin.

"Ya." dokter itu mengangguk simpatik, menatap langsung pada manik mata Alina yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.

"Pilihan terbaik kita saat ini adalah garis darah terdekat, yaitu Ayahnya. "

Mendengar pernyataan itu, Alina merasa seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak habis. Jantungnya mencelos.

Ayah?

Mas Leo?

Tidak. Rasanya itu tidak mungkin.

Leon bahkan kini sangat membencinya. Ia bahkan mengira Marsha adalah anak dari hasil perselingkuhannya. Jadi, meminta bantuan kepadanya mungkin hanya akan mendapatkan hinaan juga makian.

"Bagaimana jika kita mencari donor lain, Dok?" tanya Alina, suaranya bergetar menahan tangis yang siap meledak saat itu juga.

Dokter itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali berseru. "Kita bisa mencobanya. Tapi, mencari donor sumsum tulang dari luar ini mungkin membutuhkan waktu cukup lama, bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Sementara kondisi Marsha saat ini .... cukup serius."

Hela nafas terdengar berat. Gurat keputusasaan itu bahkan kini terlihat jelas.

"Bolehkah kita mencobanya dulu, Dok?" ratap Alina, penuh permohonan. "Sambil berjalan... saya akan mencoba menghubungi ayahnya. Tapi tolong, beri saya waktu."

"Baiklah. Kita akan coba sebisa mungkin."

☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Usai menemui sang dokter, Alina gegas memacu langkahnya kembali ke perusahaan.

Namun, baru saja menginjakkan kaki di lobi, langkahnya tertahan. Suasana pagi itu terasa tidak nyaman. Beberapa pasang mata tampak memicing menatap kearahnya. Bahkan bisik-bisik lirih kini terdengar di beberapa sudut ruangan.

Alina mengernyit bingung.

Ada apa sebenarnya?

Apakah ada yang salah dengan dirinya?

Memilih tak ambil pusing akan hal itu, Alina memilih berlalu. Mungkin hanya pikirannya saja.

Namun dugaannya salah besar ketika ia sampai di ruangannya.

"Alina, ikut saya." Suara dingin Bu Lastri mendadak memecah keheningan.

"Hari ini kamu bersihkan semua toilet perempuan dari lantai 1 sampai lantai atas. Kamu harus menyelesaikannya sebelum waktu istirahat tiba."

Alina seketika ternganga. Mengurus semua toilet seorang diri dalam waktu beberapa jam jelas tak masuk akal.

"Kamu diam aja paham tidak?!!" Bentaknya murka, saat Alina hanya mematung tanpa jawaban.

"Baik bu."

Tak punya pilihan lain demi mempertahankan pekerjaannya, Alina segera memulai tugas beratnya.

Keringat dingin mulai membasahi kening dan punggungnya. Jam dinding seolah berputar dua kali lebih cepat, memaksa Alina bergerak secepat mungkin di tengah kondisi fisiknya yang sebenarnya kelelahan karena semalam.

Hingga bel waktu makan siang berbunyi, napas Alina terengah-engah. Kedua tangannya gemetar memegang tangkai pel. Sialnya, masih tersisa satu lantai lagi yang belum selesai ia kerjakan.

"Bisa saya selesaikan setelah istirahat, Bu?" Seru Alina, penuh permohonan.

"Bagaimana bisa belum selesai? Kamu becus kerja tidak sih, sebenarnya?" Semprot bu Lastri.

"Saya sudah berusaha secepat mungkin, Bu."

"Ya sudah, kamu selesaikan dulu lantai terakhir. Baru istirahat." Titahnya, sebelum pergi meninggalkan Alina tanpa hati.

Alina menghela napas dalam-dalam, menelan bulat-bulat harga dirinya sebelum akhirnya kembali melangkah naik ke lantai teratas.

"Ini orangnya ya?"

Alina sontak berbalik saat indra pendengarannya kini menangkap dua karyawan itu saling berbisik jahat di koridor perusahaan. "Iya, murahan banget."

Alina mengernyit bingung. Jelas sekali mereka tengah membicarakan dirinya. Tapi, bukankah ini hal yang mustahil? Ia baru bekerja di sini bahkan belum genap seminggu. Bagaimana bisa namanya sudah menjadi buah bibir?

Lagi-lagi Alina berusaha mengusir pikiran negatifnya.

Dengan menahan lapar karena tadi pagi tak sempat sarapan, Alina mulai melanjutkan pekerjaannya. Membersihkan toilet, juga menggosok lantai sampai bersih hingga tak menyisakan kotoran sedikitpun.

Setengah jam berlalu, akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya yang entah mengapa hari ini terasa berkali-kali lipat lebih berat. Kurang tidur dan perut kosong membuat tubuhnya mulai protes. Wajahnya tampak begitu lesu dan mulai memucat pasi.

Dengan sisa tenaga yang ada, Alina mendorong troli kebersihannya menyusuri lorong yang sepi.

Hingga tiba-tiba, langkahnya terkunci.

Dengan berbalut jas hitam rapi, laki-laki itu telah berdiri dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Dingin. Begitu menusuk. Ada kebencian disana.

1
Nar Sih
sabar alina ,pssti ada keajaiban untuk marsha ,smoga leon trrbuka hati nya dan sgra menolong putri nya
Nia Rahmadini
kak boleh update nya double hehehe
Nar Sih
semoga dgn cerita dri umi hanah kmu bisa sadar akan slh mu leon ,dan sgra cri tau keadaan 4th lalu saat kmu tk sadar stlh kecelakaan itu
Sunarti Narti
Alhamdulillah akhirnya kebenaran segera terungkap, semoga kamu ga menyesal Leon
Nar Sih
semoga kali ini leon tebuka hti nya sadar akan kesalahan nya ,dan bnr,,bisa bantu marsha biar sembuh lgi ,dobel up lgi ya kak rei🙏🥰🥰
May Satibi Satibi
jangan lama" kak update nya ini novel favorit aku bulan ini
apiii
di tunggu up selanjutnya thor❤️
apiii
astagaa bacanya sambil tahan napas tegang bangt baca setiap kalimat ngena bngt🥹
apiii
parah banget jadi bapak🥹
apiii
thor singkat bangt🥲
Nia Rahmadini
kapan sih update lagi kak
apiii
akhirnya up lgi 🥲🥰
Nar Sih
dobel up yaa kakk 🙏👍
Nia Rahmadini
update lagi kak naangung cerita
apiii
makin penasarannn tapi harus nungguin part selanjutnya🥲
Nia Rahmadini
update kak lagi, cerita nya bagus banget.
Yuni Afiatun
suka setiap karya nya,,
tapi tunggu up nya harus bersabar
yulithong
hrs sabar menunggu ini🤔
Sun Rise
ok
Nar Sih
semoga kali ini sgra terungkap semua nya yg sbnr nya dan leon sadar dgn salah nya ,semagat ya alin juga semagatt untuk kak reinata moga up nya lancar💪💪🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!