Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Perpisahan
Suara Feng Zhen bergema di tengah kobaran api yang melahap Kota Qinghe.
Di balik asap hitam, cahaya pedangnya kembali meledak, disusul raungan Beruang Kulit Baja dan lolongan puluhan Serigala Taring Besi.
Feng Tian Yu memejamkan mata sesaat.
Kemudian ia menarik napas panjang sebelum berteriak dengan suara lantang.
"Semua orang terus bergerak! Jangan berhenti! Kita harus keluar dari kota secepat mungkin!"
Tidak ada lagi yang berani membantah.
Semua memahami...
Feng Zhen telah mengambil keputusan.
Keputusan itu mungkin akan merenggut nyawanya.
Namun jika mereka tetap tinggal...
Pengorbanannya akan menjadi sia-sia.
Mei Lin menggenggam tangan Bai Hu erat-erat.
"Ayo, Bai Hu."
Namun anak itu tetap menoleh ke belakang.
Matanya mencari sosok ayahnya di tengah kobaran api.
Ia hanya sempat melihat cahaya pedang putih yang berulang kali membelah udara.
Kemudian semuanya tertutup asap hitam.
"AYAH!"
teriaknya sekuat tenaga.
Suaranya tenggelam di antara ledakan dan raungan Binatang Iblis.
Tidak ada jawaban.
Ling Yue segera mengangkat tubuh Bai Hu ke punggungnya.
"Bai Hu, pegang Kakak erat-erat."
"Aku tidak mau!! Ayah masih di sana!"
Ling Yue menggigit bibirnya.
Ia menahan air mata yang hampir jatuh.
"Kalau kau kembali Ayah akan marah."
Bai Hu membeku.
Ling Yue melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.
"Ayah memilih bertahan supaya kita bisa hidup, Ayah sangat mengkhawatirkanmu, Apa kau ingin membuat Ayah kecewa dan marah?"
Air mata Bai Hu langsung mengalir.
Ia memeluk leher kakaknya sekuat tenaga.
"Tidak...Aku hanya ingin Ayah pulang..."
Ling Yue memejamkan mata.
"sekarang, tugas kita adalah pergi dari kota ini dan bertahan hidup"
Rombongan terus berlari melewati gerbang selatan.
Di belakang mereka...
Kota Qinghe berubah menjadi lautan api.
Bangunan demi bangunan runtuh.
Suara ledakan tidak pernah berhenti.
Sesekali terdengar cahaya besar menyinari langit.
Pertarungan para kultivator tingkat tinggi masih berlangsung.
Namun tidak seorang pun mengetahui siapa yang masih bertahan.
Setelah meninggalkan kota beberapa li...
Kecepatan rombongan mulai melambat.
Banyak orang sudah kehabisan tenaga.
Beberapa anak kecil bahkan tidak sanggup lagi berjalan.
Mei Lin membantu seorang wanita tua yang hampir terjatuh.
Yun He masih memimpin barisan depan meskipun wajahnya semakin pucat.
Lengan kirinya yang patah mulai mengeluarkan darah lagi.
Tian Yu terus berjalan di belakang rombongan.
Pedangnya belum pernah kembali ke sarungnya.
Tatapannya tidak pernah lepas dari jalan yang baru mereka tinggalkan.
Ling Yue menghampirinya.
"Kak."
Tian Yu menoleh.
"Ada apa?"
"Menurut Kakak ,apakah Binatang Iblis akan berhenti mengejar setelah kita keluar dari kota?"
Tian Yu tidak langsung menjawab.
Ia melihat jejak-jejak kaki besar yang memenuhi tanah.
Kemudian menggeleng perlahan.
"Tidak.Gelombang Binatang Iblis sudah menyebar.Selama masih ada manusia,mereka akan terus berburu."
Ling Yue mengangguk pelan.
Tatapannya berubah semakin serius.
Tidak lama kemudian...
Seorang penjaga keluarga yang berada paling belakang tiba-tiba berteriak.
"Binatang Iblis!"
Semua orang spontan berhenti.
Mereka menoleh ke belakang.
Debu mulai membumbung dari jalan yang mereka lewati.
Suara langkah kaki bergema semakin jelas.
Dum...
Dum...
Dum...
Puluhan pasang mata merah mulai muncul dari balik pepohonan.
Seekor Serigala Taring Besi Tingkat 2 melangkah keluar lebih dahulu.
Di belakangnya...
Belasan Serigala Taring Besi Tingkat 1 mulai menyebar membentuk setengah lingkaran.
Namun...
Wajah Tian Yu justru semakin pucat.
Karena pandangannya tidak tertuju pada para serigala.
Melainkan pada sosok yang berjalan paling belakang.
Seekor Beruang Kulit Baja Tingkat 3.
Tubuhnya hampir setinggi rumah.
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Bekas luka besar terlihat di bahu kirinya.
Jelas...
Binatang itu baru saja keluar dari medan perang di Kota Qinghe.
Ia menatap rombongan manusia di depannya.
Kemudian mengeluarkan raungan panjang yang mengguncang hutan.
ROOOAAARRR!!
Puluhan Serigala Taring Besi langsung menerjang bersamaan.
"Formasi bertahan!"
teriak Tian Yu.
Para penjaga keluarga segera maju.
Benturan pertama langsung terjadi.
Pedang dan cakar saling beradu.
Jeritan memenuhi hutan.
Sementara itu, Beruang Kulit Baja Tingkat 3 masih berdiri diam.
Tatapannya terus mengawasi rombongan.
Seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan mereka sekaligus.
Ling Yue perlahan menggenggam pedangnya lebih erat.
Ia merasakan firasat yang sangat buruk.
Raungan Beruang Kulit Baja Tingkat 3 mengguncang seluruh hutan.
Puluhan Serigala Taring Besi langsung menerjang dari berbagai arah.
Mereka tidak lagi menyerang dengan sembarangan.
Kawanan itu bergerak teratur, seolah telah diperintah oleh binatang yang lebih kuat.
"Jangan biarkan mereka mendekati anak-anak!"
teriak Feng Tian Yu.
Para penjaga Keluarga Feng segera membentuk barisan di depan rombongan.
Dentangan senjata langsung memenuhi hutan.
Seorang penjaga menebaskan pedangnya ke arah seekor Serigala Taring Besi Tingkat 1.
Pedangnya berhasil membelah bahu binatang itu.
Namun pada saat yang sama, dua serigala lain menerjang dari samping.
"Awas!"
Ling Yue melesat secepat kilat.
Pedangnya berkilat.
Sreet!
Kepala seekor serigala langsung terlepas.
Tanpa berhenti, ia memutar tubuhnya dan menusuk tenggorokan serigala kedua.
Binatang itu roboh sambil meraung kesakitan.
"Terus bergerak!" teriak Ling Yue kepada rombongan. "Jangan berhenti Tujuan kita adalah keluar dari hutan ini."
Mei Lin menggandeng Bai Hu sambil terus berlari.
Bai Hu beberapa kali menoleh ke belakang.
Ia melihat Tian Yu dan Ling Yue bertarung tanpa mundur sedikit pun.
Dadanya terasa sesak.
Ia ingin membantu.
Namun dengan kekuatannya sekarang, ia bahkan tidak mampu melukai seekor Serigala Taring Besi Tingkat 1.
Di sisi lain.
Yun He mengeluarkan tiga bendera formasi kecil dari kantong penyimpanannya.
Ia menusukkan ketiganya ke tanah.
Tangannya bergerak cepat membentuk segel.
"Bangkit!"
Cahaya kuning langsung menghubungkan ketiga bendera itu.
Sesaat kemudian, puluhan tombak batu muncul dari dalam tanah.
Brak!
Brak!
Brak!
Beberapa Serigala Taring Besi tertusuk dan terlempar ke belakang.
Namun wajah Yun He justru semakin pucat.
Ia memegang dada sambil terbatuk.
Seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
Ling Yue langsung menoleh.
"Kak Yun!"
Yun He menggeleng pelan.
"Aku masih sanggup."
"Formasi ini tidak akan bertahan lama ,manfaatkan waktunya."
Tian Yu mengangguk.
"Semua orang, terus maju!"
Rombongan kembali bergerak.
Namun langkah mereka tetap lambat.
Anak-anak sudah kelelahan.
Orang tua semakin sulit berjalan.
Sementara di belakang...
Raungan Beruang Kulit Baja Tingkat 3 terdengar semakin dekat.
BOOM!
Tanah bergetar hebat.
Semua orang hampir kehilangan keseimbangan.
Bai Hu menoleh matanya membelalak.
Beruang Kulit Baja Tingkat 3 bergerak.
Dengan sekali lompatan, tubuh raksasanya melintasi puluhan meter.
Ia mendarat tepat di belakang kawanan serigala.
Tanah langsung retak.
Pohon-pohon kecil di sekitarnya tumbang akibat benturan.
Aura yang dipancarkannya membuat para Serigala Taring Besi langsung memberi jalan.
Tatapan buas Beruang itu tertuju kepada rombongan manusia.
Ia mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi saat sudah cukup dekat dengan rombongan.
"Semua menghindar!"
teriak Tian Yu.
DUAAAR!
Kaki beruang menghantam tanah.
Gelombang kejut menyapu ke segala arah.
Belasan pohon tumbang.
Beberapa penjaga keluarga terpental hingga menghantam batang pohon.
Yun He yang sudah terluka langsung terlempar beberapa meter.
Formasi yang baru saja ia bangun hancur seketika.
Ling Yue segera berlari menghampiri kakaknya.
"Kak Yun!"
"Aku tidak apa-apa..."
Yun He berusaha bangkit.
Namun lengan kirinya sudah tidak mampu digerakkan lagi.
Dadanya juga terasa sesak akibat benturan tadi.
Tian Yu memandang keadaan di sekelilingnya.
Hatinya semakin berat.
Jumlah penjaga yang masih mampu bertarung tinggal belasan orang.
Sementara Binatang Iblis masih terus berdatangan.
Kalau keadaan ini berlanjut...
Tidak seorang pun akan berhasil keluar.
Ling Yue juga menyadarinya.
Ia melihat ke arah Mei Lin.
Melihat Bai Hu yang terus berlari sambil beberapa kali terjatuh karena kelelahan.
Kemudian ia melihat Tian Yu.
Tatapan keduanya bertemu.
Tidak ada kata-kata.
Namun mereka memahami isi pikiran masing-masing.
Ling Yue menarik napas panjang.
Ia melangkah mendekati Tian Yu.
Dengan suara pelan agar tidak didengar rombongan, ia berkata,
"Kak Tian Yu, kita sudah melakukan semua yang kita bisa. Tetapi keadaan tidak berpihak kepada kita. Kalau kita terus bertahan seperti ini, kawanan Binatang Iblis akan mengepung dari segala arah. Ibu, Bai Hu, Kak Yun, dan semua anggota keluarga tidak akan sempat keluar dari hutan."
Tian Yu langsung menggeleng.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Jangan katakan itu. Kita pasti masih bisa menemukan cara lain."
Ling Yue tersenyum tipis.
Senyum itu dipenuhi kelelahan.
"Sejak kecil, setiap kali aku keras kepala, Kakak selalu berhasil membujukku. Tapi kali ini... izinkan aku keras kepala untuk terakhir kalinya."
Wajah Tian Yu berubah.
Ia mencengkeram lengan adiknya.
"Tidak! Aku tidak akan kehilanganmu juga. Ayah sudah memilih tetap tinggal di Kota Qinghe. Aku tidak akan membiarkan adikku melakukan hal yang sama."
Ling Yue memegang tangan kakaknya perlahan.
Tatapannya tetap tenang.
"Kalau tidak ada yang menghentikan Beruang Kulit Baja itu, semua orang akan mati. Kak, kau adalah putra sulung. Setelah Ayah tidak ada di sisi kita, keluarga membutuhkanmu. Bai Hu membutuhkanmu. Ibu membutuhkanmu. Kak Yun juga membutuhkanmu."
Tian Yu menggertakkan giginya.
Air matanya mulai menggenang.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau bukan bagian dari keluarga ini? Apa aku harus melihat satu per satu keluargaku pergi, sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa?"
Ling Yue menundukkan kepala sesaat.
Kemudian ia tersenyum.
Senyum yang sama seperti saat ia menghibur Bai Hu ketika masih kecil.
"Kalau suatu hari nanti Bai Hu bertanya tentang aku... katakan padanya bahwa aku tidak pernah menyesali pilihanku. Aku hanya ingin keluargaku tetap hidup."
Mata Tian Yu memerah.
Ia masih ingin membantah.
Namun suara raungan Beruang Kulit Baja kembali menggema.
Binatang itu mulai melangkah ke arah mereka.
Tanah bergetar semakin kuat.
Ling Yue menggenggam pedangnya.
Tatapannya berubah tajam.
Ia tahu Waktu yang mereka miliki tinggal beberapa saat lagi.
Raungan Beruang Kulit Baja Tingkat 3 kembali menggema.
Tubuh raksasanya mulai bergerak perlahan.
Setiap langkah yang diambilnya membuat tanah bergetar.
Pohon-pohon di sekitarnya bergoyang hebat.
Puluhan Serigala Taring Besi yang sejak tadi menyerang tiba-tiba mundur memberi jalan.
Mereka seolah mengetahui...
Pemimpin perburuan yang sesungguhnya akhirnya turun tangan.
Ling Yue menarik napas dalam.
Ia menatap wajah kakaknya untuk terakhir kalinya.
Kemudian berkata dengan suara tenang, namun tegas,
"Kak Tian Yu, dengarkan aku baik-baik. Aku bukan sedang meminta izin. Aku hanya ingin Kakak berjanji akan membawa Ibu, Bai Hu, Kak Yun, dan seluruh anggota keluarga keluar dari tempat ini. Kalau kita semua tetap bertahan, tidak ada satu pun yang akan selamat."
Tian Yu menggenggam bahu adiknya erat hingga jemarinya memutih.
"Aku tidak bisa melakukan itu. Ayah sudah memilih tetap tinggal di kota. Sekarang kau juga memintaku meninggalkanmu. Apa kau ingin aku hidup sambil menanggung penyesalan sepanjang hidupku?"
Ling Yue tersenyum kecil.
Di balik senyum itu tersimpan rasa sedih yang begitu dalam.
"Kalau Kakak tetap di sini bersamaku, penyesalan itu tidak akan hilang. Bedanya, tidak akan ada lagi orang yang menjaga keluarga kita. Ayah mempercayakan semuanya kepada Kakak. Jangan biarkan pengorbanan Ayah menjadi sia-sia."
Tian Yu menundukkan kepala.
Dadanya terasa sesak.
Ia merasa begitu lemah.
Sebagai kakak tertua...
Ia tidak mampu melindungi ayahnya.
Kini...
Ia juga tidak mampu mempertahankan adiknya.
Ling Yue berjalan menghampiri Mei Lin.
"Ibu."
Mei Lin langsung memegang kedua tangan putrinya.
Tatapan seorang ibu membuatnya mengerti apa yang akan dilakukan Ling Yue.
Tanpa sadar kepalanya menggeleng.
"Jangan..."
"Ling Yue... jangan tinggalkan Ibu."
Air mata mulai mengalir di pipi Mei Lin.
Ling Yue memeluk ibunya erat.
Suaranya lembut.
"Ibu... maafkan putrimu. Ling Yue belum sempat membalas semua kasih sayang Ibu. Tetapi kalau Ling Yue ikut pergi sekarang, Binatang Iblis itu akan mengejar sampai semua orang habis."
Mei Lin menangis sambil memegang wajah putrinya.
"Ibu tidak peduli dengan apa pun. Ibu hanya ingin kita pulang bersama."
Ling Yue menggeleng perlahan.
"Rumah kita sudah tidak ada lagi, Bu."
Kalimat sederhana itu membuat Mei Lin tidak mampu lagi menahan tangisnya.
Tubuhnya lemas.
Ling Yue kembali memeluk ibunya.
"Kalau Ayah berhasil kembali... tolong katakan bahwa Ling Yue tidak pernah menyesali keputusannya."
Kemudian...
Ling Yue berlutut di depan Bai Hu.
Anak itu masih belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Ia hanya melihat semua orang menangis.
"Kak...Kakak mau ke mana?"
Ling Yue mengusap pipi Bai Hu yang dipenuhi air mata.
Senyumnya tetap hangat.
Persis seperti saat mengajari Bai Hu membaca ketika masih kecil.
"Bai Hu, Kakak ingin menitipkan satu tugas kepadamu."
Bai Hu langsung mengangguk cepat.
"Tugas apa? Aku pasti bisa."
Ling Yue tertawa pelan.
"Mulai hari ini, kau yang harus menjaga Ibu. Jangan membuat Ibu menangis lagi."
Bai Hu mengangguk lagi.
"Aku bisa."
"Kau juga harus rajin belajar. Belajar berkultivasi, belajar alkimia, belajar apa pun yang ingin kau pelajari."
"Aku akan belajar."
"Kalau nanti menjadi orang hebat..."
Ling Yue berhenti sejenak.
Kemudian menepuk pelan perut adiknya yang bulat.
Senyumnya berubah sedikit jahil.
"...jangan hanya sibuk menghitung batu roh. Ingat juga untuk makan tepat waktu. Kakak tahu kau paling tidak tahan kalau lapar."
Bai Hu tertawa kecil di sela tangisnya.
"Aku memang lapar...Tapi sekarang aku tidak ingin makan."
Ling Yue mengusap kepala Bai Hu.
"Kalau begitu nanti, saat semuanya sudah selesai, makanlah yang banyak. Kakak paling senang melihatmu makan dengan lahap."
Bai Hu menggenggam tangan kakaknya.
"Kakak ikut makan juga."
Ling Yue terdiam.
Beberapa saat kemudian ia menjawab dengan suara yang hampir berbisik.
"Kalau ada kesempatan... Kakak pasti akan makan bersamamu lagi."
Bai Hu tersenyum polos.
"Janji?"
Ling Yue memejamkan mata sesaat.
Kemudian mengangguk.
"Ya... Kakak janji."
Raungan Beruang Kulit Baja kembali terdengar.
Binatang itu kini hanya berjarak puluhan meter.
Puluhan Serigala Taring Besi kembali mulai bergerak.
Ling Yue berdiri perlahan.
Ia mencabut pedangnya.
Lalu menoleh kepada Tian Yu.
Tatapan keduanya bertemu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun...
Mereka saling mengangguk.
Sebagai saudara...
Mereka telah saling memahami.
Ling Yue menarik napas panjang.
Kemudian berbalik menghadap kawanan Binatang Iblis.
Suaranya terdengar lantang.
"Kak Tian Yu! Bawa semua orang pergi! Jangan berhenti sampai kalian bertemu Sekte Awan Langit!"
Tian Yu memejamkan mata.
Air mata mengalir di wajahnya.
Namun akhirnya ia mengangkat pedangnya.
"Semua ,, Terus bergerak!Jangan berhenti!"
Mei Lin memeluk Bai Hu.
Yun He yang hampir tidak mampu berdiri memaksa dirinya kembali berjalan.
Seluruh rombongan kembali berlari.
Bai Hu menoleh ke belakang.
"Kakak! Kakak cepat!!"
Ling Yue hanya tersenyum.
Ia mengangkat tangan.
Melambaikan tangan kepada adiknya.
Kemudian melangkah maju seorang diri.
Pedangnya terangkat perlahan.
Aura Qi mengalir memenuhi bilah pedang.
Di hadapannya...
Puluhan Serigala Taring Besi mulai menggeram.
Beruang Kulit Baja Tingkat 3 mengangkat kedua kaki depannya.
Ling Yue menarik napas.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi ketakutan.
Yang ada hanya tekad.
"Kalau kalian ingin mengejar keluargaku..."
"...kalian harus melewati mayatku terlebih dahulu."
Detik berikutnya...
Ia melesat maju.
Cahaya pedangnya menerangi hutan yang mulai gelap.
Sementara di kejauhan...
Tangisan Bai Hu terus terdengar memanggil nama kakaknya.
Namun langkah rombongan tidak berhenti.
Karena mereka semua tahu...
Setiap detik yang dibeli Ling Yue dengan nyawanya...
Adalah harapan agar keluarganya tetap hidup.
Bersambung
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut