Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Terasa Lebih Melegakan
"Kita rayakan kemenangan kasus hari ini dengan makan bakso berkuah pedas di sini saja."
Suara Maya terdengar lantang di tengah riuh lalu lintas Jakarta. Mahasiswi hukum itu menarik kursi plastik merah di bawah tenda terpal biru yang bergoyang pelan diterpa angin malam. Wajahnya berbinar. Beban yang menghimpitnya sejak persidangan tempo hari akhirnya lenyap.
Stefanus tersenyum tipis melihat tingkah rekan mudanya. Beberapa jam lalu, ia baru keluar dari sel tahanan. Anehnya, udara malam ibu kota yang penuh polusi terasa jauh lebih melegakan daripada aroma parfum di rumah utama Mahendra.
Ia menggeser kursinya lalu duduk. Pandangannya segera beralih ke sisi kiri.
Shaquena duduk tenang di kursi plastik reyot. Kemeja sutra mahal yang dikenakannya tampak kontras dengan meja kayu berlapis karpet minyak kusam di depan mereka. Meski begitu, tak sedikit pun rasa risih terlihat di wajahnya.
Shaquena mengambil sendok dan garpu dari wadah plastik. Dengan selembar tisu, ia membersihkan keduanya perlahan. Gerakannya tetap anggun, tenang, dan berkelas.
Stefanus memandangi wajah Shaquena beberapa saat. Bayangan ruang interogasi siang tadi kembali memenuhi pikirannya. Sebastian mengancam akan menghancurkan mereka. Pria licik itu berusaha menekan mereka dari segala arah.
Namun, Shaquena tidak bergeming. Ia memilih berdiri di sisi suaminya dan percaya sepenuhnya pada integritas Stefanus.
"Bapak pesan apa?" tanya pedagang paruh baya yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
"Bakso campur empat porsi, Pak," jawab Daniel cepat sebelum yang lain sempat bersuara. "Dua pedas, dua kuah bening."
Pedagang itu mengangguk lalu kembali ke gerobaknya. Begitu tutup panci besar dibuka, kepulan asap putih langsung mengepul. Aroma kaldu sapi yang gurih memenuhi udara dan membuat perut mereka yang belum makan sejak pagi semakin keroncongan.
Daniel menopang dagu di atas meja. Pemuda berkacamata itu menatap Maya dengan kagum.
"Kamu tadi benar-benar bikin ciut nyali di depan kamera, Maya," pujinya. "Wartawan yang menyerang kita sampai kehabisan kata-kata."
Maya mengangkat dagunya sambil tersenyum puas. Ia merapikan kerah kemeja putihnya.
"Fakta hukum tidak bisa dikalahkan asumsi murahan," balasnya. "Sebastian pikir dia bisa membeli semua kebenaran. Sayangnya, dia lupa jejak digital aliran uangnya tidak bisa dihapus begitu saja."
Stefanus hanya mendengarkan percakapan mereka. Ia sadar sesuatu yang besar baru saja dimulai. Aliansi kecil ini berhasil memenangkan pertarungan pertama melawan Mahendra Group. Kemenangan itu bukan dibeli dengan uang, melainkan diraih lewat kepercayaan.
Tidak lama kemudian, pedagang bakso datang membawa nampan berisi empat mangkuk yang masih mengepul.
"Awas panas, Mas, Mbak," katanya sambil meletakkan mangkuk satu per satu.
"Terima kasih, Pak." Daniel mengangguk sopan. Ia langsung menarik mangkuknya mendekat, lalu meraih botol sambal cabai hijau di tengah meja. Tanpa ragu, ia menuangkan tiga sendok penuh ke dalam kuah.
Maya membelalakkan mata melihat warna kuah Daniel berubah merah.
"Kamu mau makan bakso atau minum sambal?" tanyanya heran.
"Otakku butuh asupan pedas setelah meretas data bank internasional tadi pagi," jawab Daniel santai. Ia mengaduk kuahnya sampai merah pekat.
Stefanus terkekeh. Ia mengambil botol kecap manis dan menuangkan sedikit ke dalam mangkuknya.
Di sebelahnya, Shaquena mencicipi kuah bening dengan ujung sendok. Ia mengangguk pelan. Rasa gurih kaldunya langsung menghangatkan tubuh yang sejak tadi tegang.
"Enak?" tanya Stefanus lembut.
Shaquena menoleh lalu membalas tatapan suaminya.
"Sangat enak. Jauh lebih enak daripada sop ayam buatanku waktu itu."
Stefanus tertawa pelan.
"Aku tetap akan menghabiskan sop ayam buatanmu, seasin apa pun rasanya."
Mata Shaquena menyipit, menahan senyum. Ia menepuk pelan lengan Stefanus dengan punggung tangan. Sentuhan kecil itu terasa begitu alami. Jarak yang dulu membentang di antara mereka kini berganti menjadi kehangatan yang menenangkan.
Daniel dan Maya saling melirik. Senyum tipis terbit di wajah keduanya. Suasana tegang setelah konferensi pers siang tadi akhirnya benar-benar mencair.
"Tolong ambilkan kecapnya, Niel," pinta Maya sambil menunjuk botol kaca besar di dekat siku Daniel.
"Siap, Pengacara Hebat," goda Daniel.
Daniel langsung memutar badan untuk meraih botol itu. Namun, siku kanannya tanpa sengaja menyenggol botol kecap yang baru saja diletakkan Stefanus. Botol kaca itu oleng.
"Eh!" seru Daniel panik.
Ia buru-buru mencoba menangkapnya, tetapi terlambat. Botol itu jatuh ke samping. Kecap hitam kental tumpah dari mulut botol, mengalir melewati ujung meja, lalu mengenai jas abu-abu terang milik Stefanus.
Daniel langsung terpaku. Ia buru-buru berdiri sampai kursi plastiknya bergeser keras di atas aspal. Wajahnya seketika pucat saat melihat noda hitam sebesar telapak tangan menempel di jas mahal itu.
"Pak Stefanus, ya ampun!" ucapnya panik. Dengan tangan gemetar, ia meraih setumpuk tisu di atas meja. "Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya sama sekali tidak sengaja."
Maya buru-buru menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Wajah Daniel yang panik membuatnya tampak seperti anak kecil yang baru saja memecahkan barang kesayangan ibunya.
Stefanus menunduk menatap noda di jas abu-abunya. Jas itu baru dibelikan Shaquena minggu lalu.
Sementara itu, Daniel terus mengusap noda dengan tisu. Bukannya hilang, kecap manis itu malah semakin meresap dan melebar di kain jas. Kepanikan membuat otaknya yang biasanya tajam mendadak buntu.
"Kalau digosok terus begitu, malah makin parah, Niel," kata Maya. Kali ini tawanya mulai lepas.
"Aku panik, Maya!" sahut Daniel putus asa. Ia menatap Stefanus dengan wajah memelas. "Pak, potong saja gaji saya bulan ini buat biaya cuci jas itu."
Shaquena akhirnya tidak sanggup menahan tawa. Tawanya pecah di tengah keributan kecil itu, ringan dan lepas, sampai-sampai menutupi riuh kendaraan yang melintas.
Stefanus spontan menoleh ke arahnya. Sudah lama ia tidak melihat Shaquena tertawa sebebas ini di tempat terbuka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wanita itu tampak benar-benar melepaskan beban yang selama ini dipikulnya.
Stefanus menahan tangan Daniel yang masih sibuk mengusap jasnya dengan tisu.
"Sudah, Daniel. Jangan digosok lagi," katanya tenang. "Ini cuma jas. Besok juga bisa dicuci."
"Tapi ini pasti mahal, Pak."
Stefanus tersenyum tipis. "Harga jas tidak sebanding dengan kebebasan yang kalian berikan padaku hari ini."
Ia menepuk bahu Daniel pelan.
"Sekarang duduk. Habiskan baksomu sebelum kuahnya dingin."
Daniel menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak dimarahi, tidak pula diancam harus mengganti kerugian. Perlakuan Stefanus yang begitu tenang justru membuatnya semakin terharu. Setelah menarik napas panjang, ia kembali duduk.
Maya akhirnya tertawa lepas. Suasana yang sempat tegang karena insiden botol kecap itu langsung mencair.
Di bawah tenda terpal biru, mereka kembali menikmati bakso sambil mengobrol santai. Maya bercerita tentang dosen pembimbingnya yang sering membuatnya kesal. Daniel membalas dengan kisah-kisah lucu saat salah mengetik kode program hingga sistem komputernya mendadak mati total.
Stefanus memandangi satu per satu wajah orang-orang di sekelilingnya. Dadanya dipenuhi rasa syukur.
Bertahun-tahun ia makan di meja pualam berukir emas bersama keluarga besar Mahendra. Hidangan bernilai jutaan rupiah selalu tersaji, tetapi tak pernah menghadirkan kehangatan. Setiap makan malam terasa seperti ruang sidang, tempat seseorang menunggu giliran dihakimi.
Malam ini justru berbeda. Di warung tenda pinggir jalan yang ramai, dengan noda kecap masih menempel di jasnya, Stefanus akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini hilang. Sebuah keluarga. Orang-orang yang saling percaya dan siap menjaga satu sama lain saat bahaya datang.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga malam semakin larut. Gerimis mulai turun, membasahi jalanan Jakarta. Terpal biru di atas kepala mereka bergoyang pelan diterpa angin, menimbulkan bunyi yang berirama.
Di seberang jalan, sebuah MPV hitam terparkir di balik bayangan pohon besar. Mesinnya masih menyala. Kaca jendela penumpang bagian tengah terbuka beberapa sentimeter.
Perlahan, sebuah lensa telefoto panjang menyembul dari celah itu. Moncongnya bergerak pelan, lalu mengunci warung tenda biru sebagai sasaran.
Klik. Klik. Klik.
Suara rana kamera beruntun menyatu dengan rintik hujan dan deru kendaraan yang melintas.
nyaaaakk jg yaaa/Grin/