NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 perasaan vano

Begitu mobil meninggalkan kawasan rumah keluarga Mahendra, Nadia menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena semua masalahnya telah selesai, melainkan karena akhirnya ia mengatakan hal-hal yang selama ini terus ia pendam. Tidak ada lagi pertanyaan yang belum terjawab. Tidak ada lagi alasan untuk kembali menoleh pada masa lalu yang hanya meninggalkan luka.

Di sampingnya, Revano sesekali melirik ke arah Nadia yang terlihat jauh lebih tenang dibanding saat datang tadi. Meskipun mata wanita itu masih menyimpan kelelahan, ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresinya. Seolah beban yang selama ini menekan pundaknya perlahan mulai terangkat.

"Kamu terlihat lebih lega."

ucap Revano sambil tetap fokus mengemudi.

Nadia tersenyum kecil.

"Mungkin karena akhirnya semuanya benar-benar selesai."

jawabnya pelan.

Revano mengangguk memahami.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Tidak mencoba mengorek luka yang baru saja Nadia hadapi.

Karena terkadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk bernapas setelah melalui hari yang berat.

Beberapa menit kemudian Nadia mulai menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bukan arah menuju rumah Vania.

Ia menoleh dengan bingung.

"Kita mau ke mana?"

tanyanya.

Senyum tipis muncul di wajah Revano.

"Ke suatu tempat."

jawabnya santai.

Nadia menghela napas pelan.

Entah mengapa pria itu selalu berhasil membuatnya mengikuti alur pembicaraan tanpa banyak protes.

Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di sebuah pantai yang tidak terlalu ramai. Matahari mulai turun perlahan di ufuk barat, mewarnai langit dengan semburat jingga keemasan yang memantul indah di permukaan laut.

Begitu turun dari mobil, Nadia langsung merasakan hembusan angin laut yang sejuk menyentuh wajahnya.

Untuk sesaat ia hanya berdiri diam.

Menatap hamparan laut yang luas tanpa batas.

Suara ombak yang datang silih berganti terdengar begitu menenangkan.

Tidak ada gosip.

Tidak ada perselingkuhan.

Tidak ada pertengkaran keluarga.

Hanya suara alam yang sederhana namun mampu membuat hati perlahan tenang.

Revano berjalan beberapa langkah di sampingnya.

Keduanya menyusuri bibir pantai dengan langkah santai.

Tidak ada pembicaraan penting.

Tidak ada topik berat.

Mereka hanya berjalan menikmati sore yang perlahan berubah menjadi senja.

Tanpa sadar Nadia menarik napas panjang.

Udara asin khas laut memenuhi paru-parunya.

Rasanya seperti pertama kali setelah sekian lama ia bisa bernapas dengan lega.

"Dulu aku sering ke pantai kalau sedang banyak pikiran."

ucap Revano tiba-tiba.

Nadia menoleh.

"Kenapa?"

Pria itu memandang lautan di depan mereka.

"Karena laut tidak pernah bertanya kenapa kita sedih."

jawabnya pelan.

"Laut hanya ada."

Nadia terdiam beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa terasa menenangkan.

Matahari semakin turun.

Cahaya jingga perlahan berubah menjadi keemasan lembut yang menyelimuti pantai.

Angin sore membuat rambut Nadia bergerak pelan mengikuti arah hembusan udara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum yang muncul di wajahnya tidak dipaksakan.

Revano memperhatikan hal itu diam-diam.

Dan tanpa sadar dirinya ikut tersenyum.

Karena sejak mengenal Nadia, hampir setiap kali ia melihat wanita itu, yang terlihat hanyalah kesedihan, kelelahan, atau usaha untuk terlihat kuat.

Hari ini berbeda.

Hari ini Nadia terlihat lebih hidup.

"Aku akan pindah ke Surabaya sebentar lagi."

ucap Nadia sambil memandang laut.

Senyum Revano sedikit memudar.

Namun ia sudah menduga hal itu sejak awal.

"Ya."

jawabnya pelan.

"Aku tahu."

Keheningan kembali hadir.

Namun kali ini terasa nyaman.

Nadia menatap garis cakrawala yang perlahan berubah warna.

Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih belum terlihat perubahan apa pun.

Di dalam sana ada kehidupan kecil yang akan menjadi alasan baru baginya untuk terus maju.

Dan untuk pertama kalinya sejak perceraiannya, Nadia merasa bahwa mungkin kehidupannya belum berakhir.

Mungkin masih ada banyak hal yang menunggunya di depan.

Mungkin masih ada kebahagiaan yang belum sempat ia temui.

Sementara tidak jauh darinya, Revano memandang wanita itu dengan perasaan yang semakin sulit ia abaikan, menyadari bahwa sore di tepi pantai tersebut bukan hanya membantu Nadia melepaskan masa lalunya, tetapi juga menjadi awal dari sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam hatinya sendiri.

Langit di atas pantai perlahan berubah menjadi gelap. Cahaya senja yang tadi menyelimuti lautan kini berganti dengan warna kebiruan yang tenang. Ombak masih datang dan pergi tanpa henti, membawa suara yang menenangkan di tengah keheningan yang tercipta di antara Nadia dan Revano.

Mereka duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap laut.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Nadia menikmati angin yang membelai wajahnya, sementara Revano terlihat sedang memikirkan sesuatu sejak tadi.

Akhirnya pria itu menghela napas panjang.

"Nadia."

panggilnya pelan.

Nadia menoleh.

"Hm?"

Revano tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu terlihat berbeda. Tidak seperti biasanya yang santai dan penuh candaan. Ada keseriusan yang membuat Nadia perlahan mengernyit.

"Aku tidak pandai menyembunyikan perasaan."

ucapnya jujur.

Nadia mulai merasa tidak nyaman.

Entah kenapa ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.

Revano memandang lautan beberapa detik sebelum kembali menatap Nadia.

"Aku menyukaimu."

katanya akhirnya.

Suara ombak seolah menghilang dari pendengaran Nadia.

Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa mampu langsung memberikan jawaban.

"Aku tahu waktunya tidak tepat."

lanjut Revano.

"Aku juga tahu kamu sedang melalui banyak hal."

"Tapi aku tidak ingin menyesal karena diam."

Mata Nadia perlahan menunduk.

Jantungnya berdegup tidak teratur.

"Aku tidak peduli dengan masa lalumu."

ucap Revano.

"Aku tidak peduli kalau kamu pernah menikah."

"Aku juga tidak peduli kalau sekarang kamu sedang mengandung."

Tatapannya tetap hangat.

Tidak ada rasa kasihan di sana.

Tidak ada keraguan.

"Aku hanya peduli pada Nadia."

lanjutnya.

"Wanita yang tetap berdiri meski hidupnya berkali-kali menjatuhkannya."

Untuk sesaat Nadia tidak mampu berkata apa-apa.

Karena setelah semua pengkhianatan dan rasa sakit yang ia alami, mendengar seseorang mengungkapkan perasaan dengan begitu tulus justru terasa asing.

"Aku bahkan berharap kamu tidak jadi pergi ke Surabaya."

ucap Revano pelan.

"Sekali ini saja, aku ingin egois."

Nadia memejamkan mata beberapa saat.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena marah.

Bukan karena tidak suka.

Justru karena ia tahu Revano adalah pria baik.

Perlahan Nadia menoleh ke arahnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Vano."

ucapnya pelan untuk pertama kalinya memanggil pria itu dengan nama yang lebih akrab.

Senyum kecil muncul di wajah Revano mendengar panggilan itu.

Namun senyum tersebut perlahan memudar saat melihat ekspresi Nadia.

"Aku berterima kasih."

ucap Nadia jujur.

"Sungguh."

Tangannya perlahan menggenggam perutnya sendiri.

Gerakan kecil yang membuat Revano terdiam.

"Tapi aku belum bisa."

lanjut Nadia.

Angin laut berhembus membawa rambut panjangnya bergerak perlahan.

"Aku baru saja bercerai."

Suara Nadia mulai bergetar.

"Aku baru saja mengetahui pengkhianatan suamiku."

"Aku bahkan masih mencoba menerima kenyataan bahwa aku akan membesarkan anak ini sendirian."

Air mata mulai memenuhi matanya.

"Setiap hari aku masih berusaha mengobati diriku sendiri."

katanya lirih.

"Aku belum selesai dengan luka yang ada."

Revano hanya diam mendengarkan.

"Aku seorang janda."

lanjut Nadia.

"Sebentar lagi aku menjadi ibu."

"Aku tidak punya keberanian untuk membuka hati lagi sekarang."

Kalimat itu terasa begitu jujur.

Begitu rapuh.

Karena untuk pertama kalinya Nadia memperlihatkan ketakutan yang selama ini disembunyikannya.

"Aku takut."

akuinya.

"Aku takut mempercayai seseorang lagi."

"Aku takut berharap lagi."

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Revano merasakan dadanya ikut sesak melihat wanita itu menangis.

Namun ia tidak marah.

Tidak kecewa.

Justru ia semakin memahami betapa dalam luka yang sedang Nadia bawa.

Setelah beberapa saat terdiam, pria itu tersenyum kecil.

Senyum yang hangat dan tenang.

"Kalau begitu jangan terima aku sekarang."

ucapnya.

Nadia mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku tidak meminta jawaban hari ini."

lanjut Revano.

"Aku juga tidak meminta kamu melupakan masa lalu secepat itu."

Tatapannya begitu lembut hingga membuat Nadia terdiam.

"Sembuhkan dirimu dulu."

katanya pelan.

"Jaga dirimu."

"Jaga anakmu."

Kemudian ia tersenyum.

"Aku bisa menunggu."

Air mata Nadia kembali jatuh.

Namun kali ini bukan karena kesedihan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang tidak memaksanya untuk segera kuat.

Tidak memaksanya untuk segera mencintai.

Dan tidak memaksanya untuk segera melupakan luka.

Di bawah langit malam yang mulai dipenuhi bintang, keduanya kembali memandang laut yang terbentang luas di depan mereka.

Belum ada awal yang baru.

Belum ada jawaban.

Namun untuk pertama kalinya, Nadia merasa bahwa mungkin di masa depan nanti, ketika luka itu telah sembuh dan hatinya telah tenang, ia bisa mencoba membuka pintu yang selama ini tertutup rapat sekali lagi.

Nadia terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban Revano. Angin malam terus berhembus membawa aroma laut yang khas, sementara suara ombak memecah kesunyian di antara mereka. Entah mengapa, kata-kata pria itu terasa jauh lebih menenangkan dibanding berbagai janji yang pernah ia dengar sebelumnya.

Karena Revano tidak memintanya memilih.

Tidak memintanya melupakan masa lalu.

Tidak memintanya segera membuka hati.

Pria itu hanya memberinya waktu.

Revano memandang lautan yang gelap di depan mereka sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Senyum yang terlihat tenang dan penuh keyakinan.

"Aku serius dengan apa yang kukatakan tadi."

ucapnya pelan.

Nadia menoleh.

Tatapannya masih dipenuhi keraguan.

"Vano..."

Namun pria itu menggeleng perlahan.

Seolah sudah mengetahui apa yang ingin Nadia katakan.

"Aku tahu kamu takut."

ucapnya.

"Aku juga tahu mungkin saat ini tidak ada tempat untukku di hatimu."

Tatapannya kemudian beralih kepada Nadia.

Lembut.

Hangat.

Dan tidak sedikit pun memaksa.

"Tapi aku tidak keberatan menunggu."

lanjutnya.

Nadia menundukkan kepala.

Dadanya terasa sesak.

"Aku mungkin akan kembali ke Surabaya."

ucapnya pelan.

"Mungkin kita jarang bertemu."

"Mungkin aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu."

Revano tersenyum tipis.

"Dan mungkin suatu hari nanti kamu akan berubah pikiran."

jawabnya santai.

Nadia menghela napas pelan.

Pria itu benar-benar keras kepala.

"Bagaimana kalau butuh waktu sangat lama?"

tanyanya.

"Bagaimana kalau bertahun-tahun?"

Revano tertawa kecil.

Suara tawanya bercampur dengan suara ombak yang datang silih berganti.

"Kalau begitu aku akan menunggu bertahun-tahun."

jawabnya tanpa ragu.

Nadia langsung menatapnya.

Mencari keraguan di wajah pria itu.

Namun tidak menemukan apa pun.

"Aku tidak sedang berlomba dengan waktu."

lanjut Revano.

"Aku juga tidak sedang memaksamu memilihku."

Pria itu menatap langit malam di atas mereka.

"Bukankah hal baik memang layak ditunggu?"

Kalimat sederhana itu membuat hati Nadia bergetar.

Selama ini ia selalu menjadi orang yang menunggu.

Menunggu Adrian berubah.

Menunggu pernikahannya membaik.

Menunggu kebahagiaan yang tidak pernah datang.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memilih berada di posisi itu demi dirinya.

Revano tersenyum kecil.

"Kalau satu tahun belum cukup, aku tunggu dua tahun."

katanya ringan.

"Kalau dua tahun belum cukup, aku tunggu lima tahun."

Nadia menggeleng pelan sambil tertawa kecil di tengah air mata yang mulai menggenang.

"Kamu bodoh."

gumamnya.

Revano justru ikut tertawa.

"Mungkin."

jawabnya.

"Tapi aku tidak pernah menyesal menyukai seseorang."

Mata Nadia kembali memanas.

Entah karena terharu atau karena hatinya yang selama ini terlalu lama terluka.

"Aku membawa banyak masalah."

ucap Nadia jujur.

"Aku hamil."

"Aku memiliki masa lalu yang berantakan."

"Aku bahkan belum bisa mencintai siapa pun sekarang."

Revano mendengarkan semuanya tanpa menyela.

"Kalau suatu hari nanti anakmu lahir."

ucapnya pelan.

"Aku tidak akan melihatnya sebagai masalah."

Nadia membeku.

"Aku tahu aku bukan ayahnya."

lanjut Revano.

"Tapi itu tidak mengubah apa pun tentang perasaanku padamu."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi Nadia.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dihargai bukan karena kesempurnaannya.

Bukan karena kariernya.

Bukan karena statusnya.

Melainkan karena dirinya sendiri.

Dengan seluruh luka, ketakutan, dan kekurangannya.

Malam semakin larut.

Lampu-lampu di sepanjang pantai mulai menyala satu per satu.

Sementara mereka tetap duduk di sana, ditemani suara ombak yang tak pernah berhenti.

Dan di dalam hati Nadia yang selama ini dipenuhi kegelapan, untuk pertama kalinya muncul secercah harapan kecil.

Belum cukup besar untuk disebut cinta.

Belum cukup kuat untuk menghapus masa lalu.

Namun cukup untuk membuatnya percaya bahwa tidak semua orang akan meninggalkannya ketika keadaan menjadi sulit.

Karena di sampingnya saat itu ada seorang pria yang dengan tenang memilih bertahan, bahkan ketika ia belum dijanjikan apa pun sebagai balasannya.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!