Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Untuk Feri
Genggaman sendok di tangan Bu Nini semakin kuat. Kinara yang duduk berhadapan dengannya bisa merasakan ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi dalam cerita itu—sebuah beban masa lalu yang menimpa Renald sejak kecil.
Bu Nini kembali melanjutkan dengan suara bergetar. “Non, untuk pertama kalinya saya melihat Tuan membawa seorang wanita ke rumah ini. Meskipun sikap Tuan dingin dan cuek, tapi saya tahu Nona adalah wanita yang sangat dicintai oleh Tuan Renald."
Kalimat yang diutarakan oleh Bu Nini membuat Kinara terdiam. Selanjutnya ia hanya bisa tersenyum masam. Andai saja wanita yang didepannya ini tahu sebenarnya apa yang terjadi, tidak mungkin ia akan mengatakan hal ini.
"Saya hanya ingin meminta… tolong sayangi dan cintai Tuan Renald dengan setulus hati ya Non. Mamanya sudah pergi meninggalkannya sejak ia masih bayi. Dari kecil hingga dewasa, saya melihat sendiri bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia berusaha menutupi kesedihan dengan sikap dingin dan keras. Hati saya sakit jika ia harus kembali dikecewakan oleh orang-orang di sekitarnya.” Lanjut Bu Nini.
Tangannya yang keriput terulur, menyentuh telapak tangan Kinara. Tatapan matanya sungguh-sungguh, seolah menitipkan seluruh harapan pada gadis muda itu.
Kinara hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Baginya, sulit untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin juga ia menceritakan semuanya sekarang.
Mereka kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Tidak ada lagi percakapan panjang. Hanya bunyi sendok dan piring yang beradu pelan. Masing-masing larut dalam pikirannya.
Bu Nini menyimpan banyak hal tentang masa kecil Renald—hal-hal yang bahkan belum ia ceritakan pada Kinara. Karena bagaimanapun juga hanya dialah satu-satunya orang yang bertahan selama puluhan tahun di sekitar Renald.
Sementara itu di kantor, Renald tampak tidak tenang. Bolak-balik ia menatap jam tangannya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan.
Feri, asisten sekaligus teman dekatnya, memperhatikan tingkah itu dengan keheranan. Di meja kerja Renald, tumpukan berkas perusahaan menggunung menambah sesak suasana.
“Sialan… ini kapan selesainya? Aargh!” Renald mengumpat keras, membuat Feri refleks menegakkan tubuhnya.
“Bos, Anda baik-baik saja?” Feri memberanikan diri membuka suara, meski ketakutan jelas tergambar di wajahnya.
Renald menoleh cepat dengan tatapan tajam. “Apakah matamu melihatku baik-baik saja, hah?” Bentaknya.
Feri menelan ludah. “Kali ini apa lagi salahku…” Batinnya gusar.
“B-Bos…” ucapnya terbata-bata.
Renald mendengus kesal. “Nyalimu cukup besar ya, Feri. Siapa yang menyuruhmu meletakkan semua berkas ini di mejaku? Mengapa banyak sekali yang harus kutandatangani, hah!”
Dengan wajah pucat, Feri menjawab lirih, “T-tapi Bos… itu semua hanya butuh tanda tanganmu. Semalam saya ingin mengantarkan berkas itu ke rumah, tapi—”
“Diam!!!” potong Renald dengan suara menggelegar. Tangannya menghantam meja, membuat tumpukan kertas bergetar. “Kau tahu, gara-gara ini aku tidak bisa pulang lebih cepat! Kinara masih ada di rumahku!”
Feri terperangah. “Apa aku tidak salah dengar? Kinara? Apa hubungannya tanda tangan berkas dengan Kinara…” Batinnya kian bingung.
Namun setelah merenung sebentar, ia akhirnya mengerti. Renald ingin segera pulang untuk menemui Kinara. Karena Feri menyerahkan tumpukan berkas ini, rencana itu tertunda.
“Apakah begini orang kalau sudah jatuh cinta?” Pikir Feri heran. Renald yang biasanya gila kerja, kini tampak kesal hanya karena urusan tanda tangan.
Renald menatap Feri dengan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk berdiri. “Setelah semuanya kutandatangani, kau yang bertugas memberi makan hewan peliharaanku.”
“Ya Tuhan…” Lirih Feri. Ingin rasanya ia menangis di tempat, tapi ia tahu menangis hanya akan menambah hukumannya.
Dengan suara gemetar, ia hanya bisa menjawab, “Baik, Tuan.”
Bagi orang lain, mungkin memberi makan hewan peliharaan terdengar ringan. Tapi tidak untuk Feri. Hewan yang dimaksud adalah dua ekor harimau kesayangan Renald. Mendekat saja ia tidak berani, apalagi memberi makan.
Pernah ia mendengar cerita, orang yang biasanya bertugas memberi makan harimau milik Renald itu hampir kehilangan nyawa karena terlambat memberi makan. Tangannya sobek akibat gigitan. Jika yang terbiasa saja bisa celaka, bagaimana dengan dirinya? Feri bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Renald terus berkutat dengan tumpukan berkas. Satu jam lebih ia menandatangani tanpa henti. Setelah semuanya selesai, ia berdiri, meraih jas yang tergantung di sofa.
Tanpa menoleh, ia berkata dingin, “Jangan lupa tugasku tadi!”
Feri hanya bisa mengangguk lemas, menahan napas panjang.
•••
Rumah pribadi Renald akhirnya terlihat. Mobil yang membawanya masuk melewati pagar besar yang sudah dibuka satpam.
Begitu turun, Renald melangkah cepat ke dalam rumah. Entah mengapa, perasaan ingin segera bertemu Kinara begitu kuat. Seharian tidak melihat gadis itu di kantor membuatnya merasa ada yang hilang.
“Bu Nini! Bu!” Panggilnya setengah berteriak dari ruang tengah.
Segera Bu Nini keluar dari dapur. “Iya Tuan, ada apa?”
“Kinara di mana?” Tanyanya cepat.
“Non Kinara tadi bilang bosan di kamar, jadi ia minta izin jalan-jalan dekat kolam ikan di belakang, Tuan.”
“Oh ya sudah. Tapi Kinara sudah makan, kan, Bu?”
“Sudah, Tuan.”
“Kalau begitu aku susul dia ke belakang.” Renald langsung melangkah pergi.
Di taman belakang, Kinara duduk manis di gazebo, menatap tenang ke arah kolam ikan. Angin sore yang lembut membuat rambutnya bergoyang perlahan.
Renald berhenti sejenak, memperhatikannya dari kejauhan. Ada desiran aneh di dadanya. Pandangan itu menenangkan, tapi sekaligus membuatnya ingin mendekat cepat-cepat.
Langkahnya teratur, tidak terburu-buru. Hingga akhirnya jarak mereka tinggal beberapa jengkal. Dorongan untuk memeluk Kinara dari belakang sempat muncul, namun ia urungkan.
Ia hanya berdehem pelan. “Ehem.”
Kinara menoleh. “Oh Renald, kau sudah pulang?”
“Kalau aku belum pulang, menurutmu siapa yang berdiri di depanmu sekarang? Hantu?” Jawab Renald ketus.
Kinara memutar bola mata malas. Selalu saja ada debat dari pria ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Renald lagi.
“Tadi selesai makan aku bosan di kamar, jadi jalan-jalan sebentar lalu duduk di sini lihat ikan-ikan.” Jawab Kinara santai.
“Sekarang masih bosan?”
“Udah enggak.” Kinara menggeleng perlahan.
“Kenapa? Apa karena sudah ada aku di sampingmu?” Ucap Renald penuh percaya diri.
Kinara langsung bergidik. Ia tak habis pikir, bagaimana sosok yang ditakuti banyak orang di kantornya itu bisa bicara seperti ini.
“Ya enggaklah. Coba kamu lihat ikan-ikan itu… enak ya jadi mereka.”
Renald mengernyit. “Kenapa kamu bilang begitu?”
“Ya, enak saja. Mereka punya banyak teman, keluarga, bisa berenang bebas ke sana kemari. Nggak perlu kerja keras, dan makanan mereka pun selalu disiapkan oleh orang yang memelihara.”
Ucapan sederhana itu membuat Renald terdiam. Ada sesuatu dalam kalimat Kinara yang menyentuh, meski disampaikan ringan. Pandangannya kemudian menatap ke wajah gadis itu lebih lama.