Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Fajar belum sepenuhnya pecah di ufuk timur, namun langit malam yang pekat perlahan berubah menjadi abu-abu kebiruan. Di dalam mobil dinas yang terparkir di bawah pohon mangga, suasana sunyi kini terasa berbeda. Tidak ada lagi rasa sesak yang mencekam, hanya ada kelelahan yang luar biasa yang menggelayuti pundak Letnan Tian dan Siska.
Tian menyandarkan kepalanya ke setir mobil. Napasnya masih terengah-engah. Kemeja dinasnya di bagian lengan kanan sudah robek, memperlihatkan tiga bekas luka cakar. Darah segar mengalir dari luka tersebut, membasahi sebagian kain seragamnya. Meskipun perih, Tian bersyukur cakar makhluk itu tidak sampai merobek urat nadinya.
Di sampingnya, Siska duduk memeluk lutut. Tubuhnya masih sedikit gemetar, sisa dari ketegangan beberapa menit lalu saat dia melempar korek api ke ari-ari gaib itu. Tatapannya kosong menatap dasbor mobil.
"Letnan Tian..." suara Siska serak, memecah keheningan. "Lengan Letnan harus segera diobati. Darahnya keluar terus. Di mobil ada kotak P3K?"
Tian menoleh, mencoba tersenyum meskipun wajahnya lelah. "Hanya luka luar, Neng. Sobek biasa karena kuku tajam. Yang penting kita sudah menyelesaikan bagian tersulitnya. Iblis itu sudah hancur."
Namun, mengemudikan mobil dengan satu tangan yang terluka tentu bukan hal yang mudah. Gerakan Tian terasa kaku dan menahan perih setiap kali harus menggerakkan lengan kanannya. Sebagai seorang letnan yang sejak awal berniat tulus melindungi gadis ini, Tian mengabaikan rasa sakitnya demi memastikan Siska benar-benar aman.
Baru saja Tian hendak memutar kunci kontak untuk menyalakan mesin mobil, tiba-tiba kaca jendela di samping Siska diketuk dari luar.
Tok... Tok... Tok...
Siska tersentak kaget. Namun, rasa takutnya langsung sirna saat melihat wajah di balik kaca. Dalam remang-remang cahaya subuh, berdiri Pak Cahyo, tetangga depan rumahnya. Lelaki tua itu mengenakan kemeja batik usang dengan sarung yang tersampir di pundaknya. Wajahnya tampak sangat lega.
"Jangan takut, Neng, Nak Tian..." suara Pak Cahyo terdengar dari balik kaca, sangat tenang.
Tian menurunkan kaca mobil. "Pak Cahyo? Kenapa Bapak ada di luar?" tanya Tian heran, mengingat sejak malam tadi seluruh gang tampak mati total.
Pak Cahyo mengangguk pelan, lalu menunjuk lengan Tian yang bersimbah darah. "Buka pintunya, Nak. Kamu tidak akan nyaman menyetir dengan lengan terluka seperti itu. Ayo bawa mobilnya ke rumah Bapak saja, biar kita obati di sana."
Tanpa banyak bicara, Siska langsung keluar dan membukakan pintu. Pak Cahyo mengambil alih kemudi, lalu perlahan menjalankan mobil melintasi jalan gang yang sempit, lalu memarkirkannya langsung di halaman rumahnya sendiri yang berada tepat di seberang rumah Siska.
Begitu masuk ke dalam rumah Pak Cahyo, Siska membantu Letnan Tian untuk duduk di sebuah kursi panjang dari kayu jati yang ada di ruang tamu.
"Neng Siska, ambilkan air bersih di baskom dapur Bapak. Kita bersihkan dulu darah di lengan nak Tian ini," perintah Pak Cahyo dengan nada kebapakan.
Siska yang sudah hafal dengan letak rumah tetangganya itu langsung bergerak sigap ke dapur. Setelah baskom air dan kain bersih siap, Pak Cahyo mulai membersihkan sisa-sisa darah di lengan Tian dengan hati-hati.
Lelaki tua itu kemudian mengambil sejumput daun obat yang sengaja ditanam di pekarangan rumahnya, lalu menumbuknya kasar. "Perih sedikit ya, Nak Tian. Ini luka cakar biasa, untung tidak terlalu dalam. Setelah dibersihkan dan dibalut perban, besok lusa juga sudah mulai kering," ucap Pak Cahyo sambil merapikan balutan kain kasa di lengan Letnan itu.
Tian menghela napas panjang, rasa perihnya perlahan berkurang. "Terima kasih banyak, Pak Cahyo. Maaf kalau kami jadi merepotkan subuh-subuh begini."
Pak Cahyo membasuh tangannya di baskom, lalu berjalan ke dapur. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan membawa dua gelas teh manis hangat yang mengepulkan asap tipis.
"Minum dulu, Neng Siska, Nak Tian. Biar tenaganya pulih," kata Pak Cahyo sambil menyodorkan gelas-gelas tersebut.
Siska menerima gelas itu, namun matanya berkaca-kaca. Rasa sesak di dadanya kembali mencuat saat teringat badai yang menimpa keluarganya.
"Pak... semuanya benar-benar hancur," bisik Siska, suaranya bergetar menahan tangis. "Kak Ferdi... Kak Ferdi sudah meninggal, Pak. Dia jadi korban keganasan teror ini setelah Mbak Selfi menemukan cincin pesugihan terkutuk itu di rumah yang mas Ferdi beli . Saya kehilangan kakak saya.. kehilangan kakak ipar saya dan keponakan saya pak ."
Air mata Siska akhirnya tumpah. Letnan Tian yang duduk di sebelahnya menatap iba, dia mengangguk pelan memberikan dukungan emosional kepada gadis yang telah berjuang sangat keras itu.
Pak Cahyo menghela napas panjang, wajah tuanya tampak dipenuhi rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Beliau duduk di kursi seberang mereka, menatap Siska dengan pandangan teduh namun penuh penyesalan.
"Bapak tahu, Neng. Bapak tahu betapa beratnya penderitaan keluargamu," kata Pak Cahyo dengan suara berat. "Bapak minta maaf karena selama ini hanya bisa diam ."
Siska mengusap air matanya, lalu menatap Pak Cahyo dengan lekat. "Pak Cahyo, tolong jelaskan pada kami. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu tiga puluh tahun yang lalu? Saya tahu Bapak bukan sekadar tetangga biasa. Bapak tahu banyak hal tentang Pak Broto, kan?"
Pak Cahyo terdiam sejenak. Beliau menatap kedua tangannya yang sudah keriput, lalu mengangguk pelan.
"memang benar, Neng. Tiga puluh tahun lalu, sebelum rumah nomor 14 itu menjadi rumah kosong yang terkutuk... Bapak adalah tukang kebun di sana. Bapak bekerja langsung untuk Pak Broto."
Mendengar hal itu, Letnan Tian langsung memosisikan duduknya lebih tegak, menyimak dengan serius.
"Pak Broto itu dulu orang yang baik ,namun karna keinginan nya untuk memiliki anak dan kekayaan membuat pak Broto,mengubah jalannya," cerita Pak Cahyo dengan suara lirih, mengenang masa lalu. "Dia bersekutu dengan kekuatan hitam untuk mempertahankan kekayaannya lewat pesugihan cincin darah. Perjanjiannya sangat kejam. Salah satu syarat utamanya adalah mengorbankan ari-ari anak kandungnya sendiri, dimasukkan ke dalam bungkusan kain mori hitam, dan ditanam hidup-hidup di bawah pondasi rumah untuk menjadi sumber kekuatan gaib si iblis."
Pak Cahyo mengambil napas dalam-dalam, seolah ingatan masa lalu itu kembali membebani pikirannya.
"Saat ritual itu dilakukan tiga puluh tahun lalu, Bapak tidak sengaja melihatnya dari balik jendela kaca kamar utama. Bapak melihat bagaimana ari-ari itu diritualkan hingga terus berdenyut seperti makhluk hidup. Bapak sangat ketakutan, Neng. Tapi Bapak hanyalah seorang tukang kebun miskin yang tidak punya kuasa apa-apa. Bapak memilih keluar dari pekerjaan itu dan pindah ke rumah depan ini, mencoba melupakan semuanya."
"Lalu, kenapa Bapak tidak membuang atau menghancurkan cincin itu setelah Pak Broto meninggal?" tanya Letnan Tian.
"Tidak ada yang berani, Nak Tian. Setelah keluarga Pak Broto habis tersapu kutukan mereka sendiri, cincin itu tertinggal di sana, dijaga ketat oleh perwujudan gaib ari-ari tersebut, yaitu bayi yang merasuki keponakan mu. Siapa pun yang berani mengusik rumah itu, akan bernasib tragis. Sampai akhirnya... Mbak Selfi datang dan tidak sengaja menemukan cincin itu."
Pak Cahyo menatap Siska dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi malam ini, keberanianmu dan ketulusan Nak Tian untuk membantumu benar-benar di luar dugaan Bapak. Kamu nekat membakar ari-ari itu, Neng. Dan kamu harus tahu, tanpa ari-ari yang menjadi sumber kekuatannya, cincin darah yang tersisa di luar sana sekarang hanyalah sebongkah logam biasa yang sudah mati. Kutukan keluarga kalian, dan teror yang merenggut Kak Ferdi serta Mbak Selfi, sudah putus malam ini."
Siska mendongak, menatap ke arah jendela luar. Cahaya matahari pagi kini sudah menyinari gang mereka dengan sangat terang, mengusir sisa-sisa kegelapan yang selama puluhan tahun mendekam di sana. Meskipun rasa kehilangan atas Ferdi tidak akan pernah hilang, Siska merasakan sebuah kebebasan yang nyata berkat bantuan dari Letnan Tian.
"Kalian istirahatlah di sini," kata Pak Cahyo sambil berdiri dengan perlahan. "Matahari sudah tinggi, Neng. Kegelapan di rumah depan sudah kalah, dan kalian sudah berhasil menang."