Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Tanpa Jejak
Tubuh Kenzo meluncur ke bawah kemudian tercebur ke lautan. Hempasan ombak segera menelan tubuhnya hingga tak terlihat lagi.
Kael berlari cepat. Dua agen SIV yang berusaha menghalanginya langsung dihajar Kael. Hector datang membantu hingga pria itu bisa terus mendekati bibir tebing.
Ketika melewati Caelen, Kael menendang tangan Caelen yang mengarahkan pistol padanya. Seketika pistol di tangan Caelen terjatuh.
Kael menendang paha Caelen tepat di bagian yang ditembak Kenzo tempo hari. Secepatnya Kael segera berlari menuju bibir tebing. Pria itu melihat ke bawah, tapi tidak menemukan sosok Kenzo. “AYAAAHHH!”
Teriakan kencang Kael terdengar bergema tetapi hanya dijawab dengan desiran angin dan hempasan ombak ke dinding tebing.
Dua agen SIV yang tadi dijatuhkan oleh Kenzo perlahan bangkit.
Tidak mendapat Kenzo di bawah, Kael langsung menoleh pada dua agen SIV di dekatnya. Tanpa basa-basi pria itu langsung melampiaskan kemarahannya, dia menghajar kedua agen tersebut secara membabi buta.
Bukan hanya Kael, Hector pun kalap. Dua agen SIV yang menghadang Kael sudah dibuat tidak berdaya. Tubuh kedua agen tersebut terkulai tidak berdaya. Wajah keduanya sudah tak lagi dapat dikenali. Bahkan beberapa tulang di tubuh mereka ada yang patah.
Hanya Sergio yang terpaku di tempatnya. Bagaimanapun juga mereka adalah rekannya di SIV. Tidak mungkin dia melawan rekannya sendiri.
Dua agen SIV dibuat tidak berkutik oleh Kael. Pria itu mengamuk setelah melihat ayah angkatnya terjatuh dan lenyap ditelan ombak. Setelahnya dia mendekati Caelen, orang yang paling berkontribusi atas jatuhnya Kenzo.
Caelen terduduk sambil memegangi pahanya yang masih terasa nyeri akibat tendangan Kael tadi. Kael mendekat sambil mengambil pistol dari balik pinggangnya. Begitu berada di depan Caelen, pria itu langsung mengokang senjatanya.
“Mata untuk mata, nyawa untuk nyawa!”
Setelah mengatakan itu, Kael langsung menembakkan senjatanya. Timah panas itu melesat dan menembus kening Caelen. Tubuh pria itu langsung jatuh terkulai, tidak bernyawa.
Mata Sergio membelalak, tidak menyangka kalau Kael akan melakukan itu. Bukan hanya Sergio, tapi agen SIV lain pun ikut dibuat terkejut.
“Hector! Ayo kita cari Ayah!”
Hector langsung menuju mobilnya bersama dengan Kael. “Sergio! Kamu ikut atau tidak?!” teriak Hector dari balik kemudi. Dengan cepat Sergio berlari menuju mobil.
Hector melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah bagian bawah tebing. Sesampainya di sana, Kael langsung berlari. Dia menyelam masuk ke dalam air, mencari keberadaan Kenzo.
Hector dan Sergio pun melakukan yang hal sama, tetapi jejak Kenzo tidak ditemukan.
“Kita berpencar saja. Mungkin tubuhnya terseret arus,” usul Hector.
Kael langsung menyetujui usulan Hector. Ketiganya segera berpencar. Sesekali terdengar gema suara mereka memanggil nama Kenzo.
Sampai hari gelap, pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Sosok Kenzo seakan lenyap ditelan lautan. Kael jatuh terduduk di atas pasir. Pandangannya tampak kosong, menatap ombak yang bergulung di depannya. “Ayah,” gumamnya pelan.
Pria itu kembali berdiri, dia harus menemukan Kenzo bagaimanapun juga. jika tidak, bagaimana dia akan berhadapan dengan Nisa, Alya, Abi dan Armin. Dengan suara serak, Kael terus memanggil Kenzo. “AYAAH!”
Pencarian hari itu tidak membuahkan hasil. Hector mengajak Kael dan Sergio mencari tempat beristirahat. Besok mereka akan kembali mencari. Hector akan meminta bantuan teman-temannya untuk mencari keberadaan Kenzo.
***
Keesokan harinya pencarian dilanjutkan. Ketiganya kembali ke lokasi kejadian, ditambah beberapa teman Hector. Sampai hari berakhir, mereka tetap tidak menemukannya. Hector sampai menyewa perahu, berharap Kenzo terdampar di pulau yang ada di sekitar sana.
Tak mau menyerah, pencarian terus dilajutkan meski belum membuahkan hasil. Terhitung sudah tiga hari pencarian dilakukan, tetapi tidak ada jejak Kenzo sedikit pun.
Kael sempat mencari ke perkampungan nelayan yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari lokasi jatuhnya Kenzo, tetap tak menemukannya.
Kael terduduk di sisi ranjang di kamar penginapan. Penampilannya terlihat acak-acakan dan pandangannya kosong. Tangannya bergetar ketika mengambil ponselnya.
Mau tidak mau, dia harus melaporkan hal ini pada seseorang. Dan yang terpikir dalam benaknya sekarang hanyalah Gantika.
Jari Kael terus bergerak di layar ponselnya, mencari nomor Gantika. Pelan-pelan dia menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Jantungnya berdetak tak karuan ketika nada tersambung terdengar di telinganya. Hingga akhirnya suara Gantika tertangkap telinganya.
“Halo.”
“Jenderal,” suara Kael tercekat. Pria itu menelan ludahnya kelat. Rasanya sulit sekali melaporkan hilangnya Kenzo. Perlahan dia bangun dari duduknya.
“Ada apa?”
“Jenderal … Kolonel ….”
“Ada apa dengan Kolonel Zyan?”
“Kolonel hilang.”
“Apa? Apa maksudmu?”
Dengan suara terbata, Kael menceritakan peristiwa yang terjadi hingga Kenzo terjatuh ke lautan. Tanpa dapat ditahan, air mata mengalir dari kedua matanya.
“Aku akan tetap mencarinya,” ujar Kael mengakhiri laporannya.
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya suara helaan napas Gantika saja yang terdengar. Pria itu terpukul mendengar kabar Zyan dari Kael.
“Apa yang harus saya lakukan, Jenderal?” tanya Kael dengan suara bergetar.
“Lanjutkan pencarian. Apa pun kondisinya, aku ingin Kolonel Zyan ditemukan!”
“Siap!”
Panggilan segera berakhir. Kael berteriak kencang sambil menendang barang-barang di dekatnya. Tangannya memukul tembok beberapa kali sampai buku-buku tangannya terluka. Pria itu menumpukan kedua tangannya di meja sambil menundukkan kepalanya.
“Aku akan menemukanmu, Ayah. Aku yakin Ayah masih hidup,” gumamnya pelan.
***
Kabar menghilangnya Zyan sudah sampai ke telinga Armin dan Yunan. Armin langsung mengambil penerbangan ke Jakarta. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Nisa dan anak-anak.
Selain itu, Yunan juga tidak sanggup harus mengatakan kabar ini pada Nisa seorang diri.
Yunan sudah berada di bandara ketika pesawat yang membawa Armin tiba. Keduanya segera menuju kediaman Zyan.
“Siapa saja yang sudah tahu soal ini?” tanya Armin pada Yunan.
“Baru aku. Bahkan aku tidak berani mengatakannya pada Tina atau Hana.”
“Agam dan Febri juga belum tahu?”
“Keduanya sedang menjalankan misi. Aku tidak mau mengganggu konsentrasi mereka.”
Armin mengangguk setuju. Sementara otaknya terus berpikir, bagaimana caranya mengabarkan masalah ini pada Nisa.
Dua jam kemudian mereka tiba di kediaman Zyan. Suasana rumah itu tampak sepi. Baru saja Armin dan Yunan turun dari mobil, terdengar suara Abi menyambutnya.
“Om Yunan! Om Armin!”
Armin langsung menyambut Abi. Anak itu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
Melihat kedatangan Armin dan Yunan, perasaan Nisa langsung tak enak. Sudah beberapa hari ini hatinya tidak tenang. Dia terus teringat pada suaminya yang sampai sekarang belum memberikan kabar padanya.
“Abi sama Kak Alya dulu ya,” ujar Nisa meminta anaknya menjauh darinya dan dua tamunya. Perasaannya mengatakan kalau kedatangan Armin dan Yunan hendak memberikan kabar buruk. “Apa ada kabar dari Bang Zyan?” tanya Nisa setelah Abi pergi.
Armin dan Yunan saling berpandangan. Seolah mereka sedang melempar tanggung jawab, siapa yang harus mengatakan kabar soal Zyan.
“Aku minta jangan ada yang ditutup-tutupi. Katakan dengan jujur, apa terjadi sesuatu pada Bang Zyan?”
“Nisa,” Armin membuka mulutnya. “Bang Zyan hilang. Dia tertembak dan terjatuh dari tebing. Tubuhnya jatuh ke laut dan sampai sekarang jasadnya belum ditemukan.”
Tubuh Nisa membeku. Tangannya mengepal erat dan sedikit bergetar. “Tidak,” gumamnya pelan dengan bibir bergetar. “Bang Zyan pasti baik-baik saja,” sebuah permohonan kecil keluar dari mulutnya sebelum buliran bening mengalir dari kedua matanya.
***
Zyan kira² masih hidup, nggak? In Syaa Allah nanti malam aku up lagi. Pantengin ya.
Oh ya, visual dokter Caelen nggak usah ya, udah metong juga🤣
huhah huhah huhahhhhhh🫣
bener2 berasa ikut disitu