Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Arik membuka kedua mata nya, Maureen terkejut spontan ia menarik kembali tangan mungil yang hampir saja menyentuh wajah suami nya.
"Apa yang kau lakukan?" lirih Arik.
Maureen menelan saliva, dia segera menggeserkan tubuh untuk menjaga jarak. "A-aku hanya ingin membantu meminum sup nya mas," Jelas Maureen tergagap.
Arik yang masih pusing berusaha bangun lalu membidik tajam ke arah Maureen. Maureen tahu suami nya tidak menginginkan dia. Tapi bagaimana pun juga dia harus melakukan tugas nya.
"Kata bibi, mas mabuk semalam. Jadi ini di buatkan sup nya. Aku bantu minum ya," bujuk Maureen memancarkan senyum manis meskipun dalam hati sangat ketakutan akan sosok lelaki yang ada di depan nya.
Bukan nya mendapatkan respon yang baik, malah Arik mengambil mangkuk di tangan Laura dengan sedikit kasar.
"Tidak perlu, lain kali jangan pernah menyentuh barang ku tanpa ijin," Sinis Arik meneguk habis sup lalu berjalan sedikit terhuyung ke kamar mandi.
Kedua bola mata Maureen berkaca-kaca, saat melihat sikap suami nya. "Ya tuhan, apakah aku bisa menjalani pernikahan ini?" Lirih nya seraya mengusap buliran air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi.
Ketika Maureen tengah larut dalam kesedihan nya, bi Siti kembali mengetuk pintu dan memberitahukan jika kedua mertua nya sudah tiba di ruang tamu.
Maureen berusaha tenang, lalu menyahut jika ia sebentar lagi akan turun dan menyambut kedatangan ayah dan ibu mertua nya.
Sementara di ruang tamu, Tuan Hans dan Nyonya Marisa sedang duduk santai menunggu Arik dan istri nya.
"Pi, seperti nya ada yang tidak beres dengan Arik. Bi Siti bilang Arik kemarin malah pergi?" Marisa cemas.
Tuan Hans megap dan berpikir sejenak untuk memahami semua perkataan sang istri. Padahal kemarin berkomunikasi dengan besan nya.
"Entahlah, tapi mana mungkin. Jelas-jelas di pesta pernikahan mereka baik-baik saja. Tapi hari ini besan nya kita juga akan datang ke sini."
Ketika mereka sedang berbincang serius, suara pintu berbunyi membuat Bi Siti berjalan mendekat.
Herman dan istri nya yang sudah berada di depan pintu mansion mewah Arik, sesuai perintah Tuan Hans. Kedua paruh baya itu terlihat sangat tegang dan cemas, mengingat perbuatan mereka.
Klek
Pintu terbuka, bi Siti mempersilahkan Herman dan Susan yg sempat terhenyak kaget, mereka berusaha tetap tenang saat memasuki bangunan mewah bak seperti istana para raja itu.
"Wah, besar sekali dan mewah," celetuk Susan menatap kagum, mansion pribadi menantu nya.
Sebenar nya dia ingin Maura yang menempati fasilitas mewah ini, akan tetapi mengingat wajah sang pemilik nya yang sangat misterius di balik topeng membuat ia rasa enggan.
Melihat kedatangan rekan bisnis yang telah menjadi besan nya Hans dan Marisa segera beranjak dan menyambut mereka.
"Akhir nya kalian datang juga,duduklah," ujar Hans.
"Terima kasih, maaf kami telat sedikit, "ucap Herman membalas jabatan tangan sang besan. Begitu juga kedua istri nya yang ber cipika-cipiki. Setelah memberikan buah tangan mereka duduk bersama.
Suasana di sana terasa hangat saat tuan Hans belum sadar apa yang telah terjadi pada pernikahan Arik.
"Oh iya, di mana pengantin baru nya? Saya kemarin lupa membawa baju-baju Maureen, jadi baru kami bawa sekarang, " kata Susan memulai topik pembicaraan di ruangan tamu.
"Mereka seperti masih di ka..." Belum sempat Nyonya Marisa menuntaskan perkataan nya.
Terdengar suara tepuk tangan yang menggema, mencuri perhatian ke empat paruh baya lalu mereka menoleh ke arah sumber suara yang berada tepat di arah tangga.
Prok...prok...
"Arik!"
Kening Tuan Hans berkerut, mereka berempat menatap penuh keheranan saat melihat putra sulung nya menatap tajam ke arah kedua besan nya. Wajah Herman dan sang istri terlihat memucat, perasaan nya mulai tidak enak dan sangat tegang.
"Ariik! Apa yang kamu lakukan? Jaga sikap mu. Herman dan istri nya sekarang adalah orang tua mu," Tegur Hans kesal.
Langkah lelaki berperawakan tinggi itu yang menatap tajam di balik topeng nya terus membidik ke arah Herman dan Susan.
Sampai mereka menelan ludah beberapa kali, dengan perasaan yang sangat takut, saat melihat aura dingin dan membunuh pada sosok menantu nya.
"Papa!" lirih Susan spontan memegang lengan suami nya. Padahal semalam ucapan nya sangat enteng bisa mencari alasan tentang pergantian putri mereka.
Maureen yang mengikuti Arik, ia terlihat sangat cemas dan khawatir saat melihat lelaki yang sudah menjadi suami nya itu, terlihat begitu murka dan geram kepada kedua orang tua nya.
"Mertua? tepat nya mereka adalah penipu!" Hardik Arik yang naik pitam.
Semua orang di sana tercengang, terlebih Hans dan istri nya. Mereka sama sekali tidak mengerti apa maksud putra nya.
"Penipu? Arik, jaga ucapan mu. Jangan membuat malu Papi dan Mami." Ucap Hans.
Arik memancarkan senyum miring, saat menanggapi perkataan sang ayah. Lalu tanpa ragu mengatakan tentang mempelai pengantin wanita nya yang di ganti.
"Papi lihat, wanita yang aku inginkan bukan dia," Tunjuk Arik ke arah Maureen.
Sampai Maureen yang masih mematung di belakang nya tersentak kaget, menatap nanar penuh perasaan rasa bersalah dan malu bercampur aduk dalam hati. Atas apa yang di lakukan ayah dan ibu nya tanpa sepengetahuan nya.
"Apa! Maksud mu apa Arik?" tanya Hans dan Marisa bersamaan.
\*
Bersambung..................