NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Perak di Balik Selaput Debu

Begitu daun pintu mahoni tebal itu berdentum rapat di belakang mereka, koridor sunyi PT Megah Prakarsa seolah menjelma menjadi lorong waktu yang mengembalikan Dika ke dalam realitas kefanaan yang brutal. Dinding-dinding kaca yang memantulkan megahnya cakrawala pagi tidak lagi mampu menyangga topeng keagungan sang mantan dewa. Tubuh tegap yang baru saja menebar ancaman terselubung di hadapan Baskoro itu seketika meliuk, merosot tipis, lalu bersandar pasrah pada dinding lorong yang berlapis wallpaper beludru krem.

“Auuuugh... mak! Pinggang gue beneran berasa kayak habis digiles stomper tumbuk!” ratap suara di balik batok kepalanya, kali ini nadanya begitu melengking, kehilangan seluruh wibawa singgasana langit. “Itu si Baskoro kenapa auranya pekat banget sih? Berdiri satu menit di depan dia tadi, tekanan spiritualnya bikin otot lumbar gue makin tegang dua kali lipat. Lin, tolong, panggilin taksi atau apa aja, gue udah nggak sanggup kalau harus didorong lagi pakai motor bebek lo yang setang bajanya miring itu!”

Lina yang berjalan di sampingnya buru-buru menangkap lengan Dika sebelum pemuda itu benar-benar merosot ke lantai marmer yang mengkilap. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada karyawan atau sekretaris direksi yang melihat bagaimana sang 'Penghancur Takdir' kini sedang meringis menahan linu sembari memegangi pantat kirinya.

"Tahan, Dika! Tahan wibawa lo sampai kita keluar dari lobi depan!" bisik Lina setengah mendesis, matanya membelalak gemas. Ia memapah Dika dengan langkah yang dipercepat, setengah menyeret pemuda berkaos biru pudar itu melewati meja resepsionis yang dijaga oleh dua wanita bermake-up tebal.

Baru setelah mereka berhasil menembus pintu kaca lobi dan duduk di atas bangku taman di bawah pohon peneduh yang rindang, Dika bisa melepaskan napas panjang yang gemetar. Udara pagi yang membawa sisa polusi knalpot terasa begitu nyata menerpa wajahnya yang pucat sewarna kapur tulis.

Tring!

Sebuah getaran pendek berasal dari dalam saku celana jins Lina. Ponsel pintar dengan layar yang sudah retak seribu itu menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat dari aplikasi perbankan. Lina buru-buru membukanya, dan dalam sekejap, sepasang mata jernih gadis itu melebar sempurna.

"Dika... liat ini," ucap Lina, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Ia menyodorkan layar ponselnya tepat beberapa senti di depan hidung Dika.

Di sana, di atas latar belakang layar yang buram, tertera sebuah angka nominal transfer masuk dari rekening korporasi PT Megah Prakarsa. Lima puluh juta rupiah. Bersih, tanpa potongan administrasi, tertera megah laksana deretan angka keberuntungan di papan takdir.

Sepasang mata Dika yang semula kuyu mendadak berkedip lumat. Pendar emas purbanya memercik halus, bukan karena mendeteksi aliran energi gaib, melainkan karena getaran kebahagiaan duniawi yang langsung menyengat saraf lambung dan dompetnya yang sudah lama mati suri.

“Demi sembilan lapis langit yang pernah gue kunci... lima puluh juta!” sorak batin Dika, melompat-lompat riang gembira di dalam kepalanya dengan koreografi yang sangat tidak mencerminkan kaisar langit. “Gila, ini duit cash beneran! Akhirnya kuil pencernaan gue bisa naik kasta! Nggak ada lagi cerita makan mie instan dibagi dua buat pagi dan malam. Gue mau beli ayam goreng utuh, mau beli kasur busa yang kalau ditidurin nggak bikin tulang rusuk gue bunyi 'krek'! Oh, uang kompensasi, kau adalah bentuk takdir yang paling indah di muka bumi fana ini!”

Meskipun batinnya sudah histeris layaknya emak-emak mendapat arisan, wajah luar Dika melorot kembali ke dalam ketenangan yang dingin. Ia memperbaiki posisi duduknya, berdehem pelan untuk mengumpulkan sisa-sisa karisma yang sempat tercecer di koridor.

"Hanya seonggok angka di atas layar kaca fana, Lina," ucap Dika, suaranya berat dan tertata rapi, mencoba mereduksi nilai nominal tersebut seolah itu hanya butiran debu di bawah kakinya. "Manusia bumi mengira kebahagiaan bisa diukur dari jumlah digit yang tertera. Mereka tidak tahu, di alam atas, lembaran perak seperti ini tak lebih berharga dari daun kering yang gugur di musim rontok."

Lina mencibir, bibirnya meliuk membentuk lengkungan sinis yang sarat akan rasa geli. "Oh, ya? Kalau gitu, gimana kalau lima puluh juta ini gue sumbangin aja semuanya ke panti asuhan, terus siang ini kita balik makan promag dicampur air putih?"

Wajah Dika seketika berubah masai. Selaput ketenangannya pecah berantakan dalam waktu setengah detik.

“EH, JANGAN DONG DEWI PENYELAMAT LAMBUNG!” jerit suara hatinya panik, terdengar kian merana. “Itu duit kan hasil jerih payah pinggang gue yang encok dihantam tenaga dalam Ki Bersam! Jangan disumbangin semuanya, sisain buat beli koyo cabai premium sama traktir lo makan mewah siang ini! Gue udah bosen mencium bau minyak angin tawon, gue mau mencium aroma daging asap yang mahal!”

Lina tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar begitu lepas di bawah rindangnya pohon taman. "Makanya, jangan sok dewa di depan gue. Ayo, sebelum kita mikirin langkah selanjutnya tentang pak tua Baskoro yang mencurigakan itu, kita isi energi dulu. Gue tahu tempat makan steak lokal yang potongannya tebal di dekat pasar loak. Gue yang traktir pakai duit kompensasi lo."

Mendengar kata 'steak daging tebal', Dika tidak banyak membantah. Dengan sisa-sisa tenaga penyembuhan spiritualnya yang ia paksakan mengalir ke area pinggang, ia berdiri dengan bantuan pundak Lina. Sambil menuntun motor bebek tua yang akinya masih mati total menuju bengkel terdekat, keduanya berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai ramai oleh deru kehidupan pagi.

Satu jam kemudian, di dalam sebuah kedai makan sederhana yang dindingnya dipenuhi oleh jelaga kipas angin tua, aroma daging sapi yang terbakar di atas hotplate besi memenuhi ruangan. Suara desisan lemak yang meleleh—shhh... psssh—berpadu dengan wangi saus lada hitam yang kental dan tajam, menciptakan sebuah simfoni sensoris yang langsung membuat air liur Dika menetes di dalam batinnya.

Dika menatap potongan daging di hadapannya dengan tatapan yang sangat intens, seolah ia sedang mempelajari kitab suci kuno tentang asal-usul penciptaan jagat raya. Saat pisau stainless steel memotong bagian tengah daging yang masih mengeluarkan asap hangat, ia langsung menyuapkannya ke dalam mulut.

Ledakan rasa gurih dari saripati daging, berpadu dengan pedas hangat dari lada hitam, langsung menjalar memenuhi setiap jengkal sel tubuh fananya. Di mata batin Dika, jalinan energi kelabu yang semula menyelimuti lambungnya mendadak tersapu bersih, berganti dengan aliran warna merah bata yang solid—tanda bahwa energi fisiknya perlahan mulai merangkak naik menuju angka lima belas persen.

"Bagaimana, Kaisar?" sindir Lina sembari mengunyah kentang gorengnya dengan santai. "Apakah rasa daging sapi bumi ini cukup layak untuk lidah seorang penguasa takdir?"

Dika menelan daging di mulutnya dengan keanggunan yang dipaksakan, lalu menyeka sisa saus di ujung bibirnya menggunakan selembar tisu murah. "Cukup untuk mengganjal cangkang fana ini, Lina. Namun, makanan ini tidak akan mampu meredam badai yang sedang bergolak di hulu."

Raut wajah Dika mendadak berubah serius, pandangannya beralih menembus jendela kedai yang buram oleh uap minyak. Mengingat kembali pancaran benang ungu kelam di tubuh Baskoro tadi pagi membuat selaput spiritualnya kembali terasa dingin.

"Baskoro bukan sekadar manajer tingkat atas yang bermain dengan angka korupsi kecil seperti Johan," ucap Dika, nadanya merendah, menyisakan ketegasan yang mutlak. "Energi karma pengkhianatan yang melilit lehernya terhubung dengan sebuah jaringan yang jauh lebih besar di ibu kota. Jakarta... di sanalah tempat di mana jalinan takdir Dika yang asli sengaja diputus dan diacak-acak oleh tangan-tangan hitam."

Lina menghentikan kunyahannya, merasakan atmosfer dingin yang mendadak kembali merayap di antara meja makan mereka. "Maksud lo... konspirasi ini melibatkan orang-orang yang lebih kuat dari sekadar jajaran direksi di kota tua ini?"

"Benar," Dika mengangguk perlahan, sepasang matanya menyipit tajam. "Uang lima puluh juta ini... takdir sengaja mengirimkannya sebagai modal pertama kita. Kita tidak bisa tinggal diam di kota kecil ini menunggu Baskoro mengirimkan pembunuhan bayaran berikutnya. Kita harus bergerak ke hulu. Menuju Jakarta, tempat di mana seluruh benang merah yang kusut ini bermuara."

Lina menatap Dika lama, ada rasa beralih yang kuat di dalam dadanya. Petualangan konyol bersama pemuda yang mengaku sebagai mantan dewa ini ternyata bukan lagi sekadar urusan membersihkan nama baik dari fitnah korupsi, melainkan sebuah perjalanan panjang menuju pusat badai konglomerasi yang berbahaya. Namun, melihat bagaimana ketegasan mata Dika yang sanggup menembus realitas, rasa takut di dalam diri Lina mendadak sirna, berganti menjadi sebuah keyakinan yang kokoh.

"Oke," ucap Lina tegas, sembari meminum es teh manisnya hingga tandas. "Jakarta, ya? Kebetulan motor bebek gue juga butuh turun mesin total. Kita pakai uang ini buat beli tiket kereta eksekutif besok pagi. Tapi ingat ya, di Jakarta nanti, jangan sampai encok lo kambuh lagi di depan stasiun!"

Dika hanya memberikan senyuman tipis yang penuh misteri, meskipun di dalam hatinya, ia kembali meratap cemas memikirkan kasurnya yang harus ditinggalkan demi menghadapi belantara beton ibu kota.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!