NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 10.

Malam itu, tangan kanan Michael datang memasuki ruang kerja di kantor Kensington.

"Tuan, kami mengikuti Ramon."

"Hasilnya?"

Aaron, sang tangan kanan meletakkan beberapa foto di atas meja, Michael mengambilnya satu per satu.

Wajah Michael langsung berubah dingin. "Kapan ini diambil?"

"Dua minggu sebelum Tuan Fernando meninggal."

Michael mengambil foto berikutnya, semakin banyak foto yang ia lihat semakin buruk perasaannya. Dalam foto-foto itu, pertemuan Sania dan Ramon bukan hanya sekali tapi berulang kali.

Di beberapa lokasi berbeda, dan semuanya terjadi bahkan saat Fernando masih hidup.

"Tuan..." Aaron tampak ragu.

"Apa lagi?"

"Kami juga menemukan saksi."

Michael mencengkram lembaran foto-foto di tangannya dengan erat, matanya memerah karena amarah. "Saksi apa?"

"Petugas keamanan apartemen Ramon."

Michael menyipitkan mata.

"Dia mengatakan memang sering melihat Nyonya Sania datang ke sana."

"Seberapa sering?" Rahang Michael mengeras.

"Setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu."

Jawaban itu membuat suasana ruangan semakin dingin, Michael tidak berbicara selama beberapa saat. Ternyata Sania, wanita yang selama ini ia lindungi. Wanita yang ia percayai dan wanita yang membuat dirinya menghancurkan rumah tangganya sendiri. Sekarang... wanita itu menyimpan rahasia darinya.

"Tuan, ada satu hal lagi mengenai kecurigaan anak dalam kandungan Nyonya Sania.“ Aaron kembali membuka suara. “Kami menemukan rekaman CCTV di parkiran rumah sakit tempat Nyonya Sania melakukan pemeriksaan kehamilan pertama.

"Apa isinya?"

Aaron menyerahkan tablet, Michael memutarnya. Layar menampilkan rekaman beberapa bulan lalu, Sania turun dari mobil. Wanita itu masuk ke dalam rumah sakit, lalu sekitar satu jam kemudian keluar kembali. Namun bukan itu yang membuat Michael membeku, karena seseorang sudah menunggunya di sana... Ramon.

Pria itu berjalan mendekat, kemudian membuka pintu mobil untuk Sania. Gerakan yang terlalu alami dan seolah bukan pertama kali dilakukan.

Michael menghentikan video tersebut, tatapannya berubah sangat dingin. Sejak penyelidikan dimulai, akhirnya kali ini sebuah kesimpulan mulai terbentuk. Hubungan Sania dan Ramon tidak normal. Dan semakin banyak bukti muncul, semakin sulit untuk menyangkalnya.

Sementara itu.

Di mansion Kensington.

Sania masih belum mengetahui perkembangan penyelidikan tersebut. Ia sedang duduk di kamar ketika salah satu pelayan masuk.

"Nyonya, Tuan Michael belum pulang."

Sania mengangguk pelan, belakangan ini hal itu sudah biasa. Michael hampir tidak pernah makan malam bersamanya lagi. Bahkan percakapan mereka semakin sedikit, hal yang dulu ia inginkan kini justru membuatnya takut. Karena semakin jauh Michael darinya, semakin sulit baginya mengetahui apa yang sedang dipikirkan pria itu.

Esoknya, saat salah satu pelayan datang ke kamarnya.

"Nyonya."

"Ada apa?"

"Tuan Michael meminta Anda datang ke ruang kerja."

Jantung Sania langsung berdegup lebih cepat, perasaan buruk tiba-tiba muncul.

Di ruang kerja, Michael sudah menunggu. Aaron berdiri di sampingnya. Begitu Sania masuk, suasana langsung terasa berbeda.

"Michael, kau memanggilku?"

Michael mendorong sebuah map ke atas meja.

"Apa ini?" tanya Sania.

"Buka."

Sania mulai merasa tidak nyaman, tapi tetap membuka map tersebut. Detik berikutnya wajahnya langsung pucat, isinya adalah foto-foto dirinya bersama Ramon. Bahkan di berbagai tempat yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.

Tangan wanita itu mulai gemetar. "Michael..."

"Kenapa kau tidak lanjut membuka semuanya?" Suara Michael terdengar datar.

Dengan tangan gemetar, Sania membuka halaman berikutnya. Matanya langsung membelalak, itu adalah laporan pemeriksaan kehamilan. Catatan medis dan analisis usia janin. Serta hasil investigasi yang telah disusun secara rinci. Michael sudah menyelidiki semuanya, dan hasilnya hanya mengarah pada satu kesimpulan. Usia kandungan bayi itu tidak cocok dengan kematian Fernando.

Tubuh Sania langsung menegang.

Michael akhirnya berdiri, tatapannya begitu dingin hingga membuat ruangan terasa lebih sesak. "Aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan."

"Michael..." suara Sania bergetar.

“Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri, Sania.” Michael melangkah perlahan mendekat, setiap hentakan sepatunya di atas lantai marmer yang dingin terdengar begitu berat, bagaikan ketukan palu yang menghantam jantung Sania satu per satu. Wajah pria itu tampak tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang terasa paling mengerikan.

“Katakan padaku,” ujarnya dengan suara rendah yang sarat tekanan. “Siapa ayah dari anak itu?”

Wajah Sania langsung kehilangan warna, dia benar-benar panik. Ia mencoba mencari-cari alasan dan kebohongan baru tetapi pikirannya kosong, karena semua bukti sudah ada di depan mata.

"Aku bisa menjelaskan."

"Kalau begitu jelaskan!" Wajah Michael terlihat murka.

Sania menggigit bibirnya, air mata mulai menggenang. "Michael..."

"Jawab saja pertanyaanku!" Suara pria itu kali ini lebih keras. "Siapa ayah anak itu?!"

Sania menunduk, tubuhnya gemetar.

"Bukan Fernando." Akhirnya kebenaran yang selama ini wanita itu sembunyikan keluar dari mulutnya.

Michael memejamkan mata sesaat, jantungnya terasa ditikam sebuah belati tajam. Meski sudah menduga, mendengarnya langsung tetap terasa berbeda. Jadi semuanya memang benar, selama ini Sania membohonginya. Dia telah menghancurkan Velicia demi melindungi seorang pembohong.

Michael tertawa, tapi tawa itu terdengar mengerikan.

"Siapa pria itu?" tanya Michael hanya untuk mengkonfirmasi.

Sania tidak menjawab.

"Siapa?!!!" teriaknya, Michael mengepalkan tangannya menahan diri.

Tubuh Sania langsung tersentak. "Ramon..."

Michael mencengkeram dagu Sania dengan keras hingga wanita itu meringis kesakitan. Sorot matanya tajam, dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung. “Kau bilang bayi itu adalah pewaris keluarga Kensington! Kau membuat kami semua percaya bahwa anak itu adalah darah daging Kak Fernando! Kau memanfaatkan nama keluarga kami dan ingin menjadikan anak haram itu sebagai penerus yang sah!”

"Aku memang salah, tapi aku punya alasan."

"Alasan? Apakah alasanmu juga menjelaskan kenapa kau membiarkan aku memperlakukan Velicia dengan buruk?!"

Sania terdiam.

Michael mengingat semuanya.

Bagaimana Sania menangis, saat Sania berpura-pura menjadi korban. Dan bagaimana dirinya marah kepada Velicia setiap kali Sania mengeluh. Yang paling membuat Michael muak... dia menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar memeriksa kebenarannya. Ia hanya percaya pada Sania, dia buta dan bodoh. Dan sekarang, harga yang harus dia bayar terlalu mahal.

Air mata Sania mulai jatuh. "Aku hanya—"

"Diam!" Michael langsung memotongnya. "Aku tidak peduli apapun alasanmu!"

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Sania, Michael melihat wanita itu dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada cinta, apalagi rasa kasihan. Yang tersisa hanya kemarahan dan perasaan muak. Karena selama ini, ia mempercayai kebohongan itu. Lebih parahnya lagi... wanita itu menggunakan kebohongannya untuk menyakiti Velicia.

Michael memilih mempercayai Sania, pria itu merasakan sesuatu menghantam dadanya.

"Aku mencintaimu, Michael...“ isak Sania.

Michael langsung menatap tajam. "Jangan pernah mengatakan itu lagi! Kau membuatku jijik!"

Sania membeku, dia tidak pernah melihat Michael menatap dirinya dengan tatapan sehina ini.

“Apa kau tahu apa yang paling lucu?” suara Michael terdengar dingin dan penuh ejekan. “Kau menghancurkan hidup Velicia, kau membuatku menghancurkan rumah tanggaku sendiri! Hanya demi melindungimu dan anakmu, yang bahkan bukan darah keluarga Kensington!“

Air mata Sania semakin deras. "Aku bisa menjelaskan semuanya..."

“Tidak! Kau sudah terlalu banyak berbohong! Dan aku juga sudah tahu bahwa Velicia tidak pernah mendorongmu dari tangga!” bentak Michael, rahangnya mengeras. Sementara sorot matanya dipenuhi rasa muak yang tak lagi ia sembunyikan. “Kau... benar-benar membuatku muak!”

Dengan kasar, Michael melepaskan cengkeramannya dari dagu Sania. Wanita itu kehilangan tumpuan, tubuhnya langsung terhempas ke lantai marmer yang dingin.

“Aaron!”

“Ya, Tuan.”

Michael menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras, tidak ada lagi sedikit pun kelembutan di wajahnya. Semua rasa iba maupun sedikit rasa cinta yang pernah ia miliki untuk Sania seolah lenyap dalam sekejap.

“Biarkan dia merasakan apa yang pernah dirasakan Velicia! Bawa dia ke halaman dan paksa dia berlutut di atas salju selama beberapa jam! Jangan biarkan dia mati kedinginan! Setelah itu, kurung dia di ruang bawah tanah. Jangan beri dia makanan sedikit pun! Dan ketika selesai, usir dia dari mansion ini! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!”

“Baik, Tuan.”

Wajah Sania langsung kehilangan seluruh warnanya, matanya membelalak tidak percaya saat menatap Michael.

“Michael! Jangan!” teriaknya panik, air mata mengalir tanpa henti di pipinya. “Maafkan aku! Aku mohon! Aku mengaku salah! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Tolong jangan perlakukan aku seperti ini!”

Namun Michael bahkan tidak meliriknya.

Sania merangkak di atas lantai marmer yang dingin. Dengan putus asa, ia berusaha meraih kaki Michael, berharap pria itu akan berubah pikiran jika melihat keadaannya. Keadaan Sania saat ini begitu mirip dengan apa yang pernah dialami Velicia dulu. Ia menangis, memohon, dan merendahkan harga dirinya demi mendapatkan sedikit belas kasihan. Sama seperti saat Velicia dipaksa berlutut dan meminta maaf kepada Sania atas kesalahan yang bahkan tidak pernah dilakukannya.

Bedanya, saat itu Velicia adalah korban yang tidak bersalah. Sedangkan Sania kini harus menanggung akibat dari kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Seolah takdir sedang berputar. Apa yang dulu ia lakukan pada Velicia, kini kembali menghampirinya dalam bentuk yang berbeda.

Aaron menyeret Sania menuju pintu.

“Michael! Aku mohon! Aku sedang hamil! Michael! Michael! Aku tidak punya siapa-siapa lagi! Michael!”

Tangisan dan jeritan Sania menggema di seluruh ruangan saat tubuhnya ditarik keluar secara paksa. Kukunya bahkan sempat menggores lantai marmer dalam upaya sia-sia untuk bertahan. Pintu akhirnya tertutup dengan keras, tapi bahkan setelah Sania menghilang dari pandangan, suara tangis dan jeritannya masih terdengar samar dari balik koridor mansion.

Michael tetap berdiri di tempatnya, wajahnya dingin. Jauh di dalam dirinya, penyesalan terus berputar tanpa henti. Velicia, wanita itu pernah berlutut dengan cara yang sama. Pernah memohon dengan cara yang sama dan pernah menangis di hadapannya dengan putus asa. Dan saat itu... ia memilih untuk tidak mempercayainya.

Seperginya Sania, Michael tetap berdiri di tempatnya sambil memandangi foto Velicia yang ada di tangannya. Ia berharap bisa memutar waktu, dan bisa kembali ke masa lalu. Kembali ke ke saat Velicia masih berada di sisinya. Namun hidup bukanlah sesuatu yang bisa diulang sesuka hati. Kesempatan yang telah hilang belum tentu akan datang untuk kedua kalinya.

Berbagai penyesalan memenuhi dadanya hingga terasa sesak. Jika suatu hari ia benar-benar berubah, dan ia menebus semua kesalahannya. Andai dia akhirnya bisa menemui Velicia, meminta maaf atas semua luka yang pernah ia berikan, mengakui seluruh kesalahannya, lalu berjanji untuk memperlakukan wanita itu dengan baik dan menjalani kehidupan yang bahagia bersama...

Akankah Velicia memaafkannya? Akankah wanita itu memberinya kesempatan kedua? Atau mungkin... ia sudah terlambat. Terlambat hingga bahkan penyesalan pun tidak lagi berarti apa-apa di mata Velicia.

1
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
Alhamdulillah... Lorenzo sudah sadar , buka hati mu Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
semoga Lorenzo bisa selamat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Lorenzo sudah mulai sadar
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
wow keren thor... makin seru aja, semangat terus yaaaaaa
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
(perasaan itu masih bisa tumbuh kembali pada orang lain)

apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rere🌠: Nyesssss 🤣🤣🤣
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
Lorenzo... u. harus lebih percaya diri lagi dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkan Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
ok trimakasih ka....terus semangat yaaaa
Ariany Sudjana
Sania kenapa kamu harus marah sama velicia? velicia itu putri konglomerat, dan kelasnya jauh di atas kamu, yang hanya pelacur murahan 🤣🤣😂😂 dan tempat yang pantas buat kamu ya di tempat sampah 🤣🤣😂😂
Rere🌠: Udah bener di tempat sampah, skrg malah mau gaul sm kubangan darah. ampun dah ah🤣
total 1 replies
MataPanda?_
semangat trus kak lanjut terus 😅💪
gina altira
Sania ga ada kapoknya
Rere🌠: Mau jadi ratu kyk Velicia, ngimpi kali ah😬😬😬
total 1 replies
gina altira
lanjutt
gina altira
Michael bodoh
gina altira
Michael terlalu percaya diri
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Diana Dwiari
pemain catur yang sangat handal....
ρυтяσ kang'typo✨
Sania mau main" sama Velicia🤣🤣🤣salah pilih lawan oooyyy
ρυтяσ kang'typo✨
hayo loh.... siapa kah yang menyerang di balik kekacauan yang sedang terjadi saat ini🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!