NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang CEO Lupa Ingatan

Dinikahi Sang CEO Lupa Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.

​Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.

​Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.

​Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.

​"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 1: Titik Akhir Sebuah Kontrak

​​"Semua berkas sudah aku tanda tangani. Pastikan pengajuannya masuk ke pengadilan hari ini juga. Aku tidak mau ada penundaan, walau hanya satu menit."

​Keysa meletakkan map tebal berwarna cokelat di atas meja kerja kayu mahoni yang kosong melompong. Meja itu bersih, dingin, dan kaku. Persis seperti pemiliknya.

​"Biar aku pastikan lagi, Keysa," suara Harris terdengar berat dari pelantang suara ponsel yang tergeletak di samping map tersebut. "Kamu yakin tidak mau menuntut harta gono-gini? Sedikit pun? Arga itu CEO Alvandra Group. Dua tahun kamu jadi istri sekaligus asisten pribadinya. Kamu berhak mendapat kompensasi lebih dari sekadar uang pesangon biasa. Kita bisa menekan pengacaranya jika kamu mau."

​"Kita sudah bahas ini berulang kali, Harris." Keysa membuka laci-laci meja, memeriksa sudut demi sudut untuk memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal. "Kontraknya sangat jelas. Tidak ada perasaan, tidak ada tuntutan harta. Aku hanya mau keluar dari rumah ini dengan bersih. Tanpa ada ikatan apapun lagi dengan laki-laki itu."

​"Arga pasti akan meledak marah saat membaca draf ini. Kamu tahu sendiri temperamen suamimu itu."

​"Laki-laki itu tidak punya kapasitas untuk terkejut atau peduli. Dia mungkin malah akan mengadakan pesta perayaan karena benalu sepertiku akhirnya pergi." Keysa menutup laci terakhir dengan sedikit keras, menciptakan suara gema di ruang kerja yang sepi. "Pokoknya urus saja secepatnya. Jika pihak sana mempersulit, langsung hubungi aku."

​"Baik. Aku akan daftarkan berkasnya segera. Hati-hati di jalan, Key."

​Panggilan ditutup. Keysa melangkah keluar dari ruang kerja, menuju kamar tidur utama yang luas bak lapangan golf. Kamar ini menjadi saksi bisu betapa palsunya kehidupan pernikahan mereka. Keysa berjalan lurus menuju lemari pakaian. Ia hanya menarik satu koper kecil berukuran kabin dari sudut ruangan.

​Hanya butuh waktu lima belas menit untuk memasukkan pakaian-pakaian kasual miliknya. Gaun-gaun mahal, perhiasan mewah, dan tas-tas bermerek yang dibelikan Arga untuk keperluan acara perusahaan, semuanya ia biarkan tergantung rapi di dalam lemari. Ia tidak ingin membawa satupun barang yang dibeli dengan uang suaminya.

​"Bawa saja apa yang memang milikmu sejak awal, Keysa," gumamnya pada diri sendiri sambil menarik keras ritsleting koper hingga tertutup rapat.

​Ia menyeret koper itu mendekati meja rias. Keysa menatap pantulan dirinya di cermin kaca. Wajahnya datar, riasannya tipis namun rapi, matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa yang berhasil ia tutupi dengan ketegasan. Dua tahun menjadi tameng untuk menutupi skandal Arga. Dua tahun menjadi sasaran kemarahan wanita-wanita yang mengantre ingin menjadi nyonya CEO. Ia lelah.

​Keysa mengambil cincin berlian dari jari manis tangan kirinya. Ia meletakkan cincin itu di atas meja rias, tepat di sebelah botol parfum beraroma kayu milik Arga.

​"Selesai," ucapnya pelan. "Tugasku sudah selesai."

​Ia berjalan menyusuri lorong apartemen mewah di lantai lima puluh gedung Skyville Residence tersebut. Sepatu hak tingginya berbunyi ketuk-ketuk, memecah keheningan yang selalu membekap tempat ini.

​Ponselnya kembali bergetar. Layarnya menampilkan nama Nindy, sahabat sekaligus mantan rekan kerjanya di divisi pemasaran.

​Keysa menggeser tombol hijau ke kanan. "Halo, Nindy. Aku sedang jalan keluar menuju lobi."

​"Kamu benar-benar melakukannya hari ini? Astaga, Keysa! Kamu gila!" suara Nindy melengking tinggi di telinga, nyaris membuat gendang telinga Keysa berdenyut.

​"Tentu saja aku melakukannya. Kontraknya habis tepat hari ini. Buat apa aku bertahan di neraka dingin ini lebih lama lagi?" Keysa merespons dengan nada santai, seolah ia hanya sedang membahas menu makan siang di kantin kantor.

​"Tapi kamu kan bisa minta perpanjangan! Arga itu tampan, kaya raya, sukses! Wanita mana yang mau melepaskan pria jaminan masa depan seperti dia?"

​"Wanita waras yang tidak mau mati muda karena tekanan batin," jawab Keysa telak tanpa ragu. "Dia itu bos yang kejam dan suami yang lebih kejam lagi. Aku lelah menjadi tameng untuk menutupi sifat arogannya dan mengusir model-model kurang kerjaan yang mengejarnya."

​"Kamu tidak merasa rugi, Key? Dua tahun lho. Kamu yang mengatur jadwalnya, membereskan kekacauannya, bahkan memarahi dewan direksi yang berani menentang laki-laki itu. Kamu itu otak di balik layar kesuksesannya. Kamu tahu betul rahasia-rahasia perusahaannya."

​"Justru karena itu aku harus pergi, Nin. Otakku butuh istirahat total. Dia membayar jasaku, aku memberikan efisiensi kerjaku. Impas. Tidak ada utang budi di antara kami berdua. Aku menolak menjadi bayang-bayang abadi untuk laki-laki yang tidak pernah melihatku lebih dari sekadar mesin pencetak solusi."

​"Tapi desas-desus di kantor bilang, akhir-akhir ini Pak CEO sering menolak ajakan makan malam klien demi bisa pulang lebih cepat. Jangan-jangan dia mulai suka sama kamu?"

​"Jangan halu, itu murni nonsense (omong kosong). Dia pulang cepat karena mesin kopinya di ruang direksi rusak dan dia tidak mau minum kopi buatan orang lain selain aku. Itu namanya kecanduan kafein, bukan cinta."

​Nindy tertawa pelan mendengarnya. "Ya sudah, Nyonya Es. Semoga kamu menemukan bos baru yang lebih manusiawi di luar sana. Mau aku jemput ke apartemen?"

​"Tidak usah. Aku sudah pesan taksi daring. Sopirnya sudah menunggu di lobi apartemen."

​"Baiklah. Nanti kabari aku kalau kamu sudah sampai di tempat tinggal barumu."

​Keysa mematikan sambungan telepon. Ia berhenti tepat di depan pintu utama. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ruang tamu yang megah, lampu gantung kristal yang berkilau terang, sofa kulit mahal yang tidak pernah diduduki bersama untuk mengobrol santai. Tidak ada kenangan hangat di tempat ini. Tidak ada tawa atau candaan. Hanya ada rentetan perintah pekerjaan, jadwal rapat, dan pertengkaran dingin bernada tajam.

​"Selamat tinggal, Arga Dirgantara," bisik Keysa nyaris tak terdengar. Ia menekan gagang pintu ke bawah.

​Baru saja kakinya melangkah melewati ambang pintu, ponsel di tangannya kembali menjerit nyaring.

​Keysa mengernyitkan dahi dengan raut kesal. Layar ponsel menampilkan nama Reno, asisten junior Arga di kantor pusat. Sangat jarang Reno meneleponnya langsung jika bukan urusan yang sangat mendesak, karena Keysa sudah mewanti-wanti seluruh tim kantor untuk tidak mengganggunya hari ini.

​"Halo, Reno? Ada apa? Aku sudah bilang dengan sangat jelas hari ini aku cuti penuh, kan?" Keysa menjawab dengan nada tegas, enggan menutupi ketidaksukaannya diganggu pada hari kebebasannya.

​"Mbak Keysa! Tolong, Mbak!" Suara Reno di seberang sana terdengar sangat kacau dan bergetar hebat. Napas laki-laki itu putus-putus, seolah habis lari-lari maraton berkilo-kilometer. Suara latar belakangnya sangat bising, penuh dengan bunyi sirene yang memekakkan telinga dan teriakan orang-orang.

​"Reno, tenang dulu. Tarik napas yang dalam. Ada apa? Kenapa berisik sekali di sana?" Keysa otomatis menghentikan langkahnya di lorong apartemen. Firasat buruk tiba-tiba menyergap ulu hatinya, membuat kewaspadaannya bangkit seketika.

​"Mbak... Bapak, Mbak! Bapak Arga!" Reno berteriak nyaris histeris, membuat Keysa harus menjauhkan ponsel sedikit dari telinganya agar tidak pekak.

​"Bapak Arga kenapa? Dia marah karena tahu aku mengambil cuti? Atau dia tidak menemukan dokumen tender proyek Estoria? Semuanya sudah aku siapkan di laci kedua meja kerjanya. Coba cari dengan benar." Keysa memberondong dengan rentetan pertanyaan praktis, otaknya masih beroperasi penuh dalam mode asisten tangguh yang sangat efisien.

​"Bukan itu, Mbak! Ini soal nyawa!"

​Jantung Keysa seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh. Tangannya yang memegang gagang koper tiba-tiba terasa kebas dan dingin. "Bicara yang jelas, Reno. Tarik napas. Apa yang terjadi dengan Arga?"

​"Kecelakaan, Mbak! Kami sedang dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan bisnis dengan klien dari luar negeri. Tiba-tiba ada truk besar dari arah berlawanan yang hilang kendali dan menabrak pembatas jalan."

​"Kecelakaan? Di mana posisi kalian sekarang?" Nada suara Keysa berubah drastis dalam sekejap mata. Tidak ada lagi Keysa yang santai, lelah, dan sinis. Kini yang ada hanyalah Keysa yang waspada, fokus, dan siap tempur meredam krisis.

​"Di Tol Lingkar Barat, Mbak! Mobil Zentor yang ditumpangi Bapak hancur parah, Mbak! Bagian depannya masuk ke bawah truk!"

​"Lalu bagaimana kondisi Arga? Dia selamat? Kamu sendiri bagaimana?"

​"Aku kebetulan beda mobil, Mbak. Aku di mobil belakang bersama tim legal. Kami sempat mengerem. Tapi Bapak... Bapak..." Reno terdengar menangis tersedu-sedu di tengah kepanikannya. Suara sirene ambulans di latar belakang kini terdengar semakin keras dan memburu.

​"Reno, dengarkan aku baik-baik," suara Keysa mengudara sangat tajam dan mendominasi keadaan. "Hubungi direktur operasional sekarang juga. Pastikan berita ini tidak bocor ke media mana pun dalam waktu satu jam ke depan. Jangan sampai saham Alvandra Group anjlok sebelum bursa efek tutup hari ini. Paham?"

​"Mbak Keysa! Bapak sedang sekarat dan Mbak masih memikirkan saham perusahaan?!" Reno berteriak tak percaya dari ujung telepon.

​"Kalau Arga mati terbawa berita ini, ribuan karyawan di perusahaan itu butuh makan, Reno! Lakukan persis apa yang aku perintahkan! Kamu asisten atau penonton drama?! Lakukan tugasmu!" bentak Keysa tanpa ampun. Otaknya bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat. Ia memang ingin bercerai dan pergi selamanya, tapi ia tidak akan membiarkan perusahaan besar yang belakangan ia bangun dengan darah dan keringatnya ikut hancur berantakan.

​"Baik, Mbak! Aku hubungi direktur operasional sekarang!"

​"Bagus. Sekarang, kembali ke pertanyaan utamaku. Bagaimana kondisi suamiku? Apa kata paramedis di sana?" Keysa tanpa sadar menekan kata 'suami' yang selama dua tahun ini selalu ia telan dalam-dalam.

​"Bapak terjepit di kursi belakang, Mbak. Benturannya sangat keras dari sisi kanan. Kepalanya... kepalanya terbentur pilar mobil sangat keras. Paramedis bilang denyut nadinya sangat lemah dan kesadarannya hilang total. Tim SAR baru saja berhasil memotong pintu mobil yang ringsek. Mereka sedang memacu ambulans ke Rumah Sakit Medika Pusat sekarang. Tolong segera ke rumah sakit, Mbak. Dokter spesialis bedah butuh persetujuan dari keluarga inti untuk tindakan operasi darurat."

​Keysa memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram ponselnya erat. "Aku ke sana sekarang."

​Keysa mematikan sambungan telepon. Koper kecil yang sudah ia siapkan secara matang untuk menjemput kebebasannya kini tergeletak begitu saja di lantai lorong apartemen. Surat cerai yang tergeletak rapi di atas meja kerja Arga mendadak terasa seperti lelucon takdir yang sangat kejam.

​Keysa berbalik arah seketika, menendang kopernya ke pinggir, dan berlari cepat menyusuri lorong menuju lift. Sepatu hak tingginya berderap keras, mengutuk laki-laki arogan itu di dalam hati pada setiap langkah paniknya.

​"Jangan berani-berani mati sebelum menandatangani surat ceraiku, Arga!" desis Keysa dengan napas memburu.

1
ElHi
trus kalo si Keysa sekeras buyutnya baja..lha Kon melumer dikitt aja buat Arga??? kok kyknya mustahilll🙈🙈😱😱
Popy Ana
wooww luar biasa.. kira kira Gimana ni kelanjutan mereka berdua perang dingin atau perang panas ni...
Popy Ana
ayo key semangat, buktikan kamu wanita tangguh yg tidak akan hancur.. meskipun sering di lukai kamu tetep berdiri kokoh sekeras karang di lautan 🤭😁
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
perang baru saja di mulai 😏😏
Popy Ana
Keysa otw mengguncang dunia bisnis 🤭🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Bastian kamu nyari perkara aja 😏😏
Popy Ana
o, jadi berubah haluan cara Arga untuk mendapatkan Keysa lagi.. tidak dengan menahan tapi melepaskan nya untuk di kejar 🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
saya yakin pasti itu Keysa 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo tunjukan Arga kl kamu sdh berubah dan layak berdiri di samping Keysa 💪💪
Popy Ana
👏👏👏 Akhirnya si monster balik.. lanjut Arga babat habis semua orang orang licik itu..
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bersihkan semua yg sdh jahat pd Keysa sejak dulu Arga kl kamu mau memperbaiki semuanya 😏😏
Savana Liora
sabar
Popy Ana
duh ini keposesifan Arga yg pertama setelah sembuh dari lupa ingatan Nya..
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
Popy Ana
sungguh dramatis sekali Arga nasibmu sudah bercerai kamu baru ingat semua masalalumu.. dan itu sangat baik untuk Keysa..
Popy Ana
ciyus arga gak mau ngamok dulu minimal banting kursi lah 😁🤣🤣
Popy Ana
aku mau nangis loh sumpah 🤭
Popy Ana: ini karma untuk Arga ya Thor 🤭
total 2 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ratna liat anak sakit di rawat bkn tanya apa yg sakit ke Arga malah ngehina dan ngerendahin Keysa trus malah mau jodohin Arga lg 😏😏 ampun dah ada ya ibu seperti Ratna gak ada khawatir"nya sama anak sendiri 😏😏 skrng Arga pasti lbh dingin dan kejam deh sama orang tp dia akan lembut sama Keysa tp perjuangan Arga gak akan mdh buat bisa balik lg sama Keysa 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jd pengen th kekejaman apa aja yg tlh Arga lakukan sama Keysa 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nah skrng waktunya Arga berjuang buat luluhin hati Keysa secara benar bkn karna hilang ingatan atau ego semata karna sejujurnya dr awal saya setuju kl Keysa berjodoh dngn Arga karna mereka cocok cuma saya gak mau Keysa di perlakukan seperti itu oleh Arga jd Arga hrs di kasih pelajaran dulu Thor biar dia th arti kehilangan seorang yg benar" dia cintai dan arti penyesalan yg meruntuhkan semua egonya karna seorang Keysa 😏😏 jd nanti kl bisa Arga dan Keysa di persatukan lg tp jngn skrng karna kita jg hrs liat perjuangan Arga buat dapetin Keysa lg 😉😉
Savana Liora: belum tau ya kak. kita lihat saja nanti kemana ketikan othor membawa mereka
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nah Arga skrng kamu thkan kenapa Keysa kekeh pengen pergi dr kamu skrng nikmatilah penyesalan mu karna ditinggal Keysa pergi 😏😏
Savana Liora: iya makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!