Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang Aneh
Di kantor, Ayra tidak sengaja bertemu dengan Danu saat dia ingin ke toilet. Sempat berpapasan, tapi Ayra malah mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mengabaikan Danu. Saking kesalnya Ayra, dia tidak mempedulikan Danu yang memanggil namanya. Pasalnya kencan yang selalu saja batal karena alasan Danu yang tidak masuk akal pikiran Ayra.
"Ayra!" panggil Danu dengan menarik lengan Ayra.
"Jangan sentuh aku, ini di kantor!" Ayra langsung menepis tangan Danu.
"Tolong dengar penjelasanku, Ay. Sungguh aku tidak berbohong ataupun sengaja membuatmu kecewa," Danu tetap membujuk Ayra agar percaya.
Ayra hanya menatap Danu dengan wajah kesalnya.
"Aku juga heran kenapa setiap kali aku ingin pergi denganmu, selalu saja ada masalah di tengah jalan," sambung Danu.
Kali ini Ayra membulatkan matanya menatap Danu.
"Jadi maksudnya itu kamu selalu sial setiap kali mau pergi sama aku, gitu?" Ayra terlihat marah.
"Bu-bukan begitu, Ayra...," sangkal Danu gugup.
Ayra meninggalkan Danu begitu saja.
"Ayra, maafkan aku. Jangan marah padaku, kumohon!" Teriak Danu yang tak bisa lagi membujuk Ayra.
Danu hanya pasrah. Mungkin dia tidak ditakdirkan untuk mendapatkan hati wanita yang dia cintai. Sekedar untuk mengajaknya kencan saja tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi mendapatkan hati Ayra untuk dimiliki dirinya. Segala cara sudah Danu lakukan, namun gagal di tengah jalan.
"Mungkin aku harus berhenti mengejar cintamu Ayra," gumam Danu lirih sembari menatap punggung Ayra yang berjalan pergi.
Ayra terlihat kesal saat Stevi melihatnya murung dengan bersedekap dada, duduk di kursi kerjanya. Stevi geleng-geleng kepala melihat tingkah Ayra. Temannya itu tau bila Ayra pasti ada masalah.
"Eh, loe dicari Danu tuh tadi," ucap Stevi.
"Tau ah, nggak usah lagi bahas si Danu itu. Males banget deh," kesal Ayra dengan membuang nafasnya kasar.
"Idih, ngambek terus. Sikap kamu yang seperti ini mirip orang yang lagi marahan sama pacarnya. Hahaha," goda Stevi.
"Ih apaan sih. Kamu sama nyebelin nya kayak si Danu," ketus Ayra, dia bangkit dan melangkah pergi.
"Idih ngambek," ucap Stevi.
Stevi hanya terkikik geli melihat tingkah Ayra. Melihat Ayra sama halnya seperti orang yang baru patah hati.
*******
Saat ini Bagas masih setia dengan ponselnya, selalu saja menatap layar itu sambil tersenyum. Bisa ditebak bahwa saat ini dia sedang menatap foto dirinya bersama dengan Ayra semasa kuliah dulu. Tidak habis pikir, selama dia berpisah dengan sang pujaan hati yang selama ini masih melekat kenangan bersamanya, Ayra adalah gadis yang tidak akan pernah tergantikan oleh gadis-gadis yang lain.
"Permisi Tuan, ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Gian yang tiba-tiba masuk ke ruangan memudarkan senyuman Bagas.
"Hemm, siapkan berkas untuk meeting lusa di Palembang, dan pesankan tiket sekarang untuk kita kesana. Jangan lupa bilang pada kepala cabang untuk menjemput kita di bandara, oh ya...hanya wanita itu saja yang menjemput di bandara, jangan yang lain," perintah Bagas.
"Hah, sekarang? Apa tidak terlalu mendadak, Tuan?" tanya Gian yang kali ini sedikit panik.
Bagas menatap Gian dengan pandangan mata yang tak biasa, seketika Gian menundukkan pandangannya dengan takut.
"Biarkan saja, aku tidak mau tau. Pokoknya besok kita harus sudah sampai di Palembang!" tegas Bagas menekan.
Gian perlahan menghela nafasnya. Gian tau siapa yang dimaksud 'wanita itu' oleh Bagas. Lagi-lagi bos nya ini memerintah dengan sesuka hatinya saja.
"Ba-baiklah Tuan," setelah itu Gian bergegas keluar dari ruangan itu dan langsung menelepon seseorang.
Panggilan pun tersambung.
Gian berkata sesuai dengan kemauan oleh Bagas, semua dia sampaikan pada kepala cabang yang ada di Palembang. Tanpa terkecuali termasuk dengan wanita yang di perintahkan oleh Bagas.
"Mengerti?" tanya Gian disambungan telepon kepada kepala cabang di Palembang.
"Baiklah, saya mengerti," ucap kepala cabang dengan nada sopan pada Gian.
Tutttttt
Panggilan terputus sepihak oleh Gian.
Gian langsung tersenyum dan bernafas lega, lalu kembali dengan aktivitas pekerjaan dirinya dengan tenang.
*******
Ayra sedang mengetik pada layar laptopnya, begitu fokus hingga cubitan kecil pada dirinya baru dia rasakan, itu adalah panggilan ketiga untuk dirinya dari teman sekantornya, Stevi.
"Woi Ayra!"
"Astaga, emm sorry aku lagi fokus nih. Ada apa?" tanya Ayra yang langsung menoleh pada Stevi, sahabatnya.
"Tuh, kamu dipanggil pak bos ke ruangannya sekarang."
"Ada apaan sih?" Ayra mendadak bingung.
"Mana aku tahu. Kayaknya ada yang penting. Cepetan sana, pak bos udah kayak cacing kepanasan tuh."
"Hah, masa sih. Kok bisa?" Ayra mengernyitkan dahinya.
"Ya udah buruan sana!" seru Stevi berjalan menuju tempat duduknya.
Arya menghela nafasnya dalam dan berlalu ke ruangan pak bos seperti yang dibilang oleh Stevi.
TOK TOK TOK
"Permisi, Bapak memanggil saya?" Ayra masuk perlahan setelah ada sahutan dari atasannya.
"Ya, kemari lah!" perintah pak bos dengan nada sedikit panik.
Ayra jadi merasa dirinya dalam masalah melihat tingkah atasannya yang tidak biasa itu. Ayra pun perlahan berjalan menuju bosnya berada, tepat di hadapannya sekarang.
"Ay, saya minta tolong besok kamu pagi-pagi sekali datang ke bandara jemput seseorang di sana. Jangan sampai telat sedetik pun, paham?" ucap bos atasan itu.
"Satu lagi, pelajari berkas ini dan beri penjelasan padanya jika dia bertanya tentang perusahaan, mengerti?" lanjutnya sembari menyerahkan berkas dihadapan Ayra.
Lalu bosnya itu memegang tengkuk lehernya, dia kelihatan merasa sedang pusing. Ayra terdiam melongo saat mendapatkan perintah itu. Ayra merasa bosnya itu salah memanggil dirinya saat ini, karena masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh bosnya.
"Emm, maaf Pak tapi maksudnya semua ini apa ya? Dan saya harus menjemput seseorang di bandara apalagi mempelajari tentang berkas ini?" Tanya Ayra sangat hati-hati dan pelan.
Bosnya itu memperhatikan Ayra dengan raut muka sedikit seram. Ayra menjadi meringis ketakutan.
"Bukankah Bapak sudah ada sekretaris, lalu kenapa harus saya yang melakukan pekerjaannya?" tanya Ayra kembali saat bosnya itu tidak memberikan jawaban yang ditanyakan oleh Ayra.
Kali ini bosnya itu terlihat sangat sangar sekali wajahnya, sampai-sampai Ayra menundukkan pandangannya.
"Saya pusing, bisa nggak kamu itu menurut perintah saya? Saya juga nggak tahu kenapa dia inginnya ka...," bos itu pun menggantungkan ucapannya karena hampir saja dia keceplosan.
"Ah, sudahlah pokoknya lakukan apa yang saya perintahkan dan jangan banyak tanya. Sudah sana, pergilah!" Tegas bosnya itu sembari menunjukkan tangannya ke arah pintu agar Ayra bisa keluar dari ruangannya.
Namun Ayra tak gentar untuk bertanya kembali.
"Siapa yang akan saya temui, Pak? Bos mana? Bos dari pusat, kah?" kesal Ayra tapi tak dia tunjukkan. Dia sedikit memelankan suaranya agar tetap sabar.
"Ya seperti itu lah, lihat saja besok. Pokoknya jangan malu-maluin kamu. Sudah sana, pelajari lah semua berkas itu!" lagi-lagi pak bos mengusir Ayra tapi kali ini dengan nada sedikit rendah saking kesal dan pusingnya dia menghadapi Ayra yang keras kepala.
Setelah mendengar helaan nafas kasar dari bosnya, Ayra pun langsung pergi begitu saja tanpa pamit saking kesalnya Ayra pada atasannya itu.
"Huh, apalagi ini? Buat pusing saja. Pekerjaanku sudah banyak ditambah dengan pekerjaan milik orang lain yang aku kerjakan. Itu bos sebenarnya waras apa nggak sih?" umpat Ayra dengan kesal.
BRAKKK
Ayra membanting semua berkas yang dipegang ke meja, alhasil menimbulkan suara keras dari sana hingga membuat teman kantornya kaget.
"Astaga, Ayra apaan sih loe, buat gue jantungan tau nggak. Kalau ada masalah, ya dibicarakan baik-baik sama Danu, jangan loe lampiaskan tuh semua berkas," ucap Stevi sambil memegangi dadanya yang dag dig dug.
"Aneh nggak tuh pak bos, masa nyuruh gue ngelakuin tugas sekretaris dia? Parah kan? Ahhhh, kesel gue!" umpat Ayra merasa kesal.
"Hah, serius loe? Emang sekretaris pak bos, mana? Kalau gue disuruh gitu mah ogah ya. Semua berkas ini gue kasih balik ke sekretaris nya pak bos," ucap Stevi sambil memperagakan tangannya.
"Emang loe berani? Ngomong aja bisanya loe," tantang Ayra.
"Hehe, nggak juga sih. Ya sudahlah, yang penting nih tugas pasti ada kaitannya sama loe. Ambil hikmahnya saja," tutur Stevi.
Sejenak Ayra berpikir.
"Kenapa perasaanku jadi nggak enak, ya? Ah, bodoh amatlah!" Ayra menepis pikiran-pikiran buruknya.
Mereka pun kembali dengan tugas mereka masing-masing, tak lupa dengan Ayra yang musti bekerja dengan teliti karena adanya tambahan pekerjaan dari sang atasan.
*******
Di tempat lain, seorang lelaki menatap foto wanita pujaan hatinya. Pikirannya berkecamuk dan tak karuan. Bimbang sudah pasti. Tak tenang apalagi. Dia hanya fokus untuk hari esok, tak sabar lagi menunggu hari esok tiba untuk bertemu sang pujaan hatinya.
"Aku merindukanmu. Sampai jumpa besok di bandara, sayang!" gumamnya dengan lembut.
Dia menghela nafas dalam dan setelah itu menampilkan senyum lebar, berharap hari esok adalah hari yang sangat spesial dan istimewa.
Bersambung....