NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Alasan Yang Baru Di Sadari

Hari ini adalah hari pertama Alden menjalani kemoterapi.

Jika beberapa waktu lalu ia masih ragu, kini ia datang dengan tekad yang jauh lebih kuat.

Ketakutan itu masih ada. Kekhawatiran tentang efek samping, rasa sakit, dan ketidakpastian yang menunggunya juga belum hilang sepenuhnya.

Namun harapan yang baru ia temukan jauh lebih besar daripada semua ketakutan itu.

Alden tahu kemoterapi bukanlah keajaiban yang akan langsung menyembuhkannya.

Ia juga paham bahwa pengobatan ini tidak akan membuat penyakitnya menghilang begitu saja.

Setidaknya, kemoterapi dapat membantu memperlambat pertumbuhan sel kanker yang terus menggerogoti tubuhnya dan memberinya sedikit lebih banyak waktu.

Dan saat ini, waktu adalah hal paling berharga yang ia miliki.

Ia hanya ingin tubuhnya sedikit lebih kuat.

Sedikit lebih baik.

Cukup agar ia mampu menyelesaikan satu hal yang selama ini belum sempat ia tuntaskan.

Menemukan Anjani.

Bukan untuk meminta apa pun.

Bukan pula untuk mengulang masa lalu.

Ia hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi dalam keadaan yang lebih baik daripada sekarang.

Ingin meminta maaf dengan layak, menjelaskan semua yang selama ini tak pernah sempat terucap, lalu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Anjani baik-baik saja.

Pemikiran itulah yang membuat Alden mantap melangkah memasuki ruang kemoterapi pagi itu.

Saat ini, ia tidak lagi menjalani pengobatan hanya karena diminta dokter atau demi menenangkan kedua orang tuanya.

Kali ini, ia menjalaninya karena akhirnya memiliki alasan yang membuaTnya ingin bertahan.

Alden duduk lemah di kursi roda, sementara Ranti mendorongnya perlahan menyusuri lorong rumah sakit besar terbaik di Jakarta yang dipilih orang tuanya untuk seluruh rangkaian pengobatannya.

Pak Armanto berjalan di sisi lain putranya, sesekali menepuk pelan bahu Alden dengan tatapan penuh dukungan, meski di balik wajah tenangnya, tersimpan kepedihan yang luar biasa besar.

Lorong rumah sakit itu terasa dingin dan sunyi.

Aroma obat-obatan yang khas menusuk samar di udara, bercampur dengan suara langkah para perawat dan bunyi alat medis yang terdengar dari kejauhan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang perawatan khusus kemoterapi.

Ruangan itu terasa lebih dingin dibanding bagian rumah sakit lainnya.

Di sana sudah ada beberapa pasien lain dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengannya.

Sebagian duduk diam di kursi perawatan yang empuk dengan selang infus terpasang di lengan masing-masing.

Sebagian lagi memejamkan mata lemah, menahan rasa tidak nyaman yang terlihat jelas dari wajah mereka.

Melihat pemandangan itu, jantung Alden langsung berdegup semakin cepat.

Rasa gugup perlahan berubah menjadi ketakutan yang sulit ia sembunyikan.

Bukan karena ia takut pada rasa sakit.

Melainkan karena ia takut tubuhnya yang sudah lemah ini tidak akan cukup kuat menerima obat-obatan keras yang sebentar lagi akan masuk ke dalam pembuluh darahnya.

Tangannya terasa dingin.

Dan napasnya perlahan mulai tidak teratur.

“Tenang saja, Nak,” bisik Pak Armanto lembut sambil menepuk pelan pundaknya, seolah bisa membaca ketakutan yang sedang memenuhi hati putranya itu.

“Kami ada di sini.”

Tatapannya menghangat penuh keteguhan.

“Kami nggak akan ke mana-mana.”

Ranti ikut mengangguk sambil tersenyum lembut.

Wanita itu kemudian menggenggam tangan Alden yang terasa dingin erat-erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat sentuhan hangatnya.

“Iya, Mas,” ucapnya pelan menenangkan. “Anggap saja sekarang kamu lagi istirahat.”

Tangannya mengusap perlahan punggung tangan Alden.

“Kalau mengantuk, tidur saja. Jangan terlalu dipikirkan macam-macam, ya.”

Ranti tersenyum tipis sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut,

“Kita lakukan semua ini supaya kondisi kamu membaik dan kamu tetap kuat menjalani semuanya.”

Matanya menghangat penuh harapan.

“Supaya nanti kamu bisa pergi bertemu Anjani.”

Mendengar nama itu disebut, ketegangan di tubuh Alden perlahan mulai berkurang.

Napasnya yang tadi terasa berat kini sedikit lebih tenang.

Ia mengangguk pelan, lalu membiarkan perawat yang sejak tadi berdiri di sampingnya mulai memasang selang infus di lengan kanannya yang semakin kurus.

Jarum itu menusuk pelan kulitnya.

Sedikit nyeri.

Namun Alden berusaha tetap diam dan tidak banyak bergerak.

Tak lama kemudian, cairan bening dari kantong infus mulai mengalir perlahan masuk ke dalam tubuhnya.

Seketika sensasi dingin menjalar dari lengannya, menyebar perlahan ke seluruh tubuh.

Disusul rasa ngilu samar yang tidak nyaman.

Proses itu memakan waktu berjam-jam lamanya.

Awalnya Alden berusaha tetap terjaga. Namun efek obat yang perlahan menenangkan tubuhnya, ditambah rasa lelah yang sejak tadi menggerogoti, membuat kelopak matanya terasa semakin berat.

Ia mencoba bertahan beberapa saat lagi, tetapi tubuhnya yang kehabisan tenaga akhirnya menyerah.

Tak lama kemudian, Alden terlelap dalam tidur yang tidak benar-benar nyenyak.

Di antara batas sadar dan mimpi, ingatannya kembali melayang jauh, menembus tahun-tahun yang telah lama berlalu.

Kembali ke masa ketika ia masih remaja.

Masa itu pernah dipenuhi kekacauan, amarah, dan kebingungan.

Namun kini, justru itulah bagian hidup yang paling sering kembali menghampiri Alden.

Dan seperti hampir semua kenangan yang datang belakangan ini, sosok pertama yang muncul selalu Anjani Lestari.

Di antara tidur dan sadar, kenangan tentang Anjani kembali datang.

Dulu ia selalu menganggap kepedulian gadis itu sebagai gangguan.

Ia menolak, membentak, bahkan melukai perasaannya berkali-kali.

Baru sekarang Alden memahami bahwa Anjani tidak pernah menghakiminya.

Gadis itu hanya peduli.

Dan justru ketulusan itulah yang paling gagal ia hargai.

Sampai akhirnya, menjelang kelulusan SMA, ketakutan itu berubah menjadi keputusan paling bodoh dalam hidupnya.

Ia memilih menyakiti Anjani.

Memilih membuat gadis itu membencinya.

Karena saat itu ia berpikir, jika Anjani pergi atas kemauannya sendiri, maka rasa sakit itu akan lebih mudah ditanggung.

Namun ia salah.

Sangat salah.

Yang benar-benar tersisa setelah hari itu bukanlah kebebasan.

Melainkan penyesalan yang tidak pernah selesai.

Dan kini, setelah semua waktu yang terlewat, Alden akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan.

Hari kelulusan itu bukan hanya hari ketika ia menyakiti Anjani.

Melainkan hari ketika ia kehilangan kesempatan terakhir untuk bersikap jujur kepada satu-satunya orang yang diam-diam paling berarti dalam hidupnya.

"Mas Alden."

Suara lembut Ranti yang memanggil namanya perlahan membangunkan Alden dari tidur panjang dan mimpi yang penuh kenangan itu.

Alden membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, sementara pandangannya masih sedikit kabur. Ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari di mana dirinya berada.

Ruangan itu masih sama. Dinding putih yang tenang, aroma obat yang samar, serta suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Dadanya terasa lebih ringan.

Bukan karena rasa sakitnya menghilang, melainkan karena beban yang selama ini ia simpan rapat di dalam hati seakan sedikit berkurang setelah mimpi panjang itu.

Ia menoleh pelan ke samping.

Ranti masih duduk di kursi yang sama, menatapnya dengan senyum hangat.

"Sudah selesai. Bagaimana rasanya? Pusing atau mual?" tanya Ranti cemas, mengusap keringat di dahi Alden dengan tisu lembut.

Alden menggeleng pelan, meski tubuhnya memang terasa sangat lemas, pegal, dan ada rasa mual samar yang mulai menyeruak di ulu hatinya.

"Masih aman," jawabnya lirih.

Suaranya terdengar serak setelah tidur cukup lama.

Ranti menatapnya beberapa saat, seolah berusaha memastikan Alden benar-benar baik-baik saja dan bukan sekadar menenangkan dirinya.

"Jangan dipaksakan. Kalau mual bilang saja."

"Iya."

"Baguslah kalau begitu," sela Pak Armanto yang sejak tadi menunggu dengan sabar.

"Sekarang kita pulang ya, Nak. Istirahat di rumah jauh lebih nyaman. Dokter bilang kamu butuh tidur yang banyak dan makan makanan yang bernutrisi tinggi supaya tubuhmu cepat pulih dan kuat lagi buat sesi berikutnya."

Alden menoleh ke arah ayahnya.

Ia mengangguk pelan.

"Iya, Pa."

Selama beberapa minggu ke depan, hari-hari Alden diisi dengan masa pemulihan yang tidak mudah.

Setelah sesi kemoterapi dan hari-hari berikutnya, tubuhnya langsung bereaksi. Rasa mual datang bergelombang, kadang disertai muntah, pusing, dan nyeri di sekujur tubuh yang membuatnya lebih banyak terbaring di tempat tidur. Energinya seperti terkuras habis. Bahkan untuk duduk terlalu lama atau berjalan beberapa langkah saja terasa melelahkan.

Pak Armanto dan Ranti bergantian menemaninya. Beberapa malam mereka hampir tidak tidur karena khawatir melihat kondisi Alden yang terkadang menggigil, kehilangan nafsu makan, dan tampak semakin lemah.

Memasuki minggu kedua, kondisinya perlahan membaik. Rasa mual mulai berkurang, meski tubuhnya masih mudah lelah. Namun saat itulah perubahan lain mulai muncul.

Rambutnya mulai rontok.

Awalnya hanya beberapa helai yang tertinggal di bantal dan sisir. Hari demi hari jumlahnya semakin banyak hingga setiap kali menyentuh rambutnya, beberapa helai kembali ikut terlepas.

Setiap kali berdiri di depan cermin, Alden sulit mengabaikan perubahan yang terjadi pada dirinya.

Wajahnya tampak lebih kurus dibanding sebelumnya. Kurang tidur, pengobatan, dan nafsu makan yang menurun membuat pipinya sedikit mengempis. Lingkaran gelap mulai terlihat di bawah matanya, sementara kulitnya tampak lebih pucat dan kusam.

Perubahan itu memang belum mengubahnya menjadi orang lain, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya sedang berjuang melawan sesuatu yang besar.

Meski begitu, Alden tidak mau menyerah.

Ia tidak ingin menghabiskan hari-harinya dengan mengasihani diri sendiri.

Setiap kali menatap bayangannya di cermin, ia selalu berusaha menegakkan bahu dan menenangkan hatinya. Kadang ia memaksakan senyum kecil, bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena ia tidak ingin kehilangan harapan.

Ia mulai merapikan rambutnya yang semakin menipis sebaik mungkin. Ia memilih pakaian yang nyaman, longgar, namun tetap rapi. Warna-warna cerah sesekali ia kenakan agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.

Alden tahu ia sedang sakit.

Namun selama masih mampu berdiri, berjalan, dan menatap hari esok, ia ingin tetap terlihat sebagai dirinya sendiri. Seseorang yang masih memiliki harapan dan belum berniat menyerah pada keadaan.

Bukan hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Dan untuk Anjani.

Alden berjanji pada dirinya sendiri, jika suatu hari takdir mempertemukannya kembali dengan Anjani, ia ingin berdiri di hadapan wanita itu dalam keadaan yang sebaik mungkin.

Bukan sebagai seseorang yang tampak kalah oleh penyakitnya.

Ia ingin Anjani melihat Alden yang dulu pernah dikenalnya. Alden yang kuat, yang tegar, yang selalu berusaha tersenyum meski keadaan tidak berpihak padanya.

Karena jauh di dalam hatinya, Alden masih menyimpan harapan itu.

Harapan bahwa suatu hari nanti ia bisa menemukannya lagi.

"Kamu harus terlihat gagah dan kuat, Alden," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin, suaranya lirih namun penuh tekad.

"Jangan biarkan penyakit ini mengambil semuanya darimu. Kamu masih Alden yang sama. Kamu masih punya tujuan. Kamu masih punya janji yang harus ditepati."

Banjarbaru.

Nama kota itu kembali terlintas di benaknya.

Entah Anjani masih berada di sana atau tidak, Alden tidak tahu.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memiliki arah yang bisa dituju.

Dan selama harapan itu masih ada, ia belum boleh menyerah.

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!