NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - Tempat Ini Bukan Milikku (+)

Hembusan napas hangat Max yang menerpa tengkuk Nami seketika mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh pasokan oksigen di paru-parunya.

Nami meremas gagang pintu di hadapannya dengan jemari gemetar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang mendadak menguap entah ke mana.

"Max, lepaskan..." Nami mencoba memprotes, berusaha keras menstabilkan suaranya yang mendadak parau.

Ia tidak berani berbalik, takut jika matanya harus berhadapan langsung dengan dada bidang pria itu yang terekspos tanpa selembar benang pun.

"Aku... aku lelah sekali hari ini. Bisakah kita melakukannya lain kali?"

Alasan itu meluncur begitu saja. Nami berbohong. Fisiknya mungkin sedikit letih setelah seharian menemani Nyonya Sofia.

Namun, alasan sebenarnya adalah karena jantungnya sudah berdegup terlalu liar. Ia belum siap mental untuk menghadapi intensitas pria ini lagi.

Max tidak langsung mundur. Pria itu justru sengaja mengikis jarak, mengunci pergerakan Nami hingga punggung wanita itu samar-samar bisa merasakan kehangatan dari dada bidangnya.

Sebuah tangan kekar Max yang bebas perlahan naik, bertumpu kuat pada daun pintu di sisi kepala Nami, menutup jalan keluar sepenuhnya.

"Lelah?" sahut Max kaku. Suara bariton rendahnya terdengar begitu mutlak, menggema pelan di keheningan kamar yang temaram.

Max menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak di antara bibirnya dan telinga Nami menipis.

"Aku tidak menyarankanmu untuk menunda-nunda tanggung jawab, Dokter Namira. Ingat, waktumu di rumah ini hanya satu tahun. Dan waktu itu terus berjalan setiap detiknya."

Kata-kata taktis nan dingin itu meluncur begitu saja, sukses membuat Nami tertohok setengah mati. Max tidak sedang bernegosiasi.

Pria itu sedang mengingatkannya secara tidak langsung bahwa setiap malam yang terbuang adalah pengurangan efisiensi dari kontrak satu miliar mereka.

Tanggung jawab Nami adalah mengandung secepatnya, dan Max tidak menerima alasan penundaan apa pun.

Nami memejamkan mata sesaat, menelan semua harga diri yang sempat tertahan di tenggorokannya.

Kata-kata Max barusan adalah tamparan realitas yang kejam. Benar, semua ini memang demi kontrak. Tidak ada ruang untuk negoisasi perasaan di sini.

Nami mengembuskan napas pasrah, melonggarkan cengkeramannya pada gagang pintu.

"Kau benar," bisik Nami, suaranya terdengar dingin dan datar, mencoba menutupi luka kecil di hatinya.

"Mari kita selesaikan kewajiban malam ini. Sesuai kontrak."

Mendengar kepasrahan itu, Max perlahan membalikkan tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya.

Detik berikutnya, perlawanan di lidah Nami runtuh sepenuhnya. Max tidak memberinya ruang untuk menghindar.

Pria itu menunduk, mengklaim bibir Nami dalam sebuah lumatan yang tidak lagi sekadar menuntut hak hukumnya, melainkan terasa begitu dalam dan intens.

Nami mencengkeram lengan kokoh Max, awalnya berniat untuk menahan dorongan pria itu, namun sentuhan di bibirnya terlalu memabukkan untuk dilawan.

Max memperdalam ciumannya, tidak lagi sedingin es seperti biasanya. Ada gairah yang menuntut sekaligus melindungi di sana.

Nami mendesah pelan di sela pagutan mereka, membiarkan pertahanannya runtuh saat ciuman Max turun ke rahang dan menyapu lembut nadinya yang berdenyut cepat.

Max mengerang rendah, cengkeraman tangannya di pinggang Nami mengerat, seolah ditarik oleh pusaran emosi yang gagal dikendalikan oleh logikanya sendiri.

Malam itu, keheningan kamar utama kembali lebur dalam dominasi Max yang pekat. Tidak ada paksaan yang kasar, melainkan sebuah ritme yang menuntut penyerahan diri secara mutlak.

Nami memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan jemari kokoh Max yang hangat menuntunnya kembali ke arah ranjang, mengikis seluruh jarak fisik dan logika yang selama ini mereka agungkan.

Di bawah kuasa pria itu, Nami merasa seluruh pertahanan dirinya perlahan melumpuh. Setiap sentuhan dan kecupan Max di ceruk lehernya memberikan sensasi terselubung yang membuat Nami kehilangan tumpuan pada kedua kakinya.

Di tengah pergolakan batinnya, Nami dipaksa menyerah pada realitas baru bahwa di dalam kamar yang terkunci ini, Maxwell Ezra Tanuwijaya memegang kendali penuh atas dirinya.

Memastikan bahwa sang partner kontrak benar-benar terikat tanpa celah di bawah dekapannya malam ini.

***

Satu jam berlalu, badai intensitas itu akhirnya mereda.

Udara di dalam kamar tidur utama itu kembali diselimuti kesunyian yang pekat. Nami bergerak perlahan di bawah selimut, mengancingkan kembali piamanya yang sempat berantakan dengan jemari yang masih sedikit gemetar akibat sisa kelelahannya.

Sementara di sisinya, Max tampak sudah mengenakan celana tidur panjang hitamnya kembali, berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang gelap.

Merasa urusan "kontrak" malam ini sudah selesai, Nami menggeser tubuhnya perlahan menuju ujung ranjang, berniat memberi jarak sejauh mungkin seperti malam-malam biasanya.

Namun, belum sempat Nami mencapai tepi kasur, sebuah gerakan refleks dari samping memotong jalurnya.

Tangan kekar Max tiba-tiba terjulur di bawah selimut, melingkar posesif di pinggang ramping Nami.

Dengan satu tarikan pelan namun bertenaga, Max menarik tubuh Nami mundur, membawa wanita itu kembali ke dalam dekapan hangatnya dari belakang.

Punggung Nami kini menempel sempurna pada dada bidang Max yang hangat.

Nami tersentak brutal. Jantungnya kembali bertalu kencang. "Max, apa—"

"Tidur, Namira. Ini sudah terlalu larut," potong Max datar, memejamkan matanya tanpa berniat melepaskan pelukannya sama sekali.

Kedua tangannya mengunci pinggang Nami, seolah memastikan wanita itu tidak akan kabur ke mana-mana hingga pagi menjelang.

Nami mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terlalu letih secara fisik dan mental untuk memicu perdebatan baru di tengah malam buta begini.

Akhirnya, ia memilih membeku dalam posisinya yang membelakangi Max. Di bawah kungkungan pelukan Max yang terasa begitu kokoh, aman, dan hangat, hati kecil Nami mendadak berbisik dengan nada pahit yang menyengat.

Jangan bodoh, Nami. Nyaman ini semu, batinnya, memejamkan mata dengan dada yang terasa sesak.

Ini hanya bagian dari pelayanan kontrak. Kau tidak boleh lupa siapa dirimu yang sebenarnya. Tempat ini bukan milikmu.

Di dalam kegelapan yang sama, Max perlahan membuka matanya sedikit. Ia mendengarkan ritme napas Nami yang perlahan mulai teratur di dalam pelukannya.

Jemari Max tanpa sadar bergerak sedikit, mengusap kain piyama di pinggang Nami dengan gerakan halus yang asing bagi dirinya sendiri.

Pria itu menghela napas pendek dalam hati, merasa heran sekaligus frustrasi pada perubahan sikapnya.

Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia mendadak menjadi begitu posesif dan enggan membiarkan wanita ini menjauh bahkan setelah tuntutannya terpenuhi?

Dia hanya partner kerja, Max. Dia hanya teman kontrak untuk satu tahun saja, pikir Max mengingatkan akal sehatnya yang mulai korslet.

Pria itu meyakinkan dirinya bahwa ketertarikan ini murni karena insting kepemilikan pria dewasa, bukan karena hal lain.

Namun, pertahanan logika pria itu runtuh seketika saat Nami bergerak sedikit dalam tidurnya.

Mungkin karena mencari posisi yang lebih nyaman, Nami perlahan membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi Max. Masih dalam kondisi terpejam dan setengah sadar, wanita itu meringkuk lebih dekat, lalu tanpa sadar menyurukkan wajahnya ke dada bidang Max yang hangat.

Jantung Max mendadak berdentum satu kali dengan begitu keras di dalam rongga dadanya yang sepi. Sebuah debaran liar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan barisan pasal di atas kertas kontrak mereka.

Max membeku di tengah kegelapan malam, menatap puncak kepala Nami dengan rahang yang mengeras kaku.

Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Maxwell Ezra Tanuwijaya, ia menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan, bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa melepaskan wanita ini dengan mudah saat masa kontrak satu tahun mereka berakhir nanti.

1
Linzyasila Linzyasila
ceritanya bagus kenapa gak up tiap hari?
Aksara Naura: karena sepi kak wkwk
total 1 replies
Aksara Naura
Akhirnya up lagi! sampai jumpa di next bab yahh💪
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!