Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Alvin
Tangan Luna bergerak meraih horn telepon manual di atas bufet. Tanpa ragu Luna mendekatkan benda ke telinga menyambut panggilan dari Alvin.
"Assalamualaikum mas..." Luna langsung menyapa seolah tahu itu adalah Alvin.
"Waalaikumsalam Luna... Ada apa? Ibu menyusahkan kamu?"
"Ngak mas... Ibu baik-baik saja. Beliau sudah istirahat di kamar. Aku mau minta ijin keluar sebentar. Boleh kan?"
Luna tak segera mendapatkan jawaban Alvin. Tak ada suara dari seberang sana, yang terdengar hanyalah desahan nafas kasar seorang lelaki. Luna menanti jawaban Alvin sedikit sangsi apa Alvin keberatan dia keluar dari istana mewah ini. Luna sangat berharap Alvin mengeluarkan ijin untuknya walau bahaya sedang mengintai.
"Mau ke mana? Anjas sedang mencarimu. Ruang gerakmu sempit."
"Aku harus melihat salah satu pasienku. Aku dapat laporan pasienku drop setelah konsumsi obat terakhir. Aku mau tahu bagaimana keadaannya."
"Kenapa tidak langsung bawa ke rumah sakit?"
"Dia pasien istimewa. Dia berada di bawah pengawasanku." Luna tak bisa menceritakan kalau pasien itu sedang menjalankan pengobatan obat baru hasil riset Luna. Luna belum mau mengaku dia adalah salah satu dokter penemu formula baru di bidang kesehatan. Terlalu dini percaya pada Alvin. Luna belum mengenal Alvin sedetail nya mana mungkin langsung buka rahasia pribadi.
"Luna...aku tak melarang mu menolong pasien tapi keadaan tak memungkinkan kamu keliaran di luar sana. Aku takut kamu jumpa mata-mata Anjas."
"Aku janji akan segera kembali bila selesai lihat pasien itu. Aku tidak ke mana-mana selain ke tempat karantina pasien. Mas boleh suruh pengawal mas awasi aku. Aku sebagai seorang dokter tak bisa abaikan kesehatan pasien. Aku sudah angkat sumpah utamakan nyawa pasien."
"Kau tunggu aku...aku yang antar kamu!" Alvin mengalah karena Luna ingatkan dia tugas seorang dokter. Luna tak salah bila membayar tanggung jawabnya terhadap janji dokter. Di zaman ini sudah langka ada dokter utama nyawa pasien. Kebanyakan dokter sombong sulit ditemui apalagi bila sudah top. Mereka sering menolak obati pasien bila lepas jam kerja. Sejuta alasan dikemukakan untuk menolak pasien. Baru hari Alvin jumpa dokter sebaik Luna. Lalu apa dia akan menyia-nyiakan kebaikan hati Luna?
"Tak usah repot mas...cukup suruh supir saja! Aku tak mau mas mengorbankan pekerjaan demi aku." Luna tak enak hati Alvin tinggalkan tugas hanya temani dia jenguk pasien. Luna sama sekali tidak berniat mengganggu pekerjaan Alvin. Diijinkan keluar saja sudah bersyukur.
"Tidak repot... Aku ingin memahami pekerjaanmu. Siapa tahu aku bisa membantumu karena aku juga pernah belajar soal obat-obatan."
"Oh iya? Asal tak ganggu mas tak jadi masalah. Aku tunggu kehadiran mas. Aku pamitan dulu sama ibu. Nanti dia cari aku."
"Ya... bersiap-siap ya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Luna meletakkan horn telepon ke tempat semula dengan hati riang. Dia akan segera jumpa pasien yang sedang konsumsi obat hasil risetnya. Luna mau tahu mengapa pasien itu mendapat drop padahal sebenarnya kondisinya membaik. Perkembangan virus bisa ditekan sampai tidak menyebar lebih ganas.
Luna segera berjalan menuju ke kamar mertuanya sekedar pamitan. Luna tak ingin ibu Alvin kehilangan dirinya yang akan berpengaruh pada pikiran wanita itu. Luna takut ibu Alvin mengira dirinya telah meninggalkan dia tanpa kabar. Jangan gara-gara salah paham kecil ini memicu timbulnya pikiran negatif di otak ibu Alvin. Keadaan yang membaik bisa berubah kapan saja bila pikiran Ibu Alvin kena rangsangan buruk. Luna harus pandai jaga mood ibu Alvin agar tak kumat lagi.
Luna berhenti di depan pintu kamar Ibu Alvin. Luna berpikir sejenak barulah beranikan diri mengusik waktu istirahat mertuanya. Tangan Luna perlahan menggedor pintu. Tanpa gunakan tenaga namun cukup memancing perhatian orang dalam kamar.
Tak butuh waktu lama ibu Alvin menyembulkan kepala lihat siapa yang mengganggunya. Matanya agak liar kembali hilang cahaya kemilau yang sempat nangkring di bola mata itu. Mood ibu Alvin berubah-ubah tanda dia belum seperti sembuh. Masih butuh bantuan dokter jiwa menangani kejiwaan wanita itu.
"Bu... Aku mau keluar sebentar. Tak lama kok.." Luna cepat buka suara agar perempuan itu tidak bertanya-tanya ada apa Luna mengganggunya.
"Ke mana?" selidiki ibu Alvin penuh kecurigaan.
"Aku kan dokter... Ada pasien mendadak sakit parah. Aku harus lihat keadaannya." sahut Luna jujur. Dia mengatakan apa adanya tanpa menyembunyikan apapun dari ibu Alvin. Luna perlakukan Ibu Alvin seperti orang waras umumnya.
"Kau sedang hamil tua... Tak baik berlama-lama bersama orang sakit. Itu tak baik bagi kesehatan kamu dan anak." ujar ibu Alvin layak orang tua lain. Memberi nasehat baik untuk kebaikan Luna dan anaknya.
"Aku tahu Bu maka pergi lihat sebentar. Aku tak mungkin kasih resep bila tidak melihat langsung kondisi pasien. Sembarangan memberi obat membahayakan nyawa pasien. Ibu tahu hal itu bukan? Ibu mau titip beli apa? Pingin makan sesuatu?"
"Tidak ada... Ibu masih kenyang. Tapi kalau ada es buah boleh juga."
Luna tak berani tertawa mendengar perkataan Ibu Alvin. Menolak tawaran Luna tapi menitip es buah. Beginilah jiwa labil penderita penyakit jiwa.
"Baik Bu... Nanti aku dan mas Alvin akan cari es buah untuk ibu. Kami tak lama. Ibu bisa kan ditinggal sebentar?"
"Iya tapi janji cepat balik. Sebelum makan malam sudah datang."
"Pasti Bu... Pergi ya!" Luna meriah tangan ibu Alvin menciumnya dengan takzim. Salah satu bentuk penghormatan pada orang tua. Luna sengaja lakukan hal itu supaya Ibu Alvin merasa dirinya berharga. Dia tidak sendirian di dunia ini karena masih ada yang menghormatinya.
Sekilas ada pijaran cahaya terang melintasi ekor mata ibu Alvin. Perhatian kecil Luna menggugah perasaan orang tua yang sering disakiti. Hatinya terasa lapang ada yang masih memberinya kasih sayang.
"Hati-hati... "
"Ya Bu... Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Langkah Luna terasa lebih ringan pamitan sama Ibu Alvin. Berbagai harapan tumbuh di hati Luna. Semoga kehadirannya membawa berkah bagi Alvin. Secara tidak sengaja Luna berhasil menyembuhkan penyakit jiwa Ibu Alvin. Ini balasan Luna terhadap kebaikan hati Alvin bersedia menampungnya. Bahkan menantang bahaya demi melindungi dirinya.
Luna duduk manis di ruang tamu menunggu kemunculan Alvin. Sebenarnya Luna sudah tidak sabar ingin segera menjumpai pasiennya. Tetapi dia tidak pergi bisa berbuat apa-apa karena langkahnya sudah dihitung. Luna tak bebas ke mana-mana sebelum Anjas benar-benar melepaskan dirinya.
Hampir setengah jam Luna menunggu barulah muncul lelaki berkulit putih itu. Alvin masih memakai pakaian resmi ala pejabat kantoran. Setelan kemeja dibungkus oleh rompi hitam. Kalau tidak ngondek boleh dibilang Alvin itu lelaki dambaan kaum hawa. Sayang sekali di dalam tubuhnya yang kekar tersimpan jiwa feminim.
Luna segera menepis bayangan buruk tentang Alvin. Jalan yang ditempuh Alvin merupakan pilihannya. Luna tidak berhak ikut campur urusan pribadi Alvin. Di mana Alvin akan melangkah itu merupakan keputusannya.
"Assalamualaikum..." Alvin terus berjalan sampai di depan Luna. Dia tidak duduk karena ingin segera pergi. Di tangannya memegangi paper bag kecil berlogo berbagai merek ponsel. Luna tak terlalu memperhatikan bawaan Alvin.
Luna lebih fokus pada perjalanan mereka kali ini. Luna a harus segera menemui pasiennya sebelum terjadi hal-hal yang lebih tragis.
"Waalaikumsalam... sudah siap mas?" Luna angkat pantat dari sofa. Luna tidak bawa apapun karena peralatan medis ada di tempat pasien di karantina. Luna tidak bawa tas seperti wanita lain berlomba-lomba membeli tas mahal untuk dijadikan ajang pamer harta kekayaan.
"Kita ke rumah sakit mana?"
"Bukan rumah sakit tapi tempat penampungan. Nanti aku bawa jalan."
"Oya... Ini ponselmu!" Alvin menyodorkan paper bag di tangan. Ternyata paper bag itu berisi hp untuk Luna. Alvin tepati janji membeli ponsel baru untuk Luna hindari pelacakan Anjas di ponsel lama. Anjas orang pinter pasti tahu cara melacak Luna gunakan kecanggihan teknologi saat ini. Alvin berjaga-jaga demi keselamatan Luna.
Luna tertawa senang menerima pemberian Alvin. Hatinya lega bisa berkomunikasi lagi dengan Wina dan rekan di lembaga riset. Tak perlu buang waktu menunjukkan balasan email.
"Terima kasih mas... Aku akan kembalikan uang mas. Kasih rekening biar kutransfer."
"Husss... Kau mau jatuhkan dasiku sebagai suami? Lebih baik kau jerat leherku dengan dasi bila tak mampu beliin ponsel untuk istri. Ini tak seberapa bila dibandingkan pengorbananmu memberiku status sebagai ayah dari anak-anak. Jangan terlalu lama terharu punya suami sebaik aku! Cukup ingat dihati kau punya suami sebaik aku. Yang dulu-dulu hanya mimpi buruk. Buka lembaran baru bersama suami siaga!" Alvin menepuk dada sombong berhasil menggaet mantan istri abangnya sendiri. Alvin memang tidak pernah dianggap sebagai keturunan Kutilan. Dia dicap sebagai anak haram dari papa Anjas. Dari dulu hingga sekarang tetap menyandang status menyesak dada.
"Anggap kali ini aku beruntung mendapatkan suami jauh lebih sempurna."
"Tanamkan pepatah dari ibu Kartini. Habis gelap terbitlah terang. Aku akan menyinari hidupmu dengan cahayaku. Takkan pernah kelam lagi."
"Gimana kalau mati listrik? Dari mana mas dapat daya untuk terangi aku?" gurau Luna seraya menerima ponsel dari Alvin. Luna belum tahu merek hp pemberian Alvin. Luna tidak ambil pusing dengan merek ponsel. Tidak perlu mahal asal bisa komunikasi saja.
"Kita pakai panel tenaga Surya. Kita cuma perlu berdoa semoga matahari tak pernah lelah menerangi kita. Ayok kita berangkat! Kau bisa pelajari ponsel barumu dalam perjalanan nanti."
"Ok... Kita berangkat... " Luna berjalan menuju ke pintu besar sambil menenteng paperbag dari Alvin. Hati Luna agak terhibur sudah bisa teleponan sama Wina. Rasanya sudah tak sabar mau ngobrol sama sohib terbaik itu. Ada rasa kangen walau kemarin baru jumpa. Banyak sekali yang ingin Luna laporkan ke Wina termasuk penyakit ibu Alvin.
Berkomunikasi sesama dokter akan bawa dampak positif. Mereka bisa saling tukar informasi tentang penyakit pasien. Luna butuh info dari dokter jiwa cara menangani kejiwaan ibu Alvin biar cepat normal. Jangan malu bertanya bila tak mau tersesat.