Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Dua hari setelah penahanan Evan. Rumah itu terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada lagi suara langkah kaki Evan yang setiap pagi menghampiri Aurora. Tidak ada lagi suara pria itu yang selalu memanggil nama Laras.
Kini, hanya Laras, Aurora, dan beberapa pelayan yang masih bertahan menjaga rumah tersebut. Dari luar, Laras tampak tenang seperti biasanya.
Ia tetap mengurus Aurora dengan penuh kasih sayang, menyusuinya, menidurkannya, lalu mengajaknya bermain ketika bayi mungil itu terbangun.
Namun, di balik ketenangan itu hatinya dipenuhi kegelisahan.
"Semoga semua berjalan sesuai rencana, Elang..." batinnya.
"Aku hanya ingin Aurora kembali kepadaku. Jangan sampai ada yang berubah di saat-saat terakhir."
Menjelang siang, suara mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dengan kasar. Carolin melangkah masuk tanpa permisi. Tatapannya langsung mencari Aurora.
"Laras!" Suara wanita itu menggema memenuhi ruang tamu.
Laras yang sedang menggendong Aurora perlahan berdiri.
"Selamat siang, Nyonya."
"Tidak usah basa-basi. Serahkan Aurora sekarang juga."
Laras menggeleng pelan. "Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa."
Carolin mendekat dengan wajah penuh amarah.
"Kenapa tidak bisa? Evan sudah ditahan. Tidak ada lagi yang berhak atas anak itu."
Laras tetap berdiri tenang. "Maaf, keputusan pengadilan terakhir menetapkan hak asuh Aurora berada pada Tuan Evan. Selama belum ada putusan baru yang mengubahnya, saya berkewajiban menjaga Aurora sesuai amanat beliau."
Carolin mendengus kesal. "Kamu hanya pengasuh! Apa hakmu melarang ibu kandung bertemu anaknya?"
Laras menarik napas pelan.
"Saya tidak melarang Nyonya bertemu. Tapi saya tidak bisa menyerahkan Aurora tanpa dasar hukum yang sah."
Mendengar jawaban itu, wajah Carolin memerah.
"Kamu berani sekali melawanku!" Ia melangkah maju, berusaha meraih Aurora. Namun, Laras segera mundur selangkah sambil memeluk bayi itu lebih erat.
"Maaf, Nyonya. Jangan memaksa saya."
Carolin semakin emosi. "Serahkan!"
"Tidak."
"Laras!"
"Kalau Nyonya tetap memaksa..." Laras mengangkat ponselnya.
"Saya akan menghubungi polisi."
Kalimat itu membuat Carolin membeku sejenak.
Di saat yang sama, beberapa pelayan yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu segera berdiri di belakang Laras.
Salah seorang pelayan berkata dengan sopan,
"Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan keputusan pengadilan. Selama belum ada perubahan resmi, kami juga tidak berani menyerahkan Baby Aurora."
Carolin memandang mereka satu per satu dengan penuh kebencian.
"Kalian semua sekarang berani melawanku?"
Tak seorang pun menjawab. Keheningan justru membuat Carolin semakin kesal. Ia tahu, jika memaksa lebih jauh dan polisi benar-benar datang, justru dirinya yang akan berada dalam posisi sulit.
Dengan napas memburu, Carolin menunjuk Laras.
"Kamu jangan senang dulu. Aku pasti akan mengambil Aurora kembali. Dan saat itu terjadi kamu akan menyesali semua yang sudah kamu lakukan."
Laras hanya menundukkan kepala.
"Saya mengerti, Nyonya."
Carolin mendengus kasar, lalu berbalik meninggalkan rumah.
Pintu tertutup keras di belakangnya. Begitu mobil Carolin menghilang dari halaman, Laras mengembuskan napas panjang.
Ia memeluk Aurora erat-erat.
"Tenang, Sayang..." Bisiknya sambil mengusap kepala mungil putrinya. "Ibu masih bersamamu."
Namun, jauh di lubuk hatinya Laras tahu, pertarungan ini belum berakhir. Selama identitas Amelia belum terungkap dan semua kebenaran belum dibuka ke hadapan dunia, Aurora masih bisa menjadi rebutan banyak pihak.
Sore itu, Carolin pulang ke kediaman keluarga Baskara dengan wajah muram. Begitu memasuki ruang tamu, ia langsung melempar tasnya ke atas sofa.
"Aku gagal, Pa!" Suara Carolin terdengar penuh emosi.
"Wanita itu berani menghalangiku."
Tuan Baskara yang sedang menikmati secangkir teh perlahan meletakkannya.
"Tenang dulu. Bagaimana kejadiannya?"
Carolin mengembuskan napas kasar.
"Laras tidak mau menyerahkan Aurora. Dia terus berdalih kalau hak asuh masih ada pada Evan sesuai putusan pengadilan. Aku bahkan diancam akan dipanggilkan polisi kalau memaksa."
Wajah Tuan Baskara tetap tenang.
"Lalu?"
"Para pelayan juga membelanya. Mereka semua sekarang berpihak pada Laras."
Carolin mengepalkan tangannya.
"Aku benar-benar muak! Aku ingin mengusir wanita itu sekarang juga."
Tuan Baskara menggeleng pelan.
"Jangan gegabah. Kalau kamu bertindak terburu-buru. Semua rencana kita bisa berantakan."
Carolin menatap ayahnya dengan kesal.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Sabar, saat ini kita tidak perlu memikirkan Laras. Fokus kita adalah Evan."
Carolin mulai duduk kembali. Tuan Baskara melanjutkan,
"Selama proses hukum berjalan, Evan akan disibukkan dengan kasusnya sendiri. Kalau penyidik dan jaksa memiliki dasar yang cukup untuk melanjutkan perkara, proses hukum bisa berlangsung lama. Itu berarti dia tidak akan leluasa mengurus persoalan lain."
Carolin perlahan mulai tenang.
"Jadi ... biarkan dia menghadapi masalahnya terlebih dahulu."
Tuan Baskara mengangguk.
"Sementara itu, kamu juga harus memperbaiki citramu. Perceraian kalian sudah menjadi konsumsi publik. Jangan sampai kariermu semakin hancur."
Carolin menghela napas panjang.
"Aku tahu, tapi komentar orang-orang di media sosial benar-benar membuatku kesal."
"Itulah sebabnya kamu harus mulai tampil lagi. Tunjukkan bahwa kamu tetap profesional. Jangan beri mereka alasan untuk terus menyerangmu."
Carolin akhirnya mengangguk pelan.
"Baik, Pa. Aku akan mengurus semuanya. Tapi satu hal yang pasti. Aku tidak akan membiarkan Laras menikmati hidup dengan anakku."
Tuan Baskara tersenyum tipis.
"Kesempatan itu akan datang. Untuk sekarang, biarkan hukum bekerja. Kalau Evan tidak mampu memberikan pembelaan yang kuat ... dia akan menghadapi proses hukum yang panjang."
Carolin menyandarkan tubuhnya ke sofa. Perlahan, senyum puas kembali menghiasi wajahnya. Ia begitu yakin, cepat atau lambat, Aurora akan kembali ke pelukannya.
Tanpa pernah menyadari. Bahwa seseorang di balik bayang-bayang telah menyiapkan langkah yang akan menghancurkan semua keyakinannya itu.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,