Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 34
Di ballroom itu, suasana yang tadinya elegan perlahan berubah menjadi mencekam. Layar lebar di belakang panggung, yang seharusnya menampilkan profil pencapaian Mahesa, tiba-tiba padam dan berubah menjadi deretan data transaksi perbankan yang diproyeksikan secara transparan.
Mahesa yang baru saja melangkah dengan penuh percaya diri menuju mikrofon, terhenti. Suara riuh bisik-bisik para tamu undangan seketika menggantikan dentuman musik yang tadi terdengar megah.
Papa Raharjo tidak berteriak. Beliau berdiri di dekat meja utama, menatap layar dengan dingin.
"Mahesa, sebelum kita lanjut ke prosesi penandatanganan, mari kita bahas sedikit soal 'investasi' yang kamu lakukan di luar catatan perusahaan."
Mahesa mematung. Matanya membelalak melihat nama Clarissa tertera berulang kali di layar, disertai nominal yang nilainya mampu mengguncang neraca keuangan perusahaan.
Bukan hanya dia, namun sang mantan istri yang menyadari hal itu terpaksa harus di tangkap oleh anak buah Papa Raharjo saat akan kabur. Sedangkan Mama Karina hanya bisa menangis di tempatnya. Dia tak mengira dengan perbuatan anaknya sendiri. Selama ini dia selalu percaya kepada Mahesa dan sudah melupakan wanita yang bahkan dulu meninggalkannya.
"Pa... apa ini? Seseorang pasti sedang mencoba menjatuhkan saya dengan data palsu!" Mahesa mencoba tetap tenang, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Pengacara keluarga maju, meletakkan map tebal di podium.
"Data ini sudah diverifikasi oleh firma audit independen, Mahesa. Dan bukan itu saja. Syarat utama untuk posisi Pimpinan Utama adalah integritas personal. Perjanjian pra nikah keluarga Dirgantara sangat jelas. Kegagalan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, terlebih lagi jika terbukti ada tindakan yang merugikan istri secara fisik dan mental adalah pelanggaran kontrak berat."
"Apa hubungannya dengan Inara?!" bentak Mahesa, kontrol dirinya mulai lepas.
"Hubungannya adalah ini," sahut suara lain. Pengacara tersebut mengeluarkan salinan dokumen dari dalam map.
"Hari ini, kami menerima salinan gugatan cerai yang diajukan Inara, lengkap dengan bukti medis dan laporan saksi mengenai perlakuanmu selama ini. Dengan ini, kamu bukan hanya kehilangan dukungan dari keluarga Dirgantara, tapi juga kehilangan hak atas jabatan ini."
Seisi ruangan terkesiap. Nama Mahesa yang tadi dijunjung tinggi, kini menjadi bahan cemoohan. Para investor yang tadi mengantre untuk menjabat tangannya, kini memalingkan wajah atau justru berbisik sinis.
"Jabatan ini dibatalkan secara sepihak oleh dewan direksi," lanjut Papa Raharjo dengan nada datar yang mematikan.
"Keamanan, fasilitas, dan aksesmu ke perusahaan Dirgantara akan dicabut dalam satu jam ke depan. Termasuk aset yang kamu gunakan saat ini. Kamu bukan lagi bagian dari perusahaan Dirgantara! Kamu resmi di pecat dan setelah ini pertanggung jawabkan perbuatanmu yang menggelapkan dana menggunakan dana perusahaan untuk wanita seling-kuhanmu yang ada di sana itu!"
Semua mata tertuju kepada Clarissa yang di tunjuk oleh Papa Raharjo. Pria yang merupakan ayah kandung Mahesa itu benar-benar mempermalukan anak dan menantunya di depan para tamu undangan. Itu pertanda jika dia benar-benar sudah kecewa kapada Mahesa. Apalagi perbuatan Mahesa kepada Inara. Tak bisa di maafkan lagi. Mahesa sudah membohongi mereka yang mempercayainya juga.
Clarissa tertunduk malu, tatapan menghakimi dan juga sinis dia dapatkan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang mendekat dan melempar berbagai makanan dan minuman ke arah Clarissa. Ada juga yang kesal dan memberikan tam-pa-ran juga jambakan untuknya.
Sebagai bentuk rasa sakit hati dan kecewa kepada Clarissa yang sudah membuat rumah tangga Inara yang mereka kenal sangat baik itu hancur. Bahkan karena hubungan mereka itu, Mahesa ternyata sampai menyakiti Inara lahir dan batinnya. Tak terbayangkan seperti apa rasa sakit dan guncangan emosi yang saat ini di rasakan Inara.
Sedangkan selama ini dia selalu bersikap baik-baik saja dan bahagia menikah dengan Mahesa di hadapan semua orang. Senyumnya ternyata menyimpan luka yang sangat mendalam. Kecerdasannya ternyata menyimpan rasa sakit yang luar biasa demi menutupi tabiat buruk suaminya.
Mahesa merasa kepalanya berdenyut hebat. Dia mencari Inara di kerumunan, ingin meluapkan amarahnya. Dia butuh seseorang untuk disalahkan atas kegagalannya, namun Inara tidak ada. Istrinya itu telah menghilang, meninggalkan dia sendirian di tengah medan perang yang dia ciptakan sendiri.
"Pah, ini tak seperti yang ada di sana! Aku yakin Inara sudah membuat laporan palsu! Dia sangat pandai melakukannya. Dia ...!"
"DIAM! Dan satu lagi, Mahesa," Papa Raharjo mendekat, berbisik tepat di depan wajah pria itu.
"Jangan pernah mencoba mencari Inara. Jika satu helai rambutnya saja terluka karena ulahmu setelah hari ini, saya sendiri yang akan memastikan kamu tidak punya tempat untuk berpijak di negeri ini. Dan setelah ini tinggalkan semua fasilitas yang aku berikan untukmu. Aku mengharamkannya untukmu, Mahesa! Pergi kepada wanita ja-lang mu itu! Kau akan menyesal seumur hidupmu karena sudah menyakiti Inara dan memilih wanita ja-lang murahan seperti Clarissa!"
"Saat ini kau mungkin buta karena cinta memabukkan dari wanita itu untun kedua kalinya. Tapi saat aku sadar akan kesalahannya kepada Inara dan kami, yakinlah jika saat itu kau tak akan pernah lagi bisa mendapatkan maaf Inara! Dan semuanya sudah terlambat untuk kamu perbaiki! Dia wanita hebat dan terhormat. Tapi kamu menyia-nyiakan demi sampah seperti dia! Tapi kalian cocok! Sama-sama busuk!"
PLAAAAAK
PLAAAAKKK
Tamparan dari Mama Karina membuat Mahesa dan semua orang yang ada di sana kaget bukan main.
"Mama..."
"Jangan panggil aku Mama, aku tak pernah melahirkan dan mengajarkan anakku untuk menyakiti wanita, apalagi dia istri yang baik. Yang lebih mengecewakan lagi adalah, kamu melakukan semua itu demi wanita yang kamu anggap suci dan sempurna! Matamu benar-benar picek! Ingat, jangan datang padaku kalau kau benar-benar sudah tahu sifat asli wanita pilihanmu. Lihatlah setelah ini, apa setelah kamu terpuruk dan tak punya apa-apa dia masih ada bersamamu. Apa dia akan mau seperti Inara membantumu, bahkan selalu menjadi orang yang berperan penting dalam setiap proyek besarmu!"
Mahesa berdiri mematung di atas panggung yang megah namun terasa seperti jurang. Posisinya sebagai calon pimpinan lenyap. Istrinya hilang. Dan yang tersisa hanyalah tatapan menghakimi dari ratusan orang yang dulu memujanya.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭