Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
"Kalau mereka ingin membuangku ke tempat yang hampir tenggelam, aku akan pakai tempat ini untuk berenang kembali."
Kalimat itu terdengar gagah di ruang direktur Navara Tech.
Namun dua hari kemudian, Kiana duduk di lantai apartemennya dengan tiga laptop terbuka, dua map laporan keuangan, dan satu gelas kopi yang sudah dingin. Gagah ternyata tidak membuat angka merah di neraca berubah menjadi hitam.
Navara Tech memang hampir tenggelam.
Proposal Vista Home harus selesai dalam tujuh hari. Tim tersisa di kantor masih punya kemampuan, tetapi terlalu lama hidup dalam mode bertahan. Tidak ada yang berani menjanjikan proyek besar. Tidak ada yang berani bermimpi melewati akhir bulan.
Kiana bisa memahami mereka.
Dulu, ia juga pernah terlalu lama bertahan sampai lupa cara meminta hidup yang lebih baik.
Pukul delapan malam, bel apartemennya berbunyi.
Kiana mengira itu kurir GoFood. Saat membuka pintu, ia justru menemukan Hans berdiri di luar dengan kaus hitam polos, celana training, dan dua kantong belanja besar.
"Apa itu?"
"Beras. Minyak. Samcan."
Kiana menatap kantong itu. "Kamu merampok pasar?"
"Jatah dari pos."
"Pos damkar membagikan samcan?"
Hans menatapnya datar. "Ada yang punya keluarga toko daging."
Alasan itu terdengar terlalu rapi, tapi Kiana terlalu lapar untuk berdebat. Sejak siang ia hanya makan roti tawar yang ditemukan Lina di pantry Navara. Begitu aroma daging tumis bawang putih memenuhi dapur, perutnya mengkhianatinya dengan bunyi kecil.
Hans mendengarnya.
Ia tidak tertawa. Ia hanya mengambil piring kedua.
"Makan dulu."
"Aku masih harus baca laporan."
"Laporan tidak kabur."
"Deadline bisa."
"Kamu pingsan, deadline juga tidak selesai."
Kiana ingin membantah, tetapi Hans sudah menaruh nasi hangat di hadapannya. Di atas nasi, ia meletakkan potongan samcan yang bagian tepinya sedikit garing, lalu menambahkan tumis sawi dan telur dadar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kiana duduk berhadapan dengan seorang pria tanpa merasa sedang dinilai.
Dengan Jovian dulu, makan malam selalu punya aturan tidak tertulis. Jangan terlalu banyak bicara tentang pekerjaan karena Jovian akan mengalihkan topik. Jangan menolak sup herbal karena ia akan berkata itu demi tubuhnya. Jangan terlihat lelah karena Vanya bisa tiba-tiba muncul membawa perhatian yang lebih manis.
Di depan Hans, hanya ada suara sendok menyentuh piring.
Dan anehnya, diam itu tidak membuatnya sesak.
Hans mengambil sepotong daging lagi dan meletakkannya di piring Kiana.
"Aku sudah cukup."
"Belum."
"Kamu menghitung?"
"Kamu cuma makan tiga suap nasi."
Kiana menatap piringnya. Ternyata benar. Ia terlalu sibuk membaca angka di laptop sampai lupa mengunyah.
"Kamu selalu begini ke orang?"
"Ke orang yang hampir pingsan di depan laporan."
"Aku tidak hampir pingsan."
"Wajahmu putih."
Kiana menyentuh pipinya tanpa sadar. Hans menunduk dan melanjutkan makan seolah kalimat itu bukan perhatian, hanya observasi biasa.
Setelah makan, Kiana bangkit hendak membawa piring ke wastafel. Hans lebih dulu mengambil semuanya.
"Aku bisa cuci sendiri."
"Kamu kerja."
"Ini apartemenku."
"Piringnya aku pakai juga."
Ia mencuci piring dengan cepat dan bersih. Setelah itu, tanpa ditanya, ia mengelap kompor yang tadi terkena minyak. Gerakannya tidak seperti tamu. Lebih seperti seseorang yang terbiasa menutup semua pekerjaan sampai rapi.
Kiana kembali ke meja, membuka satu buku tebal yang tadi ia beri sticky note: Generative Adversarial Networks untuk visi komputer.
Hans lewat di belakangnya membawa lap kering. Langkahnya berhenti.
"Kamu pakai GAN untuk simulasi visual?"
Jari Kiana berhenti di atas touchpad.
Ia menoleh pelan. "Kamu tahu GAN?"
"Sedikit."
"Pemadam kebakaran belajar jaringan adversarial?"
Hans menggantung lap di kursi. "Tim kami pernah uji drone pencari korban. Kamera sering gagal baca bentuk tubuh saat asap tebal. Model perlu dilatih dengan data sintetis."
Kiana menatapnya lebih lama.
Kalimat itu bukan jawaban hafalan. Ia menyebut masalah yang nyata: asap, distorsi panas, bentuk tubuh yang terhalang reruntuhan. Bahkan beberapa engineer junior di Bintang Grup tidak akan langsung menyambungkan GAN dengan data sintetis untuk fire scene.
"Kalian punya tim R&D di pos damkar?"
"Ada kerja sama."
"Dengan siapa?"
"Beberapa pihak."
Jawaban itu terlalu pendek. Terlalu tertutup.
Kiana menyipit. "Kamu tahu, untuk orang yang katanya tidak kekurangan uang tapi saldo ATM-nya Rp 500.000, kamu punya banyak hal yang tidak cocok."
Hans mengambil buku itu, membalik dua halaman, lalu menunjuk diagram kecil. "Kalau kamu pakai pendekatan ini untuk Vista Home, jangan cuma jual keamanan rumah pintar. Masukkan skenario evakuasi. Kamera, sensor panas, jalur keluar, peta tiga dimensi."
Kiana lupa curiga selama dua detik.
Ia menarik laptop lebih dekat. "Tunggu. Maksudmu modelnya bukan hanya mendeteksi bahaya, tapi memberi rute evakuasi real-time?"
"Iya."
"Dengan obstacle avoidance untuk orang di dalam rumah?"
"Dan tim rescue dari luar."
Dada Kiana seperti disentil. Vista Home ingin sistem keamanan hunian pintar. Semua pesaing pasti akan menawarkan alarm, kamera, smart lock, dan monitoring. Tapi jika Navara menawarkan sistem yang menghubungkan penghuni, gedung, dan tim penyelamat, nilainya berbeda.
Ini bukan sekadar rumah pintar.
Ini rumah yang tahu cara menyelamatkan manusia.
Malam itu, meja makan berubah menjadi papan perang kecil. Kiana mengetik kerangka proposal. Hans sesekali memberi komentar pendek. Tidak banyak, tapi selalu tepat di bagian yang paling praktis.
"Jalur tangga jangan diasumsikan bersih."
"Sensor panas bisa rusak kena air."
"Anak kecil bersembunyi di bawah meja saat panik."
Setiap kalimat membuat proposal Kiana lebih hidup.
Selama beberapa hari berikutnya, pola itu menetap tanpa disepakati. Hans datang menjelang malam membawa sesuatu: beras, sayur, ikan, kadang kotak nasi dari pos. Kiana memasak lebih banyak dari biasanya. Ia tidak lagi bertanya apakah Hans akan makan di sana. Panci di dapurnya seolah sudah menghitung dua orang.
Hans makan, menambah lauk ke piringnya, lalu mencuci piring.
Kiana bekerja.
Diam di antara mereka tidak lagi asing. Ia menjadi jeda yang hangat.
Pada hari ketiga, Kiana sedang menunggu rendering demo ketika notifikasi berita muncul di ponselnya.
Kebakaran gudang di Jakarta Utara. Lima unit damkar dikerahkan.
Jari Kiana langsung membeku.
Ia membuka berita itu, mencari nama pos. Tanjung Priok. Napasnya tertahan sampai layar ponsel bergetar.
Hans: Sudah makan?
Hanya dua kata.
Kiana menatap pesan itu lama. Baru setelah itu dadanya terasa longgar.
Ia membalas: Belum. Kalau kamu masih hidup, bawa telur.
Tiga menit kemudian, balasan masuk.
Hans: Cerewet.
Kiana tersenyum sendiri sebelum sadar ia sedang tersenyum.
Pada malam terakhir bulan Mei, proposal Vista Home akhirnya selesai. Di bagian atas email undangan resmi tertulis logo Kei Group dan lokasi acara networking untuk calon vendor terpilih. Dress code formal. Kehadiran direksi diwajibkan. Satu pendamping diperbolehkan.
Kiana membaca kalimat itu dua kali.
Satu pendamping.
Ia menoleh ke dapur. Hans sedang mencuci gelas, punggungnya lebar di bawah lampu kuning apartemen, seolah tempat itu sudah lama mengenalnya.
"Hans."
"Hm?"
"Besok malam aku harus datang ke acara Vista Home."
"Pergi."
"Aku butuh pendamping."
Air keran berhenti.
Hans menoleh, ekspresinya tenang seperti biasa. Tapi tangan yang memegang gelas tidak langsung bergerak.
Kiana mengangkat email di ponselnya.
"Mau jadi teman makanku sekali lagi?"