NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Buka Pintunya

Suasana di ruang desain yang tadinya mencekam mendadak berubah saat pintu diketuk pelan. Seorang pelayan muda masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk sup daging yang mengepul hangat dan sepiring nasi putih.

"Nona, ini pesanan... maksud saya, Tuan Ben meminta Anda segera makan," ucap pelayan itu sopan, namun ada nada kebingungan yang tertahan karena jarang sekali Ben—sang kepala keamanan yang dingin—meminta hal semacam ini untuk orang lain.

Lala hanya bisa terpaku menatap nampan itu. Ia tidak menyangka Ben akan melakukan ini setelah kemarahannya beberapa menit lalu.

Saat pelayan itu pergi, ruangan kembali hening, namun aroma gurih sup daging itu memenuhi indra penciumannya, membuat perutnya benar-benar menjerit minta diisi.

Lala duduk di kursi kerjanya, mencoba bersikap lebih tenang. Ia menyuap nasi dan sup itu dengan perlahan, namun rasa lapar yang sudah tertahan berbulan-bulan membuatnya tak sadar makan dengan cukup cepat.

Kenapa dia melakukan ini? batinnya di sela kunyahannya. Bukankah dia membenciku?

Dari balik kamera pengawas di ruang kontrol, Ben mengamati setiap gerakan Lala. Ia melihat bagaimana gadis itu menyuap sup dengan sedikit berantakan—sebutir nasi menempel di sudut bibirnya—dan bagaimana cara gadis itu memejamkan mata setiap kali merasakan kehangatan sup di tenggorokannya.

Ben menyandarkan punggungnya, memutar kursinya menjauh dari monitor sejenak. Ia merasa konyol karena harus repot-repot memerintahkan pelayan untuk membawakan makan siang. Tapi, ingatan tentang Lala yang hampir menangis karena lapar di apartemennya tujuh bulan lalu kembali menghantuinya.

Ben tahu, gadis ini mungkin ceroboh dan membawa masalah, tapi ia juga tahu Lala adalah gadis yang bertahan hidup dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.

Ia tidak ingin Lala pingsan di dalam mansion ini karena kelaparan—itu akan menjadi gangguan bagi keamanan, alasan logis yang ia buat untuk menenangkan pikirannya sendiri.

Di ruang desain, Lala meletakkan sendoknya, merasa sedikit lebih bertenaga namun jauh lebih bingung. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan—sebuah gerakan ceroboh yang khas—lalu menatap kosong ke arah kamera pengawas di sudut ruangan.

Ia tahu pria itu sedang menonton.

"Terima kasih..." bisiknya ke arah kamera, suaranya pelan dan ragu.

Di ruang kontrol, Ben yang mendengar bisikan itu melalui mikrofon sensitif, hanya terdiam. Ia tidak membalas.

Ia hanya menatap layar monitor dengan tatapan yang sulit diartikan; antara keinginan untuk menjaga agar gadis itu tetap aman dan dorongan untuk menjauhkannya sejauh mungkin dari hidupnya yang sudah hancur.

Lala kembali menarik napas panjang, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada desain kamar bayi yang harus ia selesaikan, berusaha mengabaikan tatapan mata yang ia tahu sedang menembus setiap sudut ruangan, menunggunya membuat kesalahan berikutnya.

Setelah perutnya terisi dan rasa lelahnya sedikit berkurang, sisi kreatif Lala seolah mendapat suntikan tenaga baru. Tangan yang tadinya gemetar karena lapar kini bergerak lincah di atas kertas.

Dengan insting estetikanya yang tajam, ia berhasil memperbaiki sketsa yang rusak tadi, bahkan menambahkan detail-detail manis yang membuatnya jauh lebih hidup hanya dalam waktu 15 menit.

Lala merapikan rambutnya yang berantakan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu berdiri dengan membawa papan sketsa itu. Ia berjalan menuju ruang keluarga di mana Gita sedang bersantai ditemani Baron dan Alba.

"Nyonya Gita..." panggil Lala pelan saat sampai di ambang pintu. "Saya sudah selesai dengan sketsa kamar bayinya. Apakah Anda punya waktu untuk melihatnya?"

Gita yang sedang bercengkrama dengan Baron langsung menoleh, wajahnya berbinar.

"Tentu saja! Ke sini, Lala."

Lala mendekat dengan langkah sedikit kaku, masih sadar akan kehadiran Ben yang berdiri seperti patung di sudut ruangan, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan elang yang tak terputus.

Lala mulai menjelaskan konsepnya. "Ini bertema 'Whimsical Meadow', Nyonya. Saya menggunakan warna pastel yang lembut untuk memberikan kesan tenang, dengan aksen awan gantung dan beberapa ilustrasi kelinci di sudut ruangan untuk merangsang imajinasi bayi nanti."

Gita tampak sangat terpesona. "Oh, ini cantik sekali! Baron, lihat ini, bukankah ini persis seperti yang kubayangkan?"

Baron melirik sekilas, lalu mengangguk setuju dengan tatapan menghargai. "Bagus. Detailnya sangat rapi."

Lala merasa lega, sebuah senyum tipis yang tulus merekah di wajahnya. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ia merasakan aura dingin yang menusuk dari arah sudut ruangan. Ia memberanikan diri melirik ke arah Ben.

Ben masih di sana, menyilangkan tangan di depan dada. Matanya tidak menatap sketsa tersebut, melainkan menatap lurus ke arah Lala dengan tatapan yang sangat intens—seolah ia sedang menilai apakah sketsa itu adalah bagian dari rencana besar lainnya atau benar-benar hanya sebuah desain kamar bayi.

"Pengerjaannya sangat cepat," suara Ben memecah percakapan mereka, dingin dan datar. "Hanya 15 menit untuk memperbaiki kerusakan yang kau buat sendiri? Sangat tidak terduga bagi seseorang dengan rekam jejak seceroboh kau."

Gita tertawa ringan, menganggap komentar Ben sebagai lelucon kaku khas kepala keamanan mereka. "Oh, Ben, jangan terlalu keras padanya! Dia jenius, kau harus mengakuinya."

Lala menunduk, merasakan pipinya panas karena sindiran tajam pria itu. "Saya hanya... hanya mencoba yang terbaik, Tuan Ben."

Ben tidak membalas. Ia hanya melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam jangkauan pandang Lala. "Bagus. Pastikan hasil akhirnya nanti sebersih sketsanya. Karena jika aku melihat satu noda saja di kamar bayi itu nanti, kau tahu apa konsekuensinya, bukan?"

Lala menelan ludah, mengangguk cepat.

"Saya mengerti."

Gita tersenyum, tidak menyadari ketegangan yang merambat di antara keduanya. "Sudahlah, sekarang Lala harus istirahat. Dia sudah bekerja keras hari ini. Lala, kau boleh kembali ke kamar tamu yang sudah disiapkan."

Saat Lala berbalik untuk pergi, ia merasa sepasang mata Ben terus membakarnya dari belakang. Pria itu benar-benar tidak memberinya celah untuk bernapas, menjaganya seperti seekor jaguar yang tidak akan pernah melepaskan mangsanya dari pandangan.

Lala melangkah keluar dari ruang keluarga menuju sayap kiri mansion, tempat kamar tamu berada. Langkahnya terasa berat, bukan hanya karena kelelahan, tapi karena bayangan sosok Ben yang seolah terus mengekorinya dari balik tembok-tembok marmer mansion.

Begitu ia masuk ke dalam kamar tamu yang luas dan mewah, Lala mengunci pintunya rapat-rapat. Ia bersandar di balik daun pintu, memejamkan mata, dan mengembuskan napas panjang.

Kamar itu terlalu megah baginya, sangat kontras dengan kehidupan keras yang ia jalani selama tujuh bulan terakhir.

Namun, ketenangannya hanya bertahan sekejap.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan itu tidak keras, namun terasa sangat mengintimidasi. Lala tersentak dan menjauh dari pintu.

"Lala," suara berat itu datang dari balik pintu. Itu Ben. "Jangan pernah mengunci pintu kamarmu."

Lala menelan ludah, suaranya tercekat. "Ini... ini kamar tamu, tuan Ben. Aku butuh privasi untuk berganti pakaian."

"Di rumah ini, tidak ada privasi bagi orang dengan riwayat sepertimu," balas Ben dingin.

"Buka pintunya."

***

Like dan komen dong 😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
yakin ben lala suruh pergi...?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!