Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Cemburu dan Pesan Misterius
Arka melangkah keluar dari pintu ruang guru dengan kedua tangan mendekap segepok lembar hasil ujian matematika minggu lalu. Sebagai ketua kelas, tugas seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun, begitu ia membelokkan langkahnya menuju koridor utama kelas12, langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai keramik.
Pemandangan beberapa meter di depannya membuat dada Arka bergemuruh hebat. Rasa panas yang membakar langsung menjalar ke seluruh rongga dadanya, menciptakan denyutan tidak suka yang teramat sangat.
Di sana, Kayla sedang berjalan beriringan dengan Gavin. Tidak ada jarak kaku yang biasanya Kayla pasang saat berhadapan dengan cowok lain. Bahkan, dari posisinya berdiri, Arka bisa melihat gurat wajah Kayla yang tidak lagi sekaku tadi pagi. Mereka berdua tampak tenggelam dalam atmosfer yang mendadak terasa begitu dekat.
Gak bisa dibiarin, batin Arka frustrasi. Di kepalanya, Gavin adalah definisi nyata dari pengaruh buruk. Mengingat taruhan balapan liar tadi malam saja sudah membuat darah Arka mendidih, dan sekarang, cowok berandalan itu dengan mudahnya mendekati Kayla lagi.
Arka mempercepat langkahnya, mengentakkan kakinya dengan sengaja agar derap sepatunya terdengar memburu. Ia memotong jalur jalan mereka tepat di depan pintu kelas 12-IPS 2.
"Kay," panggil Arka, suaranya terdengar lebih berat dan dingin dari biasanya. Matanya melirik tajam ke arah Gavin, sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada wajah sembap Kayla. "Gue kira lo langsung ke kelas tadi."
Gavin menghentikan langkahnya, langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya dengan gestur menantang. "Kenapa? Segala hal tentang Kayla harus laporan dulu sama lo, Ketua Kelas?" sindir Gavin dengan nada meremehkan.
Arka tidak memedulikan Gavin. Ia melangkah satu tapak lebih maju, mendekati Kayla. "Kay, lo lupa sama obrolan kita semalam? Gue udah bilang kan, lo harus jaga jarak dari—"
"Gue gak lupa, Arka," potong Kayla cepat. Nada suaranya terdengar lelah. Ia tidak ingin koridor kelas yang mulai ramai ini berubah menjadi ring tinju karena ego dua cowok di depannya. "Gavin cuma barengan ke kelas sama gue. Gak usah berlebihan."
Gavin terkekeh sinis, merasa memenangkan pembelaan tersirat dari Kayla. Ia menepuk bahu Arka dengan ujung jarinya secara provokatif. "Denger tuh, Pak Ketua. Gak usah lebay jadi bodyguard. Minggir, kita mau masuk."
Arka mencengkeram tumpukan kertas ujian di pelukannya hingga kertas-kertas itu sedikit kusut. Rahangnya mengencang, menahan diri sekuat tenaga agar tidak melayangkan pukulan ke wajah sombong Gavin tepat di depan kelas. Ia terpaksa bergeser, membiarkan Gavin melangkah masuk ke dalam kelas dengan senyum kemenangan yang tertoreh lebar.
Kayla melirik Arka sekilas dengan tatapan bersalah yang samar, namun ia tetap memilih melangkah masuk ke kelas dan duduk di bangkunya sendiri dekat jendela. Arka menyusul beberapa saat kemudian, meletakkan kertas ujian di meja guru dengan kasar sebelum kembali ke tempat duduknya di baris depan. Aura permusuhan di dalam kelas itu terasa begitu pekat.
Kayla menghela napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang menyelimuti kepalanya. Ia mengeluarkan buku pelajaran pertamanya dari dalam tas. Namun, baru saja ia menyandarkan punggungnya di kursi, getaran kuat dari dalam saku jaket hoodie-nya mengejutkannya.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Ponsel Kayla berdering panjang, disusul oleh rentetan getaran beruntun yang menandakan masuknya pesan spam dalam jumlah banyak. Kayla meraba sakunya, mengeluarkan ponsel tersebut, dan menyalakan layarnya.
Dahi Kayla berkerut dalam. Di layar kacanya, tertera belasan notifikasi pesan dari sebuah nomor asing yang tidak terdaftar di kontak ponselnya. Angka nomornya berderet acak, tanpa foto profil, memancarkan kesan misterius yang aneh.
Dengan rasa penasaran yang bercampur firasat tidak enak, Kayla menyentuh layar, membuka ruang obrolan tersebut.
Pesan pertama tertulis: “Gue tau apa yang lo lakuin semalam.”
Pesan kedua: “Penyelamat lo gak akan selalu ada di sana.”
Dan pesan terakhir yang baru saja masuk sukses membuat jantung Kayla seolah berhenti berdetak:
“Jangan harap lo bisa lepas kali ini.”
Deg.
Darah di sekujur tubuh Kayla mendadak terasa membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap deretan kalimat bernada ancaman itu. Sepotong ingatan tentang kejadian di sirkuit liar semalam langsung berputar di kepalanya—tentang hawa dingin yang pekat, dan sosok berpakaian serba hitam yang melangkah mendekatinya di kegelapan sebelum Arka menariknya pergi.
Siapa dia? batin Kayla, meremas pinggiran ponselnya hingga jemarinya memutih.
Sepanjang hidupnya, Kayla tahu betul bahwa ia adalah tipe orang yang antisosial di sekolah. Ia judes, dingin, dan selalu menjaga jarak dari kelompok mana pun. Ia merasa tidak pernah memiliki musuh, tidak pernah bergosip yang merugikan orang lain, dan sama sekali tidak pernah berurusan dengan siapa pun yang berpotensi mengirimkan teror mengerikan seperti ini.
Ketakutan mulai merayapi dinding hatinya, membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Namun, Kayla buru-buru menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan logikanya yang sempat goyah.
Ah... mungkin cuma orang iseng salah kirim, ucap Kayla di dalam hatinya, berusaha keras menepis rasa takut yang mulai menyergap. Iya, pasti salah kirim. Lagian nomor asing kayak gini sering banget nyasar.
Kayla buru-buru menekan tombol blokir pada nomor tersebut, lalu mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru. Ia memaksakan matanya untuk menatap ke arah papan tulis di depan kelas, mencoba fokus pada penjelasan guru yang baru saja masuk.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Kayla tahu ada yang salah. Getaran ketakutan itu tidak benar-benar hilang, melainkan menetap di sana, mengisyaratkan bahwa badai yang jauh lebih besar sedang bersiap menerjang kehidupannya yang sudah berantakan.