Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sebenarnya Siho memang terlihat baik dengan Zavier, dia bahkan sangat mempedulikan Zavier lebih dari apapun mulai dari kesehatan dan lain-lain, tak jarang diri nya mencarikan wanita-wanita yang cocok untuk Zavier nikahi, namun tak ada yang sesuai bagi Zavier, dan ini membuat Siho yakin kalau hanya Luna lah yang cocok dengan Zavier.
Namun tak jarang juga rasa iri timbul di benak Siho, karena Zavier memiliki warisan yang cukup banyak dari Kakek dan juga almarhum papa dan mama nya Zavier, hal ini lah membuat mereka terkadang sedikit cek cok karena rasa iri nya Siho, sebagai manusia rasa iri itu tak mungkin bisa di buang setidaknya ada satu sampai sepuluh persen rasa iri di dalam hati.
Meskipun begitu Siho tetap berusaha berhubungan baik dengan Zavier sepupu nya tersebut demi sang kakek.
"Nona muda, sepertinya waktu keliling kita sudah selesai hari ini, kita bisa melanjutkan nya setelah asisten Glen selesai dengan pekerjaan nya, karena kebetulan aku juga tadinya masih belum menyelesaikan pekerjaan ku," ucap bik Rua yang kini membawa Sofia kembali ke kamar.
"Terima kasih bik, aku juga sudah sangat lelah, jadi aku akan beristirahat dulu," ucap Sofia yang kemudian berjalan masuk ke kamar nya.
"Baik nona, kalau begitu, saya permisi dulu," ungkap bik Rua yang kemudian meningalkan kamar Sofia.
Sofia menutup kembali pintu kamar tersebut, jujur saja ekspresi Siho tadi masih terbayang-bayang di benaknya.
"Kenapa dia terlihat sangat tidak suka? Bukan kah bik Rua bilang mereka menyayangi kakek dan menginginkan kak Zavier segera menikah? Apakah karena dia masih berharap adik nya bisa menikah dengan kak Zavier? Astaga kenapa aku malah memikirkan hal ini? Seharusnya aku tidak ikut campur dalam hal ini, lagipula aku hanya punya kontrak setahun dengan nya, setelah itu aku akan pergi untuk memulai kehidupan baru ku," batin Sofia yang berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal di luar tugas nya sebagai istri kontrak.
Sementara itu di sisi lain.
Zavier baru saja hendak membuka pintu mobil nya, ia ingin kembali ke mansion karena sudah menyelesaikan urusan nya di perusahaan, sementara Glen tidak bersama dengan nya karena tugas nya yang di berikan oleh Zavier untuk mengambil Luvi.
Namun saat ia hendak masuk ke dalam mobil, ia menarik kembali kaki nya dan kemudian menatap ke arah gerbang, yang terlihat oleh nya ada sebuah mobil yang tidak asing masuk ke dalam perusahaan.
Tak lama kemudian keluar lah Siho dari dalam mobil tersebut.
Ia berjalan ke arah Zavier dengan tatapan yang terlihat tidak bisa.
"Tumben sekali kau datang ke sini," kata Zavier yang terlihat santai dengan kedatangan Siho ke perusahaan nya.
"Beraninya kau menikah tampa mengatakan apapun kepada ku, apa kau sudah tidak menganggap aku ini sepupu mu lagi?" tanya Siho yang kini berdiri tepat di hadapan Zavier sambil menatap nya dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Kau ingin terus bersandiwara di hadapan ku? Aku menikah, itu jelas bukan urusan mu," ucap Zavier sambil tersenyum tipis.
Sebenarnya Zavier tau kalau saat ini yang jadi permasalahan bukan lah kenapa Zavier menikah tanpa memberikan kabar kepada Siho, namun yang jadi masalah adalah Siho pasti marah karena Zavier pada akhirnya tetap memilih wanita lain di bandingkan Luna, adik angkat Siho.
"Aku tidak seburuk yang kau bayangkan Zavier, aku hanya kaget, kenapa kau tiba-tiba menikah dan tampa mengelar resepsi pernikahan, kau bahkan tidak memperkenalkan wanita yang entah dari mana asalnya itu ke kelaurga besar kita," ucap Siho tak mau Zavier salah paham kepada nya padahal apa yang di pikirkan Zavier saat ini adalah kebenaran.
"Kelaurga besar? Itu kelaurga mu, aku tidak punya kelaurga sebesar kelaurga mu, aku hanya mematuhi permintaan kakek, tidak lebih, dan soal pesta itu tidak perlu, kau juga tidak perlu mencari tahu siapa istri ku, karena itu tetap bukan urusan mu," kata Zavier lagi.
"Kau benar-benar keras kepala Zavier, kau lebih memilih menikahi wanita luar yang tidak jelas asal-usulnya, di bandingkan dengan Luna yang jelas kedudukan dan kehormatan nya," ungkap Siho lagi.
"Maksud mu kedudukan dan kehormatan? Asal kau tau saja, wanita yang ku nikahi bahkan tak bisa di bandingkan dengan adik angkat mu yang suka memaksa itu, kenapa kau begitu sayang dengan nya? Kenapa kau tidak kau saja yang menikahinya?" Zavier awalnya tidak kesal, namun ketika mendengar ucapan Siho soal membandingkan kejelasan status, hal ini membuat nya tidak bisa terima.
"Apa maksud mu? Kau benar-benar sudah berubah, apakah wanita yang kau nikahi itu sangat berharga? Sehingga kau jadi seperti ini?" kata Siho tidak terima.
"Minggir, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni permainan mu," kata Zavier yang kemudian masuk ke dalam mobil nya dan meningalkan perusahaan.
"Sial!" umpat Siho di buat kesal oleh sepupu nya itu.
Sementara itu di sisi lain.
"Ma, bagaimana? Apakah mama sudah mendapat kabar soal Sofia?" tanya Tara yang beberapa hari ini sudah sangat gelisah dan hampir tidak bisa tidur siang malam karena memikirkan ancaman dari tuan Ex.
"Aduhhh Tara, kau jangan menanyakan hal ini, mama juga sudah beberapa hari ini menunggu kabar dari beberapa anak buah mama dan mereka sama sekali tidak bisa melacak keberadaan Sofia, sekarang mama sudah tidak tau harus bagaimana," kata Rusita dengan memegang kepala nya yang cukup pusing.
"Astaga ma, aku seharusnya fokus dengan pernikahan ku dan kak Samuel, dan aku jadikan tidak bisa mempersiapkan diri sekarang karena ancaman itu!" kata Tara yang kini ikut pusing mereka berdua hanya bisa bertengkar dan bertengkar.
"Sebaiknya kau temui Samuel sekarang dan minta bantuan dengan nya, dia tidak mungkin diam saja kan menyaksikan calon istri nya di ambil oleh tuan Ex, dia kan sangat mencintai mu," kata mama Rusita kehabisan akal.
"Tapi ma," kata Tara tak yakin.
"Sudah lah, jangan banyak tapi-tapi, pergi dan diskusikan apa yang bisa kalian diskusi," kata Rusita memaksa sang anak.
"Baik ma," jawab Tara yang kemudian meraih ponsel dan juga tas kecil nya yang ada di meja lalu berjalan pergi dari hadapan sang mama menuju rumah Samuel.
Namun saat ia hendak masuk ke dalam mobil, dia melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu masuk mansion mereka, terlihat orang tersebut memakai pakaian serba hitam dan sedang berbicara dengan security yang ada di depan gerbang.
"Tunggu, siapa itu? Kenapa penampilan nya sangat aneh? Apa jangan-jangan, dia orang yang di suruh tuan Ex untuk mengawasi aku dan mama?" kata Tara yang takut dan segera bersembunyi di balik tembok garasi mobil.
Namun tak lama kemudian orang yang berpakaian hitam tersebut segera pergi dari sana, Tara tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut karena ia memakai topi dan juga masker yang warna nya juga hitam.
Bersambung ....